Monday, November 13, 2006

Aku, Minke dan Om Pram

Minke, nama itu seperti nama seorang perempuan, jika seseorang ditanyakan pendapatnya mengenai nama itu sekarang. Aku mengenal Minke melalui dunia Bumi Manusia, sebuah gambaran melalui buku tentang kehidupan seorang pribumi Jawa pada jaman sebelum kemerdekaan dahulu, ketika kata Pribumi begitu rendahnya dibawah kata Eropa. Hubungannya dengan Om Pram? Dialah penulis buku itu, buku yang membuatku takjub, tenggelam kedalamnya yang semakin membuatku kagum dengan almarhum, Ia sungguh penulis hebat, sayang bangsanya tidak menghargainya ketika ia masih hidup dulu.

Kembali ke Minke, aku sangat tertarik pada sosoknya, bagaimana seorang jawa dahulu bisa begitu modern dan sangat maju dalam pemikiran, jujur ketika sedang membaca, tak jarang aku merasa diriku ini Minke. Memang aku tidak persis sama dengannya, aku keturunan Cina, bukan jawa sepertinya, aku bukanlah murid sekolah terpandang H.B.S. seperti layaknya dia di jamanya. Namun ada satu yang membuatku merasa senasib dengannya, Minke adalah seorang pribumi jawa yang mengenyam pendidikan Belanda, sehingga ia lebih terlihat seperti seorang eropa yang bertubuh jawa. Dalam perjalanan waktu Minke menyadari bahwa Eropa tidak lebih baik dari Jawa, bahwa ia memperoleh pendidikan Eropa semata-mata hanya untuk digunakan membela bangsanya yang ditindas oleh orang Eropa - kala itu orang Eropa mempunyai kedudukan tertinggi di pulau Jawa, kemudian baru orang Indo (campuran) dan terakhir pribumi.

Lalu apa kesamaanya dengan diriku, bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku bukan murid sekolah Eropa seperi Minke? Ya aku hanya sekolah lokal tapi banyak pengetahuanku kudapat dari luar sekolah, lebih tepatnya dari luar negeri ini tentunya dengan kemajuan teknologi aku bisa mendapatkan pengetahuan luar dengan mudah. Dengan kata lain, aku memperkaya pikiranku ini dengan pengetahuan dan pikiran barat. Memang Minke itu sosok yang sangat aku kagumi walau mungkin ia hanya seorang tokoh dalam dunia Bumi Manusia nya Om Pram tapi sungguh aku benar-benar memimpikan diri seperti seorang Minke, kaya akan pengetahuan barat namun berjuang untuk bangsanya sendiri. Bukankah Indonesia sekarang ini sudah merdeka? Apalagi yang mau diperjuangkan? Menurutku masih banyak, masih banyak belenggu yang masih terpatri di bumi Indonesia ini. Salah satunya saja adalah mental membatasi diri, bahwa orang luar lebih baik dari orang kita sendiri, termasuk dirinya sendiri.

Banyak mungkin yang tidak setuju aku katakan mereka minder sama orang barat, tapi terkadang mulut dan pikiran seseorang tidak sama. Bukankah demikian? Itulah sebabnya aku merasa peringatan hari pahlawan kemarin seperti hanya seremonial belaka, tanpa arti, tanpa tujuan. Pahlawan-pahlawan baru tak kunjung lahir atau muncul, mungkin karena kita dianggap sudah bebas. Aku tidak merasa seperti itu, aku tidak bebas. Seperti kata Minke, aku juga ingin menjadi orang bebas, tidak diperintah, tidak juga memerintah....


Rony Zakaria

1 comment:

Anonymous said...

Tidak diperintah dan tidak memerintah. Sama seperti keinginan saya. Freedom. Not being forced to do anything and not forcing others to do something