Friday, December 08, 2006

10 hari bersama orang-orang GAM


Seorang mantan TNA memakai Pin bendera Bulan Bintang milik GAM


Mendengar kata GAM mungkin terdengar menakutkan, maklum saja pemberitaan dari media baik cetak maupun televisi selalu mencitrakan GAM atau Gerakan Aceh Merdeka dengan kelompok pemberontak yang berbahaya. Namun sewaktu saya berpergian bersama-sama mereka, citra itu sama sekali salah. Mungkin ekspose berita negatif terhadap mereka merupakan salah satu tak-tik pemerintah RI dalam menjatuhkan GAM.

Saat di Jakarta saya tidak tahu menahu tentang GAM, yang saya ketahui hanyalah bahwa mereka itu kejam dan suka menculik orang-orang penduduk disana. Sesampainya disini saya sempat mewawancarai beberapa warga aceh yang dahulu pernah bertemu atau mempunyai pengalaman dengan orang GAM. Sungguh berbeda penuturan mereka tentang GAM dengan apa yang diungkapkan di media. Ternyata mereka takut dengan GAM hanya karena takut ketahuan oleh TNI membantu GAM. Ada sebuah cerita seorang desersi polisi dari Takengon yang defect ke GAM, saat mau ditangkap oleh TNI ia sedang duduk-duduk di depan rumah warga sekitar di desa Lhong, Bireun. Ketika ditangkap ia dapat meloloskan diri, namun rumah warga sekitar radius 50 meter semua di obrak-abrik dan di bakar. Itu hanya satu cerita dari sekian banyak cerita yang saya dengar dari penduduk setempat. Adapun kisah tentang desa Tiro, dimana terjadi pembantaian terhadap semua laki-laki di desa itu oleh TNI dan semua wanita diperkosa oleh tentara. Semua itu terjadi karena banyak warga kampung-kampung di Aceh yang simpatik dengan perjuangan GAM. Mereka bilang GAM itu baik, yang jahat itu hanyalah orang yang pura-pura jadi GAM, meminta uang kepada masyarakat.

Kembali ke perjalanan saya, jadi selama 10 hari, mulai dari 26 November sampai 6 Desember saya menghabiskan waktu dengan orang-orang GAM yang menjadi tim sukses dari Irwandi Yusuf, orang GAM yang mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh pada pilkada 11 Desember nanti.Bersama rombongan yang terdiri dari 2 mobil kami berkeliling Aceh, mulai dari Pidie, Lhoksuemawe, Bireun, Melauboh sampai Tapak Tuan di Aceh Selatan. Irwandi Yusuf sendiri merupakan orang GAM yang sejak tahun 1999 ikut dalam gerakan ini, ia pernah menjabat sebagai penasihat intelijen militer GAM sewaktu diberlakukan DOM di Aceh. Selain itu ia juga merupakan dosen di Universitas Syahkuala di fakultas kedokteran hewan karena ia memang mempunyai gelar master dalam bidang kedokteran hewan dari unversitas Oregon, Amerika Serikat. Dalam perjalanan selama 10 hari itu, saya sempat bermalam di rumah bang Irwandi di Bireun.

Tidak seperti calon-calon gubernur lain yang mengusung partai politik, pasangan Irwandi-Nazar maju melalui jalur independent yang berarti pendanaan berasal dari pribadi. Itu dibuktikan dengan minimnya poster-poster dan banner dari pasangan bernomor enam ini. Dalam satu kesempatan ia mengungkapkan bahwa ia menghabiskan kurang dari 500 juta rupiah untuk kampanye ini jauh dibandingkan dengan salah satu pasangan lain yang menghabiskan sampai 20 miliar rupiah. Selama mengikuti kampanye Irwandi-Nazar saya melihat orang-orang yang datang kebanyakan merupakan simpatisan dari GAM yang datang sendiri tanpa dibayar. Salah satu khas dari kampanye Irwandi adalah selalu diawali dengan lagu-lagu perjuangan GAM di Aceh yang dinyanyikan dengan bahasa Aceh.

Lima hari pertama saya masih bisa mengikuti gerak dari orang-orang GAM itu, mungkin karena mereka itu bekas TNA (tentara Nanggroe Aceh) jadi gerak mereka terbiasa cepat, makan cepat, bergerak cepat, sampai bangun dan mandi cepat. Jujur saja saya sempat kewalahan mengikuti mereka. pada hari keenam mulai saya terserang sakit perut, sakit kepala dan masuk angin. Hal yang disebabkan pada hari-hari itu rombongan menhabiskan waktu lebih banyak di jalan. Seperti perjalanan ke Tapak tuan misalnya, ditempuh dalam waktu 12 jam langsung dan setelah kampanye dilanjutkan 12 jam lagi ke banda aceh. Tentu saya yang bukan tentara ini habis staminanya sesampainya di Banda Aceh.

Banyak sekali yang bisa saya ceritakan, namun saya simpan dahulu. Pasti nanti saya ceritakan di postingan saya selanjutnya yang akan dilengkapi dengan foto.

Salam dari Nanggroe Aceh Darussalam

Rony Zakaria

1 comment:

Anonymous said...

thanks sharingnnya... ditunggu neh foto2 menariknya... bikin ngiri euy jalan2nya...