Thursday, September 14, 2006

150 jam di pulau dewata (2)

Hari kedua di pulau dewata diawali dengan mencari hotel untuk akomodasi kami selanjutnya. Setelah mencari di beberapa losmen dan bungalow, kami akhirnya mendapatkan kamar di Bali Sandat Inn di jalan Legian Kuta. Kamar disana nyaman dan jelas lebih baik daripada hotel sebelumnya. Kami menyewa 2 kamar untuk 6 orang, tarif perkamarnya Rp. 75.000/malam.

Setelah barang-barang dibawa ke kamar, perjalanan akhirnya bisa dimulai. Kami menyewa mobil Kijang untuk membawa kami keliling pulau Bali, satu hari tarifnya Rp. 200.000, cukup reasonable untuk sebuah kijang yang muat 6-8 orang.

Hari pertama ini Sangeh menjadi tujuan pertama, dimana di Sangeh terdapat hutan luas yang didalamnya dihuni sekitar 600 kera-kera yang katanya "suci". Tarif perorangnya sekitar Rp. 5000 untuk masuk mengitari hutan kera Sangeh ini. Kami masuk ditemani seorang pemandu, dari awal ia memberitahu agar tidak menyentuh kera walaupun mereka menaiki bahu atau kepala. Menyentuh kera menurutnya dapat diartikan oleh para kera bahwa kita ingin menangkapnya sehingga mereka dapat merespons dengan gigitan dan cakaran. Walaupun demikian si pemandu juga menuturkan ada 1-2 ekor kera yang "jinak" alias dapat di sentuh.


Salah satu kera di Sangeh


Salah satu kera di Sangeh


Suwandy dan "teman barunya"


Kera dan anaknya

Ia juga menuturkan bahwa perjalanan ke Sangeh sebenarnya lebih baik dilakukan di pagi hari karena pada saat itu kera-kera di beri makan sehingga banyak yang keluar dari "sarang". Saat kami melintasi hutan Sangeh terhitung hanya sekitar 60-70 saja yang terlihat sepanjang perjalanan setapak. Saat selesai melihat-lihat sekeliling Sangeh dan selagi teman-teman yang lain sedang melihat-lihat cendera mata, saya dan Hermanto sempat memotret dari dekat kumpulan kera yang ada di pinggir jalan setapak, dan saya hampir saja diserang saat memotret.

Selesai dari Sangeh, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WITA dan semua sepakat ingin melihat sunset di Tanah Lot (well, who doesn't?). Akhirnya sekitar pukul 5 kami sampai juga di tanah lot, just the right time for sunset. Untuk tarif masuknya, kami turis domestik dikenakan biaya Rp. 7500/orang, untuk turis asing mungkin bisa 3-4 kali lipat tarifnya.


Bebek-bebek pun menunggu terbenamnya Matahari

Anyway
, karena melihat matahari terbenam adalah agenda utama ke Tanah Lot maka semuanya bergegas menuju pinggiran laut agar tidak "ditinggal" oleh matahari. Secara pribadi saya lebih suka melihat terbitnya matahari daripada terbenam namun Tanah Lot adalah pengecualian, sunsetnya indah tanpa cela, well you have to be here to feel it yourself. Selain melihat matahari terbenam, di Tanah Lot kita juga bisa melihat ular di tebing gua serta meminta air suci di bawah pura yang terletak di pinggir pantai. Kalau ingin mengunjungi Tanah Lot lebih baik datang sekitar pukul 16 karena dengan begitu kita bisa melihat-lihat dan keliling sampai puas baru diakhiri dengan melihat sunset, karena setelah sunset everything will be too dark, there'd be nothing to see.


Sunset di Tanah Lot, Bali

Tanah Lot merupakan persinggahan wisata terakhir kami hari itu, besok kami akan naik ke Kintamani.

Bersambung ke hari ketiga....

No comments: