Tuesday, October 23, 2007

Mencari Kebijaksanaan di Gunung Padang

Semua bermula saat saya merencanakan untuk melihat situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Cerita-cerita mengesankan yang saya baca membuat keinginan makin menggebu-gebu untuk mengunjungi situs tersebut. Terlebih saya ingin membuktikan dengan melihatnya sendiri. Bukankah ada perkataan yang terkenal bahwa “seeing is believing”?.

Situs Gunung Padang sendiri terletak di desa Karyamukti, sekitar 20 kilometer dari pusat kota kabupaten Cianjur. Saya berpergian bersama 4 orang kawan, termasuk rekan saya dari Galeri Foto Jurnalistik Antara, Sihol Sitanggang. Untuk mencapai desa Karyamukti medan yang dilalui cukup keras dan berbatu, beruntung kami berpergian dengan Jeep yang memang dibuat untuk medan seperti ini. Plus kawan saya Sihol merupakan pengemudi offroad yang cukup handal. Dengan kata lain kami tiba di desa tersebut tanpa kesulitan yang berarti.


Perjalanan dengan mobil menuju Desa Karyamukti

Sampai di desa Karyamukti, kami menemui salah satu juru kunci situs tersebut, Dadi Buntar. Ia sempat mengira kedatangan kami, rombongan dari Jakarta, ingin melakukan “ritual” di situs, karena itu ia langsung menyebutkan tokoh-tokoh yang pernah “bersemedi” diatas, jumlahnya ada 47 termasuk Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan pajajaran dahulu. Namun kami buru-buru menjelaskan, bahwa tujuan kami bukanlah demikian. Memang banyak orang yang datang untuk melakukan ritual tertentu di situs Gunung Padang ini, dan rombongan dari Jakarta termasuk yang paling banyak.

Untuk mencapai situs Megalitikum sendiri yang berada diatas bukit, kami harus naik melalui tangga yang tinggi sepanjang 100 meter. Ditemani oleh Pak Dadi, kami mulai naik tangga yang tidak kelihatan ujungnya itu. “Paling 10 menit,” kata Pak Dadi mengenai waktu yang dibutuh untuk sampai keatas. Beberapa kawan menimpali “buat kami di kali tiga waktunya,” sambil setengah bercanda.


Tangga menuju situs Megalitikum Gunung Padang

Nafas saya mulai tidak beraturan, letih dan rasa pegal mulai menjalar di kaki saat perjalanan sudah setengah jalan ke atas. Tetapi saya memaklumi keadaan tersebut, wajar pikir saya, menaiki 468 anak tangga yang curam tidak pernah ada dalam jadwal kegiatan saya sehari-hari. Saat menapaki anak tangga terakhir, saya langsung berlari ingin melihat situs tersebut. Sungguh, sungguh, saya tidak bohong, capai dan letih tidak terasa lagi. Ribuan batu-batu menhir berbentuk balok sepanjang kurang lebih 1 meter berserakan di rerumputan dan bukit-bukit diatasnya, membentuk pandangan yang tidak biasa dan mengagumkan buat saya. Kata yang lebih tepat: ajaib.


Teras pertama di situs Gunung Padang

Baru sejenak saya menikmati pemandangan indah ini, tiba-tiba salah satu rekan seperjalanan jatuh pingsan, tidak sadarkan diri saat baru sampai di puncak. Saya langsung kembali ke belakang untuk melihat keadaannya. Rupanya ia terlampau memaksakan diri untuk sampai keatas dengan cepat. Situs Gunung Padang berada 895 m diatas permukaan laut, membuat tipisnya kadar oksigen di udara amat terasa, mulai dari pening di kepala sampai jatuh pingsan seperti rekan saya itu. Untungnya ia baik-baik saja setelah rebahan sejenak dan mengatur nafasnya.



Kembali saya mengamati batu-batu menhir yang membentuk situs ini. Luas area keseluruhan dari situs ini sendiri mencapai 900 meter persegi yang terbagi menjadi 5 teras yang semakin keatasnya semakin menyempit. Mungkin tidak salah kalau Gunung Padang ini disebut-sebut sebagai situs Megalitikum terbesar di kawasan Asia Tenggara dan merupakan bagian dari jalur kebudayaan masyarakat jaman Megalitik (batu besar) di Asia dan Pasifik.



Kemudian sambil bersantai di rerumputan sambil menikmati udara sejuk, kami berbicang dengan Pak Dadi. Walau sudah berusia 47 tahun, ia masih cukup bugar dan relatif terlihat lebih muda daripada usianya. Dengan logat sundanya yang kental ia menceritakan tentang profesinya ini yang telah dijalaninya selama 11 tahun. Selain dia, ada 2 juru kunci lainnya yaitu Pak Asep dan Pak Dahlan. Ia kemudian bercerita tentang akan diangkatnya dirinya menjadi Pegawai Negeri tahun depan. Ia tampak bersemangat sekali menceritakan hal kepada kami sampai diulang-ulang.



Ketika matahari hampir terbenam kami menuruni tangga yang tadi kami lalui. Di bawah terdapat mata air yang katanya sama tuanya dengan situs diatas. “Air kahuripan,” kata Pak Dadi. “Mendirikan gunung padang sambil mendirikan airnya,” ia menambahkan penjelasannya. Ia juga bercerita mengenai ada orang Jakarta yang ingin membuat air mineral dari mata air tersebut, namun ditolaknya.


Dadi Buntar, salah satu juru kunci (kuncen) situs Gunung Padang

Kami bermalam di desa, karena keesokan pagi ingin melihat kembali situs. Pak Dadi dengan berbaik hati memperbolehkan kami tinggal di rumah anak sulungnya yang berada tepat di samping pintu masuk situs. Anak sulung Pak Dadi, Yudha Buntar juga bekerja di situs sebagai tenaga honorer. Terhitung ada delapan orang yang bekerja di situs, hampir semuanya tenaga honorer, hanya dua orang saja yang sudah menjadi pegawai negeri, salah satunya Pak Dahlan.

Rumah milik Yudha sangat sederhana, tidak terlalu besar namun sangat nyaman. Ruang tamunya hanya beralaskan karpet sederhana untuk lesehan, di salah satu tembok ruang tamu terdapat hiasan kepala rusa hasil buruan. “Dari Palembang,” Yudha menjelaskan ketika melihat ketertarikan kami pada hiasan itu. Ia tinggal bersama istrinya, mereka baru menikah dua bulan.

Saya kemudian iseng bertanya tentang siapa saja yang mengunjungi situs. Ada yang pencinta alam, ada yang sekadar wisata, namun tidak sedikit juga yang datang ingin melakukan “ritual”, Yudha menjelaskan. Ada yang menginap diatas, ada yang melakukan ritual mandi bahkan ada yang pernah membawa kepala sapi untuk dikubur diatas. Oleh orang desa setempat kepala sapi tersebut digali dan digodok setelah orang kota itu pulang.

Banyak barang yang ditinggalkan orang kota saat melakukan ritual di situs, mulai dari uang, rokok sampai yang paling banyak, telur. “Ada yang bawa telur ayam kampung,” kata Yudha. “Oleh saya diambil kemudian digoreng, di ceplok!,” tambahnya yang diikuti tawa lepas kami semua. “Bukannya ga percaya, tapi sayang,” lanjutnya, “Barokah dari eyang (berkah dari leluhur)” ia seakan menjelaskan sambil becanda mengenai barang-barang yang ia temukan di situs.

Keesokan paginya saya naik kembali keatas, beberapa kawan memilih jalan naik yang lebih landai namun lebih jauh. Kembali kaki saya menapaki anak tangga yang tak kunjung habis itu, tetapi kali ini rasa letih tidak lagi menghinggapi. Mungkin sudah terbiasa. Kabut pagi yang menyelimuti puncak bukit, hanya menambah keindahan situs, tidak ada sama sekali kesan angker. Saya memotret selama 3 jam, pagi itu.


Situs Gunung Padang saat pagi hari

Selama diatas, banyak sampah-sampah yang saya lihat, terkadang Pak Dadi sibuk mengumpulkannya. Memang menjengkelkan ulah orang-orang kota yang tak bertanggung jawab itu. Alam seharusnya dihargai oleh manusia, bukan dikotori atau dirusak. Ah, mereka itu hanya bisa meminta saja. Siang harinya kami bertolak pulang menuju Jakarta.

Alam di gunung padang mengajarkan saya sebuah kebijaksanaan. Kembali untuk menghargai apa yang kita bisa lihat, bisa rasakan, bisa syukuri. Namun jangan salah paham, ini bukan wangsit! :P

Monday, October 15, 2007

Freedom from Fear

"It is not power that corrupts but fear. Fear of losing power corrupts those who wield it and fear of the scourge of power corrupts those who are subject to it."
Kutipan tersebut berasal dari Daw Aung San Suu Kyi, pemenang nobel perdamaian asal Burma, yang masih menjalani tahanan rumah di bawah pemerintah Junta Militer Myanmar. Saya banyak memikirkan tentang kebebasan, kebebasan dari ketakutan. Tidak, saya tidak berbicara mengenai politik disini, namun sesuatu yang sangat sederhana dan secara bersamaan sangat esensial, yah setidaknya buat saya yaitu kebebasan dari diri sendiri.

Saya ingin menjadi orang yang merdeka. Tidak terlalu memikirkan apa pendapat orang lain, tidak takut apa yang dianggap orang lain, tidak cemas berlebihan tentang apa yang akan terjadi. Mungkin terdengar sedikit self-centered atau egois, tapi bukankah perbedaan antara cinta dan benci juga setipis kertas?

Mungkin, mungkin apabila saya bisa melawan ketakutan mendalam itu, ketika itu saya sudah satu langkah di alam kemerdekaan. Saat apa yang saya lakukan benar-benar apa yang saya inginkan. Tidak memerintah dan tidak diperintah seperti kata alm. Pram.

Itulah saat dimana mungkin menjadi pasti.

Saturday, October 06, 2007

Deeply Remembered and Missed


PARIS, FRANCE (October 5, 2007) - Photojournalist Alexandra Boulat, 45, has died in hospital in Paris today, agency VII said. She suffered an aneurism in late June and has been in a coma ever since.

She was the daughter of Life magazine photographer Pierre Boulat and Annie Boulat, the founder of the French photography agency Cosmos.

Boulat suffered a brain hemorrhage while on assignment in Ramallah,VII managing director Frank Evers said, and afterwards she underwent a 5-hour operation at the Hadassah hospital in Israel where doctors stopped the bleeding and stabilized her condition. To give her rest and aid the recovery, doctors put her into a coma, he said, and performed some other minor surgeries to make her breathing easier and she was moved to Paris.

"Alexandra was a remarkable person, and the world is a sadder place without her," Santiago Lyon said this afternoon. He's the director of photography for the Associated Press in New York.

"We should remember her for the great photographs she made and for the energy she brought to everything." Lyon worked with Boulat in 1998 when they were covering Kosovo and they became friends, and she photographed Lyon's wife on their wedding day.

"As these things go there can be large stretches of time go by between seeing old friends, but we saw her last year for dinner in New York and she was the old Alexandra, so full of energy. She will be missed."

“I am very saddened by the news of Alexandra's passing," Peter Turnley said tonight from Prague. "I have known Alexandra for many years and had the privilege of working with her and being a colleague in many conflict zones and places of interest in the world. She was a wonderful person and photographer and always an incredible picture of elegance, courage, energy, and seeming love for life. She also always exuded a true love and passion for photography and the process of communicating human and world stories.”

Boulat remained in coma from the time she fell ill until today, and was being cared for by the neurosurgery department at Lariboisière hospital in Paris and by her mother.

Before VII, Boulat shot for the photo agency Sipa Press and often focused her coverage on the innocent victims of war, women and children living in conflict zones. For the last two years she had been living in the West Bank covering the Islamic militant group Hamas in the Gaza Strip. Earlier in her career she documented the fall of the Taliban in Afghanistan, and war in Iraq, and the conditions for women in the Muslim world.

She was one of the founding members of the VII agency and has been primarily a conflict photographer in the Middle East, joining VII when it was established in 2001. She was trained in graphic art and art history at the Beaux Arts in Paris. Her news and feature stories have been published in Time, Newsweek, National Geographic, and Paris-Match. She won awards from the Overseas Press Club in 2003 for her coverage of Afghanistan, and was named Best Woman Photographer by the Bevento Oscars in Italy in 2006.

Any plans for funeral or memorial services have not been announced.


Source:
http://www.nppa.org/news_and_events/news/2007/10/boulat.html


Alexandra's Agency VII Photo

Wednesday, October 03, 2007

Simple Snapshots

Saya selalu membawa kamera jika keluar dari rumah. walaupun tidak ada rencana memotret saya tetap membawa kamera, walau hanya sebuah kamera saku digital. Bersama saya selalu saya ikat di pinggang sebuah waist bag kecil, atau tas pinggang. Didalamnya saya masukkan dompet, notes, cell phone dan kamera poket.

Tas pinggang sekadar untuk keamanan, maklum hp saya sudah di copet 2 kali, so now I'm taking pre-cautions. Lagipula dengan tas pinggang, mau mengambil kamera, dompet, notes bisa dilakukan dengan cepat. Untuk penampilan, mau dibilang kayak om-om , fashionable atau tidak, itu nomor kesekian.

Kamera digital pocket yang kecil sangat saya sukai, walaupun tidak seresponsif DSLR dalam hal kecepatan tetapi bentuknya yang kecil membuat keberadaan fotografer ketika memotret tidak terlihat mencolok dan menarik perhatian. Mungkin seperti Leica, namun tentunya Leica cameras are still way out of my budget :D Jadi Kamera Sony Digitalku akan masih menemani terus.

Saya beranggapan, sebuah gambar bagus bisa terjadi dimana saja, jadi untuk berjaga-jaga incase mata saya 'alert' melihat sesuatu yang menarik. Kamera harus selalu dibawa.

Ini beberapa snapshots sambil lalu yang saya buat dengan kamera poket.













How about you? Do you like snapping arround too?