Thursday, March 29, 2007

Pameran Foto Workshop Galeri Foto Jurnalistik Antara Angkatan XII



Akhirnya pameran foto pertamaku! Bukan pameran tunggal memang tapi ini adalah permulaan dan semoga buakn yang terakhir :D

Well, here's the details:

PAMERAN KARYA WORKSHOP FOTOGRAFI
GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA ANGKATAN XII

unbreakable

anindita dwi puspita + ashari + budi chandra + budi
setiawan antani + cynthia paramita + danny widjaja +
dina safitri + dinda jouhana + dissi k. dewi + emilia
h. elisa + fajar riyadi + henry victor panggabean +
irfan kortschak + lia rosalina + lina nuraini +
mahatma putra + m. burhanul arifin + muradi + nisa
famaya amalia + rahmatullah + robby + rony zakaria +
seto handoko putra + sihol sitanggang + tasya anindita
+ theresia aan meliana + thoriq ramadani + tri saputro
+ wahyu miswanto + wisnu ikhlastianto + zamroni +
zulfahmi yasir yunan.

PEMBUKAAN:
KAMIS, 5 APRIL 2007
PUKUL 19.30 WIB
DIBUKA OLEH:
ASRO KAMAL ROKAN
[PEMIMPIN UMUM LKBN ANTARA]
BAND PEMBUKA: THE SABENI

PAMERAN UMUM:
5 APRIL - 6 MEI 2007
PUKUL 09.00 – 20.00 WIB

GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA
JL. ANTARA NO. 59, PASAR BARU
JAKARTA 10710, TELP/FAX: [021-3458771]
www.gfja.org

TEMU WICARA:
SABTU, 28 APRIL 2007
PUKUL 14.00 WIB
PEMBICARA: ERIK PRASETYA

DISKUSI FOTO GOES TO CAMPUS:
SABTU, 21 APRIL 2007
PUKUL 11.00 - 13.00 WIB
PEMBICARA: PESERTA PAMERAN
TEMPAT: UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JL. HANG LEKIR 1/8, KEBAYORAN BARU, JAKARTA

PAMERAN INI DI SPONSORI OLEH:
GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA | SAMPOERNA (UNTUK
MEDIA)
PUPUK KALTIM | EMERALD | GLOBE (DIGITAL IMAGING) | 101
JAK-FM JAKARTA | GOGIRL MAGAZINE | THE DJAKARTA
MAGAZINE

Wednesday, March 21, 2007

Baca Baca Baca

Buku, buku dan buku. Itulah benda yang paling banyak menghiasi hari-hari saya belakangan ini. Beberapa bulan terakhir saya menghabiskan banyak waktu di rumah. Skripsi menjadi agenda utama yang harus diselesaikan, membuat saya tidak bisa meninggalkan Jakarta dan tentu saja mengurangi kegiatan memotret, setidaknya sampai skripsi selesai.

Membaca menjadi alternatif penghilang bosan karena berbagai alasan yang menurut saya sangat masuk akal. Pertama buku lebih murah daripada pergi ke bioskop setiap hari atau sebuah iPod yang harganya tentu akan membuat saya kesal lebih dahulu sebelum menggunakannya. Kedua membaca buku tidak sulit dan bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, termasuk di wc saat buang hajat. Dan yang ketiga dan yang paling penting: buku membuatmu pintar atau paling tidak membuatmu merasa pintar.

Buku yang saya baca bermacam-macam mulai dari novel fiksi sampai jurnalisme investigatif, dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Untuk alasan tertentu saya lebih menyenangi buku asli berbahasa inggris daripada terjemahan Indonesia tetapi akhir-akhir ini saya lebih banyak membeli terjemahan atau karya sastra Indonesia karena lebih murah harganya.

Salah satu karya yang melekat di hati saya adalah tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer yang merupakan seri yang terdiri dari empat buku (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca). Namun apabila ditanya mengenai buku yang inspiratif, saya akan menjawab The Alchemist nya Paulo Coelho dan From Beirut to Jerusalem oleh Dr. Ang Swee Chai. Dan tentu saja saya tidak bisa menjelaskannya, anda harus membacanya sendiri.

Saya kira masih dua bulan lagi sampai skripsi saya selesai tuntas dan sampai saat itu tiba, hanya buku-buku yang bisa menghiburku. Banyak membaca telah memberikanku pelajaran, bahwa selain membaca saya juga harus bisa menulis dan tentu saja tidak hanya terbatas menulis skripsi saja. Semoga skripsi saya selesai pada waktunya, kemudian saya akan mulai belajar menulis lagi. Sementara itu saya akan menenggelamkan diri saya kembali pada bab-bab skripsi dan buku yang sedang kubaca sekarang, To Kill A Mocking Bird oleh Harper Lee.

Friday, March 02, 2007

After The Flood : What Left Inside?

Tiga minggu setelah banjir besar yang menerpa Jakarta, air tidak lagi mengenangi rumah-rumah, tiada lagi perahu karet yang datang, seakan semua telah kembali ke sedia kala. Para penduduk pun sudah kembali ke rumahnya masing-masing, membersihkan lumpur yang dibawa oleh banjir serta melihat apa yang masih tersisa...

Kampung Pulo, Jatinegara adalah daerah padat penduduk yang paling parah terkena banjir. Hampir lima meter ketinggian air yang menenggelamkan rumah-rumah di kawasan bantaran kali Ciliwung itu. Tiga minggu setelah banjir menghantam area tersebut, saya mencoba mendokumentasikan apa yang masih tersisa setelah air dan lumpur menenggelamkan rumah mereka...

Three weeks has past after the big flood that strucked Jakarta, no more water in houses, no more rubber boats coming, seems that everything is back like it used to. People already back in their houses, cleaning the flood-carried mud and seeing what left inside...

Kampung Pulo, Jatinegara is a heavily-populated housing where the worst flood occured. The water level was reaching five meters which drowned the homes in the area located at the banks of Ciliwung river. Three weeks after the flood strucked the area, I tried to document what left after water and mud drowned their houses...


an empty chair


a potrait of a loved one


empty closet


uncleaned house


loving face


lost memoirs


ruined happiness


playing in the mud

To licence this series please email me (rony.zakaria@gmail.com) or contact my cell (+62815 991 7889)