Sunday, December 30, 2007

Perjalanan Mendadak ke Ijen

Dari Surabaya, 20 Desember 2007
Pagi hari saya berangkat dari Surabaya untuk menuju Banyuwangi tempat Gunung Ijen berada. Saya meninggalkan hampir semua barang yang saya bawa kecuali 3 potong baju, jaket dan tentu sebuah kamera. Persiapan sangat singkat dan boleh dibilang terburu-buru, untuk membayangkan bagaimana terburu-burunya, saya baru menyiapkan isi backpack saya 20 menit sebelum berangkat.



Menuju Banyuwangi dari Surabaya, saya berangkat naik bus ke arah Banyuwangi dari Terminal Bus Bungurasih (Purabaya), perjalanan memakan waktu kira-kira 7 jam. Sampai di Banyuwangi jam 7 malam, saya langsung mencari losmen untuk bermalam, beruntung supir angkot mau mengantarkan ke losmen di daerah Besuki Rahmat, bersih dan murah. Saya menyewa kamar dengan 3 bed, tv, kipas angin dengan kamar mandi di dalam, fare-nya? 50rb saja.


Menuju Paltuding, 21 Desember 2007
Untuk mencapai post Gunung Ijen saya harus melalui terminal terakhir di Jambu, sekitar 17 kilometer dari Ijen. Sebenarnya menuju Jambu bisa ditempuh dengan angkutan umum dari terminal Sasak Perot ke Licin dan kemudian dilanjutkan lagi menuju Jambu menggunakan angkutan espass biayanya sangat murah Rp.2500 dan Rp.5000 masing-masing. Namun untuk menghemat waktu saya menggunakan jasa ojek sampai Jambu.

Sesampainya di Jambu, angkutan truk Belerang yang rencananya saya tumpangi ternyata libur, angkutan truk libur setiap jumat dan minggu. Waktu itu masih jam 6.30 pagi, tidak mau menunggu saya akhirnya berjalan kaki saja naik keatas, 17 kilometer dengan jalan yang menanjak terus. Jambu ternyata merupakan daerah perkebunan, di sekeliling banyak terlihat perkebunan-perkebunan cengkeh dan semakin jauh perjalanan naik ke atas, banyak ditemukan sarang-sarang lebah tiap 500 meter untuk menghasilkan madu.


17 km menuju Paltuding

Walaupun awalnya bersemangat, setelah berjalan 2 jam dan baru menempuh sekitar 7 kilometer, istirahat semakin sering, setiap 10 menit berjalan, terkadang setiap 100 meter, tanjakan-tanjakan itu memang menguras banyak tenaga. Saat duduk beristirahat beralaskan dedaunan di pinggir jalan, suara mobil terdengar dari kejauhan. Suara terindah itu ternyata benar adanya, sebuah mobil colt angkutan sayuran. Akhirnya saya menumpang di bak belakang mobil, capek? Langsung hilang! Perjalanan naik mobil colt ditempuh kurang dari 20 menit. Ternyata perjalanan berjalan kaki tadi sudah menempuh setengah perjalanan.


Menumpang mobil pickup

Sesampainya di Paltuding, sebuah pos pengawas dan tempat camping, seorang petugas menyambut dan mempersilahkan untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk menyewa kamar, karena hari sudah siang dan kabut tebal sudah menyelimuti puncak gunung. Sewa kamar Rp.75 ribu, cukup mahal untuk kamar dengan 2 tempat tidur kecil dan tanpa listrik. Sayang saya tidak membawa tenda dan sleeping bag, yah namanya juga perjalanan spontan.

Suhu di Paltuding dingin sekali, hembusan angin sepoi-sepoi pun terasa menusuk terutama setelah sore datang. Puncaknya pada malam hari, suhu bisa mencapai 5 derajat celcius. Saya pun menyantap mie instan dengan kuah hangat, makanan paling nikmat dalam kondisi seperti ini. Menurut kawan yang saya temui disana, bulan agustus adalah bulan terdingin di Ijen, suhunya bisa mencapai nol derajat, rerumputan beku dan mati serta menurutnya banyak kucing yang mati.

Malam itu saya tidur jam 9 malam.


Naik ke Ijen, 22 Desember 2007
Jam 4.30 langit masih gelap, kabut masih tebal dan dinginnya hembusan angin sangat menusuk. Kurangnya persiapan menjadi hambatan, saya tidak membawa senter! Sangat mustahil untuk melihat kedepan tanpa senter. Senter tidak ada, handphone dan LCD kamera pun jadi, paling tidak bisa membantu melihat jalan 1 meter di depan. Untuk naik ke puncak Ijen, terdapat jalan setapak yang menanjak miring sejauh 3 kilometer keatas. Jalannya tidak sulit karena sudah diaspal namun karena kemiringan tanjakan dan udara pagi yang tipis, stamina cepat habis apabila belum terbiasa.

Saya beristirahat sejenak di warung yang terletak di pos atas, pos ini digunakan sebagai kantin dan tempat pertimbangan belerang I, memang gunung Ijen mempunyai pertambangan belerang di bagian bawah kawahnya. Dari pos tersebut sudah tercium sedikit aroma belerang dan terlihat banyak batuan-batuan belerang yang dibawa oleh para penambang dari kawah. Saya bertemu dengan empat orang turis dari Malaysia disana. Mereka berasal dari KL dan sedang berwisata keliling Jawa Timur dan Tengah, mereka akan ke Jogjakarta setelah dari Ijen. Salah satu dari mereka bekerja di bagian finance dan saya cukup lama berbincang dengannya, sambil menaiki jalan kembali ke puncak. Dari kanting masih ada jarak 1 kilometer lagi yang harus ditempuh, namun tanjakannya tidak sesulit sebelumnya ditambah dengan obrolan dari kawan baru, terasa lebih santai.

Sesampai di puncak Ijen, kabut tebal masih menyelimuti pemandangan sekitar, namun dalam seketika ada hembusan keras angin yang seolah ingin menyambut kedatangan kami. Sejenak kabut tersebut hilang dan tampaklah di sekeliling pegunungan yang indah. Rasanya seperti dalam mimpi. Sungguh luar biasa indahnya. Di atas, saya banyak melihat para penambang belerang yang membawa batuan-batuan belerang dari kawah, sekali perjalanan mereka bisa membawa 70-100 kilogram belerang, satu kilogramnya dihargai Rp.400.


Di Puncak Ijen
Saya tertarik untuk melihat langsung ke tempat penambangan belerang di bawah. Teman-teman dari Malaysia memutuskan mereka akan diatas saja maka saya pun turun sendiri. Untuk sampai ke penambangan, kita harus turun sejauh 1 kilometer dengan medan yang sangat terjal dan berbatu. Saat di Paltuding saya diceritakan tentang seorang turis perempuan dari Swedia yang jatuh saat menuruni kebawah kawah, ia meninggal karena terperosok sampai ke bawah. Saya hanya bisa berhati-hati dan tetap mengontrol semangat saya saat turun kebawah.

Semakin kebawah, bau belerang makin kuat dan sangat menyengat paru-paru terutama saat asap dari bawah menerpa kita. Saya menutup hidung dan mulut saya dengan scarf yang dibasahi air aqua untuk mengurangi efeknya. Sampai di bawah terlihat sebuah bukit kuning raksasa yang terus mengeluarkan asap tebal belerang. Saya tentu saja memotret di pertambangan. Saat asap belerang dari pipa-pipa itu menerpa kita, bukan hanya menusuk kedalam paru-paru dan batuk seketika, tetapi juga membuat mata perih. Setelah 2 jam berada dibawah akhirnya saya menyerah, mata terus mengeluarkan air mata dan tidak lagi bisa fokus memotret. Saat itu saya memutuskan untuk kembali naik keatas.


Penambangan Belerang di Kawah Ijen


Perjalanan naik keatas ternyata lebih berat daripada turun, bukan hanya kali ini jalannya menanjak keatas tetapi asap dari bawah ternyata lebih tebal menjelang siang dibandingkan dengan pagi tadi. Saat asap menerpa saya dan beberapa penambang yang keatas, kami harus berhenti terlebih dahulu 1-2 menit sambil menutup muka dengan kain yang dibasahi air. Hal ini terjadi beberapa kali dalam perjalanan ke atas. Sesampainya diatas saya langsung turun ke Paltuding. Dua jam berada di tambang menyebabkan efek yang buruk buat mata saya yang terus menerus mengeluarkan air mata. Beberapa kali saya mengkompresnya dengan air sampai reda. Pelajaran buat saya, lain kali harus bawa kacamata. Kapok jadi orang nekad!


Menunggu asap reda

Jam 2 siang saya membereskan barang saya dan bersiap kembali ke Banyuwangi. Saya menuju ke pos penimbangan belerang di Paltuding, dimana para penambang membawa belerang yang mereka pikul dari kawah untuk ditimbang dan kemudian diangkut ke pabrik di Licin dengan truk.


Mengangkut Belerang ke Licin

Dari pos itu saya menumpang truk tersebut menuju Jambu untuk kemudian kembali ke Banyuwangi.

Saya meninggalkan Ijen, tapi saya akan kembali, suatu saat nanti. Sungguh terlalu singkat untuk dinikmati hanya sekilas saja.

3 comments:

Wanderer said...

seperti yang dvd itu ya ron, keren ^:)^

billitone said...

Perjalanan yg mendadak, tapi knapa ke Ijen? Adakah sesuatu disana yg memang ingin anda "ambil"? Bagaimana anda merencanakan trip?

rdt said...

Mantep banget tuh... hehe