Saturday, August 25, 2007

Workshop di GoetheHaus

Selama 4 hari terakhir saya mengikuti workshop fotografi di GoetheHaus. Temanya adalah "Everyday Life in an Asian Metropolis", yang membimbing workshop adalah Wolfgang Bellwinkel, fotografer asal Jerman yang tergabung dalam agency foto Ostkreuz, Berlin. Pesertanya ada 8 fotografer muda, 4 diantaranya, termasuk saya, dari Galeri Foto Jurnalistik Antara.


Alex Supartono,kurator GoetheHaus, Wolfgang Bellwinkel dan Rangga Mauliza, salah satu peserta workshop, di kantin Goethe-Institut Jakarta.

Workshop sendiri berjalan cukup baik. Masing-masing fotografer mempresentasikan hasil jepretasnnya setiap hari kepada Wolfgang, untuk kemudian dibahas dan dianalisa sesuai dengan tema yang diangkat oleh masing-masing fotografer. Saya sendiri mengangkat tema mengenai transporasi Jakarta, bagaimana orang-orang pergi setiap harinya dari rumah ke kantor dan kembali lagi sore harinya. Masing-masing menunggu. Pada saat-saat menunggu itulah terdapat sebuah tembok dan ruang pribadi yang terbentuk, yang jarang dan terkadang sukar untuk dimasuki sesama penumpang.

Tema tersebut sebenarnya terpikirkan selama 15 menit dalam perjalanan saya dari rumah ke GoetheHaus saat saya dikabarkan mengenai "undangan" mendadak untuk mengikuti workshop ini. Saya dan teman saya Rahmad 'Tole' Gunawan mendapat undangan tambahan untuk ikut saat workshop telah berjalan satu hari.

Saya sendiri cukup belajar dari workshop ini, terutama dalam efektifitas kerja. Maklum masing-masing fotografer hanya mendapat waktu 3 hari untuk memotret dan 1 hari untuk editing dan persiapan presentasi. Jumat yang merupakan hari terakhir foto-foto di cetak dan dipresentasikan melalui slide show. Jadi workshop yang cukup padat selama 5 hari penuh. Untuk hasil foto sendiri, saya kurang puas dengan foto-foto yang saya hasilkan. Namun demikian saya juga belajar mengenai cara pandang yang sedikit berbeda dari fotografi kontemporer Jerman yang diusung oleh Wolfgang.

Ini adalah beberapa foto saya, hasil dari workshop di GoetheHaus, "Hardly Can Wait".









Saturday, August 18, 2007

Merayakan Agustus


Upacara bendera murid-murid madrasah di daerah Cilincing

Memotret 17 Agustus memang agenda tahunan buat sebagian besar fotografer. Buat saya sebenarnya tidak terlalu tertarik memotret 17-an tahun ini, pertama karena sedang jenuh di Jakarta, kedua saya tahu pasti banyak fotografer yang akan datang di spot-spot yang menarik, hal ini membuat saya tidak nyaman dalam memotret, entah kenapa....


Suku Asmat dari Papua ikut memanjat pinang di Pantai Karnival, Ancol

Seperti tahun lalu saya memotret di Ancol, yah sekadar iseng daripada diam di rumah dan kebetulan teman saya ada motor untuk ditebengi. Tahun ini perbedaannya ada 2 yang terlihat di lomba panjat pinang di Pantai Carnaval Ancol, pertama jumlah pinang meningkat menjadi 262 dari tahun lalu yang hanya 162. Kedua, jumlah fotografer yang meliput event ini bertambah banyak, saya perkirakan ada sekitar 100-an fotografer disana. Hampir 2 kali lipat dari tahun lalu.

Sebelum ke Ancol saya juga ke daerah Kalibaru di Cilincing. Tidak ada rencana sebenarnya kesini, hanya kebetulan saja, teman saya ingin memotret kesini, jadilah saya iseng2 ikut. Disana ada upacara bendera oleh anak-anak SD madrasah. Ada juga paskibranya, yang mencolok dengan seragam putihnya, upacara yang sederhana di tengah kampung yang miskin dan kumuh.



Buat saya sendiri, 17 agustus terlihat seperti bentuk nasionalisme musiman saja buat sebagian besar rakyatnya...

Perayaan atas kemerdekaan di atas sejarah namun tidak secara hakiki.

Monday, August 06, 2007

Kekecewaan yang bernama Astro


Wayne Rooney (source: Business Week)

Hari ini saya mendapat kabar yang sangat mengecewakan hati. Astro TV, sebuah perusahaan TV kabel asal negeri Malaysia mengumumkan pembelian hak siar mereka atas Liga Inggris untuk kawasan Indonesia. Saya kecewa dan banyak dari penggemar sepakbola pun tidak percaya dan tidak rela tayangan liga inggris harus jatuh ke Astro TV.

Bukan apa-apa, selama ini liga Inggris selalu disiarkan oleh Trans7 (sebelumnya bernama TV7) dan selalu bisa dinikmati gratis oleh para pemirsa. Tentu dengan iklan yang bejibun dan sponsor rokok yang menghiasi tayangan langsung bola, semua itu dapat dimaklumi, semata demi tontonan yang bermutu dan terlebih lagi GRATIS!

Namun dengan kabar Astro sudah mendapat hak resmi atas premier league, mau tak mau siapapun yang ingin menonton pertandingan langsung Liga Inggris di akhir pekan harus merogoh kocek untuk berlangganan Astro TV. Yah, sebuah fakta baru buat penggemar bola di tanah air, untuk melihat Liverpool, Manchester United, Chelsea atau Arsenal, mereka harus keluar duit, tidak semudah dahulu yang tinggal menyalakan tv saja dan duduk.

Saya sendiri adalah penggemar liga Inggris, terutama tim Manchester United. Bisa dibilang saya dahulu adalah salah satu fans terberat United saat masih bersekolah. Sekarang pun masih menjadi fans berat namun tidak sefanatik dulu. Masih teringat bagaimana dulu saya langsung jatuh cinta pertama kali dengan Manchester United ketika melihat sang kapten Eric "The King" Cantona lewat aksi-aksinya yang disiarkan oleh SCTV pada waktu itu. Waktu itu masih 1997, saya masih berusia 13 tahun, sebuah tayangan yang membuat saya bergairah dan bercita-cita menjadi pesepakbola walaupun akhirnya tidak kesampaian.

SCTV sendiri terus menyiarkan Liga Inggris sampai tahun 2003 (kalau tidak salah), masa itu SCTV menguasai Liga Inggris dan RCTI menyainginya dengan Serie A Italia yang sedang jaya-jayanya waktu itu dan disusul oleh ANTV dengan Liga Indonesia dan Spanyol. Pada tahun 2003 sempat juga terjadi kejadian seperti ini, Liga Inggris tidak lagi ditayangkan oleh televisi lokal, waktu itu SCTV melepas hak siarnya karena dianggap terlalu mahal biayanya. Namun akhirnya TV7 yang waktu itu masih dimiliki oleh kelompok Kompas-Gramedia come to the rescue untuk menyiarkan Liga Inggris.

Kini setelah Astro mendapatkan hak siar Liga Inggris, rasanya lenyap sudah mimpi saya untuk rileks di akhir pekan sambil menyalakan televisi untuk sekadar teriak-teriak, dan terhibur oleh gocekan Christiano Ronaldo, Kelincahan Rooney, dan bakat besar yang dimiliki oleh rekrutan baru United, Nani, Anderson dan Owen Hargreaves. Kesalahan memang bukan dibuat oleh Astro. Bukan salah siapa-siapa. Ini murni keputusan bisnis.

Sayang sungguh sayang.

Thursday, August 02, 2007

5 hal yang membuat saya kesal

Ada 5 hal yang bikin saya kesal dalam kehidupan sehari-hari, diurutkan berdasarkan yang paling membuat kesal.

1. Tidak tepat waktu, ini adalah hal yang paling mengesalkan karena selain membuat saya menunggu lama, menurut saya orang yang tidak menepati waktu yang dijanjikan adalah orang yang meremehkan kita. Sayangnya saya seringkali (hampir pasti) menunggu lewat dari jam yang sudah ditentukan ketika bertemu orang, mungkin ini budaya dari masyarakat Indonesia kali yah?

2. Rokok. Saya paling tidak suka orang yang merokok di hadapan saya kemudian dengan entengnya menghembuskan asapnya tanpa mempedulikan akibatnya ke orang lain. Saya berpendapat bahwa orang yang merokok di tempat publik itu orang bodoh atau orang yang sangat egois. Saya bahkan pernah bertemu dengan orang yang tetap dengan santainya merokok padahal didekatnya ada perempuan yang sedang hamil. Singkat kata, kalau mau mati lebih cepat karena rokok tolong jangan ajak-ajak yang lain dengan asapnya, itu membuat saya sangat kesal.

3. Racist. Saya sering menemukan orang-orang macam ini di lingkungan pergaulan saya. Namun saya bisa membedakan antara xenophobia dan rasisme. Saya paling tidak habis pikir dan akan langsung tidak respek lagi kepada orang yang merendahkan ras,agama lain, anehnya orang-orang yang saya temui ini kebanyakan adalah mahasiswa yang dengan tingkat pendidikannya seharusnya pemikirannya lebih terbuka.

4. MLM. Jangan salah kaprah, saya melihat sistem MLM itu pada dasarnya bagus, yang saya tidak suka adalah agen-agennya (saya sebut saja disini 'sales'). Sales-sales itu sekarang sering 'mengelabui' orang untuk mengikuti seminar produk atau sekadar bertemu dengan mereka untuk dipresentasikan dengan produk mereka. Terakhir kali saya pernah mengalaminya sendiri, seorang teman masa SMP menelepon saya tiba-tiba tanpa sebab, ia menanyakan alamat rumah saya untuk bertemu. Saat saya tanyakan untuk keperluan apa, ia hanya menjawab sambil ketawa 'khas' MLM: "kita ngobrol-ngobrol aja". Kontan saya langsung tahu itu MLM dan akhirnya mematikan telp.

5. Motor 'Bandel'. Sepertinya semakin hari semakin banyak motor macam ini, motor yang sering dengan enaknya melawan arah tanpa mempedulikan keselamatan dirinya dan orang lain. Sudah menjadi pemandangan umum di jalanan kota Jakarta motor macam begini. Saya pernah bertemu motor macam begini ketika naik taksi menuju rumah, saat itu taksi hampir menabrak motor itu, yang membuat kesal, motor itu malah merasa tidak bersalah dan mengklakson dan marah-marah. Sungguh ajaib....

Yah itu 5 hal yang paling tidak saya sukai. What yours?