Sunday, December 30, 2007

Perjalanan Mendadak ke Ijen

Dari Surabaya, 20 Desember 2007
Pagi hari saya berangkat dari Surabaya untuk menuju Banyuwangi tempat Gunung Ijen berada. Saya meninggalkan hampir semua barang yang saya bawa kecuali 3 potong baju, jaket dan tentu sebuah kamera. Persiapan sangat singkat dan boleh dibilang terburu-buru, untuk membayangkan bagaimana terburu-burunya, saya baru menyiapkan isi backpack saya 20 menit sebelum berangkat.



Menuju Banyuwangi dari Surabaya, saya berangkat naik bus ke arah Banyuwangi dari Terminal Bus Bungurasih (Purabaya), perjalanan memakan waktu kira-kira 7 jam. Sampai di Banyuwangi jam 7 malam, saya langsung mencari losmen untuk bermalam, beruntung supir angkot mau mengantarkan ke losmen di daerah Besuki Rahmat, bersih dan murah. Saya menyewa kamar dengan 3 bed, tv, kipas angin dengan kamar mandi di dalam, fare-nya? 50rb saja.


Menuju Paltuding, 21 Desember 2007
Untuk mencapai post Gunung Ijen saya harus melalui terminal terakhir di Jambu, sekitar 17 kilometer dari Ijen. Sebenarnya menuju Jambu bisa ditempuh dengan angkutan umum dari terminal Sasak Perot ke Licin dan kemudian dilanjutkan lagi menuju Jambu menggunakan angkutan espass biayanya sangat murah Rp.2500 dan Rp.5000 masing-masing. Namun untuk menghemat waktu saya menggunakan jasa ojek sampai Jambu.

Sesampainya di Jambu, angkutan truk Belerang yang rencananya saya tumpangi ternyata libur, angkutan truk libur setiap jumat dan minggu. Waktu itu masih jam 6.30 pagi, tidak mau menunggu saya akhirnya berjalan kaki saja naik keatas, 17 kilometer dengan jalan yang menanjak terus. Jambu ternyata merupakan daerah perkebunan, di sekeliling banyak terlihat perkebunan-perkebunan cengkeh dan semakin jauh perjalanan naik ke atas, banyak ditemukan sarang-sarang lebah tiap 500 meter untuk menghasilkan madu.


17 km menuju Paltuding

Walaupun awalnya bersemangat, setelah berjalan 2 jam dan baru menempuh sekitar 7 kilometer, istirahat semakin sering, setiap 10 menit berjalan, terkadang setiap 100 meter, tanjakan-tanjakan itu memang menguras banyak tenaga. Saat duduk beristirahat beralaskan dedaunan di pinggir jalan, suara mobil terdengar dari kejauhan. Suara terindah itu ternyata benar adanya, sebuah mobil colt angkutan sayuran. Akhirnya saya menumpang di bak belakang mobil, capek? Langsung hilang! Perjalanan naik mobil colt ditempuh kurang dari 20 menit. Ternyata perjalanan berjalan kaki tadi sudah menempuh setengah perjalanan.


Menumpang mobil pickup

Sesampainya di Paltuding, sebuah pos pengawas dan tempat camping, seorang petugas menyambut dan mempersilahkan untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk menyewa kamar, karena hari sudah siang dan kabut tebal sudah menyelimuti puncak gunung. Sewa kamar Rp.75 ribu, cukup mahal untuk kamar dengan 2 tempat tidur kecil dan tanpa listrik. Sayang saya tidak membawa tenda dan sleeping bag, yah namanya juga perjalanan spontan.

Suhu di Paltuding dingin sekali, hembusan angin sepoi-sepoi pun terasa menusuk terutama setelah sore datang. Puncaknya pada malam hari, suhu bisa mencapai 5 derajat celcius. Saya pun menyantap mie instan dengan kuah hangat, makanan paling nikmat dalam kondisi seperti ini. Menurut kawan yang saya temui disana, bulan agustus adalah bulan terdingin di Ijen, suhunya bisa mencapai nol derajat, rerumputan beku dan mati serta menurutnya banyak kucing yang mati.

Malam itu saya tidur jam 9 malam.


Naik ke Ijen, 22 Desember 2007
Jam 4.30 langit masih gelap, kabut masih tebal dan dinginnya hembusan angin sangat menusuk. Kurangnya persiapan menjadi hambatan, saya tidak membawa senter! Sangat mustahil untuk melihat kedepan tanpa senter. Senter tidak ada, handphone dan LCD kamera pun jadi, paling tidak bisa membantu melihat jalan 1 meter di depan. Untuk naik ke puncak Ijen, terdapat jalan setapak yang menanjak miring sejauh 3 kilometer keatas. Jalannya tidak sulit karena sudah diaspal namun karena kemiringan tanjakan dan udara pagi yang tipis, stamina cepat habis apabila belum terbiasa.

Saya beristirahat sejenak di warung yang terletak di pos atas, pos ini digunakan sebagai kantin dan tempat pertimbangan belerang I, memang gunung Ijen mempunyai pertambangan belerang di bagian bawah kawahnya. Dari pos tersebut sudah tercium sedikit aroma belerang dan terlihat banyak batuan-batuan belerang yang dibawa oleh para penambang dari kawah. Saya bertemu dengan empat orang turis dari Malaysia disana. Mereka berasal dari KL dan sedang berwisata keliling Jawa Timur dan Tengah, mereka akan ke Jogjakarta setelah dari Ijen. Salah satu dari mereka bekerja di bagian finance dan saya cukup lama berbincang dengannya, sambil menaiki jalan kembali ke puncak. Dari kanting masih ada jarak 1 kilometer lagi yang harus ditempuh, namun tanjakannya tidak sesulit sebelumnya ditambah dengan obrolan dari kawan baru, terasa lebih santai.

Sesampai di puncak Ijen, kabut tebal masih menyelimuti pemandangan sekitar, namun dalam seketika ada hembusan keras angin yang seolah ingin menyambut kedatangan kami. Sejenak kabut tersebut hilang dan tampaklah di sekeliling pegunungan yang indah. Rasanya seperti dalam mimpi. Sungguh luar biasa indahnya. Di atas, saya banyak melihat para penambang belerang yang membawa batuan-batuan belerang dari kawah, sekali perjalanan mereka bisa membawa 70-100 kilogram belerang, satu kilogramnya dihargai Rp.400.


Di Puncak Ijen
Saya tertarik untuk melihat langsung ke tempat penambangan belerang di bawah. Teman-teman dari Malaysia memutuskan mereka akan diatas saja maka saya pun turun sendiri. Untuk sampai ke penambangan, kita harus turun sejauh 1 kilometer dengan medan yang sangat terjal dan berbatu. Saat di Paltuding saya diceritakan tentang seorang turis perempuan dari Swedia yang jatuh saat menuruni kebawah kawah, ia meninggal karena terperosok sampai ke bawah. Saya hanya bisa berhati-hati dan tetap mengontrol semangat saya saat turun kebawah.

Semakin kebawah, bau belerang makin kuat dan sangat menyengat paru-paru terutama saat asap dari bawah menerpa kita. Saya menutup hidung dan mulut saya dengan scarf yang dibasahi air aqua untuk mengurangi efeknya. Sampai di bawah terlihat sebuah bukit kuning raksasa yang terus mengeluarkan asap tebal belerang. Saya tentu saja memotret di pertambangan. Saat asap belerang dari pipa-pipa itu menerpa kita, bukan hanya menusuk kedalam paru-paru dan batuk seketika, tetapi juga membuat mata perih. Setelah 2 jam berada dibawah akhirnya saya menyerah, mata terus mengeluarkan air mata dan tidak lagi bisa fokus memotret. Saat itu saya memutuskan untuk kembali naik keatas.


Penambangan Belerang di Kawah Ijen


Perjalanan naik keatas ternyata lebih berat daripada turun, bukan hanya kali ini jalannya menanjak keatas tetapi asap dari bawah ternyata lebih tebal menjelang siang dibandingkan dengan pagi tadi. Saat asap menerpa saya dan beberapa penambang yang keatas, kami harus berhenti terlebih dahulu 1-2 menit sambil menutup muka dengan kain yang dibasahi air. Hal ini terjadi beberapa kali dalam perjalanan ke atas. Sesampainya diatas saya langsung turun ke Paltuding. Dua jam berada di tambang menyebabkan efek yang buruk buat mata saya yang terus menerus mengeluarkan air mata. Beberapa kali saya mengkompresnya dengan air sampai reda. Pelajaran buat saya, lain kali harus bawa kacamata. Kapok jadi orang nekad!


Menunggu asap reda

Jam 2 siang saya membereskan barang saya dan bersiap kembali ke Banyuwangi. Saya menuju ke pos penimbangan belerang di Paltuding, dimana para penambang membawa belerang yang mereka pikul dari kawah untuk ditimbang dan kemudian diangkut ke pabrik di Licin dengan truk.


Mengangkut Belerang ke Licin

Dari pos itu saya menumpang truk tersebut menuju Jambu untuk kemudian kembali ke Banyuwangi.

Saya meninggalkan Ijen, tapi saya akan kembali, suatu saat nanti. Sungguh terlalu singkat untuk dinikmati hanya sekilas saja.

Wednesday, December 26, 2007

Being Me



I spent my last five days travelling with buses, passing cities in East Java. It was really really exciting, thinking you didn't know about the place you're going to, what is it like, where to spend the night, almost everything was very spontaneous.

I was very lucky to have a friend of mine come along with me. I like to travel alone, I did it a lot, but there is nothing better to have a friend with you to talk with and of course to share the cost :D

After I left all my baggage, except a small bag with two pair of clothes and a camera, in Surabaya, we're off to Banyuwangi to go to Mount Ijen. On the mountain, there's a sulfur mine which is located in its crater. It was really really cold and the sulfur gas was quite an obsctacle to face, I will tell the details later on.

From there we went to Probolinggo, where we can reach Mount Bromo. It's not as though as Mount Ijen, because there's a man made stairs to reach Bromo. So to get the excitement, I persuaded, well it's more like forcing, my friend to climb Mount Batok with me. There were no stairs only a very steep path to go up. For me it was worth to climb, since you don't get any excitement by climbing stairs to a mountain, right? At least I climbed something there. It was a single kilometer by foot to go up from the plain.


Me Climbing Mt. Batok

When we're up it's so comforting and relaxing just sitting and laying there. I could see mount Semeru from the top. I want to go to Semeru someday, hopefully next year. I like beaches and sea, especially the smell and the sound of waves but being in the top of a mountain even in Mt.Batok, you have this great feeling in your mind and heart that you could not get anywhere else. I won't say it's the best feeling, but it's different. You have to be there yourself and probably you would understand.

From Bromo we travelled back to Surabaya. It was a hell of a trip. I didn't look for anything in this journey. I just want to feel and now I know the same old feeling is still there.

I'm still me.

Saturday, December 15, 2007

Menuju Surabaya


Relaxed

Besok pagi saya akan bertolak ke surabaya dengan Bus dari terminal Ubung, Denpasar kemudian dari Surabaya baru akan bertolak ke Jakarta tanggal 26 desember nanti.

Pada akhirnya saya tidak memotret apa-apa di Bali. Namun saya menemukan apa yang saya cari. Saya belajar kembali untuk menjadi orang yang lebih simple, tidak berpikir terlalu rumit. Teringat saya pada Seseorang di Kamboja, ia pernah mengatakan "Don't think to make good photographs, think what you want to say, it's that simple", jangan berpikir untuk membuat sesuatu yang bagus, indah, besar terlebih dahulu, pikirkan apa yang sebenarnya ingin kau katakan, sangat sederhana. Kata-kata tersebut sangat mengena buat saya, pertama sebagai manusia kemudian sebagai fotografer.

Apa sih yang sebenarnya kita inginkan? Apa yang mau kita katakan? Apakah kita hanya mau pamer belaka atau ingin menyampaikan sesuatu dalam hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan baru pun bermunculan dan hanya diri kita sendiri yang tahu jawabannya.

Rasanya diri ini hidup kembali saat merasakan pasir pantai yang kasar di kulit dan air laut yang hangat di tubuh. Angin pantai yang menerpa seakan membisikan jawaban ke hati dan pikiran yang sedang bertengkar. Seketika damai terasa. Beban hilang seketika, saya tidak lagi terlalu terbebani tentang hidup 5 tahun kedepan, 1 tahun kedepan bahkan untuk keesokan harinya. Saya akan melakukannya step by step, hari demi hari.

Sekarang saya mengikuti hati untuk pergi ke Surabaya. Dan kali ini untuk memotret. Pasti.

Wednesday, December 12, 2007

A Brief Update from Bali

Okay, this is my fourth day in Bali. I'm still giving my mind a rest. No 'serious' photographs were taken, even overall I only took about 6-7 frames of snapshots images. But I will not go into details about Bali here, well, not yet. There's nothing interesting about it now.

Instead, I want to show you my work from Cambodia. I've just uploaded a new story on my website. I hope it is interesting enough for you to see.


A headless Buddha Statue

There are too many things on my mind right now, I need a couple more days of Bali to be sane again. I will update again soon.

Until then.

Thursday, December 06, 2007

Getting Over Cambodia, Remembering Bali




It's been almost a week since I got back from my trip to Cambodia. It was really quite an experience, a lot of things happened in just 15 days being abroad. I need time to process all of those things in my head.

Just two days back in Jakarta, I got a freelance job to teach Computers. At first I was very reluctanct to accept, I was not in the mood to work instantly especially teaching in an 'office' kind of enviroment. But I needed the money to buy my next plain ticket out of Jakarta. So, I decided to accept the 5 days teaching job and will fly the next day to Bali, a place I can think of to escape from this old-boring Jakarta.

What I will do there? I haven't figured it out yet. I will have my camera with me, but shooting picures is not my primary intention this time. Relaxing, hanging out and going crazy on the other hand will definitely be in my schedule.

Two days to go.

Friday, November 30, 2007

Last Stop: Bangkok


Jalan dari Siem Reap menuju Poipet Border

Hari ini saya meninggalkan Siem Reap, Kamboja setelah berada 2 minggu disana untuk festival foto angkor. Tujuan saya setelah Siem Reap adalah Bangkok, saya akan bertolak ke Jakarta dari sana. Dari Siem Reap saya kembali mengambil rute yang hampir sama saat pergi yaitu lewat jalan darat Siem Reap - Poipet - Aranyaprathet - Bangkok. Kali ini saya naik bus yang harga tiketnya $15.

Bus sampai di Bangkok pukul 8 malam. Saya memutuskan untuk bermalam di daerah backpacker Khao San Road, kawasan ini mirip amat populer di kalangan backpacker. Mirip dengan Jalan Jaksa di Jakarta namun berkali-kali lipat lebih besar.


Khao San Road, Bangkok

Keesokan harinya saya pergi ke kawasan Sukumvit untuk menemui kawan lama saya dari Kanada, Kloie Picot. Dia sedang mengikuti workshop foto bersama James Nachtwey dan David Alan Harvey. Ia dengan baik hati mengajak saya masuk ke ruang meeting di Dream Hotel, tempat dimana workshop berlangsung, untuk melihat proses editing terakhir hasil karya perserta workshop. Malam ini para peserta workshop tersebut akan memproyeksikan karyanya. Sayangnya saya tidak bisa menghadiri acara tersebut karena pesawat menuju Jakarta berangkat pada waktu yang sama.


Suvarnabhumi Airport Bangkok

Saya pergi ke Suvarnabhumi Airport naik taksi, tidak terlalu mahal dibandingkan dengan taksi di Jakarta. Sekarang saya sudah berada di ruang tunggu boarding untuk pesawat ke Jakarta pukul 8.15. Tidak terasa sudah dua minggu lebih saya berada di luar Indonesia. Banyak sekali yang saya alami dan butuh waktu yang lama untuk dicerna sesampainya di Jakarta.

Saya sudah memutuskan minggu depan saya akan berangkat ke Bali. Untuk relax, bertemu kawan dan mungkin, mungkin memotret.

Monday, November 26, 2007

Mixed Feeling in Cambodia


Siem Reap - Cambodia

This is my eleventh day in Cambodia. I've met so many people as I can hardly remember names, only faces. I encountered a lot of people, not only photographers, but also the local people who are very concerned about their country and their culture. I've been photographing for almost a week in Cambodia which very much related with their culture ( I will show it in my future post ) and I saw many things that kind of enlightened me in many ways.

This is not a serious post and probably not interesting at all. But I feel really amazed with different kind of emotions I had for last ten days. I was just so overwhelming for me to understand, and I'm still trying to understand why I feel this kind emotions mixed, changing everyday which I never experienced ever before. And I don't think this is homesickness.

You can say it's a mixture between trus bliss and loneliness. That's all I want to say know.

Probably I need to get drunk here to know the answer.

Sunday, November 18, 2007

3 Hari, 3 Malam, 3 Negara

Singapura
Saya akhirnya berangkat pada 14 November lalu untuk menuju festival Foto Angkor di Siem Reap, Kamboja. Perjalanan saya dimulai di Batam dari Jakarta. Saya menyeberang ke Singapura dengan ferry untuk menghemat biaya fiskal luar negeri Indonesia. Perjalanan ferry ke Singapure memakan waktu 1 jam dari Pelabuhan Batam Center, tiketnya? S$15 sekali jalan.

Jam 16.00 wakti Singapura, ferry tiba di HarbourFront. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di negeri orang. Setelah mengurus imigrasi, saya menghubungi beberapa kawan yang tinggal di Singapura, beruntung saya tidak usah tersesat lebih dahulu karena ada kawan yang berbaik hati mau menjemput saya. Oleh Yenny, saya diajari tentang transport di Singapura melalui MRT dan Bus. Hari itu saya menginap di Tampines, kebetulan dua orang kawan saya, Gani dan Randy tinggal disana, di HDB (semacam rumah susun pemerintah) di daerah Tampines.


Inside MRT in Singapore

Keesokannya, saya sudah bisa menjelajahi Singapura dengan MRT dan Bus. Harus saya akui tranportasi di Singapura sangat bagus dan efisien dan mudah. Sangat mudah untuk dimengerti sehingga untuk jalan-jalan di Singapura tidak akan ada kesulitan yang berarti. Saya mengunjungi daerah Tanjung Pagar dan ChinaTown pada pagi harinya. Tanjung Pagar terkenal dengan pub-pub serta banyak arsitektur yang tradisional walau dengan warna yang kontemporer. Siang harinya saya ke daerah Bedok, disana sudah menunggu Yenny yang mengajak makan siang. "I'll buy you lunch" dia bilang dengan singlish yang fasih, walau ia orang Indonesia tapi harus saya akui singlish nya sangat kenal ( no offence, yenny :D ).


ChinaTown


ChinaTown


ChinaTown

Saat makan siang, saya berbincang dengan teman kerjanya, Jo, dia berasal dari Burma dan sudah bekerja di Singapura selama 3 tahun. Kami berbicang banyak tentang negara asalnya (Burma/Myanmar). Setelah makan siang, saya bergegas menuju ke Kampong Lorong Buangkok, sekitar 1 jam dari Bedok. Disana terdapat sebuah kawasan "old singapore" yang masih tersisa. Banyak rumah-rumah sederhana, tidak rapi dan terkesan kumuh disana. Ada yang menyebutnya sebagai The last village in Singapore. Saya sempat tersesat disana namun lagi-lagi Yenny came to the rescue. Saya mendapat arahan sampai akhirnya menemukan kampung Lorong Buangkok di tengah-tengah pepohonan rimbun.


Inside Kampong Lorong Buangkok


Inside Kampong Lorong Buangkok

Setelah memotret satu hari penuh, selanjutnya adalah hal yang menegangkan: Mengejar Pesawat. Dari kampong saya langsung menuju Tampines, mengepak barang dan langsung menuju airport kelelahan. Saya berpikir bahwa saya akan bisa tidur di pesawat setidaknya 2 jam. Namun ternyata nasib berkata lain....Di atas pesawat menuju Bangkok, saya satu kursi dengan orang Indonesia dan dia berbicara sepanjang perjalanan. As an Indonesian I can't afford to be rude. Jadi saya akan tidur di suvarnabhumi airport saja.

Bangkok
Pesawat AirAsia dari changi menuju Bangkok tiba pukul 00.10 waktu Bangkok (Bangkok mempunyai waktu yang sama dengan Jakarta). Setelah selesai dengan urusan imigrasi, saya langsung menaruh semua barang bawaan di satu kereta dorong dan mencari spot paling enak dan strategis di bandara untuk tidur. Akhirnya saya menemukannya di dekat pintu keluar. Bandara cukup nyaman dengan AC dan background music yang cukup relaxing, namun airport tetaplah airport, tetap berisik. Jadi saya cuma bisa tidur dengan tenang selama 15 menit. Saya menuju Stasiun Kereta Hualamphong jam 3 pagi.


Hualampong Train Station


The Train to Aranyaprathet Border

Saya membeli tiket kereta menuju perbatasan Aranyaprathet sebesar 48 Bath (sekitar 15 ribu rupiah). Perjalanan ke perbatasan akan memakan waktu 6 jam, kereta berangkat pukul 6 pagi. Saya sudah menutup mata dan sedang menuju dunia mimpi ketika seorang memanggil nama saya, "my name is sherab, are you Rony?", Sherab berasal dari India dan juga menuju ke Festival di Angkor, dia bisa menemukan saya di salah satu gerbong karena kami sebelumnya berkorespondensi melalui email tetapi belum membuat janji untuk pergi bersama. Jadi singkat kata, saya pindah untuk duduk bersama Sherab dan 2 orang kawannya dari India, Selva dan Vivek. Akhirnya saya bisa tidur sekitar 2 jam di perjalanan. Perjalanan dari Bangkok ke Aran border sendiri sangat dapat dinikmati, pemandangan indah ada di kiri dan kanan jendela.


A View from The Train

Sekitar pukul 12 siang kami sampai di Aranyaprathet dan langsung menuju ke perbatasan Aran/Poipet tempat kami akan menyeberang ke Kamboja. Kami menggunakan Tuk-Tuk untuk sampai kesana (sekitar 50 baht) dan hal yang pertama dia lakukan adalah membawa kami ke agen untuk visa, dimana supir akan mendapat komisi untuk ini, dan agen itu memaksa bahwa untuk mendapatkan visa ke kamboja harus disini, Saya hanya bilang bahwa saya sudah pernah kesini (which was a white lie) dan akhirnya dia "back off".

Kamboja
Perbatasan Kamboja adalah kota Poipet, ada alasan yang masuk akal kenapa Poipet serirama dengan Toilet. Ada banyak anak kecil pengemis, peminta-minta dan yang paling parah, calo untuk turis yang menipu kita. Saya sudah memegang visa (evisa online) sehingga saya bisa lewat dengan cepat tetapi 2 orang teman dari India harus apply visa on arrival dan itu memakan waktu 2 jam diperbatasan. Lesson learnt: Always your visa on advanced!

Dari Poipet kita bisa memilih untuk naik bus atau taksi. Bus akan sampai di Siem Reap dalam 6 jam, namun pada kenyataannya perjalanan bisa mencapai 12 jam dan ada kemungkinan besar kita bisa dijual ke guest house pilihan supir, karena si supir akan mendapatkan komisi dari setiap turis yang tinggal disana. Jadi Taksi adalah pilihan yang lebih baik. Kami berempat mengambil taksi seharga 1400 Bath (350 bath each) dan perjalanan memakan waktu 4 jam. 4 jam yang melelahkan karena jalan sepanjang Poipet-Siem Reap tidak diaspal dengan baik, ada yang menyebutnya "Dancing Road", kita bisa berdansa sambil tidur di taksi. Kalau punya uang yang cukup, saran saya naik pesawat saja. Karena perjalanan sepanjang 300 kilometer selama 3 jam ini sangat menyiksa dan menguras tenaga.


The Dancing Road from Poipet to Siem Reap

Kami sampai di Siem Reap pukul 7 dan langsung menuju Festival center di Carnets D'Asie, mereka langsung memberikan kamar di guest house yang berada tepat disebelah center. Sekarang adalah hari kedua saya di Siem Reap, saya bertemu banyak orang dari berbagai negara (mostly photographer) namun ternyata mengingat nama itu sulit sekali :D

I will update again soon, see you!

Thursday, November 01, 2007

Looking to November

Saya belum pernah sekalipun pergi keluar negeri. Ya, selama hidup saya yang belum genap seperempat abad ini, tidak sekalipun kaki ini menginjakkan tanah di luar Indonesia. Pernah 'nyaris', tapi rencana itu batal karena waktu itu saya masih mempunyai sindrom naik pesawat, takut pesawatnya jatuh. Otomatis paspor saya expired tanpa ada satu cap pun.

Dua bulan lalu saya mendapat sebuah email yang membuat saya melompat kegirangan. Email tersebut berisi undangan untuk mengikuti free-workshop di Siem Reap, Kamboja. Penyelenggaranya adalah Angkor Photography Festival, sebuah festival fotografi regional yang akan diadakan untuk ketiga kalinya di Kamboja.



Workshop tersebut tidak dipungut biaya dan ditujukan untuk fotografer muda Asia dibawah 28 tahun dan saya cukup beruntung untuk dapat terpilih sebagai peserta. Yang membuat saya semakin bersemangat adalah tutor yang akan membimbing para peserta, diantaranya adalah Philip-Jones Griffiths dan Antoine D'Agata, dua fotografer dari Magnum, agency foto yang sudah melegenda. Plus saya akan pergi keluar negeri pertama kali, walau yah tidak jauh-jauh amat, masih di Asia Tenggara.

Sudah terbayang dalam pikiran saya, melihat Angkor, situs kota tua yang megah di Siem Reap. Diskusi yang akan saya alami bersama fotografer-fotografer muda lainnya dan fotografer-fotografer senior yang akan datang ke festival yang tentunya hanya akan menambah ilmu dan pengetahuan. Ah ini bagaikan mimpi saja. Mimpi yang menyenangkan karena akan menjadi kenyataan.

Namun kemudian timbul masalah, karena biaya perjalanan ditanggung peserta. Ini masalah karena jelas budget untuk pergi ke Kamboja cukup besar untuk kantong saya. Namun entah bagaimana, datang pekerjaan singkat yang bayarannya pas untuk membeli tiket pesawat, buat paspor dan bayar fiskal yang mahal itu. Beberapa hari kemudian, tidak disangka-sangka AirAsia 'berbaik hati' membuka promo penerbangan baru Jakarta-Bangkok yang ticket fare-nya cuma 350 ribu rupiah. Walau begitu budget saya tetep pas-pasan, itu sebabnya dari Bangkok saya merencanakan akan jalan darat naik kereta ke perbatasan Kamboja untuk mengirit, tapi tentu saja itu membuat perjalanan ini makin seru!

Jadi semua sudah siap, tiket semua sudah dibook, paspor baru sudah ditangan. Saya sudah mantab untuk pergi, tanggal wisuda pun yang bentrok dengan acara ini sudah saya tunda.

Tanggal 14 saya akan berangkat. Yah, berangkat keluar negeri. Semoga bisa membawa sesuatu kembali, foto, pengalaman dan ilmu untuk dibagi. Dan tentunya paspor saya tidak akan kosong lagi!

Tuesday, October 23, 2007

Mencari Kebijaksanaan di Gunung Padang

Semua bermula saat saya merencanakan untuk melihat situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Cerita-cerita mengesankan yang saya baca membuat keinginan makin menggebu-gebu untuk mengunjungi situs tersebut. Terlebih saya ingin membuktikan dengan melihatnya sendiri. Bukankah ada perkataan yang terkenal bahwa “seeing is believing”?.

Situs Gunung Padang sendiri terletak di desa Karyamukti, sekitar 20 kilometer dari pusat kota kabupaten Cianjur. Saya berpergian bersama 4 orang kawan, termasuk rekan saya dari Galeri Foto Jurnalistik Antara, Sihol Sitanggang. Untuk mencapai desa Karyamukti medan yang dilalui cukup keras dan berbatu, beruntung kami berpergian dengan Jeep yang memang dibuat untuk medan seperti ini. Plus kawan saya Sihol merupakan pengemudi offroad yang cukup handal. Dengan kata lain kami tiba di desa tersebut tanpa kesulitan yang berarti.


Perjalanan dengan mobil menuju Desa Karyamukti

Sampai di desa Karyamukti, kami menemui salah satu juru kunci situs tersebut, Dadi Buntar. Ia sempat mengira kedatangan kami, rombongan dari Jakarta, ingin melakukan “ritual” di situs, karena itu ia langsung menyebutkan tokoh-tokoh yang pernah “bersemedi” diatas, jumlahnya ada 47 termasuk Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan pajajaran dahulu. Namun kami buru-buru menjelaskan, bahwa tujuan kami bukanlah demikian. Memang banyak orang yang datang untuk melakukan ritual tertentu di situs Gunung Padang ini, dan rombongan dari Jakarta termasuk yang paling banyak.

Untuk mencapai situs Megalitikum sendiri yang berada diatas bukit, kami harus naik melalui tangga yang tinggi sepanjang 100 meter. Ditemani oleh Pak Dadi, kami mulai naik tangga yang tidak kelihatan ujungnya itu. “Paling 10 menit,” kata Pak Dadi mengenai waktu yang dibutuh untuk sampai keatas. Beberapa kawan menimpali “buat kami di kali tiga waktunya,” sambil setengah bercanda.


Tangga menuju situs Megalitikum Gunung Padang

Nafas saya mulai tidak beraturan, letih dan rasa pegal mulai menjalar di kaki saat perjalanan sudah setengah jalan ke atas. Tetapi saya memaklumi keadaan tersebut, wajar pikir saya, menaiki 468 anak tangga yang curam tidak pernah ada dalam jadwal kegiatan saya sehari-hari. Saat menapaki anak tangga terakhir, saya langsung berlari ingin melihat situs tersebut. Sungguh, sungguh, saya tidak bohong, capai dan letih tidak terasa lagi. Ribuan batu-batu menhir berbentuk balok sepanjang kurang lebih 1 meter berserakan di rerumputan dan bukit-bukit diatasnya, membentuk pandangan yang tidak biasa dan mengagumkan buat saya. Kata yang lebih tepat: ajaib.


Teras pertama di situs Gunung Padang

Baru sejenak saya menikmati pemandangan indah ini, tiba-tiba salah satu rekan seperjalanan jatuh pingsan, tidak sadarkan diri saat baru sampai di puncak. Saya langsung kembali ke belakang untuk melihat keadaannya. Rupanya ia terlampau memaksakan diri untuk sampai keatas dengan cepat. Situs Gunung Padang berada 895 m diatas permukaan laut, membuat tipisnya kadar oksigen di udara amat terasa, mulai dari pening di kepala sampai jatuh pingsan seperti rekan saya itu. Untungnya ia baik-baik saja setelah rebahan sejenak dan mengatur nafasnya.



Kembali saya mengamati batu-batu menhir yang membentuk situs ini. Luas area keseluruhan dari situs ini sendiri mencapai 900 meter persegi yang terbagi menjadi 5 teras yang semakin keatasnya semakin menyempit. Mungkin tidak salah kalau Gunung Padang ini disebut-sebut sebagai situs Megalitikum terbesar di kawasan Asia Tenggara dan merupakan bagian dari jalur kebudayaan masyarakat jaman Megalitik (batu besar) di Asia dan Pasifik.



Kemudian sambil bersantai di rerumputan sambil menikmati udara sejuk, kami berbicang dengan Pak Dadi. Walau sudah berusia 47 tahun, ia masih cukup bugar dan relatif terlihat lebih muda daripada usianya. Dengan logat sundanya yang kental ia menceritakan tentang profesinya ini yang telah dijalaninya selama 11 tahun. Selain dia, ada 2 juru kunci lainnya yaitu Pak Asep dan Pak Dahlan. Ia kemudian bercerita tentang akan diangkatnya dirinya menjadi Pegawai Negeri tahun depan. Ia tampak bersemangat sekali menceritakan hal kepada kami sampai diulang-ulang.



Ketika matahari hampir terbenam kami menuruni tangga yang tadi kami lalui. Di bawah terdapat mata air yang katanya sama tuanya dengan situs diatas. “Air kahuripan,” kata Pak Dadi. “Mendirikan gunung padang sambil mendirikan airnya,” ia menambahkan penjelasannya. Ia juga bercerita mengenai ada orang Jakarta yang ingin membuat air mineral dari mata air tersebut, namun ditolaknya.


Dadi Buntar, salah satu juru kunci (kuncen) situs Gunung Padang

Kami bermalam di desa, karena keesokan pagi ingin melihat kembali situs. Pak Dadi dengan berbaik hati memperbolehkan kami tinggal di rumah anak sulungnya yang berada tepat di samping pintu masuk situs. Anak sulung Pak Dadi, Yudha Buntar juga bekerja di situs sebagai tenaga honorer. Terhitung ada delapan orang yang bekerja di situs, hampir semuanya tenaga honorer, hanya dua orang saja yang sudah menjadi pegawai negeri, salah satunya Pak Dahlan.

Rumah milik Yudha sangat sederhana, tidak terlalu besar namun sangat nyaman. Ruang tamunya hanya beralaskan karpet sederhana untuk lesehan, di salah satu tembok ruang tamu terdapat hiasan kepala rusa hasil buruan. “Dari Palembang,” Yudha menjelaskan ketika melihat ketertarikan kami pada hiasan itu. Ia tinggal bersama istrinya, mereka baru menikah dua bulan.

Saya kemudian iseng bertanya tentang siapa saja yang mengunjungi situs. Ada yang pencinta alam, ada yang sekadar wisata, namun tidak sedikit juga yang datang ingin melakukan “ritual”, Yudha menjelaskan. Ada yang menginap diatas, ada yang melakukan ritual mandi bahkan ada yang pernah membawa kepala sapi untuk dikubur diatas. Oleh orang desa setempat kepala sapi tersebut digali dan digodok setelah orang kota itu pulang.

Banyak barang yang ditinggalkan orang kota saat melakukan ritual di situs, mulai dari uang, rokok sampai yang paling banyak, telur. “Ada yang bawa telur ayam kampung,” kata Yudha. “Oleh saya diambil kemudian digoreng, di ceplok!,” tambahnya yang diikuti tawa lepas kami semua. “Bukannya ga percaya, tapi sayang,” lanjutnya, “Barokah dari eyang (berkah dari leluhur)” ia seakan menjelaskan sambil becanda mengenai barang-barang yang ia temukan di situs.

Keesokan paginya saya naik kembali keatas, beberapa kawan memilih jalan naik yang lebih landai namun lebih jauh. Kembali kaki saya menapaki anak tangga yang tak kunjung habis itu, tetapi kali ini rasa letih tidak lagi menghinggapi. Mungkin sudah terbiasa. Kabut pagi yang menyelimuti puncak bukit, hanya menambah keindahan situs, tidak ada sama sekali kesan angker. Saya memotret selama 3 jam, pagi itu.


Situs Gunung Padang saat pagi hari

Selama diatas, banyak sampah-sampah yang saya lihat, terkadang Pak Dadi sibuk mengumpulkannya. Memang menjengkelkan ulah orang-orang kota yang tak bertanggung jawab itu. Alam seharusnya dihargai oleh manusia, bukan dikotori atau dirusak. Ah, mereka itu hanya bisa meminta saja. Siang harinya kami bertolak pulang menuju Jakarta.

Alam di gunung padang mengajarkan saya sebuah kebijaksanaan. Kembali untuk menghargai apa yang kita bisa lihat, bisa rasakan, bisa syukuri. Namun jangan salah paham, ini bukan wangsit! :P

Monday, October 15, 2007

Freedom from Fear

"It is not power that corrupts but fear. Fear of losing power corrupts those who wield it and fear of the scourge of power corrupts those who are subject to it."
Kutipan tersebut berasal dari Daw Aung San Suu Kyi, pemenang nobel perdamaian asal Burma, yang masih menjalani tahanan rumah di bawah pemerintah Junta Militer Myanmar. Saya banyak memikirkan tentang kebebasan, kebebasan dari ketakutan. Tidak, saya tidak berbicara mengenai politik disini, namun sesuatu yang sangat sederhana dan secara bersamaan sangat esensial, yah setidaknya buat saya yaitu kebebasan dari diri sendiri.

Saya ingin menjadi orang yang merdeka. Tidak terlalu memikirkan apa pendapat orang lain, tidak takut apa yang dianggap orang lain, tidak cemas berlebihan tentang apa yang akan terjadi. Mungkin terdengar sedikit self-centered atau egois, tapi bukankah perbedaan antara cinta dan benci juga setipis kertas?

Mungkin, mungkin apabila saya bisa melawan ketakutan mendalam itu, ketika itu saya sudah satu langkah di alam kemerdekaan. Saat apa yang saya lakukan benar-benar apa yang saya inginkan. Tidak memerintah dan tidak diperintah seperti kata alm. Pram.

Itulah saat dimana mungkin menjadi pasti.

Saturday, October 06, 2007

Deeply Remembered and Missed


PARIS, FRANCE (October 5, 2007) - Photojournalist Alexandra Boulat, 45, has died in hospital in Paris today, agency VII said. She suffered an aneurism in late June and has been in a coma ever since.

She was the daughter of Life magazine photographer Pierre Boulat and Annie Boulat, the founder of the French photography agency Cosmos.

Boulat suffered a brain hemorrhage while on assignment in Ramallah,VII managing director Frank Evers said, and afterwards she underwent a 5-hour operation at the Hadassah hospital in Israel where doctors stopped the bleeding and stabilized her condition. To give her rest and aid the recovery, doctors put her into a coma, he said, and performed some other minor surgeries to make her breathing easier and she was moved to Paris.

"Alexandra was a remarkable person, and the world is a sadder place without her," Santiago Lyon said this afternoon. He's the director of photography for the Associated Press in New York.

"We should remember her for the great photographs she made and for the energy she brought to everything." Lyon worked with Boulat in 1998 when they were covering Kosovo and they became friends, and she photographed Lyon's wife on their wedding day.

"As these things go there can be large stretches of time go by between seeing old friends, but we saw her last year for dinner in New York and she was the old Alexandra, so full of energy. She will be missed."

“I am very saddened by the news of Alexandra's passing," Peter Turnley said tonight from Prague. "I have known Alexandra for many years and had the privilege of working with her and being a colleague in many conflict zones and places of interest in the world. She was a wonderful person and photographer and always an incredible picture of elegance, courage, energy, and seeming love for life. She also always exuded a true love and passion for photography and the process of communicating human and world stories.”

Boulat remained in coma from the time she fell ill until today, and was being cared for by the neurosurgery department at Lariboisière hospital in Paris and by her mother.

Before VII, Boulat shot for the photo agency Sipa Press and often focused her coverage on the innocent victims of war, women and children living in conflict zones. For the last two years she had been living in the West Bank covering the Islamic militant group Hamas in the Gaza Strip. Earlier in her career she documented the fall of the Taliban in Afghanistan, and war in Iraq, and the conditions for women in the Muslim world.

She was one of the founding members of the VII agency and has been primarily a conflict photographer in the Middle East, joining VII when it was established in 2001. She was trained in graphic art and art history at the Beaux Arts in Paris. Her news and feature stories have been published in Time, Newsweek, National Geographic, and Paris-Match. She won awards from the Overseas Press Club in 2003 for her coverage of Afghanistan, and was named Best Woman Photographer by the Bevento Oscars in Italy in 2006.

Any plans for funeral or memorial services have not been announced.


Source:
http://www.nppa.org/news_and_events/news/2007/10/boulat.html


Alexandra's Agency VII Photo

Wednesday, October 03, 2007

Simple Snapshots

Saya selalu membawa kamera jika keluar dari rumah. walaupun tidak ada rencana memotret saya tetap membawa kamera, walau hanya sebuah kamera saku digital. Bersama saya selalu saya ikat di pinggang sebuah waist bag kecil, atau tas pinggang. Didalamnya saya masukkan dompet, notes, cell phone dan kamera poket.

Tas pinggang sekadar untuk keamanan, maklum hp saya sudah di copet 2 kali, so now I'm taking pre-cautions. Lagipula dengan tas pinggang, mau mengambil kamera, dompet, notes bisa dilakukan dengan cepat. Untuk penampilan, mau dibilang kayak om-om , fashionable atau tidak, itu nomor kesekian.

Kamera digital pocket yang kecil sangat saya sukai, walaupun tidak seresponsif DSLR dalam hal kecepatan tetapi bentuknya yang kecil membuat keberadaan fotografer ketika memotret tidak terlihat mencolok dan menarik perhatian. Mungkin seperti Leica, namun tentunya Leica cameras are still way out of my budget :D Jadi Kamera Sony Digitalku akan masih menemani terus.

Saya beranggapan, sebuah gambar bagus bisa terjadi dimana saja, jadi untuk berjaga-jaga incase mata saya 'alert' melihat sesuatu yang menarik. Kamera harus selalu dibawa.

Ini beberapa snapshots sambil lalu yang saya buat dengan kamera poket.













How about you? Do you like snapping arround too?

Tuesday, September 18, 2007

Dog Days : Bali’s Massive Street Dog Population Needs Much-Needed Support

Text and Photos: Rony Zakaria



It was the third time I had visited Bali, an island well-known for its exoticism and sense of mystery. There were a lot of changes since my first visit, years ago. The beaches were far more quiet, the tourist spots less crowded and, in the night, only a few travellers at restaurants and cafés - all uncommon sights before the Bali bombings of October 2002. But still, there are things that are unchanged, like the thousands of pura (temples) in every corner of Bali or the beautiful sunset every day at Kuta. But I was far more concerned with the huge number of dogs everywhere, another thing that has also remained unchanged. You can see dogs almost everywhere,on the streets, on the beaches, even inside the puras.The dogs in Bali live a free-form life without owners.

Besides feral dogs, there are also partially stray dogs that do have owners but are not treated or considered as pets. Many of these dogs are only fed with leftovers and do not get proper care or medicine. Most Balinese can’t afford to go to a veterinarian to have their dogs sterilised. According to a study by a team from the University of California, there are approximately 800,000 dogs living in these conditions. Right now, efforts to control the dog population are being carried out by non-governmental organisations (NGOs) and concerned individuals. The government’s role (through the Department of Health of Bali Province) is quite limited and it has not allocated any money to handle the problem.



I decided to find out more about stray dogs in Bali, so I went to a local NGO in Renon, Denpasar, called Yudhisthira Swarga. Named after king Yudhisthira from the Hindu epic Mahabharata, andthe Sanskrit word swarga, which means ‘heaven,’ the foundation was established to provide treatment for animals in Bali, especially its street dogs. I met with Dr Wayan Mudiarta, one of the senior veterinarians working with the foundation, who explained the ‘field clinic’ programme to control the population of stray dogs. Using a mobile veterinary clinic, volunteers go into Balinese neighbourhoods to treat dogs suffering from skin diseases, infections, malnutrition and other debilitating ailments. Sterilisation is also done to dogs that are captured on the streets or brought in by their owners. The programme, which has been in operation since the beginning of the foundation in 1998, has helped to prevent the birth of literally hundreds of thousands of street dogs.



I made arrangements to go out with the mobile clinic team. At 8am, we left Denpasar for Tabanan, a rural area about 16 kilometres away, or 40 minutes by car. There were seven people on the team, most of them veterinarians. When we finally arrived at Tabanan, the vets began to sterilise their equipment and to set up a small clinic at the local neighbourhood banjar (community hall). At the same time, the dogcatchers began getting ready to sweep the area for street dogs. Capturing a street dog is not the easiest task. Most of the time, at least two dogcatchers are needed to surround the dog, prevent it from escaping and finally throwing a net over it. After the dog stops resisting, it will be carried back to the van for transport to the clinic. On every sweeping operation, the van can carry at least 10 street dogs.

When the van arrived back at the banjar, a table had already been set up to make it possible for the vets to treat four dogs simultaneously.This saved time as there were at least 20-25 dogs to be treated every day. Before being released from the nets, the captured dogs were sedated. Then their fur was shaved and the areas where the incision would be made were cleaned with antiseptic. The sterilisation operations were handled by five vets on the team. There are two types of sterilisation, ovariohisterectomy for female dogs (a 20-minute procedure) and castration for male dogs (usually taking 15 minutes).



In addition to catching free-roaming dogs on the streets, the dogcatchers also ask residents if they have any pet dogs to be sterilised. Although most owners agree to do so, there are still some who refuse. One of the main reasons for this is that they want to breed their dogs. It is indeed true that some Balinese dogs have unique genes that can’t be found in other canine species. Among the most famous of these is the Kintamani, a native breed named for the region of Kintamani in central Bali. Friendly, medium-sized dogs with erect ears and long fur, the Kintamani is a favoured pet of many, and not only in Bali. There is concern that continued interbreeding between Balinese dogs not only contributes to the overpopulation problem, it can also dilute the unique genes of the Kintamani.



Many of the pet dogs that were brought to the clinic to be sterilised looked clean and healthy, but upon closer examination, several were found to have skin diseases and infections. These ailments are closely related to the lack of treatment and cleanliness. Although the problem seems to be minor, if these conditions remain unchanged amidst an increase in the street dog population, these animals can transmit more than ‘mere’ skin diseases. An early beacon of this threat was delivered in January 2007 when a research team from the Faculty of Veterinary Medicine from Udayana University, Bali, reported finding the H5N1 avian influenza virus in several dogs and cats in Bali. Although there has not been any proof yet that cats and dogs can transmit this virus to humans, the report is certainly not a false alarm.



When the clock struck three and there were no more dogs to be treated, the team prepared to head back home. On my last day in Bali, I wandered the streets of Denpasar and Kuta to feel the comforting breeze on my face. I several saw dogs crossing the street and making a nuisance of themselves to drivers. But I realised that helping the street dogs is not only about solving traffic problems or making the island more beautiful by reducing the dog population. It is about keeping Bali a place where human beings and dogs can live in harmony, just like the mythical king Yudhisthira and his dog.

A Mythic Link
Dogs play a role in many different aspects of Balinese life. An intimate connection between people and dogs has its roots in itihasa, traditional Hindu literature. One of the most important of itihasa is the Mahabharata. The last part of this epic relates the story of Yudhisthira, the eldest of the five Pandava brothers, at the end of his journey to heaven.
At the peak of Mount Meru, Yudhisthira met Indra, the king of the gods. Indra refused to take Yudhisthira to heaven because he insisted on bringing along a stray dog. This dog had been a faithful companion to Yudhisthira throughout his long journey. When Yudhisthira declined to proceed without his dog, it transformed itself into the god Dharma, Yudhisthira’s father, who had been testing him. Many Balinese keep dogs as companions because of the legend of Yudhisthira.



RONY ZAKARIA started his career as a documentary photographer after finishing his studies in photography at the Antara Gallery of Photojournalism, Jakarta, Indonesia. His work has appeared in many publications and he is a member of the cooperative photography group Panon Photos. www.ronyzakaria.com.



Published in the September 2007 issue of Asian Geographic Magazine


Click to View The Complete Photo Story of Dog Days

Monday, September 17, 2007

A Long Walk


Walking at The Semanggi Road / Rony Zakaria

Last Sunday, I walked along the Sudirman road to Sarinah, Thamrin. The idea was to do something different and maybe I will see good pictures along the way. I was accompanied by a long-time-no-see friend, Sisca JE, I met Sisca and her husband at their small anniversary celebration over 2 years go. Walking is not a new thing for me, but to walk about 4-5 kilometers is certainly not scheduled in my common days.

Anyway, I didn't have any plans to photograph certain things, it was more like a chat-walk than a street photography thing. One thing I noticed while walking those long but not tiring roads is Jakarta can be beautiful and also comfortable for pedestrians. But only if the government put an effort to reduce private cars in the street and fix the public transportation system. Then cyclists and pedestrians can enjoy the beauty and also the fresh air of Jakarta.

I was experiencing that, although only for an a hour (the Sudirman - Thamrin road is closed every sunday until 8 am for recreational sport like cycling and running.

Maybe I'm sound like a naive guy wanting and believe this can really happen in Jakarta. But I do, I do believe it can happen.

But not just now. Not yet. Surely someday.