Sunday, December 24, 2006

Menjadi orang Jakarta


Dalam busway, di dalam ramai, diluar ramai.

Saya sedang menunggu datangnya busway, di halte Jelambar dekat Mal Ciputra, grogol. Ketika itu antrian penumpang menuju arah harmoni sangat padat, ada sekitar 50 orang yang berkerumul di dekat pintu halte menunggu datangnya busway koridor 3 dari arah Kalideres. Saya memutuskan untuk tetap antri karena memang pemandangan tersebut bukan pertama kalinya saya alami. 10 menit berlalu masih belum ada satupun bus dari arah kalideres yang muncul, sedangkan dari arah sebaliknya sudah ada 4 bus yang lewat dan antrian penumpang pun makin penuh yang ingin naik menuju harmoni-pasar baru. Beberapa orang tampak mulai kesal seperti halnya saya, memang siang hari itu saya ada acara di Galeri Foto Antara, Pasar Baru dan saya tidak ingin terlambat.

Beberapa saat kemudian akhirnya tiba satu bus dari arah Kalideres, ketika bus membuka pintunya kontan hampir semua penumpang berbebut ingin masuk ke dalam bus dengan cara mendorong orang didepanya. Hal itu cukup lazim selama saya menggunakan jasa busway ini, tetapi saya tetap tak habis pikir, mengapa mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, bukan kah orang lain didepannya bisa saja jatuh dan cedera, mungkin saya sedikit naif tapi saya merasa rasa egois orang kota sudah sangat tinggi. Baru 10 menit lagi bus dari kalideres tiba, kali ini giliran saya yang di dorong dari belakang.

Itu hanya sebagian kecil mengapa saya tidak betah tinggal di Jakarta, terutama kelakuan orang Jakarta yang mau menang sendiri, yah Jakarta memang keras mungkin itu yang membuat banyak dari penduduknya berbuat seenaknya. Mungkin ini sekadar opini atau sekadar subjektivitas dari kekecewaan saya dari Jakarta, saya merasa satu-satunya kesamaan dari orang Jakarta adalah mereka semua money-oriented, ah tapi siapa sih yang tidak?

"Siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta"

Lirik tersebut mungkin tepat mengenai kerasnya dan kotornya kota Jakarta, tetapi saya kan tidak datang ke Jakarta, saya lahir di Jakarta. Yang bikin saya heran justru mengapa semua orang ingin datang ke Jakarta? Padahal macet setiap hari, kejahatan terjadi dimana-mana, mencari kerja susah, mau sekolah mahal? Semua menganggap Jakarta sebagai lahan yang menggiurkan untuk mencari uang. Setiap tahunnya bertambah banyak warga Jakarta yang money oriented, kita hidup di kota yang amat kapitalis dan hedonis. Saya ingin sekali keluar dari Jakarta.

Tuesday, December 19, 2006

Sehari di Pulau "Weh" Sabang

Dalam 3 minggu saya berada di Aceh, saya merasa sangat beruntung dapat keliling ke kota-kota di Aceh, mulai dari Aceh Utara Pidie, Lhokseumawe, Aceh Tengah Takengon dan Blangkejeren di Gayo Lues, Aceh selatan Kota Fajar, Tapak Tuwan, serta pesisir pantai barat Aceh, Meulaboh, Lamno dan Calang. Namun ketika keliling meliput kampanye bersama rombongan Irwandi Yusuf, saya tidak ikut ketika mereka ke Sabang, karena kondisi badan dan stamina yang drop selepas 10 hari berkeliling Aceh. Namun 1 hari sebelum pilkada Aceh yaitu tanggal 10 Desember, saya bisa mengobati rasa kecewa itu, akhirnya Sabang bisa kulihat juga.


View dari speed boat, berangkat dari Ulee Lheue, Aceh Besar menuju Balohan, Sabang.

Bersama teman-teman Soka Gakkai Indonesia (SGI) lainnya, Taguchi-san, Novianti, Elizabeth dan Maya, kami berangkat dari Ulee Lheue menuju Balohan di Sabang atau juga dikenal sebagai Pulau Weh. Pulau Weh dianggap merupakan pulau paling terluar dari wilayah Indonesia, disana pula ada monument kilometer nol yang menandai kilometer pertama wilayah Indonesia. Makanya ada lagu "Dari Sabang sampai Merauke" bukan? Perjalanan dari Ulee Lheue ke Balohan ditempuh dalam waktu 50 menit menggunakan speed boat cruiser, tiketnya 70rb satu orang untuk kelas Bisnis, sebenarnya ada transportasi lain menuju Sabang, yaitu ferry yang lebih murah, tetapi lama tempuh kesana lebih lama, lebih kurang 2 jam untuk sampai ke Sabang. Kami berangkat dari Ulee Lheue pukul 9.30 tepat, setiap harinya hanya ada 2 kali perjalanan dari Ulee Lheue ke Sabang, yaitu pukul 9.30 pagi dan jam 16.00 sore, demikian pula sebaliknya dari Sabang menuju Ulee Lheue dengan waktu yang sama.


Tiba di Balohan, Pulau "Weh" Sabang.

Sesampainya di Balohan, waktu menunjukkan pukul 10.20, disana sudah menunggu banyak orang yang menawarkan jasa mobilnya untuk berkeliling pulau Sabang. Tarif yang dikenakan telah distandarisasi oleh pemerintah daerah kota Sabang, yaitu 50 ribu untuk sewa mobil 1 hari tanpa bensin dan driver, apabila kita ingin berkeliling dengan supir satu hari, biayanya 500rb untuk satu mobil kijang, tapi kami nego sehingga sedikit dikurangi menjadi 450rb, yah gara-gara tidak ada yang bisa nyetir :P. Tujuan pertama adalah pantai Gapang, disana kami melihat banyak orang menyelam (snorkling), memang katanya kalo belum snorkling di Sabang, pasti belum puas, sayang waktu kami terbatas hari itu dan kebanyakan dari kami tidak membawa baju ganti.


View di Pantai Gapang, tujuan pertama kami di Pulau Sabang.

Tujuan selanjutnya adalah pantai Iboih, yang oleh driver kami dikatakan jauh lebih bagus dari pantai Gapang. Dan memang ia mengatakan apa adanya, baru kali ini saya melihat pantai sejernih itu, kita dapat melihat sampai ke dasar, sampai terumbu karangnya, benar-benar jernih dengan pasir putih bersih. Kami pun mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, yah kapan lagi bisa ke Sabang :D.


View di Pantai Iboih.


View di pantai Iboih. Airnya sangat jernih sampai kita bisa melihat dasarnya.


Left my footprints at Sabang. Like I did everywhere I go.

Selain keindahan pantai dan alamnya, Sabang juga dikenal sebagai surga mobil-mobil mewah seperti Ferrari, Volvo, BMW, Lamborghini dengan harga murah. Bayangkan menurut teman saya yang orang Aceh, untuk mendapatkan Ferrari bisa mengeluarkan uang hanya 80 juta ditambah 20 juta untuk surat-surat agar bisa masuk Medan. Mobil-mobil tersebut merupakan kiriman dari Singapura yang jaraknya dekat dengan Sabang dan Sabang dahulu merupakan pelabuhan bebas sehingga barang-barang dari luar bisa langsung masuk ke Sabang. Salah satu tempat untuk menampung mobil-mobil mewah tersebut bahkan sebuah markas TNI di Sabang.


Deretan mobil-mobil mewah dari Singapura.


Foto bersama sebelum pulang ke Ulee Lheue (kiri ke kanan : Taguchi-san, Maya, Elizabeth, Novianti).

Waktu berlalu cepat dan kami harus kembali ke Balohan untuk pulang ke Ulee Lheue, kapal kami berangkat pukul 16.00 tepat. Sayang kami tidak sempat ke Tugu Kilometer Nol, namun saya akan kembali lagi ke Sabang apabila nanti pergi ke Aceh lagi. Kami sampai di Ulee Lheue pukul 5 sore. Badan letih dan saya harus banyak istirahat karena keesokan harinya harus meliput Pilkada mulai dari pagi hari.


Speed Boat Cruiser yang sudah menunggu untuk membawa kami pulang ke Ulee Lheue.

Sunday, December 17, 2006

Pameran Foto Dialogue With Nature di Banda Aceh


Tari asal Aceh yang merupakan bagian dari acara pembukaan.

Tanggal 13 Desember 2006, pameran foto Dialogue with Nature resmi dibuka di kota Banda Aceh tepatnya di gedung Dayan Dawood, Universitas Syiahkuala. Pameran foto karya presiden Soka Gakkai Internasional Dr. Daisaku Ikeda, memamerkan 63 foto karya Dr. Ikeda dan foto-foto karya IPO, KNPI dan pewarta foto Aceh.


Tari asal Aceh yang merupakan bagian dari acara pembukaan.

Saya kebetulan sedang berada di Banda Aceh ketika pameran ini akan dibuka, saya sedang berada di Aceh dalam rangka meliput pilkada Aceh dan membuat foto story disana. Saya disana tidak sendiri, ada juga anggota SGI lainnya, seperti Pak Peter, Taguchi-san, Handrio, Ibu Wang Chen dari Jakarta, Novianti dan Elizabeth dari Pematang Siantar, Maya anggota dari Palembang, Natsko-san dari Aceh serta Urara-san dari kota Jogjakarta. Ikut serta pula fotografer dari Kompas, Bang Arbain Rambey sebagai panitia pengarah pameran.


Pembukaan pameran yang ditandai oleh pemotongan pita.

Pada pembukaan pameran tanggal 13 Desember sendiri, orang yang datang terbilang cukup sedikit, hanya 154 orang, mungkin pemberitaan pameran ini masih terbayang dengan pemberitaan pilkada aceh yang baru berlangsung ada 11 Desember lalu. Namun pada hari kedua, jumlah pengunjung ramai sekali, tercatat orang yang datang 1700 pengunjung. Antusiasme pengunjung sangat tinggi, sangat jauh dibandingkan dengan Jakarta. Mungkin hiburan di Banda Aceh sangat kurang, bioskop, mall dan kolam renang sama sekali tidak ada di kota ini, bandingkan dengan Jakarta yang mempunyai puluhan Mall, bioskop dan tempat2 hiburan lainnya. Jadi pameran foto ini bisa jadi menjadi hiburan yang sangat berharga bagi masyarakat kota Banda Aceh.


Dua pengunjung sedang menikmati foto karya Dr. Ikeda.

Pameran di Banda Aceh ini akan berlangsung sampai tanggal 21 Desember mendatang. Saya sendiri sudah kembali ke Jakarta tanggal 15 Desember kemarin, di Banda Aceh masih tinggal Handrio dan Maya untuk menjaga pameran sampai 21 Desember nanti. Selamat berjuang dan bekerja untuk Handrio dan Maya.


Foto bersama panitia (dari kiri : Urara-san, Novianti, Ibu Wang Chen, Elizabeth, Maya, Handrio, Pak Peter, Taguchi-san, Saya sendiri).

Friday, December 08, 2006

10 hari bersama orang-orang GAM


Seorang mantan TNA memakai Pin bendera Bulan Bintang milik GAM


Mendengar kata GAM mungkin terdengar menakutkan, maklum saja pemberitaan dari media baik cetak maupun televisi selalu mencitrakan GAM atau Gerakan Aceh Merdeka dengan kelompok pemberontak yang berbahaya. Namun sewaktu saya berpergian bersama-sama mereka, citra itu sama sekali salah. Mungkin ekspose berita negatif terhadap mereka merupakan salah satu tak-tik pemerintah RI dalam menjatuhkan GAM.

Saat di Jakarta saya tidak tahu menahu tentang GAM, yang saya ketahui hanyalah bahwa mereka itu kejam dan suka menculik orang-orang penduduk disana. Sesampainya disini saya sempat mewawancarai beberapa warga aceh yang dahulu pernah bertemu atau mempunyai pengalaman dengan orang GAM. Sungguh berbeda penuturan mereka tentang GAM dengan apa yang diungkapkan di media. Ternyata mereka takut dengan GAM hanya karena takut ketahuan oleh TNI membantu GAM. Ada sebuah cerita seorang desersi polisi dari Takengon yang defect ke GAM, saat mau ditangkap oleh TNI ia sedang duduk-duduk di depan rumah warga sekitar di desa Lhong, Bireun. Ketika ditangkap ia dapat meloloskan diri, namun rumah warga sekitar radius 50 meter semua di obrak-abrik dan di bakar. Itu hanya satu cerita dari sekian banyak cerita yang saya dengar dari penduduk setempat. Adapun kisah tentang desa Tiro, dimana terjadi pembantaian terhadap semua laki-laki di desa itu oleh TNI dan semua wanita diperkosa oleh tentara. Semua itu terjadi karena banyak warga kampung-kampung di Aceh yang simpatik dengan perjuangan GAM. Mereka bilang GAM itu baik, yang jahat itu hanyalah orang yang pura-pura jadi GAM, meminta uang kepada masyarakat.

Kembali ke perjalanan saya, jadi selama 10 hari, mulai dari 26 November sampai 6 Desember saya menghabiskan waktu dengan orang-orang GAM yang menjadi tim sukses dari Irwandi Yusuf, orang GAM yang mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh pada pilkada 11 Desember nanti.Bersama rombongan yang terdiri dari 2 mobil kami berkeliling Aceh, mulai dari Pidie, Lhoksuemawe, Bireun, Melauboh sampai Tapak Tuan di Aceh Selatan. Irwandi Yusuf sendiri merupakan orang GAM yang sejak tahun 1999 ikut dalam gerakan ini, ia pernah menjabat sebagai penasihat intelijen militer GAM sewaktu diberlakukan DOM di Aceh. Selain itu ia juga merupakan dosen di Universitas Syahkuala di fakultas kedokteran hewan karena ia memang mempunyai gelar master dalam bidang kedokteran hewan dari unversitas Oregon, Amerika Serikat. Dalam perjalanan selama 10 hari itu, saya sempat bermalam di rumah bang Irwandi di Bireun.

Tidak seperti calon-calon gubernur lain yang mengusung partai politik, pasangan Irwandi-Nazar maju melalui jalur independent yang berarti pendanaan berasal dari pribadi. Itu dibuktikan dengan minimnya poster-poster dan banner dari pasangan bernomor enam ini. Dalam satu kesempatan ia mengungkapkan bahwa ia menghabiskan kurang dari 500 juta rupiah untuk kampanye ini jauh dibandingkan dengan salah satu pasangan lain yang menghabiskan sampai 20 miliar rupiah. Selama mengikuti kampanye Irwandi-Nazar saya melihat orang-orang yang datang kebanyakan merupakan simpatisan dari GAM yang datang sendiri tanpa dibayar. Salah satu khas dari kampanye Irwandi adalah selalu diawali dengan lagu-lagu perjuangan GAM di Aceh yang dinyanyikan dengan bahasa Aceh.

Lima hari pertama saya masih bisa mengikuti gerak dari orang-orang GAM itu, mungkin karena mereka itu bekas TNA (tentara Nanggroe Aceh) jadi gerak mereka terbiasa cepat, makan cepat, bergerak cepat, sampai bangun dan mandi cepat. Jujur saja saya sempat kewalahan mengikuti mereka. pada hari keenam mulai saya terserang sakit perut, sakit kepala dan masuk angin. Hal yang disebabkan pada hari-hari itu rombongan menhabiskan waktu lebih banyak di jalan. Seperti perjalanan ke Tapak tuan misalnya, ditempuh dalam waktu 12 jam langsung dan setelah kampanye dilanjutkan 12 jam lagi ke banda aceh. Tentu saya yang bukan tentara ini habis staminanya sesampainya di Banda Aceh.

Banyak sekali yang bisa saya ceritakan, namun saya simpan dahulu. Pasti nanti saya ceritakan di postingan saya selanjutnya yang akan dilengkapi dengan foto.

Salam dari Nanggroe Aceh Darussalam

Rony Zakaria