Sunday, July 15, 2007

Indonesia, Indonesia, Indonesia!!!



Satu kata itu yang menyatukan 88,000 penonton di Gelora Bung Karno kemarin malam mendukung kesebelasan Indonesia yang berjuang melawan Arab Saudi di ajang Piala Asia. Setelah mengalahkan Bahrain di pertandingan pertama, semangat Indonesia sedang tinggi-tingginya walaupun lawan yang dihadapi adalah juara Asia tiga kali serta langganan Piala Dunia. Pertandingan yang berat sebelah dan mudah ditebak kata banyak orang yang pesimis.

Saya memakai kaos Merah Putih dengan lambang Garuda di dada, sama seperti puluhan ribu supporter lainnya. Setelah mengalami kekecewaan tidak mendapat tiket saat laga perdana melawan Bahrain, tujuan untuk menyaksikan tim Indonesia bisa terwujud stelah tiket berhasil diraih 2 hari sebelumnya. Untuk masuk ke dalam stadion, supporter Indonesia, yang diyakini merupakan 'kartu truf' Indonesia, ternyata harus berjuang dan berdesakan karena pintu luar stadion hanya dibuka sedikit, hanya muat untuk 1 orang saja. Hal ini dilakukan oleh Polisi untuk menyaring supporter yang tidak memiliki tiket, namun terlihat betapa tidak ingin repotnya polisi dengan cara seperti ini. Namun rintangan ini tidak separah seperti ketika saya menonton Piala Tiger ditempat yang sama, waktu itu saya baru bisa masuk stadion ketika babak kedua baru dimulai padahal tiket sudah ditangan.

Masuk ke tribun stadion, terasa benar atmosfir senayan yang membuat bulu kuduk berdiri, supporter bernanyi secara serempak, menepukkan tangan serta menaikkan tangan ke udara, suasana yang tidak akan dirasakan jika nonton di VIP apalagi di televisi. Suasana makin terasa ketika Indonesia Raya dinyanyikan secara serentak, tidak seperti ketika menyanyikannya di upacara sekolah dulu.

Pertandingan sendiri berjalan seru, Indonesia yang tidak diunggulkan sempat tertinggal 1-0 melalui sundulan kepala pemain Arab yang tinggi-tinggi. Sebagai perbandingan rata-rata tinggi badan tim padang pasir tersebut 178 cm sedangkan pemain kita? Eka Ramdhani dan Syamsul Chaerrudin mempunyai tinggi badan yang tidak sampai 168 cm. Namun Indonesia tidak tinggal diam, dengan dukungan tiada henti dari penonton, Elli Aiboy menyamakan kedudukan. Sejak itu praktis Indonesia menguasai jalannya permainan. Mereka mengimbangi bahkan mengungguli mental pemain-pemain Arab.

Sayang 1 menit menjelang bubar, semua itu sirna. Arab Saudi berhasil menciptakan gol di injury time menit ke tiga. Seluruh stadion langsung terdiam, tidak ada suara sama sekali. Kami semua tidak percaya itu terjadi. Tampaknya mimpi itu belum akan terwujud malam ini. The never ending story of Indonesian Football still continues. Namun lain dari kebiasaan, supporter Indonesia, KAMI tetap memberikan applause, standing ovation buat Bambang Pamungkas dan kawan-kawan atas permainan heroik mereka.

Hari itu kami memang kalah, tetapi dengan kepala yang tetap tegak!

Peluang masih ada, satu pertandingan sisa melawan Korea Selatan, semi-finalis Piala Dunia. Memang berat, tapi ini sepak bola dan Ini kandang kita!

Saya akan datang lagi pada laga penentuan lawan Korea Selatan. Semoga mimpi itu terwujud hari rabu. Indonesia! Indonesia! Indonesia!

2 comments:

LitZ said...

nice review...
btw, pengen nanya pendapat u, berhubung loe khan ntn langsung tuh ron... maren g liat sepotong2 (yang kalo digabung2in mgkn ga sampai 5 menit.. hahah), bener ga seh wasitnya mihak ?
keesokan harinya, stlh pertandingan ini, khan ada sekelompok orang tertentu, yang demo ttg wasit ini... kok sepertinya, ga bisa menerima kekalahan ya? cmiiw

Rony Zakaria said...

wasitnya memang berat sebelah lit. Ditambah dia dari UAE yang notabene dari arab juga. Yah pemain kita kan ga bisa ngomong arab sedangkan saudi bisa....