Monday, May 05, 2008

Menikmati Merapi

Pernah seorang kawan dari Palembang mengatakan bahwa baginya tidak ada yang mengalahkan perasaan ketika sampai di puncak sebuah gunung. Dan aku sangat dan selalu setuju pada ucapannya itu.

Saya mencoba untuk naik ke Gunung Merapi minggu kemarin bersama Heru, seorang kawan dari Jogja. Kami berangkat menuju Selo dengan sepeda motor. Kira-kira 2,5 jam dari Jogja. Sebenarnya ada jalur pendakian lain ke puncak Merapi, yaitu di Deles dan Kinahrejo, namun Selo akhirnya dipilih karena kemudahan medannya dibandingkan dengan jalur lain.

Belum sampai di Selo, hujan deras menerpa kami dan akibatnya sepatu basah. Sampai di Selo sekitar pukul 4.30 sore, tujuan pertama adalah basecamp, tempat para pendaki beristirahat dan berkumpul sebelum naik. Cukup banyak orang disana, hal yang wajar di akhir pekan, dengan tas-tas khas pendaki gunung. Ada kabar pula ada rombongan besar dari Semarang, sekitar 150 orang. Setelah meletakkan tas, saya beristirahat menunggu waktu. Kami merencanakan untuk naik malam hari pukul 10.


Menjemur sepatu sebelum naik

Basecamp yang dipenuhi puluhan orang membuat suasana cukup ramai dan cenderung bising. Obrolan-obrolan serta nyanyian-nyanyian terdengar dari beberapa kelompok. Terdengar lagu grup pop Indonesia terbaru dilantunkan lengkap dengan alunan gitar yang kadang diselingi lagu Iwan Fals. Cukup menghibur telinga walau akhirnya mata tak bisa terpejam. Tak terasa ketika waktu tiba untuk berangkat.

Angin berhembus pelan, udara dingin tapi tidak terlalu dingin, sepi namun tak sunyi. Malam itu tidak nampak bulan, kami memakai headlamp untuk menerangi jalan yang akan dilalui. Saya cukup kepayahan menjalani medan dalam satu jam pertama. Stamina yang pas-pasan dan kurang pemanasan (perencanaan naik Merapi ini, seperti gunung-gunung sebelumnya, juga sangat mendadak) menjadi salah satu faktor. Namun setelah beberapa kilometer dilalui, tubuh sudah beradaptasi dengan kondisi jalan. Kilometer-kilometer berikutnya tidak terasa seberat yang sudah lalu. Istirahat setiap 10 perlahan dikurangi menjadi setiap 30 menit.

Sekitar satu jam sebelum Pasar Gubrah, titik camp terakhir sebelum pendakian ke Puncak Garuda di Merapi, kami beristirahat cukup lama karena kabut yang cukup tebal. Tiada matras dan tenda kamipun menggunakan mantel hujan sebagai alas dan sleeping bag untuk selimut. Selama 45 menit kabut menghalangi jalan kami keatas dan selama itu pula kami beristirahat.

Kami tiba di Pasar Grubah jam 3 pagi. Sudah ada banyak tenda didirikan. Seperti mereka yang sudah sampai dan mendirikan tenda, rencana kami sama yaitu naik saat matahari sudah muncul. Setelah melihat-lihat akhirnya Heru menemukan satu tempat yang cukup nyaman untuk dijadikan spot rebahan. Saya pun tertidur setelah sleeping bag kembali menyelimuti kaki dan tubuh. Memberikan kehangatan yang sungguh langka.


Pagi di Pasar Grubah, Merapi

Saat matahari mulai terbit, saya sempat terbangun. Namun kantuk membuat saya lebih rela melewatkan sunrise untuk kembali menutup mata barang sejenak. Ketika benar-benar bangun, sekitar jam 6.30, dingin sangat menusuk tulang. Tangan terasa beku, ujung jari benar-benar mati rasa karena dingin. Segala cara saya lakukan untuk menghilangkan dingin: berlari-lari kecil, mondar-mandir. sedikit lompat-lompat. Sampai hingga semua cara tersebut tidak mengurangi rasa beku di telapak tangan, saya akhirnya menggunakan air seni yang hangat (baca: mengencingi tangan sendiri) untuk menghangatkan tangan. Bisa dibilang jorok, tetapi saya bilang perlu :D


Sarapan di Merapi

Setelah Heru bangun, kami sarapan dan kemudian packing. Pukul 8 berangkat dari Pasar Gubrah menuju puncak Garuda, titik tertinggi Merapi. Jalan sangat terjal, kemiringannya mencapai 70 derajat dan berbatu-batu yang rawan lepas. Dalam perjalanan naik, banyak orang yang sudah mulai menuruni. Semakin keatas mulai terlihat asap-asap keluar dari sela-sela bebatuan. Saya harus mengakui bahwa medan Merapi merupakan yang terberat dari gunung-gunung yang sebelumnya pernah saya naiki.


Menuju Puncak Garuda

Kami akhirnya sampai di puncak Garuda pukul 9.20. Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya membuahkan hasil sampai ke puncak walau kabut sangat tebal. Saat kabut semakin tebal dan mulai hujan rintik, kamipun tak berlama-lama di puncak. Pukul 10 siang kami sudah bergegas turun kembali.

Perjalanan turun memang tidak seberat naik namun hujan turun dan membuat licin jalan. Hari itu saya cukup puas bisa kembali bersahabat dengan alam dan diri sendiri.

“Satisfaction lies in the effort, not in the attainment, full effort is full victory.” - Mohandas Gandhi


Djogjakarta, 5 Mei 2008

3 comments:

Lius Yansen said...

minta kisi2 foto landscape merapinya dunk :D

emil said...

how far you can endure, how satisfy you will be :)

akbar said...

Waduh, daki gunung memang enak. Pengen ne daki gunung lagi....