Friday, July 27, 2007

Lost in Mall



Akhir bulan Juli ini saya meneruskan kembali sebuah project foto pribadi mengenai mall. Sebenarnya project ini dimulai tanpa sengaja beberapa bulan lalu, ketika saya merasakan sebuah keasingan setiap kali saya masuk ke dalam gedung-gedung yang disebut mall. Rasa ingin tahu membuat saya memutuskan untuk menyalurkan 'mood' saya itu setiap kali saya ke mall, entah memang sengaja atau kebetulan sedang bersama keluarga ke mall.

Mall buat saya adalah tempat yang asing, dimana saya terkadang bisa tersesat didalamnya, entah mengapa. Perasaan ini bisa dijelaskan dengan sangat jelas dan logis oleh Goenawan Mohamad, penulis dan mantan pemimpin redaksi majalah TEMPO, melalui tulisannya yang berjudul Mall, ia mendeskripsikan apa yang selama ini saya dan banyak orang lain rasakan terhadap Mall. Terbuka oleh tulisan beliau, saya memutuskan untuk meneruskan secara serius project foto saya mengenai Mall. Saya menyebutnya 'Lost in Mall', tersesar di mall jika di terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Saya ingin membagi perasaan saya ketika saya berada di mall melalui media visual, media yang memang tidak objektif tetapi jujur.

Saya akan post disini apabila project-nya hampir rampung.

Sunday, July 15, 2007

Indonesia, Indonesia, Indonesia!!!



Satu kata itu yang menyatukan 88,000 penonton di Gelora Bung Karno kemarin malam mendukung kesebelasan Indonesia yang berjuang melawan Arab Saudi di ajang Piala Asia. Setelah mengalahkan Bahrain di pertandingan pertama, semangat Indonesia sedang tinggi-tingginya walaupun lawan yang dihadapi adalah juara Asia tiga kali serta langganan Piala Dunia. Pertandingan yang berat sebelah dan mudah ditebak kata banyak orang yang pesimis.

Saya memakai kaos Merah Putih dengan lambang Garuda di dada, sama seperti puluhan ribu supporter lainnya. Setelah mengalami kekecewaan tidak mendapat tiket saat laga perdana melawan Bahrain, tujuan untuk menyaksikan tim Indonesia bisa terwujud stelah tiket berhasil diraih 2 hari sebelumnya. Untuk masuk ke dalam stadion, supporter Indonesia, yang diyakini merupakan 'kartu truf' Indonesia, ternyata harus berjuang dan berdesakan karena pintu luar stadion hanya dibuka sedikit, hanya muat untuk 1 orang saja. Hal ini dilakukan oleh Polisi untuk menyaring supporter yang tidak memiliki tiket, namun terlihat betapa tidak ingin repotnya polisi dengan cara seperti ini. Namun rintangan ini tidak separah seperti ketika saya menonton Piala Tiger ditempat yang sama, waktu itu saya baru bisa masuk stadion ketika babak kedua baru dimulai padahal tiket sudah ditangan.

Masuk ke tribun stadion, terasa benar atmosfir senayan yang membuat bulu kuduk berdiri, supporter bernanyi secara serempak, menepukkan tangan serta menaikkan tangan ke udara, suasana yang tidak akan dirasakan jika nonton di VIP apalagi di televisi. Suasana makin terasa ketika Indonesia Raya dinyanyikan secara serentak, tidak seperti ketika menyanyikannya di upacara sekolah dulu.

Pertandingan sendiri berjalan seru, Indonesia yang tidak diunggulkan sempat tertinggal 1-0 melalui sundulan kepala pemain Arab yang tinggi-tinggi. Sebagai perbandingan rata-rata tinggi badan tim padang pasir tersebut 178 cm sedangkan pemain kita? Eka Ramdhani dan Syamsul Chaerrudin mempunyai tinggi badan yang tidak sampai 168 cm. Namun Indonesia tidak tinggal diam, dengan dukungan tiada henti dari penonton, Elli Aiboy menyamakan kedudukan. Sejak itu praktis Indonesia menguasai jalannya permainan. Mereka mengimbangi bahkan mengungguli mental pemain-pemain Arab.

Sayang 1 menit menjelang bubar, semua itu sirna. Arab Saudi berhasil menciptakan gol di injury time menit ke tiga. Seluruh stadion langsung terdiam, tidak ada suara sama sekali. Kami semua tidak percaya itu terjadi. Tampaknya mimpi itu belum akan terwujud malam ini. The never ending story of Indonesian Football still continues. Namun lain dari kebiasaan, supporter Indonesia, KAMI tetap memberikan applause, standing ovation buat Bambang Pamungkas dan kawan-kawan atas permainan heroik mereka.

Hari itu kami memang kalah, tetapi dengan kepala yang tetap tegak!

Peluang masih ada, satu pertandingan sisa melawan Korea Selatan, semi-finalis Piala Dunia. Memang berat, tapi ini sepak bola dan Ini kandang kita!

Saya akan datang lagi pada laga penentuan lawan Korea Selatan. Semoga mimpi itu terwujud hari rabu. Indonesia! Indonesia! Indonesia!

Thursday, July 05, 2007

Pertanyaan Retorika dan Pengaruh Hidup



Minggu lalu saya bertemu dengan seorang teman, kami dulu sama-sama bergabung dalam sebuah klub komputer saat kuliah. Saat saya memberitahukan bahwa saya sekarang menjadi seorang fotografer, ia tampak terkejut dan tidak menyangka sama sekali, ia melontarkan pertanyaan yang retoris kepada saya "sejak kapan lo suka fotografi?".

Setelah pulang saya mulai memikirkan pertanyaan teman saya itu. Kalau mau dilihat sejarahnya, awal ketertarikan saya pada fotografi apalagi documentary photography bisa dibilang sedikit kebetulan, accidental kalo orang barat ngomong. Adalah dua tahun lalu ketika saya memiliki kamera pertama saya untuk memotret secara iseng-iseng saja. Namun saya mencoba untuk melihat lebih jauh kebelakang, apa sih yang menyebabkan saya tertarik pada fotografi seperti saat ini.

Mengingat-ingat tahun-tahun yang telah berlalu dalam hidup saya, akhirnya ingatan saya tertuju pada sebuah film yang saya tonton ketika saya masih duduk di bangku SMP. Masih segar dalam ingatan saya, ketika itu malam-malam buta saya tanpa sengaja sedang melihat-lihat channel televisi dan kebetulan ada film yang masih di putar di RCTI.

Film itu bercerita mengenai dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal, yang pria orang Amerika dan yang perempuan seorang Perancis. Mereka bertemu di kereta yang melintasi kota-kota Eropa secara kebetulan dan memutuskan untuk turun bersama-sama di Vienna (red:Wina) untuk menghabiskan waktu satu hari bersama-sama. Satu hari bersama itu dilalui tanpa rencana, hanya dilakukan secara spontan, mengalir, melihat hal-hal yang baru dan menarik ditambah dialog diantara mereka yang ringan namun bermakna. Film ini habis pada saat kedua orang yang baru bertemu satu hari ini, memutuskan untuk bertemu lagi tahun depan, di tempat yang sama, di waktu yang sama. Bagi anda yang tidak asing dengan cerita ini, ya, film ini berjudul "Before Sunrise".



Sejauh yang saya ingat, film ini membawa pengaruh yang besar pada hidup saya. Saya menyukai dan memutuskan untuk terjun ke dalam fotografi karena beberapa alasan. Salah satu yang paling utama adalah "saya ingin melihat tempat-tempat, hal-hal, orang-orang yang baru dan menarik". Ketertarikan saya untuk melihat hal-hal yang baru sepertinya amat dipengaruhi oleh film tersebut.

Sebuah ide, menjadi seorang yang asing di negeri orang, bertemu dengan orang yang sama sekali belum kita kenal kemudian berjalan bersama melihat "dunia kecil" yang baru sepertinya adalah sebuah mimpi yang indah untuk saya pada saat itu dan sampai saat ini pun ide tersebut tetaplah mengagumkan. Dan fotografi menjadi jalan saya untuk mencapai atau menjalani hidup yang seperti itu, mengalir begitu saja, melihat dan memotret semua yang menarik perhatian saya. Simply, working while enjoying life. Sebuah alasan mengapa saya meninggalkan dunia IT dan komputer untuk fotografi.

Kemarin saya bertemu dengan teman kuliah saya yang lain tanpa sengaja, pertanyaan retoris yang nyaris sama namun tak serupa juga terlontar dari mereka tentang saya yang menjadi seorang fotografer.

Namun kali ini saya sudah mempunyai jawaban sederhana di dalam hati untuk pertanyaan sederhana itu.

"Sejak kecil, sejak sekarang dan sejak hari ini".