Saturday, September 16, 2006

150 jam di pulau dewata (3)


Pemandangan di Kintamani

Hari ketiga kami berenam berangkat ke Kintamani yang merupakan daerah tinggi dimana terdapat gunung batur dengan danaunya yang terkenal. Perjalanan dari Kuta memakan waktu sekitar hampir 2 jam. Sesampainya disana kita harus membayar tiket, kami dikenakan tarif 21 ribu rupiah untuk 6 orang. Disepanjang jalan hampir semuanya dipenuhi restoran atau tempat peristirahatan yang mempunyai view ke gunung serta anjing-anjing liar di jalan mengingatkan tentang lagu anjing kintamani.

Sehabis makan siang di mobil, perjalanan dilanjutkan ke Danau Batur yang apabila kita seberangi terdapat sebuat tempat yang bernama Trunjan dimana di tempat tersebut mayat diletakkan begitu saja di dekat pohon tanpa menimbulkan bau yang disebabkan wangi dari pohon tersebut.


Perjalanan menuju danau Batur

Namun sesampainya di danau Batur, banyak pedagang (kebanyakan ibu2) mengerumuni kami dan menawarkan barang dagangannya dengan cenderung memaksa. Melihat gelagat yang kurang baik, saya dan teman-teman memutuskan kembali ke mobil sambil tidak mengindahkan ibu-ibu tersebut. Sayang salah satu teman saya Kurnia "berbaik hati" untuk membeli kalung dari salah seorang pedagang, kontan hal tersebut membuat ibu-ibu yang lain semakin "beringas" kepada kami dan terutama pada dia. Bahkan ada seorang ibu yang memijat-mijatnya dan kemudian meminta bayaran. Sungguh mengerikan ibu-ibu itu, memang mungkin musim turis sedang sepi namun caranya sangat membuat tidak nyaman pengunjung. Dan ketika Kurnia naik pitam dengan salah satu ibu yang "memeras"-nya saya dapat sedikit memakluminya.

Selanjutnya dengan perasaan yang lega bercampur sedikit kesal, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Besakih yang merupakan Pura utama di pulau Bali. Di awal perjalanan kami bertemu dengan seorang ibu yang memberikan sesajean ke dalam mobil kami serta membacakan doa agar perjalanan sampai di Pura baik-baik saja. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 45 menit dari Danau Batur. Di sana kami yang memakai celana pendek di atas lutut diharuskan memakai kain sarung, tarif masuk untuk turis lokal Rp 8000/orang dan Rp. 30.000 lagi untuk pemandu. Dari pos pemandu kita masih harus berjalan naik sekitar 1 kilometer untuk mencapai Pura Besakih, bagi yang capek atau tidak kuat jalan menanjak bisa menyewa ojek.


Pura Besakih tampak dari Pintu depan

Sesampainya di pintu depan Pura, kita dapat melihat besarnya Pura tersebut sehingga layak disebut Pura terbesar di Indonesia. Sebenarnya Pura Besakih terdiri dari beberapa pura besar dan pura kecil yang dimiliki oleh keluarga. Di Besakih sendiri, setiap harinya selalu diadakan upacara yang diikuti oleh masyarakat di desa adat Besakih. Menurut pemandu kami, upacara besar di pura diadakan setiap 6 bulan sekali dan salah satunya adalah pada bulan April.


Salah satu pura besar yang ada di Besakih


Suasana di Pura Besakih

Pura-pura di Besakih masing-masing ditujukan untuk memuja dewa-dewa yang ada di kepercayaan mereka yaitu agama Hindu. Pura-pura tersebut di bangun sesuai dengan arah mata angin dan masing-masing terdapat penanda warnanya yang mendandakan pemujaan untuk dewa tertentu seperti warna kuning untuk dewa wisnu (kalau tidak salah). Kami mengelilingi hampir semua pura yang ada di Besakih kecuali satu yaitu pura yang terletak di paling ujung dan dekat di lereng gunung yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari pura terakhir yang kami kunjungi.

Selesai dari Besakih kami turun untuk melihat tari kecak di Uma Dewi, jl. WR Supratman, Denpasar. Setiap harinya di tempat tersebut diadakan tari Barong dan tari Kecak, tari Barong ditampilkan setiap pukul 10 pagi sedangkan tari Kecak jam 7 malam WITA. Tarif masuk perorangnya Rp. 50.000 dan performance berlangsung sekitar 1 jam.


Kecak dance


Kecak dance

Tari Kecak sendiri mengisahkan tentang hikayat Ramayana dengan lakon utama peperangan antara pasukan Rama yang dibantu oleh panglima kera Anoman dengan pasukan dari Rahwana yang menculik Dewi Shinta, kekasih Rama. Penonton yang memenuhi tempat tersebut kebanyakan turis asing dengan kebanyakan dari mereka adalah orang Jepang.


Rahwana (tengah), tokoh antagonis dalam cerita Ramayana


Rama dan Dewi Shinta

Pertunjukan tari kecak yang indah walaupun saya sebenarnya ingin menyaksikan penampilan yang ada dipura atau di pinggir pantai tapi pertunjukan tersebut bisa menebus rasa ingin tahu saya tentang tarian tersebut. Nonton tari kecak juga merupakan agenda terakhir kami hari itu. Keesokan harinya kami bersiap untuk melihat terbitnya matahari di pantai Sanur.

Bersambung ke hari keempat....

No comments: