Sunday, November 18, 2007

3 Hari, 3 Malam, 3 Negara

Singapura
Saya akhirnya berangkat pada 14 November lalu untuk menuju festival Foto Angkor di Siem Reap, Kamboja. Perjalanan saya dimulai di Batam dari Jakarta. Saya menyeberang ke Singapura dengan ferry untuk menghemat biaya fiskal luar negeri Indonesia. Perjalanan ferry ke Singapure memakan waktu 1 jam dari Pelabuhan Batam Center, tiketnya? S$15 sekali jalan.

Jam 16.00 wakti Singapura, ferry tiba di HarbourFront. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di negeri orang. Setelah mengurus imigrasi, saya menghubungi beberapa kawan yang tinggal di Singapura, beruntung saya tidak usah tersesat lebih dahulu karena ada kawan yang berbaik hati mau menjemput saya. Oleh Yenny, saya diajari tentang transport di Singapura melalui MRT dan Bus. Hari itu saya menginap di Tampines, kebetulan dua orang kawan saya, Gani dan Randy tinggal disana, di HDB (semacam rumah susun pemerintah) di daerah Tampines.


Inside MRT in Singapore

Keesokannya, saya sudah bisa menjelajahi Singapura dengan MRT dan Bus. Harus saya akui tranportasi di Singapura sangat bagus dan efisien dan mudah. Sangat mudah untuk dimengerti sehingga untuk jalan-jalan di Singapura tidak akan ada kesulitan yang berarti. Saya mengunjungi daerah Tanjung Pagar dan ChinaTown pada pagi harinya. Tanjung Pagar terkenal dengan pub-pub serta banyak arsitektur yang tradisional walau dengan warna yang kontemporer. Siang harinya saya ke daerah Bedok, disana sudah menunggu Yenny yang mengajak makan siang. "I'll buy you lunch" dia bilang dengan singlish yang fasih, walau ia orang Indonesia tapi harus saya akui singlish nya sangat kenal ( no offence, yenny :D ).


ChinaTown


ChinaTown


ChinaTown

Saat makan siang, saya berbincang dengan teman kerjanya, Jo, dia berasal dari Burma dan sudah bekerja di Singapura selama 3 tahun. Kami berbicang banyak tentang negara asalnya (Burma/Myanmar). Setelah makan siang, saya bergegas menuju ke Kampong Lorong Buangkok, sekitar 1 jam dari Bedok. Disana terdapat sebuah kawasan "old singapore" yang masih tersisa. Banyak rumah-rumah sederhana, tidak rapi dan terkesan kumuh disana. Ada yang menyebutnya sebagai The last village in Singapore. Saya sempat tersesat disana namun lagi-lagi Yenny came to the rescue. Saya mendapat arahan sampai akhirnya menemukan kampung Lorong Buangkok di tengah-tengah pepohonan rimbun.


Inside Kampong Lorong Buangkok


Inside Kampong Lorong Buangkok

Setelah memotret satu hari penuh, selanjutnya adalah hal yang menegangkan: Mengejar Pesawat. Dari kampong saya langsung menuju Tampines, mengepak barang dan langsung menuju airport kelelahan. Saya berpikir bahwa saya akan bisa tidur di pesawat setidaknya 2 jam. Namun ternyata nasib berkata lain....Di atas pesawat menuju Bangkok, saya satu kursi dengan orang Indonesia dan dia berbicara sepanjang perjalanan. As an Indonesian I can't afford to be rude. Jadi saya akan tidur di suvarnabhumi airport saja.

Bangkok
Pesawat AirAsia dari changi menuju Bangkok tiba pukul 00.10 waktu Bangkok (Bangkok mempunyai waktu yang sama dengan Jakarta). Setelah selesai dengan urusan imigrasi, saya langsung menaruh semua barang bawaan di satu kereta dorong dan mencari spot paling enak dan strategis di bandara untuk tidur. Akhirnya saya menemukannya di dekat pintu keluar. Bandara cukup nyaman dengan AC dan background music yang cukup relaxing, namun airport tetaplah airport, tetap berisik. Jadi saya cuma bisa tidur dengan tenang selama 15 menit. Saya menuju Stasiun Kereta Hualamphong jam 3 pagi.


Hualampong Train Station


The Train to Aranyaprathet Border

Saya membeli tiket kereta menuju perbatasan Aranyaprathet sebesar 48 Bath (sekitar 15 ribu rupiah). Perjalanan ke perbatasan akan memakan waktu 6 jam, kereta berangkat pukul 6 pagi. Saya sudah menutup mata dan sedang menuju dunia mimpi ketika seorang memanggil nama saya, "my name is sherab, are you Rony?", Sherab berasal dari India dan juga menuju ke Festival di Angkor, dia bisa menemukan saya di salah satu gerbong karena kami sebelumnya berkorespondensi melalui email tetapi belum membuat janji untuk pergi bersama. Jadi singkat kata, saya pindah untuk duduk bersama Sherab dan 2 orang kawannya dari India, Selva dan Vivek. Akhirnya saya bisa tidur sekitar 2 jam di perjalanan. Perjalanan dari Bangkok ke Aran border sendiri sangat dapat dinikmati, pemandangan indah ada di kiri dan kanan jendela.


A View from The Train

Sekitar pukul 12 siang kami sampai di Aranyaprathet dan langsung menuju ke perbatasan Aran/Poipet tempat kami akan menyeberang ke Kamboja. Kami menggunakan Tuk-Tuk untuk sampai kesana (sekitar 50 baht) dan hal yang pertama dia lakukan adalah membawa kami ke agen untuk visa, dimana supir akan mendapat komisi untuk ini, dan agen itu memaksa bahwa untuk mendapatkan visa ke kamboja harus disini, Saya hanya bilang bahwa saya sudah pernah kesini (which was a white lie) dan akhirnya dia "back off".

Kamboja
Perbatasan Kamboja adalah kota Poipet, ada alasan yang masuk akal kenapa Poipet serirama dengan Toilet. Ada banyak anak kecil pengemis, peminta-minta dan yang paling parah, calo untuk turis yang menipu kita. Saya sudah memegang visa (evisa online) sehingga saya bisa lewat dengan cepat tetapi 2 orang teman dari India harus apply visa on arrival dan itu memakan waktu 2 jam diperbatasan. Lesson learnt: Always your visa on advanced!

Dari Poipet kita bisa memilih untuk naik bus atau taksi. Bus akan sampai di Siem Reap dalam 6 jam, namun pada kenyataannya perjalanan bisa mencapai 12 jam dan ada kemungkinan besar kita bisa dijual ke guest house pilihan supir, karena si supir akan mendapatkan komisi dari setiap turis yang tinggal disana. Jadi Taksi adalah pilihan yang lebih baik. Kami berempat mengambil taksi seharga 1400 Bath (350 bath each) dan perjalanan memakan waktu 4 jam. 4 jam yang melelahkan karena jalan sepanjang Poipet-Siem Reap tidak diaspal dengan baik, ada yang menyebutnya "Dancing Road", kita bisa berdansa sambil tidur di taksi. Kalau punya uang yang cukup, saran saya naik pesawat saja. Karena perjalanan sepanjang 300 kilometer selama 3 jam ini sangat menyiksa dan menguras tenaga.


The Dancing Road from Poipet to Siem Reap

Kami sampai di Siem Reap pukul 7 dan langsung menuju Festival center di Carnets D'Asie, mereka langsung memberikan kamar di guest house yang berada tepat disebelah center. Sekarang adalah hari kedua saya di Siem Reap, saya bertemu banyak orang dari berbagai negara (mostly photographer) namun ternyata mengingat nama itu sulit sekali :D

I will update again soon, see you!

2 comments:

yenny said...

wahh internet nya lancar yak di sono !!
jadi bisa nge update blog.

singlish gue kental ? hmm.. i take it as compliment :p

enjoy ur trip, take care yoo.

Muara said...

Jalan darat sengaja dibuat rusak dan tidak diaspal biar orang2 pada naek pesawat.