Saturday, September 30, 2006

Kutaklukan Gunung Itu!

Perjalanan itu memakan waktu 8 jam yang disertai oleh kantuk di mata, dingin yang menusuk daging namun ketika akhirnya saat kaki menapak tanah datar tanda kami sudah sampai di puncak gunung gede, tidak dapat dibayangkan bagaimana gembiranya diri ini, badan tidak lagi mengigil dan mata segar seperti habis mandi pagi. Akhirnya bisa
kukatakan pada diriku, gunung itu telah kutaklukan, gunung pertama yang kutaklukan.

Perjalanan mendaki (hiking) gunung sebenarnya dimulai dari ajakan teman kuliah saya, Yudi yang minggu itu seperti sibuk mengajak semua teman-teman dikelas untuk ikut. Ia mengajak kami untuk mengikuti open hiking dari kelompok pecinta alam Universitas Tarumanegara. "Ikutan yok ke gunung gede, cuma 85 ribu uda dapet makan, kaos dan topi" katanya waktu itu. Yang ikut mendaftar pada akhirnya ada 5 orang yaitu saya, Yudi, Widianto, Januar dan Jansson. Rencananya kami berangkat hari sabtu sore (23/9) dari kampus I Untar.

Sabtu itu kami berangkat menggunakan 2 buah truk tentara (tronton), kira-kira ada sekitar 50 orang yang ikut berangkat hiking dan kebanyakan merupakan anggota dari Marsipala (kelompok pecinta alam Untar). Tujuan kami adalah menuju cipanas dimana disana terdapat salah satu jalur pendakian ke gunung gede. Saat perjalanan saya sempat berkenalan dengan beberapa anggota Marsipala yang salah satunya mengira kami adalah senior dari Marsipala karena tampang kami yang sudah 'berumur' dan asing. Waktu menunjukkan pukul 9.30 ketika kendaraan kami akhirnya sampai di pos pendakian gunung gede, saat itu udara sudah cukup dingin.

Rencana malam itu, kami akan berangkat pada pukul 10.00 malam dan peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, kami berada di kelompok 3 yang berarti kami harus menunggu 2 kelompok sebelum kami untuk berangkat terlebih dahulu. Terdapat 10 orang di kelompok kami dan tampaknya kami merupakan satu-satunya yang 'tidak berpengalaman' dalam hal daki-mendaki. Pemimpin di kelompok kami adalah Chris yang merupakan ketua panitia dari acara ini. Setelah menunggu 20 menit akhirnya kelompok kami jalan juga dan senter mulai di hidupkan karena jalan didepan kami sama sekali gelap gulita. Sekitar 7 kilometer dan 5 pos yang harus kami lalui untuk mencapai tujuan, namun karena malam masih panjang, semangat pun masih besar.

Ternyata belum sampai 1 kilometer ditempuh, Yudi tampaknya sudah kehilangan semangat besarnya ketika kami menemui tangga-tangga yang amat melelahkan untuk didaki. Hampir saja ia menyerah apabila pos pertama masih jauh, beruntung pos tersebut hanya 100 meter setelah melewati tangga-tangga itu. Hanya 20 menit kami istirahat untuk kemudian melanjutkan, tidur dan istirahat yang terlalu lama sangat tidak disarankan dalam perjalanan. Singkat kata kami harus mencapai puncak tanpa tidur sama sekali malam itu, rencana awal pukul 5 pagi kami sudah sampai di puncak.

Tidur memang merupakan pantangan apabila ingin mencapai puncak namun tidak untuk yang namanya istirahat, terbukti tidak terhitung lagi berapa kali kami istirahat ditengah perjalanan, baik yang singkat maupun yang cukup lama sampai 15 menit. Namun satu hal yang saya pelajari, sebanyak-banyaknya istirahat, baik singkat maupun yang lama, jangan sekali-kali menyalakan api unggun apabila masih ingin melanjutkan perjalanan. Mengapa? pertama karena api unggun bisa menyebabkan kebakaran, dan kedua yang merupakan alasan yang terpenting : api unggun hanya bisa menghangatkan badan sesaat, ketika kembali berjalan, dinginnya udara akan berlipat ganda seperti yang saya alami saat beristirahat di pos 4.

Pukul empat pagi, saya masih ingat benar ketika itu tidak ada lagi tanjakan ataupun tangga yang memberatkan langkah. Yang ada hanyalah hamparan padang luas yang indah ditemani dengan percikan sinar mentari yang segera terbit dibalik gunung yang mengelilingi padang tersebut. Dalam hati saya bergumam "It's totally worth it!". Banyak tanaman-tanaman yang belum pernah saya lihat sebelumnya yang dikelilingi dengan hamparan rumput yang amat luas. Namun kebahagiaan itu cuma sesaat dirasakan ketika saya sadari bahwa dataran yang saya pijak itu bukanlah puncak dari gunung gede dan saya makin percaya ketika melihat tanda panah menuju ke puncak : 1.5 km. Tiba-tiba kaki bertambah berat dan dingin makin menjadi-jadi, ternyata perjalanan belum usai juga, gunung itu belum juga kutaklukan.


Sesaat setelah mencapai puncak Gunung Gede (2958 mt)


View from the top (1)


View from the top (2)


View from the top (3)


Yudi dengan salah satu peserta (lupa namanya)

Sebenarnya jarak 1.5 km itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan 7 km yang sudah dijalani tetapi karena perut amat lapar dan makanan sudah habis pada perjalanan 7 km tersebut jadilah kami beristirahat setiap 100 meter yang membuat lama perjalanan menuju puncak molor menjadi 1.5 jam. Setelah memastikan kami benar-benar di puncak gunung gede setinggi 2958 meter, kamera saya keluarkan untuk memotret pemandangan disana. Di puncak akhirnya kesempatan ada untuk tidur sejenak menghilangkan kantuk sejak semalam. Walau tidur hanya sejam rasanya seperti 5 jam istirahat, badan menjadi segar kembali dan siap untuk turun, ya kita sudah harus turun gunung, kembali menyusuri 8.5 km yang tadi sudah didaki.


Me and the mountain


Di alun-alun Suryakencana


Salah satu vegetasi yang ada di alun-alun


View di Alun-alun Suryakencana


Saya diapit oleh Dora (kiri) dan Elvin (kanan), she's cute I must say

Perjalanan turun walau lebih singkat, ternyata lebih melelahkan daripada naik. Ditambah dengan beberapa anggota kelompok yang ingin cepat-cepat sampai kebawah membuah saya dan Yudi tertinggal jauh sedangkan wido dan jansson sudah jauh tertinggal dibelakang dan Januar masih berada dipuncak sibuk menggoda kaum hawa disana, sehingga kami berdua mencari jalan sendiri turun kebawah. Kami memutuskan untuk beristirahat setiap 200 meter agar kaki tidak terlalu pegal. Kaki saya waktu itu sudah terasa amat pegal, mungkin karena istirahat dan kosongnya perut kami. Singkatnya kami sampai di bawah pukul 3, sialnya semua warung atau tempat makan tidak ada yang buka, karena hari itu hari pertama bulan puasa. Kesal dan lapar kami menunggu dibawah, kesal karena kami harus menunggu orang-orang yang tampaknya tidak tahu diri berlama-lama diatas membuat orang lain lama menunggu mereka untuk bersama-sama pulang. Tampaknya kekurang siapan dari panitia mulai terlihat, terbukti dari terlambatnya waktu pulang kami dari rencana awal pukul 1 menjadi pukul 5 sore. Namun saya tidak mau membuat kekesalan saya melebihi kepuasan telah menaklukan gunung gede. Kami sampai di Jakarta pukul 8 malam.

1 comment:

Stefanie I said...

Foto yg terakhir keren tuh ron.. Lu dah kaya bergaya jadi jagoan neon ^^ alias raja minyak.. :))