Friday, September 19, 2008

Baca Buku

Sejak kecil saya selalu menyukai benda yang bernama buku. Masih tajam teringat dahulu ketika setiap hari saya akan datang ke toko buku seberang sekolah dan menanyakan tentang buku cerita terbaru kepada tante pemilik toko, walau saya cuma akan membeli seminggu sekali saja. Sebagian besar uang jajan saya dahulu habis untuk buku, dan saya bisa merelakan untuk tidak jajan di sekolah apabila ada buku yang ingin dibeli. Pernah suatu ketika saya belum punya cukup uang untuk membeli buku yang baru terbit, harganya 1.100 rupiah, dan saya dengan polosnya ingin nyicil dulu seratus rupiahnya.

Sampai sekarang rasanya kesukaan itu tetap berlanjut. Buku menjadi salah satu pengeluaran terbesar saya. Namun pengeluaran yang cukup besar itu selalu terbalas setiap kali saya selesai membaca buku demi buku yang dibeli. Dan ketika kembali menginjakkan kaki ke toko buku, hal yang tersulit adalah menahan diri agar tidak membeli buku. Saat berada disana, diri seperti terbelah dua, ada seorang anak kecil yang ingin membeli buku-buku menarik bagaikan mainan yang baru saja dilihatnya dan ada bagian diri lainnya yang pelit, yang sepertinya lebih dewasa dan bekerja seperti akuntan, mengingatkan diri bahwa saya sedang bokek dan harus menahan diri. Perdebatan dan cekcok terjadi. Namun keadaannya seringkali, apabila tidak selalu, si anak kecil yang menang. Fortunately!

Saya tidak pernah memikirkan kenapa saya bisa suka membaca buku. Pikir saya selama ini, toh banyak orang juga membaca buku, dan kita tidak memerlukan alasan khusus untuk suka membaca. Tetapi dari beberapa percakapan dengan teman-teman saya, mereka mengungkapkan kenapa mereka membaca buku dan itu membuat saya berpikir kembali kenapa saya bisa menikmatinya. Saya sangat menyukai perkataan seorang penulis tentang hal ini, E.B. White: "As in the sexual experience, there are never more than two persons presenting the act of reading, the writer who is the impregnator, and the reader who is the respondent".

Saat membaca buku adalah sebuah yang saat yang unik, kita berdialog dengan keadaan yang soliter, saat yang pribadi namun juga berbagi, berimaginasi. Membaca buku buat saya mirip seperti halnya sebuah perbincangan, semakin kita menikmati semakin lama pula kita betah untuk melanjutkan perbincangan itu halaman demi halaman. Like having a good conversation.

Do you like to read books?

5 comments:

Eric said...

Yes, books were, still, and will always be my friends. Can't imagine living without one.

And I can't remember when I started collecting photo books which, since mostly are pictures, I can't say that I "read" those books.

But one interesting book that I read recently was the biography of HCB. I mean he is (one of) the man that got me into photography (sort of, you know what I mean). And this is like getting to know him as close as I possibly can without even meeting him in person. I think I will read more biographies from now on.

What's your favourite book?

Si Eneng said...

Ke Aksara- Kemang lagi yuukkk... Nggak usah beli klo lagi bokek! Pilih satu buku terus numpang baca di sana. Siapa tau klo beruntung ada cwek dengan senyum paling manis bakal nyemperin, kenalan, trus kyak film Serendipity deehh :D

Rony Zakaria said...

@si eneng
wah serendipity keren tuh. cuma khie, bedanya yang nyamperin itu cowoknya bukan si cewek dalam felem itu hahaha...

Rony Zakaria said...

@eric

I don't have any particular favorite book. Every book has its messages and influence for me. Of course there are great books and there are few which are less enjoyable.

But to pick one from all is just something too hard to do.

Karolus Naga said...

yup ...

paling benci kalau sampai pada pilihan anak kecil atau akuntan dan akhirnya akuntan yang menang ...

well ... great for you then if the kiddo wins the battle (all the time)