Friday, May 30, 2008

Setelah 10 Tahun Berlalu

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.


WS Rendra, 17 Mei 1998

Sajak ini dibacakan oleh Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998)

Saturday, May 24, 2008

Black and White


Perayaan Waisak di Borobudur, Magelang

Black & White, hitam dan putih, dua hal yang saling bertolak-belakang. Layaknya perdamaian dan kekerasan. Saya kembali lagi ke Yogyakarta minggu pagi (18/5) untuk memotret acara Waisak di Candi Borobudur, Magelang bersama beberapa kawan dari Galeri Foto Jurnalistik Antara. Sebuah kerinduan pada Jogja membawa saya kembali.

Pada hari Waisak (20/5), ribuan orang berkumpul di Candi Borobudur memperingati hari suci umat Buddha. Sebuah acara yang merefleksikan kedamaian, perdamaian dalam hati walau bisa dibilang cenderung seremonial saja. Beberapa kawan dari Jogja mengatakan acara tahun ini jauh lebih kecil daripada tahun sebelumnya. Mungkin karena Waisak tahun ini dipusatkan di Jakarta. Satu hal yang terlihat jelas adalah banyaknya fotografer, menurut kawan saya yang ikut bersama salah satu rombongan klub foto jumlahnya mencapai hampir 500 orang dari satu rombongan saja.

Selasa sorenya saat bertolak kembali menuju Jogja, kawan-kawan dari Galeri Antara pamit pulang terlebih dahulu. Mereka mengejar kereta malam untuk kembali ke Jakarta. Saya memang sudah merencanakan untuk tinggal beberapa hari lagi.

Keesokan harinya ada kabar dari SMS yang diterima kawan saya. "Ada demo besar menentang kenaikan BBM besok, dijamin bentrok!". Hari itu dibeberapa kota besar memang direncanakan akan ada demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan harga BBM oleh pemerintah.

Saya menuju ke jalan Malioboro, tepatnya di gedung Agung, istana negara di Yogyakarta. Demo oleh beberapa organisasi mahasiswa berjalan tertib dan cenderung tenang, hal itu berlangsung sampai siang. Keadaan mulai berubah dari adem-ayem menjadi 'tidak biasa' saat polisi mulai memasang pagar kawat didepan istana. Attitude dari massa rombongan mahasiswa yang berorasi pun berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.

Saat massa mulai membakar ban dan 'ogoh-ogoh' didepan kawat berduri, suasana berangsur panas, secara emosi dan tentu juga secara harafiah. Baik polisi yang dilengkapi dengan tameng dan pentungan serta mahasiswa harus bekerja keras menjaga emosinya masing-masing.


Demonstrasi Menolak Kenaikan Harga BBM, Yogyakarta.

Kericuhan terjadi saat para mahasiswa bergerak kedepan kawat berduri dengan bambu-bambu panjang untuk menembus barikade. Adrenalin saya semakin terpacu untuk memotret dalam keadaan seperti itu. Saat mahasiswa mulai melempari aparat dengan bambu dan botol minuman, Polisi pun tidak bisa menahan emosi, banyak dari mereka yang berlari mengitari pagar berduri dan mengejar para mahasiswa yang memprovokasi mereka.

Saya ikut berlari dibelakang para polisi yang sangat emosional dan dilengkapi dengan senjata. Kejadian tersebut berlangsung cepat. Beberapa mahasiswa dikeroyok serta dipukuli dengan senjata tumpul. Terdengar jelas suara hantaman senjata yang bertubi-tubi. Beberapa dari mereka dibawa ke markas. Tercatat ada empat orang mahasiswa yang ditahan. Para polisi yang mengejar para mahasiswa juga langsung disidang ditempat oleh atasannya.


Seorang Demonstran dibawa oleh Aparat setelah bentrok

Setelah ricuh, keadaan mulai berangsur mendingin. Massa mahasiswa tidak lagi sebanyak sebelumnya. Banyak yang terlihat memisahkan diri dan pulang. Tuntutan mahasiswa mengenai pembatalan kenaikan BBM pun samar-samar dan hanya sesekali terdengar. Ejek-ejekan antara mahasiswa dan aparat lebih banyak menghiasi sisa demonstrasi hari itu. Para mahasiswa membubarkan diri pukul enam setelah pihak polisi bersedia memenuhi tuntutan mahasiswa: 'mengobati' mahasiswa yang dipukul.

Hitam dan Putih, dua hal yang berbeda. Salah satunya tidak bisa hilang agar yang lainnya tetap ada. Saat hitam atau putih berganti menjadi abu-abu, kita akan bertanya-tanya apakah ia akan menjadi hitam atau putih kembali?

Wednesday, May 14, 2008

Moving On


Central Java, 2008. - Rony Zakaria.

Everything that has a beginning always has an end. That phrase sound so cliche but yet so contemporary.

I began my journey to Jogja almost three weeks ago, planned to stay for a single week but living the dream for 17 days instead. I did quite a lot, climbed Mt. Merapi, dressing as abdi dalem (Kraton Inside loyal servant) to cover The Sultan's daughter wedding, and of course meeting new faces and images.

I was very lucky to have a good friend, Oscar, who are willing to spare some space of his room for me to sleep. I never see my self as a tourist, more as a traveller. I never sleep in a hotel, I never rent a car, I never hire a guide. I don't feel I will get the real local experience and mood if I did those things, and of course I would be broke. I travel with my heart and feet not with a pack of money.

Anyway, I feel really comfort in Jogjakarta. One of the most interesting city I have visited and most desirable to stay longer and longer. But to rephrase the first sentence: Everything has to end and so is my journey. With a heavy heart and reluctant to leave the city I'm going back to Jakarta before doing another journey soon. Everything indeed has to end. But you can always restart it anytime.

And I will.

Monday, May 05, 2008

Menikmati Merapi

Pernah seorang kawan dari Palembang mengatakan bahwa baginya tidak ada yang mengalahkan perasaan ketika sampai di puncak sebuah gunung. Dan aku sangat dan selalu setuju pada ucapannya itu.

Saya mencoba untuk naik ke Gunung Merapi minggu kemarin bersama Heru, seorang kawan dari Jogja. Kami berangkat menuju Selo dengan sepeda motor. Kira-kira 2,5 jam dari Jogja. Sebenarnya ada jalur pendakian lain ke puncak Merapi, yaitu di Deles dan Kinahrejo, namun Selo akhirnya dipilih karena kemudahan medannya dibandingkan dengan jalur lain.

Belum sampai di Selo, hujan deras menerpa kami dan akibatnya sepatu basah. Sampai di Selo sekitar pukul 4.30 sore, tujuan pertama adalah basecamp, tempat para pendaki beristirahat dan berkumpul sebelum naik. Cukup banyak orang disana, hal yang wajar di akhir pekan, dengan tas-tas khas pendaki gunung. Ada kabar pula ada rombongan besar dari Semarang, sekitar 150 orang. Setelah meletakkan tas, saya beristirahat menunggu waktu. Kami merencanakan untuk naik malam hari pukul 10.


Menjemur sepatu sebelum naik

Basecamp yang dipenuhi puluhan orang membuat suasana cukup ramai dan cenderung bising. Obrolan-obrolan serta nyanyian-nyanyian terdengar dari beberapa kelompok. Terdengar lagu grup pop Indonesia terbaru dilantunkan lengkap dengan alunan gitar yang kadang diselingi lagu Iwan Fals. Cukup menghibur telinga walau akhirnya mata tak bisa terpejam. Tak terasa ketika waktu tiba untuk berangkat.

Angin berhembus pelan, udara dingin tapi tidak terlalu dingin, sepi namun tak sunyi. Malam itu tidak nampak bulan, kami memakai headlamp untuk menerangi jalan yang akan dilalui. Saya cukup kepayahan menjalani medan dalam satu jam pertama. Stamina yang pas-pasan dan kurang pemanasan (perencanaan naik Merapi ini, seperti gunung-gunung sebelumnya, juga sangat mendadak) menjadi salah satu faktor. Namun setelah beberapa kilometer dilalui, tubuh sudah beradaptasi dengan kondisi jalan. Kilometer-kilometer berikutnya tidak terasa seberat yang sudah lalu. Istirahat setiap 10 perlahan dikurangi menjadi setiap 30 menit.

Sekitar satu jam sebelum Pasar Gubrah, titik camp terakhir sebelum pendakian ke Puncak Garuda di Merapi, kami beristirahat cukup lama karena kabut yang cukup tebal. Tiada matras dan tenda kamipun menggunakan mantel hujan sebagai alas dan sleeping bag untuk selimut. Selama 45 menit kabut menghalangi jalan kami keatas dan selama itu pula kami beristirahat.

Kami tiba di Pasar Grubah jam 3 pagi. Sudah ada banyak tenda didirikan. Seperti mereka yang sudah sampai dan mendirikan tenda, rencana kami sama yaitu naik saat matahari sudah muncul. Setelah melihat-lihat akhirnya Heru menemukan satu tempat yang cukup nyaman untuk dijadikan spot rebahan. Saya pun tertidur setelah sleeping bag kembali menyelimuti kaki dan tubuh. Memberikan kehangatan yang sungguh langka.


Pagi di Pasar Grubah, Merapi

Saat matahari mulai terbit, saya sempat terbangun. Namun kantuk membuat saya lebih rela melewatkan sunrise untuk kembali menutup mata barang sejenak. Ketika benar-benar bangun, sekitar jam 6.30, dingin sangat menusuk tulang. Tangan terasa beku, ujung jari benar-benar mati rasa karena dingin. Segala cara saya lakukan untuk menghilangkan dingin: berlari-lari kecil, mondar-mandir. sedikit lompat-lompat. Sampai hingga semua cara tersebut tidak mengurangi rasa beku di telapak tangan, saya akhirnya menggunakan air seni yang hangat (baca: mengencingi tangan sendiri) untuk menghangatkan tangan. Bisa dibilang jorok, tetapi saya bilang perlu :D


Sarapan di Merapi

Setelah Heru bangun, kami sarapan dan kemudian packing. Pukul 8 berangkat dari Pasar Gubrah menuju puncak Garuda, titik tertinggi Merapi. Jalan sangat terjal, kemiringannya mencapai 70 derajat dan berbatu-batu yang rawan lepas. Dalam perjalanan naik, banyak orang yang sudah mulai menuruni. Semakin keatas mulai terlihat asap-asap keluar dari sela-sela bebatuan. Saya harus mengakui bahwa medan Merapi merupakan yang terberat dari gunung-gunung yang sebelumnya pernah saya naiki.


Menuju Puncak Garuda

Kami akhirnya sampai di puncak Garuda pukul 9.20. Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya membuahkan hasil sampai ke puncak walau kabut sangat tebal. Saat kabut semakin tebal dan mulai hujan rintik, kamipun tak berlama-lama di puncak. Pukul 10 siang kami sudah bergegas turun kembali.

Perjalanan turun memang tidak seberat naik namun hujan turun dan membuat licin jalan. Hari itu saya cukup puas bisa kembali bersahabat dengan alam dan diri sendiri.

“Satisfaction lies in the effort, not in the attainment, full effort is full victory.” - Mohandas Gandhi


Djogjakarta, 5 Mei 2008

Friday, May 02, 2008

Djogja Day 7


Yogyakarta - 2008 / Rony Zakaria

A week has passed in Jogjakarta. I really do enjoy living here so far, enjoyed it so much till I decided to extend my stay for another week.

I'm having fun but also in the same time doing my work here. And I don't know why, the situation, the people, the feeling, everything just goes on very well. What I can say is so far so good.

Tomorrow I'm going to do another adventure. Climbing Mt. Merapi which erupted two years ago in 2006.

I'm very much looking forward to it.

Standing on the peak. On the top. The peak of the world.

Feeling the greatest emotion in life.

Being human.