Sunday, November 26, 2006

Banda Aceh : 25 November 2006

Hari ini saya terbangun di kantor Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh. Memang semalam saya menginap disana, mengingat hari sudah terlalu malam untuk kembali ke uleekareng. Jam delapan pagi Safri mengajak saya ke media center salah satu calon gubernur, Tamlica Ali yang merupakan bekas pangad Wirabuana. Safri memang bermaksud untuk melakukan wawancara dengannya untuk keperluan radio Australia, tempat ia bekerja.


Pasangan Irwandi-Nazar saat acara debat, dibelakangnya (dari kiri) pasangan Humam-Hamid, rival utama mereka


Selepas wawancara, kami berbegas menuju darussalam, tepatnya di gedung Dayan Dawood, kampus Unsyah tempat yang sama ketika pembacaan visi misi kemarin. Kali ini acaranya adalah debat dengan para calon gubernur dan wakil gubernur, yang diselenggarakan oleh KIP dan Lsm Jurdil. Acaranya sendiri terbagi 2 sesi dimana masing-masing sesi 4 calon akan berdebat dengan panelis. Sedikit mengecewakan memang, karena debat bukan dilakukan antar pasangan tapi dengan panelis yang ada, sehingga lebih satu arah.

Karena kemarin saya tidak pulang ke uleekareng maka siang harinya saya pamit dengan safri untuk pulang ke uleekareng dahulu untuk mandi dan istirahat sejenak. Saya kembali ke uleekareng dengan Labi-Labi dari simpang lima. Besok rencananya saya akan ikut dengan rombongan Irwandi ke daerah Pidie di pantai Utara Aceh.

Malamnya saya kumpul dengan kawan-kawan RATM dari Kaskus, kami berkumpul di Radio Flamboyan, disana saya bertemu juga dengan Oki Tiba, salah satu fotografer di Aceh. Ia juga mengenalkan saya pada bang Meiji, fotografer Reuters. Jam 12 saya dan safri pamit pulang. Besok saya harus berangkat pagi ke lamdingin untuk berangkat bersama rombongan bang Irwandi jam 6 pagi menuju Pidie.

Friday, November 24, 2006

Bangun pertama kali di Banda


Salah satu jembatan di Banda Aceh

Hari ini saya bangun pukul 7 pagi, termasuk "sangat" pagi untuk waktu bangun saya, maklum saja di Jakarta saya biasa bangun pukul 9-10 pagi. Dari Uleekareng tempat saya tinggal saya langsung menuju peunayong tempat kantor sindikasi Pantau berada. Saya bertemu kembali dengan Samiaji Bintang, dia mau mengantarkan saya ke markas SIRA berada, untuk dikenalkan dengan tim suksesnya pasangan Irwandi-Nazar. Tim suksesnya pada dasarnya memperbolehkan saya ikut dengan rombongannya ketika kampanye ke daerah-daerah di Aceh, tinggal menunggu konfirmasi dengan Irwandi saja.

Siangnya saya menunggu di kantor pantau, menunggu sampai jam 1 untuk kemudian berangkat ke unsyah dimana para calon pasangan gubernur dan wakil gubernur akan menyampaikan visi misi mereka. Perjalanan ke Universitas Syahkuala ditempuh dengan angkutan umum Aceh yang disebut Labi-Labi, semacam mobil box namun dimodifikasi sehingga bisa mengangkut penumpang. Di salah satu gedung di unsyah acara penyampaian visi dan misi dilangsungkan, acara dimulai pukul 14.30. Disana saya bertemu dengan Safri, wartawan AJI yang saya sudah kenal sebelumnya di Internet.


Naik Labi-Labi menuju Unsyah

Singkat kata saya dibawa Safri ke AJI bertemu dengan kawan-kawan wartawan lainnnya sekaligus untuk akses internet. Kencang sekali koneksi internet disini dan saya menulis tulisan ini di AJI. Nanti malam kalau tidak ada halangan saya akan bertemu dengan kawan-kawan lain di Aceh. Ngopi-ngopi bareng katanya :D

Thursday, November 23, 2006

Kesan pertama di Banda Aceh

Saya tiba di bandara Sultan Iskandar muda pukul 10.08 pagi, sepintas terlihat bandara kota banda aceh itu sangat kecil, tidak bisa dibandingkan dengan Sukarno-Hatta di Jakarta. Keluar dari bandara jelas terlihat bahwa bandara tersebut hanya terdiri dari 2 bangunan sedang yang merupakan terminal kedatangan dan keberangkatan, mungkin hanya 1/50 dari luas bandara Sukarno-Hatta.

Saya dijemput oleh Onik, kawan yang baru saya kenal di Aceh, dia bekerja di NGO redcrescent Turki. Dari bandara kami langsung ke kantornya di daerah dekat peunayong, saya menitipkan barang bawaan di sana untuk kemudian langsung berangkat ke Masjid Baiturrahman yang berjarak hanya 200 meter dari sana. Di Masjid Baiturahman sudah menunggu Samiaji Bintang, wartawan sindikasi pantau, kami sudah berkorespondensi melalui email jauh-jauh hari mengenai tujuan liputan saya dan kedatangan saya di Banda Aceh. Perbincangan berlanjut ke kantor pantau di jl.ratu safiatudin, 100 meter dari masjid.

Kantor 3 lantai itu, sepi lengang, hanya kami berdua dan satu orang lagi (maaf aku lupa namanya). Menurut bintang, di kantor itu hanya dihuni 3 orang saja, sedangkan sekarang direktur sindikasi pantau aceh, Mbak Linda Christanty sedang pergi ke Jepang sampai desember. Selepas makan siang, saya diajak Bintang ke Markas kampanye pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NAD yang mencalonkan diri melalui jalur independen. Irwandi merupakan mantan penasihat militer GAM saat DOM dahulu sedangkan Nazar merupakan ketua presidium SIRA. Terus terang aku agak grogi berbicara dengan mereka, bukan apa-apa, takut salah bicara (kebiasaan jelekku kalo ketemu orang baru, jadi agak kaku, I hate myself for this). Singkat kata saya dikenalkan dengan salah satu tim suksesnya Irwandi dan kami dijanjikan untuk diberikan jadwal kampanye, saya sendiri sudah menyampaikan maksud saya untuk bisa ikut dalam rombongan mereka.

Selesai dari sana, saya mengambil barang bawaan saya di kantor onik, dan bang Bintang dengan baik hati mau mengantarkan saya ke tempat tinggal saya di Banda Aceh, di uleekareng. Disana saya disambut dengan ramah oleh Bang Jawon dan istrinya di rumah mereka yang sederhana namun nyaman. Kesan diaceh selama satu hari ini : PANAS, lebih panas dari Jakarta (serius!), dan nyamuknya banyak bgt. Nanti malam saya rencananya akan bertemu dengan teman-teman Onik di Aceh.

Monday, November 20, 2006

Padat dan Capai

Lama sekali saya tidak menulis di blog ini, 2 minggu terakhir mungkin adalah 2 minggu tersibuk tahun ini. Di tengah terik matahari Jakarta yang semakin panas memasuki bulan November hampir setiap hari saya harus hilir mudik di angkutan umum kota Jakarta, entah untuk memotret ataupun melakukan lobi. Yah memang saya dan beberapa teman lain sedang melakukan rencana untuk setup sebuah biro foto (photo agency) baru. Untuk keperluan itu saya dan beberapa teman kerap bertemu setiap minggunya beberapa kali untuk membicarakan lobi masing-masing ke lsm, penerbit tentang jalinan kerjasama.

Agency kami sendiri bernama Panon yang dalam bahasa sunda berarti mata. Awal pendirian agency ini akan ditandai dengan peluncuran website resmi kami awal januari nanti. Sementara website belum diluncurkan kami masing-masing melakukan lobi ke pihak-pihak yang kami kenal untuk bisa membantu jalannya agency ini. Saya sendiri kemarin pergi ke Ciracas untuk menemui penerbit Erlangga, yang jaraknya amat jauh sekali, 2.5 jam dari tempat tinggal saya. Capai sekali badan namun itu harga yang harus dibayar untuk sebuah awal baik.

Saya akan pergi ke Banda Aceh tanggal 23 November ini untuk keperluan project foto pribadi mengenai pilkada Aceh. Jadi saya akan mengupdate blog ini dari sana.

Monday, November 13, 2006

Aku, Minke dan Om Pram

Minke, nama itu seperti nama seorang perempuan, jika seseorang ditanyakan pendapatnya mengenai nama itu sekarang. Aku mengenal Minke melalui dunia Bumi Manusia, sebuah gambaran melalui buku tentang kehidupan seorang pribumi Jawa pada jaman sebelum kemerdekaan dahulu, ketika kata Pribumi begitu rendahnya dibawah kata Eropa. Hubungannya dengan Om Pram? Dialah penulis buku itu, buku yang membuatku takjub, tenggelam kedalamnya yang semakin membuatku kagum dengan almarhum, Ia sungguh penulis hebat, sayang bangsanya tidak menghargainya ketika ia masih hidup dulu.

Kembali ke Minke, aku sangat tertarik pada sosoknya, bagaimana seorang jawa dahulu bisa begitu modern dan sangat maju dalam pemikiran, jujur ketika sedang membaca, tak jarang aku merasa diriku ini Minke. Memang aku tidak persis sama dengannya, aku keturunan Cina, bukan jawa sepertinya, aku bukanlah murid sekolah terpandang H.B.S. seperti layaknya dia di jamanya. Namun ada satu yang membuatku merasa senasib dengannya, Minke adalah seorang pribumi jawa yang mengenyam pendidikan Belanda, sehingga ia lebih terlihat seperti seorang eropa yang bertubuh jawa. Dalam perjalanan waktu Minke menyadari bahwa Eropa tidak lebih baik dari Jawa, bahwa ia memperoleh pendidikan Eropa semata-mata hanya untuk digunakan membela bangsanya yang ditindas oleh orang Eropa - kala itu orang Eropa mempunyai kedudukan tertinggi di pulau Jawa, kemudian baru orang Indo (campuran) dan terakhir pribumi.

Lalu apa kesamaanya dengan diriku, bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku bukan murid sekolah Eropa seperi Minke? Ya aku hanya sekolah lokal tapi banyak pengetahuanku kudapat dari luar sekolah, lebih tepatnya dari luar negeri ini tentunya dengan kemajuan teknologi aku bisa mendapatkan pengetahuan luar dengan mudah. Dengan kata lain, aku memperkaya pikiranku ini dengan pengetahuan dan pikiran barat. Memang Minke itu sosok yang sangat aku kagumi walau mungkin ia hanya seorang tokoh dalam dunia Bumi Manusia nya Om Pram tapi sungguh aku benar-benar memimpikan diri seperti seorang Minke, kaya akan pengetahuan barat namun berjuang untuk bangsanya sendiri. Bukankah Indonesia sekarang ini sudah merdeka? Apalagi yang mau diperjuangkan? Menurutku masih banyak, masih banyak belenggu yang masih terpatri di bumi Indonesia ini. Salah satunya saja adalah mental membatasi diri, bahwa orang luar lebih baik dari orang kita sendiri, termasuk dirinya sendiri.

Banyak mungkin yang tidak setuju aku katakan mereka minder sama orang barat, tapi terkadang mulut dan pikiran seseorang tidak sama. Bukankah demikian? Itulah sebabnya aku merasa peringatan hari pahlawan kemarin seperti hanya seremonial belaka, tanpa arti, tanpa tujuan. Pahlawan-pahlawan baru tak kunjung lahir atau muncul, mungkin karena kita dianggap sudah bebas. Aku tidak merasa seperti itu, aku tidak bebas. Seperti kata Minke, aku juga ingin menjadi orang bebas, tidak diperintah, tidak juga memerintah....


Rony Zakaria