Tuesday, September 19, 2006

150 jam di pulau dewata (4)

Bunyi weker dari handphone mengawali hari keempat kami di pulau Dewata. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi WITA, ya tiga pagi ketika langit masih hitam pekat dan dentuman musik dari cafe sebelah masih terdengar jelas. Petualangan kami hari itu memang dimulai sangat pagi karena rencananya kami akan melihat matahari terbit di pantai Sanur. sekitar pukul setengah empat, semua sudah siap walau mata masih
sayup-sayup dan kami pun tancap gas ke Sanur. Menurut orang di losmen kami, pantai Sanur sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja namun karena kita belum tahu jalan detilnya maka kita berangkat lebih pagi.


Langit Pantai Sanur menjelang matahari terbit

Benar saja dugaan kami semula, walau dalam waktu 15 menit mobil kami sudah sampai di daerah Sanur namun untuk mencari pantainya susahnya setengah mati, banyak jalan yang tidak jelas belum lagi pantai yang "menyeramkan". Seiring dengan aksi pilih-pilih pantai yang kami lakukan waktu terus berjalan dan sesampainya di pantai Sindhu yang kami "pilih" waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WITA hanya kita-kira 45 menit sebelum matahari terbit. Di pagi hari buta itu langit benar-benar cerah, saya memilih spot dekat pantai sambil tiduran menatap atap langit yang penuh dengan bintang (sayang banget ga punya pacar :(). Disamping di pantai Sanur, sebenarnya kita juga bisa melihat sunrise di pantai Nusa Dua yang mungkin lebih ramai karena hotel-hotel top banyak berada didaerah itu.


Sunrise di Pantai Sanur


Matahari yang bersembunyi di balik awan

Ketika matahari terbit dari garis horizon jauh pantai, tujuan semula untuk motret seperti terlupakan, karena saya lebih banyak memandang, menikmati mentari pagi itu. Banyaknya awan yang menutupi mentari tidak mengurangi keindahannya. Kami masih bermain-main di pantai sampai pukul 7 pagi, ketika semua sudah capai dan ingin tidur kembali di hotel.


Sebuah perahu melintasi Pantai Sanur

Siangnya kami pergi ke Garuda Wisnu Kencana atau lebih sering disebut dengan singkatanya : GWK. Tarif masuk disana Rp. 10000 perorang plus Rp 5000 untuk parkir mobil. GWK sendiri awalnya dibangun untuk menjadi tempat kebudayaan dan kesenian dimana di tempat ini terdapat sebuah patung dewa Wisnu yang besar setinggi 30 meter. Menurut pemandu disana proyek GWK ini belum selesai dan baru mencapai 20% saja dan patung dewa Wisnu yang dipajang disana rencananya akan menjadi bagian dari sebuah landmark besar tinggi yang menyaingi patung Libery di AS.


Berfoto bersama didalam ampliteater GWK


Patung Dewa Wisnu setinggi 30 meter


Bongkahan-bongkahan tebing disekitar GWK

Rencananya patung yang utuh akan berupa dewa Wisnu menaiki burung garuda dengan total tinggi 140 meter dan diproyeksikan jadi tahun 2008 nanti. Selain patung dewa Wisnu disini juga banyak objek menarik seperti bongkahan-bongkahan tebing yang tinggi yang tersebar di sekitar GWK serta sebuah amplitheater untuk pertunjukkan disana. Namun melihat perkembangan proyek tersebut sejauh ini saya sangsi dapat selesai pada waktunya nanti.


Patung Garuda yang nantinya menjadi 'kendaraan' Dewa Wisnu


The six of us infront of The Garuda Statue

Persinggahan kami selanjutnya adalah sebuah pura di ujung tebing Uluwatu. Pura tersebut terkenal dengan banyaknya kera yang berkeliaran disana dan kami sudah diperingatkan agar berhati-hati dengan barang-barang kami, terutama kacamata dan handphone. Setelah membayar uang masuk Rp. 3000/orang kami pun memasuki pura dengan kain kuning terikat di pinggang kami.


Pohon-pohon yang mengering disekitar Pura

Memang benar setelah berjalan sesaat kami menemui banyak sekali kera disana namun pemandangan dari atas tebing mengalahkan segalanya! Mungkin ini adalah view terbaik yang pernah saya lihat sepanjang liburan saya di Bali. Indah sekali pemandangan dari atas dimana pura ini berbatasan langsung dengan tebing dengan tinggi kurang lebih sekitar 80 meter. "Kenakalan" kera di pura tersebut terbukti benarnya ketika Marwanto dicuri kacamatanya, beruntung ada pawang yang dapat mengambilkan kacamatanya kembali.


Menikmati view dipinggir tebing (yes, that's my feet)


Salah satu monyet yang terkenal keliarannya di Uluwatu

Selanjutnya, Dreamland menjadi tujuan kami berikutnya. Sebenarnya Dreamland merupakan sebuah perumahan yang kabarnya dimiliki oleh Tommy Soeharto yang masih dalam tahap pengembangan sampai sekarang. Untuk masuk ke pantai kami harus melewati 2 pos pengamanan dan membayar 5 ribu perorang.


Pantai Dreamland

Dari kejauhan sudah terlihat sedikit keindahan pantai tersebut, pantulan keemasan dari matahari terpancar dengan indahnya dari birunya laut. Teman-teman berencana untuk berenang di pantai, saya sendiri malas untuk "main air" dan memilih untuk motret saja. Di Dreamland lebih banyak terlihat pada surfer daripada orang-orang yang berenang.


Surfing di Dreamland


Surfer di Dreamland

Matahari sudah terbenam dan waktunya makam malam hampir tiba, Jimbaran menjadi tujuan untuk makan malam kami hari itu. Jimbaran memang sudah terkenal dengan hidangan lautnya yang disajikan di pinggir pantai, sungguh sempurna untuk pasangan yang sedang kasmaran. Untuk urusan harga memang makanan di Jimbarang sedikit lebih mahal dibandingkan di Denpasar atau di Kuta, namun masih sangat terjangkau dan ekonomis untuk ukuran orang Jakarta dan yang terpenting semua itu sepadan dengan yang kita dapatkan, oh ya satu lagi Nasi ternyata tidak dipungut bayaran disana, jadi mau nambah berapa bakul tidak usah takut dengan kantong :D.


Suasana makan malam di Jimbaran


View malam hari di Jimbaran

Hari ini cukup melelahkan karena kami ke empat tempat sekaligus, yang terbanyak dari hari-hari sebelumnya. Balik ke losmen semua sangat letih dan langsung 'crash' ke ranjang dan sibuk dengan dengkurannya masing-masing.

Bersambung ke hari kelima....

No comments: