Wednesday, January 30, 2008

Mengingat "Jasa" Suharto (1921-2008)


Larry Burrows / Time Life Pictures / Getty Images
Suharto dan istrinya, Siti Hartinah sedang latihan menembak.
Bersama mereka, Tommy yang menutup telinganya.


Saya sedang berada di rumah kawan saya di daerah Jakarta Timur ketika berita itu datang. Suharto meninggal. Istri kawan saya kemudian memberitahu semua saluran televisi sudah dipenuhi dengan berita mengenai kematiannya.

Hari itu hari minggu. Saya masih ingat betul ketika Siti Hartinah, istri Suharto yang lebih dikenal sebagai Ibu Tien, meninggal pada tahun 1996. Saat itu kehebohan juga terjadi di media dan entah kebetulan atau tidak, hari itu juga hari minggu.

Kematian Suharto merupakan akhir dari rentetan berita yang membosankan setiap harinya di media massa mengenai dirawatnya mantan Presiden RI kedua yang memerintah selama 32 tahun dibawah rezim orde baru itu di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Namun juga merupakan awal dari rentetan berita yang akan memenuhi media cetak dan elektronik selama beberapa hari kedepan.

Keesokannya, Harian Kompas, surat kabar terbesar di negeri ini, menurunkan laporan khusus sebanyak 16 halaman. Jakob Oetama, pendiri Harian Kompas (bersama alm.PK Ojong), menulis sendiri berita utama kematian Suharto. Hampir seluruh media elektronik meliput secara langsung prosesi perjalanan jenazah Suharto dari Jakarta sampai ke Astana Giri Bangun, kompleks pemakaman keluarga di Karanganyar, Jawa Tengah yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Dari Astana Giri Bangun kemudian berlanjut dengan tayangan-tayangan khusus untuk mengingat jasa-jasa "Pak Harto", sebutan yang sangat populer di jaman orde baru, bahkan ada satu tv yang menuliskan "Selamat jalan Bapakku, Eyangku", ternyata memang televisi tersebut dimiliki oleh salah satu anggota keluarga Cendana.

Puja-puji dilayangkan dengan diiringi lagu-lagu sedih seakan-akan seluruh penduduk Indonesia yang 200 juta itu berduka semua. Seolah seorang pahlawan besar meninggalkan kita. Seolah melupakan bahwa 10 tahun lalu, televisi-televisi yang sama memberitakan tentang jatuhnya rezim orde baru, tentang kebobrokan Suharto. Dan sekarang seolah-olah semua itu tidak ada, bersih dan suci. Sangatlah ironis mengingat saat berkuasa dulu, Suharto yang menerapkan kontrol media yang ketat, tidak segan-segan membredel media bila terdapat berita yang menyinggung pemerintah. Kini ia dimuliakan oleh mereka. Tempo dan Sinar Harapan merupakan beberapa dari media-media yang pernah dilarang untuk terbit dimasa pemerintahan Suharto.

Jasa besar yang paling sering disebut-sebut adalah berhasilnya dia membawa Indonesia Swasembada Pangan Beras. Hal itu dicapai dengan pengenalan bioteknologi di bidang pertanian menggunakan varietas bibit padi unggul. Namun, disaat inilah industrialisasi pabrik masuk dengan para pemodal besar yang membuat posisi petani semakin terjepit dan makin miskin sampai sekarang. Dan apabila dilihat, kecuali 1984 Indonesia masih terus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

"Gelar" Bapak Pembangunan Bangsa juga kembali disebut setelah lama tak terdengar. Suharto dianggap sukses membangun Indonesia dengan program Rencana Pembangunan Lima Tahun atau Repelita. Namun pada kenyataannya, masih banyak desa yang belum dialiri listrik dan jaringan telepon. Apabila pada jaman orde baru, ada desa yang mempunyai jalan yang sudah diaspal, hampir bisa dipastikan jalanan itu dibangun ketika Suharto akan melakukan kunjungan ke daerah tersebut. Suharto sering mengunjungi daerah untuk berdialog dengan para petani dan nelayan, kegiatan tersebut dulu terkenal dengan sebutan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa). Saya ingat sering melihat acara ini dari TVRI waktu kecil.

Pelanggaran HAM juga terjadi dibawah rezim orde baru, termasuk pembantaian terhadap simpatisan komunis pada tahun1966-67, yang jumlahnya melebihi setengah juta jiwa. Suharto juga menjalankan operasi Petrus (Penembak Misterius), sebuah aksi dari militer Indonesia pada tahun 1980an untuk menembak mati para residivis tanpa proses hukum. Tanpa babibu, langsung tembak.

Tidak seorangpun diadili dalam kasus pelanggaran HAM itu. Pengusutan kasus korupsi sebesar 35 juta dollar yang dilakukan yayasan Supersemar milik Suharto pun masih berlarut-larut dan tidak jelas kelanjutannya.

Suharto jelas harus diingat, tidak boleh dilupakan. Namun yang lebih penting ia harus diingat baik dan buruknya. Bahwa dibalik sebutan "Smiling General" terdapat sisi buruk yang sama sekali tidak pantas diteladani.

Saat saya melihat liputan langsung di televisi mengenai upacara pemakamannya. Ibu saya juga menonton liputan itu, tampak ia sedikit mengeluarkan air mata. Sewaktu kecil ia pernah mengingatkan pada kami, anak-anaknya agar hati-hati kalau bicara soal presiden. Saat jeda iklan sambil sedikit terisak ia bertanya pada saya "Ron, kamu ga sedih pak Harto meninggal?".

Saya hanya menjawab singkat "Enggak".

Monday, January 28, 2008

Processing My Negatives


Old Market / Rony Zakaria

I started photographing almost three years ago. But the fact that my first camera is digital, I never ever processed a negative film in a dark room. With digital camera you don't have to take your film to the lab or to a darkroom, because your camera does it for you. Right after the click of the shutter button, you can instantly preview the result.

And it was until yesterday I finally learnt and actually experienced the process. Sihol, a fellow photographer, was kindly enough to teach me the craft. He told me about what chemical to use and the right temperature to develop a good negative.

I started to have interest in the developing process of a film when I tried shooting with analog film camera. Test driving at first, it becomes more frequent and finally I decided that I have to learn much more about film, including its developing process.

And the results turned out quite ok for a first timer. But I need a lot of practise to perfect it. Well, practice makes perfect right!

Sunday, January 13, 2008

Kematian Paman Gober

Oleh: Seno Gumira Ajidarma



Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.


Jakarta, 16 Agustus 1994

Saturday, January 05, 2008

2008: Apa?


Waiting to go / Rony Zakaria


Tahun baru 2008 banyak teman-teman saya yang membuat resolusi. Ada yang menargetkan dapat jodoh, ada yang ingin dapat kerjaan yang lebih baik, dan segudang keinginan yang tentunya baik buat mereka.

Selama empat tahun terakhir, saya selalu membuat resolusi tahun baru. Namun ritual tahunan ini hanya menjadi keinginan yang terlupakan setelah melewati bulan kedua dan kadang kalau masih semangat, bulan ketiga. Dan bisa diketahui, kebanyakan bagian dari resolusi-resolusi itu hanya menjadi pengulangan setiap tahunnya. Kalau mau lebih jelas: tidak terlaksana.

Jadi saya tidak ingin membuat resolusi apapun di tahun 2008 ini. Tapi saya tahu apa yang ingin saya rasakan ketika berada di 2009 nanti, bahwa saya bisa mengatakan pada diri sendiri: "2008, what a year!". Tapi ini bukan resolusi loh, hehehe...