Monday, October 23, 2006

Desa Cigugur

Pada 13-15 Oktober kemarin, saya melakukan perjalanan ke sebuah Desa bernama Cigugur. Desa Cigugur terletak di kaki gunung Ciremai dan sekitar 3 kilometer dari kota Kuningan, Jawa Barat. Saya dan teman saya Henri Ismail kesana dalam rangka mendokumentasikan desa dimana di desa ini toleransi dan pluralitas agama benar-benar diterapkan dan dirasakan serta desa Cigugur merupakan salah satu tempat dimana komunitas terbesar pemeluk Agama Djawa Sunda atau yang juga dikenal sebagai Sunda Wiwitan berada.

Perjalanan menuju desa Cigugur sendiri memakan waktu kira-kira 4 jam menggunakan mobil dari kota Bandung. Kami menggunakan jasa travel untuk pergi ke desa tersebut. Ketika kami tiba di Cigugur, hari sudah gelap dan kami turun di depan Paseban Tri Panca Tunggal yang merupakan tempat tinggal dari tokoh agama Sunda Wiwitan, Pangeran Djatikusuma. Paseban atau orang disana biasa menyebutnya dengan gedong dibangun pada 1860, merupakan tempat berkumpulnya orang-orang di desa Cigugur semacam balai desa, pusat kebudayaan dan juga merupakan tempat tinggal Pangeran Djatikusuma. Paseban sendiri dahulunya merupakan tempat tinggal dari Kiai Madrais yang pertama kali mengembangkan ajaran agama Sunda Wiwitan ini. Anaknya, Pangeran Tedjabuana juga menempati paseban ini sebelum akhirnya Pangeran Djatikusuma yang merupakan cucu dari Kiai Madrais menempatinya.


Latihan tari oleh para bapak-bapak

Ketika kami masuk ke dalam paseban, sedang ada kegiatan latihan tarian untuk acara esok hari, yaitu peresmian perbaikan dari paseban dan peluncuran batik resmi desa Cigugur ditambah dengan perayaan ulang tahun Pangeran Djatikusuma. Baru sebentar kami duduk, seorang bapak kemudian datang dan berbincang-bincang dengan kami yang merupakan orang asing disana. Perbincangan tersebut akhirnya berlanjut ke taman, dimana makanan untuk kami disiapkan, ternyata setelah berbincang-bincang seputar Sunda Wiwitan dan Cigugur diketahui bahwa bapak tersebut adalah putra dari Pangeran Djatikusuma, Gumirat Barna Alam. "Saya putranya Rama Djati", seraya memperkenalkan siapa dirinya, Rama merupakan panggilan yang artinya bapak. Sebagai putra satu-satunya, oleh ayahnya ia dipersiapkan untuk meneruskan ajaran ini.


Gumirat Barna Alam yang akrab dengan panggilan Rama Anom

Malam sudah larut dan akhirnya kami bertemu juga dengan Mas Ira, yang lebih dahulu dikenal oleh Henri. Ia merupakan penganut agama Sunda Wiwitan dan berprofesi sebagai dosen antropologi di Unpad Bandung. Selama 3 hari kedepan kami menginap di rumah keluarga mas Ira yang berbaik hati dan ramah menerima kami sebagai tamu di rumahnya. Tidur saya nyenyak sekali malam itu, udara dingin dan keramahan warga desa Cigugur memberikan kesan pertama yang baik di hari saya. Keesokan harinya kami bertemu dengan ayah mas Ira yang merupakan seniman yang membuat motif-motif batik Cigugur yang rencananya akan diluncurkan sore hari itu. Bersama dengan Ayah dan Ibunya, kami dan mas Ira berdiskusi mengenai agama Sunda Wiwitan, Rama Djati, Paseban dan Cigugur. Dari obrolan tersebut berulang kali saya dengar pengalaman tentang susahnya urusan administratif dengan pemerintah dikarenakan agama yang mereka anut. Seperti halnya agama asli dan tradisional Indonesia lainnya, agama Sunda wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi oleh karena itu tidak dapat dicantumkan dalam KTP (penganut agama Sunda Wiwitan mempunya tanda strip pada kolom agama di KTP mereka). Karena 'polos'-nya KTP mereka, seringkali penganut agama "tidak resmi" ini disalah artikan sebagai orang atheis atau tidak mempunyai agama.


Mas Ira (paling kanan) dengan ayah dan ibunya

Siang harinya kami menuju Paseban untuk bertemu dengan Rama Djati. Kami hanya sebentar berbicang dengan beliau dikarenakan ia sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara sore hari. Jadilah kami berkeliling paseban untuk melihat-lihat dan mendokumentasikannya. Sore harinya banyak orang yang datang ke paseban. Kursi yang disediakan penuh terisi dan pintu-pintu dan jendela-jendela tampak orang-orang berjejalan memperlihatkan antusiasme warga Cigugur terhadap acara tersebut. Di Cigugur sendiri dari perbincangan kami dengan beberapa orang diketahui bahwa dahulu mayoritas penduduk desa itu merupakan penganut Sunda Wiwitan namun karena susahnya urusan administratif dengan pemerintah dan faktor lainnya maka pada sekarang ini Islam, Katolik dan Protestan merupakan mayoritas agama yang dianut oleh penduduk sekitar dan sisanya baru Sunda Wiwitan. Kembali ke acara sore itu, Rama Djati sendiri yang membawakan acara peluncuran batik resmi desa Cigugur yang resminya baru akan dilepas ke pasaran akhir tahun di Jakarta nanti. Suaranya tegas namun tetap terdengar ramah dan simpatik, semangatnya terlihat dalam suaranya ketika menjelaskan arti tentang masing-masing motif batik, tidak memperlihatkan usianya yang sudah cukup sepuh hari itu, 74 tahun. Acara hari itu cukup meriah dan walaupun cukup ramai namun jumlah tersebut katanya hanya sepersepuluh dari jumlah yang datang pada acara Seren Taun yang diperingati pada 22 Rayagung penanggalan Sunda, yang tahun depan jatuh pada tanggal 12 Januari 2006.


Rama Djatikusuma (baju putih) tengah duduk disela-sela acara

Tidak terasa sudah tiga hari kami berada di Cigugur, hari itu merupakan hari terakhir kami disana, rencananya malamnya kami akan pulang ke Bandung. Hari itu kami dibawa oleh mas Ira untuk melihat kuburan setempat di Cigugur, dimana pemakaman di desa ini mempunyai keunikan yaitu semua yang dikuburkan dicampur tanpa membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan berdasarkan agamanya. Saya sempat melihat sebuah makam orang Kristiani tepat bersebelahan dengan makam seorang muslim, suatu hal yang belum pernah kita lihat di pemakaman di kota besar seperti Jakarta. Di pemakaman ini pula terletak makam Kiai Madrais dan Pangeran Tedjabuana yang menurut dengan cerita orang disana mengalami ngahiyang atau moksa dimana tubuhnya hilang sama sekali tanpa bekas ketika kuburannya dibongkar untuk dipugar.

Sore hari dan malamnya kami masih sempat untuk melihat dan mendokumentasikan proses perbaikan Paseban yang dilakukan warga sekitar. Perbaikan paseban dilakukan dalam tiga shift, yaitu pagi, siang dan malam hari sehingga proses perbaikan berlangsung non-stop selama 2 bulan. Saat kami mendokumentasikan proses perbaikan tersebut tampak bagian tengah dan atas dari paseban yang mengalami perbaikan besar-besaran. Yang menjadi pertanyaan saya dan Henri, mengapa warga sekitar mau membantu perbaikan paseban tersebut? Sebegitu besarkah pengaruh dari seorang sosok Rama Djati pada warga sekitar? Pertanyaan itu yang membuat saya ingin kembali ke Cigugur awal tahun depan, sebelum Seren Taun dimulai.


Warga bergotong-royong memperbaiki Paseban


Warga tetap bekerja memperbaiki Paseban di malam hari

Malamnya kami pulang ke Bandung, tepat pukul 1 malam travel menjemput didepan rumah dan kami pamit kepada Ibu mas Ira yang sangat ramah dan baik selama kami tinggal di rumahnya. Sewaktu pulang, mobil melintasi Paseban yang tampak masih terang dengan lampu yang menerangi para pekerja memperbaiki gedung tersebut.

Tuesday, October 03, 2006

On Assignment : Pets, Men Best Friend ?

Minggu ini, saya memutuskan untuk menggali cerita mengenai hewan-hewan peliharaan yang mengalami cacat karena diamputasi. Angle yang ingin saya sampaikan adalah posisi pet, sebagai "men's best friend" dimana sebagai teman terbaik manusia, mereka setia menemani, bermain sampai menjaga majikannya. Namun ketika mereka tidak lagi "utuh" atau mengalami amputasi karena kecelakaan atau penyakit apakah mereka tetap dianggap teman terbaik manusia atau bisa dibilang apakah manusia bisa menjadi "Pet's best friend"? Saya mencoba mengangkat issue ini melalui foto-foto hewan-hewan tersebut.

Saya hari ini mengunjungi Pondok Pengayom Hewan (PPS) di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan sebagai bagian dari project saya ini. Hari ini rencananya saya hanya melihat-lihat saja dan sekadar berencana mengenai foto seperti apa yang akan saya ambil, namun saya tetap membawa kamera pocket saya untuk mengambil beberapa gambar. Di PPS saya bertemu dengan Drh. Dilla yang mengizinkan saya untuk melihat-lihat dan membawa saya melihat hewan-hewan yang cacat karena amputasi. Hampir semua hewan disini merupakan hewan peliharaan yang tidak lagi diinginkan oleh pemiliknya entah karena penyakit berat, cacat ataupun sudah tua.

Rencananya saya akan kembali lagi untuk mengambil gambar yang lebih terencana dan lebih baik, serta juga mengunjungi Rumah Sakit Hewan Jakarta.

Beberapa foto yang tadi saya ambil :


Kucing yang diamputasi salah satu kakinya, namanya Buntung (a bit ironic isn't it?)


Pengky, anjing yang kehilangan kakinya karena amputasi akibat infeksi yang dideritanya


Pengky harus memakai alat bantu beroda untuk bisa bergerak dengan lincah


Bento kehilangan kaki depannya akibat terlindas kendaraan

To be continued....