Friday, November 30, 2007

Last Stop: Bangkok


Jalan dari Siem Reap menuju Poipet Border

Hari ini saya meninggalkan Siem Reap, Kamboja setelah berada 2 minggu disana untuk festival foto angkor. Tujuan saya setelah Siem Reap adalah Bangkok, saya akan bertolak ke Jakarta dari sana. Dari Siem Reap saya kembali mengambil rute yang hampir sama saat pergi yaitu lewat jalan darat Siem Reap - Poipet - Aranyaprathet - Bangkok. Kali ini saya naik bus yang harga tiketnya $15.

Bus sampai di Bangkok pukul 8 malam. Saya memutuskan untuk bermalam di daerah backpacker Khao San Road, kawasan ini mirip amat populer di kalangan backpacker. Mirip dengan Jalan Jaksa di Jakarta namun berkali-kali lipat lebih besar.


Khao San Road, Bangkok

Keesokan harinya saya pergi ke kawasan Sukumvit untuk menemui kawan lama saya dari Kanada, Kloie Picot. Dia sedang mengikuti workshop foto bersama James Nachtwey dan David Alan Harvey. Ia dengan baik hati mengajak saya masuk ke ruang meeting di Dream Hotel, tempat dimana workshop berlangsung, untuk melihat proses editing terakhir hasil karya perserta workshop. Malam ini para peserta workshop tersebut akan memproyeksikan karyanya. Sayangnya saya tidak bisa menghadiri acara tersebut karena pesawat menuju Jakarta berangkat pada waktu yang sama.


Suvarnabhumi Airport Bangkok

Saya pergi ke Suvarnabhumi Airport naik taksi, tidak terlalu mahal dibandingkan dengan taksi di Jakarta. Sekarang saya sudah berada di ruang tunggu boarding untuk pesawat ke Jakarta pukul 8.15. Tidak terasa sudah dua minggu lebih saya berada di luar Indonesia. Banyak sekali yang saya alami dan butuh waktu yang lama untuk dicerna sesampainya di Jakarta.

Saya sudah memutuskan minggu depan saya akan berangkat ke Bali. Untuk relax, bertemu kawan dan mungkin, mungkin memotret.

Monday, November 26, 2007

Mixed Feeling in Cambodia


Siem Reap - Cambodia

This is my eleventh day in Cambodia. I've met so many people as I can hardly remember names, only faces. I encountered a lot of people, not only photographers, but also the local people who are very concerned about their country and their culture. I've been photographing for almost a week in Cambodia which very much related with their culture ( I will show it in my future post ) and I saw many things that kind of enlightened me in many ways.

This is not a serious post and probably not interesting at all. But I feel really amazed with different kind of emotions I had for last ten days. I was just so overwhelming for me to understand, and I'm still trying to understand why I feel this kind emotions mixed, changing everyday which I never experienced ever before. And I don't think this is homesickness.

You can say it's a mixture between trus bliss and loneliness. That's all I want to say know.

Probably I need to get drunk here to know the answer.

Sunday, November 18, 2007

3 Hari, 3 Malam, 3 Negara

Singapura
Saya akhirnya berangkat pada 14 November lalu untuk menuju festival Foto Angkor di Siem Reap, Kamboja. Perjalanan saya dimulai di Batam dari Jakarta. Saya menyeberang ke Singapura dengan ferry untuk menghemat biaya fiskal luar negeri Indonesia. Perjalanan ferry ke Singapure memakan waktu 1 jam dari Pelabuhan Batam Center, tiketnya? S$15 sekali jalan.

Jam 16.00 wakti Singapura, ferry tiba di HarbourFront. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di negeri orang. Setelah mengurus imigrasi, saya menghubungi beberapa kawan yang tinggal di Singapura, beruntung saya tidak usah tersesat lebih dahulu karena ada kawan yang berbaik hati mau menjemput saya. Oleh Yenny, saya diajari tentang transport di Singapura melalui MRT dan Bus. Hari itu saya menginap di Tampines, kebetulan dua orang kawan saya, Gani dan Randy tinggal disana, di HDB (semacam rumah susun pemerintah) di daerah Tampines.


Inside MRT in Singapore

Keesokannya, saya sudah bisa menjelajahi Singapura dengan MRT dan Bus. Harus saya akui tranportasi di Singapura sangat bagus dan efisien dan mudah. Sangat mudah untuk dimengerti sehingga untuk jalan-jalan di Singapura tidak akan ada kesulitan yang berarti. Saya mengunjungi daerah Tanjung Pagar dan ChinaTown pada pagi harinya. Tanjung Pagar terkenal dengan pub-pub serta banyak arsitektur yang tradisional walau dengan warna yang kontemporer. Siang harinya saya ke daerah Bedok, disana sudah menunggu Yenny yang mengajak makan siang. "I'll buy you lunch" dia bilang dengan singlish yang fasih, walau ia orang Indonesia tapi harus saya akui singlish nya sangat kenal ( no offence, yenny :D ).


ChinaTown


ChinaTown


ChinaTown

Saat makan siang, saya berbincang dengan teman kerjanya, Jo, dia berasal dari Burma dan sudah bekerja di Singapura selama 3 tahun. Kami berbicang banyak tentang negara asalnya (Burma/Myanmar). Setelah makan siang, saya bergegas menuju ke Kampong Lorong Buangkok, sekitar 1 jam dari Bedok. Disana terdapat sebuah kawasan "old singapore" yang masih tersisa. Banyak rumah-rumah sederhana, tidak rapi dan terkesan kumuh disana. Ada yang menyebutnya sebagai The last village in Singapore. Saya sempat tersesat disana namun lagi-lagi Yenny came to the rescue. Saya mendapat arahan sampai akhirnya menemukan kampung Lorong Buangkok di tengah-tengah pepohonan rimbun.


Inside Kampong Lorong Buangkok


Inside Kampong Lorong Buangkok

Setelah memotret satu hari penuh, selanjutnya adalah hal yang menegangkan: Mengejar Pesawat. Dari kampong saya langsung menuju Tampines, mengepak barang dan langsung menuju airport kelelahan. Saya berpikir bahwa saya akan bisa tidur di pesawat setidaknya 2 jam. Namun ternyata nasib berkata lain....Di atas pesawat menuju Bangkok, saya satu kursi dengan orang Indonesia dan dia berbicara sepanjang perjalanan. As an Indonesian I can't afford to be rude. Jadi saya akan tidur di suvarnabhumi airport saja.

Bangkok
Pesawat AirAsia dari changi menuju Bangkok tiba pukul 00.10 waktu Bangkok (Bangkok mempunyai waktu yang sama dengan Jakarta). Setelah selesai dengan urusan imigrasi, saya langsung menaruh semua barang bawaan di satu kereta dorong dan mencari spot paling enak dan strategis di bandara untuk tidur. Akhirnya saya menemukannya di dekat pintu keluar. Bandara cukup nyaman dengan AC dan background music yang cukup relaxing, namun airport tetaplah airport, tetap berisik. Jadi saya cuma bisa tidur dengan tenang selama 15 menit. Saya menuju Stasiun Kereta Hualamphong jam 3 pagi.


Hualampong Train Station


The Train to Aranyaprathet Border

Saya membeli tiket kereta menuju perbatasan Aranyaprathet sebesar 48 Bath (sekitar 15 ribu rupiah). Perjalanan ke perbatasan akan memakan waktu 6 jam, kereta berangkat pukul 6 pagi. Saya sudah menutup mata dan sedang menuju dunia mimpi ketika seorang memanggil nama saya, "my name is sherab, are you Rony?", Sherab berasal dari India dan juga menuju ke Festival di Angkor, dia bisa menemukan saya di salah satu gerbong karena kami sebelumnya berkorespondensi melalui email tetapi belum membuat janji untuk pergi bersama. Jadi singkat kata, saya pindah untuk duduk bersama Sherab dan 2 orang kawannya dari India, Selva dan Vivek. Akhirnya saya bisa tidur sekitar 2 jam di perjalanan. Perjalanan dari Bangkok ke Aran border sendiri sangat dapat dinikmati, pemandangan indah ada di kiri dan kanan jendela.


A View from The Train

Sekitar pukul 12 siang kami sampai di Aranyaprathet dan langsung menuju ke perbatasan Aran/Poipet tempat kami akan menyeberang ke Kamboja. Kami menggunakan Tuk-Tuk untuk sampai kesana (sekitar 50 baht) dan hal yang pertama dia lakukan adalah membawa kami ke agen untuk visa, dimana supir akan mendapat komisi untuk ini, dan agen itu memaksa bahwa untuk mendapatkan visa ke kamboja harus disini, Saya hanya bilang bahwa saya sudah pernah kesini (which was a white lie) dan akhirnya dia "back off".

Kamboja
Perbatasan Kamboja adalah kota Poipet, ada alasan yang masuk akal kenapa Poipet serirama dengan Toilet. Ada banyak anak kecil pengemis, peminta-minta dan yang paling parah, calo untuk turis yang menipu kita. Saya sudah memegang visa (evisa online) sehingga saya bisa lewat dengan cepat tetapi 2 orang teman dari India harus apply visa on arrival dan itu memakan waktu 2 jam diperbatasan. Lesson learnt: Always your visa on advanced!

Dari Poipet kita bisa memilih untuk naik bus atau taksi. Bus akan sampai di Siem Reap dalam 6 jam, namun pada kenyataannya perjalanan bisa mencapai 12 jam dan ada kemungkinan besar kita bisa dijual ke guest house pilihan supir, karena si supir akan mendapatkan komisi dari setiap turis yang tinggal disana. Jadi Taksi adalah pilihan yang lebih baik. Kami berempat mengambil taksi seharga 1400 Bath (350 bath each) dan perjalanan memakan waktu 4 jam. 4 jam yang melelahkan karena jalan sepanjang Poipet-Siem Reap tidak diaspal dengan baik, ada yang menyebutnya "Dancing Road", kita bisa berdansa sambil tidur di taksi. Kalau punya uang yang cukup, saran saya naik pesawat saja. Karena perjalanan sepanjang 300 kilometer selama 3 jam ini sangat menyiksa dan menguras tenaga.


The Dancing Road from Poipet to Siem Reap

Kami sampai di Siem Reap pukul 7 dan langsung menuju Festival center di Carnets D'Asie, mereka langsung memberikan kamar di guest house yang berada tepat disebelah center. Sekarang adalah hari kedua saya di Siem Reap, saya bertemu banyak orang dari berbagai negara (mostly photographer) namun ternyata mengingat nama itu sulit sekali :D

I will update again soon, see you!

Thursday, November 01, 2007

Looking to November

Saya belum pernah sekalipun pergi keluar negeri. Ya, selama hidup saya yang belum genap seperempat abad ini, tidak sekalipun kaki ini menginjakkan tanah di luar Indonesia. Pernah 'nyaris', tapi rencana itu batal karena waktu itu saya masih mempunyai sindrom naik pesawat, takut pesawatnya jatuh. Otomatis paspor saya expired tanpa ada satu cap pun.

Dua bulan lalu saya mendapat sebuah email yang membuat saya melompat kegirangan. Email tersebut berisi undangan untuk mengikuti free-workshop di Siem Reap, Kamboja. Penyelenggaranya adalah Angkor Photography Festival, sebuah festival fotografi regional yang akan diadakan untuk ketiga kalinya di Kamboja.



Workshop tersebut tidak dipungut biaya dan ditujukan untuk fotografer muda Asia dibawah 28 tahun dan saya cukup beruntung untuk dapat terpilih sebagai peserta. Yang membuat saya semakin bersemangat adalah tutor yang akan membimbing para peserta, diantaranya adalah Philip-Jones Griffiths dan Antoine D'Agata, dua fotografer dari Magnum, agency foto yang sudah melegenda. Plus saya akan pergi keluar negeri pertama kali, walau yah tidak jauh-jauh amat, masih di Asia Tenggara.

Sudah terbayang dalam pikiran saya, melihat Angkor, situs kota tua yang megah di Siem Reap. Diskusi yang akan saya alami bersama fotografer-fotografer muda lainnya dan fotografer-fotografer senior yang akan datang ke festival yang tentunya hanya akan menambah ilmu dan pengetahuan. Ah ini bagaikan mimpi saja. Mimpi yang menyenangkan karena akan menjadi kenyataan.

Namun kemudian timbul masalah, karena biaya perjalanan ditanggung peserta. Ini masalah karena jelas budget untuk pergi ke Kamboja cukup besar untuk kantong saya. Namun entah bagaimana, datang pekerjaan singkat yang bayarannya pas untuk membeli tiket pesawat, buat paspor dan bayar fiskal yang mahal itu. Beberapa hari kemudian, tidak disangka-sangka AirAsia 'berbaik hati' membuka promo penerbangan baru Jakarta-Bangkok yang ticket fare-nya cuma 350 ribu rupiah. Walau begitu budget saya tetep pas-pasan, itu sebabnya dari Bangkok saya merencanakan akan jalan darat naik kereta ke perbatasan Kamboja untuk mengirit, tapi tentu saja itu membuat perjalanan ini makin seru!

Jadi semua sudah siap, tiket semua sudah dibook, paspor baru sudah ditangan. Saya sudah mantab untuk pergi, tanggal wisuda pun yang bentrok dengan acara ini sudah saya tunda.

Tanggal 14 saya akan berangkat. Yah, berangkat keluar negeri. Semoga bisa membawa sesuatu kembali, foto, pengalaman dan ilmu untuk dibagi. Dan tentunya paspor saya tidak akan kosong lagi!