Saturday, September 30, 2006

Kutaklukan Gunung Itu!

Perjalanan itu memakan waktu 8 jam yang disertai oleh kantuk di mata, dingin yang menusuk daging namun ketika akhirnya saat kaki menapak tanah datar tanda kami sudah sampai di puncak gunung gede, tidak dapat dibayangkan bagaimana gembiranya diri ini, badan tidak lagi mengigil dan mata segar seperti habis mandi pagi. Akhirnya bisa
kukatakan pada diriku, gunung itu telah kutaklukan, gunung pertama yang kutaklukan.

Perjalanan mendaki (hiking) gunung sebenarnya dimulai dari ajakan teman kuliah saya, Yudi yang minggu itu seperti sibuk mengajak semua teman-teman dikelas untuk ikut. Ia mengajak kami untuk mengikuti open hiking dari kelompok pecinta alam Universitas Tarumanegara. "Ikutan yok ke gunung gede, cuma 85 ribu uda dapet makan, kaos dan topi" katanya waktu itu. Yang ikut mendaftar pada akhirnya ada 5 orang yaitu saya, Yudi, Widianto, Januar dan Jansson. Rencananya kami berangkat hari sabtu sore (23/9) dari kampus I Untar.

Sabtu itu kami berangkat menggunakan 2 buah truk tentara (tronton), kira-kira ada sekitar 50 orang yang ikut berangkat hiking dan kebanyakan merupakan anggota dari Marsipala (kelompok pecinta alam Untar). Tujuan kami adalah menuju cipanas dimana disana terdapat salah satu jalur pendakian ke gunung gede. Saat perjalanan saya sempat berkenalan dengan beberapa anggota Marsipala yang salah satunya mengira kami adalah senior dari Marsipala karena tampang kami yang sudah 'berumur' dan asing. Waktu menunjukkan pukul 9.30 ketika kendaraan kami akhirnya sampai di pos pendakian gunung gede, saat itu udara sudah cukup dingin.

Rencana malam itu, kami akan berangkat pada pukul 10.00 malam dan peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, kami berada di kelompok 3 yang berarti kami harus menunggu 2 kelompok sebelum kami untuk berangkat terlebih dahulu. Terdapat 10 orang di kelompok kami dan tampaknya kami merupakan satu-satunya yang 'tidak berpengalaman' dalam hal daki-mendaki. Pemimpin di kelompok kami adalah Chris yang merupakan ketua panitia dari acara ini. Setelah menunggu 20 menit akhirnya kelompok kami jalan juga dan senter mulai di hidupkan karena jalan didepan kami sama sekali gelap gulita. Sekitar 7 kilometer dan 5 pos yang harus kami lalui untuk mencapai tujuan, namun karena malam masih panjang, semangat pun masih besar.

Ternyata belum sampai 1 kilometer ditempuh, Yudi tampaknya sudah kehilangan semangat besarnya ketika kami menemui tangga-tangga yang amat melelahkan untuk didaki. Hampir saja ia menyerah apabila pos pertama masih jauh, beruntung pos tersebut hanya 100 meter setelah melewati tangga-tangga itu. Hanya 20 menit kami istirahat untuk kemudian melanjutkan, tidur dan istirahat yang terlalu lama sangat tidak disarankan dalam perjalanan. Singkat kata kami harus mencapai puncak tanpa tidur sama sekali malam itu, rencana awal pukul 5 pagi kami sudah sampai di puncak.

Tidur memang merupakan pantangan apabila ingin mencapai puncak namun tidak untuk yang namanya istirahat, terbukti tidak terhitung lagi berapa kali kami istirahat ditengah perjalanan, baik yang singkat maupun yang cukup lama sampai 15 menit. Namun satu hal yang saya pelajari, sebanyak-banyaknya istirahat, baik singkat maupun yang lama, jangan sekali-kali menyalakan api unggun apabila masih ingin melanjutkan perjalanan. Mengapa? pertama karena api unggun bisa menyebabkan kebakaran, dan kedua yang merupakan alasan yang terpenting : api unggun hanya bisa menghangatkan badan sesaat, ketika kembali berjalan, dinginnya udara akan berlipat ganda seperti yang saya alami saat beristirahat di pos 4.

Pukul empat pagi, saya masih ingat benar ketika itu tidak ada lagi tanjakan ataupun tangga yang memberatkan langkah. Yang ada hanyalah hamparan padang luas yang indah ditemani dengan percikan sinar mentari yang segera terbit dibalik gunung yang mengelilingi padang tersebut. Dalam hati saya bergumam "It's totally worth it!". Banyak tanaman-tanaman yang belum pernah saya lihat sebelumnya yang dikelilingi dengan hamparan rumput yang amat luas. Namun kebahagiaan itu cuma sesaat dirasakan ketika saya sadari bahwa dataran yang saya pijak itu bukanlah puncak dari gunung gede dan saya makin percaya ketika melihat tanda panah menuju ke puncak : 1.5 km. Tiba-tiba kaki bertambah berat dan dingin makin menjadi-jadi, ternyata perjalanan belum usai juga, gunung itu belum juga kutaklukan.


Sesaat setelah mencapai puncak Gunung Gede (2958 mt)


View from the top (1)


View from the top (2)


View from the top (3)


Yudi dengan salah satu peserta (lupa namanya)

Sebenarnya jarak 1.5 km itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan 7 km yang sudah dijalani tetapi karena perut amat lapar dan makanan sudah habis pada perjalanan 7 km tersebut jadilah kami beristirahat setiap 100 meter yang membuat lama perjalanan menuju puncak molor menjadi 1.5 jam. Setelah memastikan kami benar-benar di puncak gunung gede setinggi 2958 meter, kamera saya keluarkan untuk memotret pemandangan disana. Di puncak akhirnya kesempatan ada untuk tidur sejenak menghilangkan kantuk sejak semalam. Walau tidur hanya sejam rasanya seperti 5 jam istirahat, badan menjadi segar kembali dan siap untuk turun, ya kita sudah harus turun gunung, kembali menyusuri 8.5 km yang tadi sudah didaki.


Me and the mountain


Di alun-alun Suryakencana


Salah satu vegetasi yang ada di alun-alun


View di Alun-alun Suryakencana


Saya diapit oleh Dora (kiri) dan Elvin (kanan), she's cute I must say

Perjalanan turun walau lebih singkat, ternyata lebih melelahkan daripada naik. Ditambah dengan beberapa anggota kelompok yang ingin cepat-cepat sampai kebawah membuah saya dan Yudi tertinggal jauh sedangkan wido dan jansson sudah jauh tertinggal dibelakang dan Januar masih berada dipuncak sibuk menggoda kaum hawa disana, sehingga kami berdua mencari jalan sendiri turun kebawah. Kami memutuskan untuk beristirahat setiap 200 meter agar kaki tidak terlalu pegal. Kaki saya waktu itu sudah terasa amat pegal, mungkin karena istirahat dan kosongnya perut kami. Singkatnya kami sampai di bawah pukul 3, sialnya semua warung atau tempat makan tidak ada yang buka, karena hari itu hari pertama bulan puasa. Kesal dan lapar kami menunggu dibawah, kesal karena kami harus menunggu orang-orang yang tampaknya tidak tahu diri berlama-lama diatas membuat orang lain lama menunggu mereka untuk bersama-sama pulang. Tampaknya kekurang siapan dari panitia mulai terlihat, terbukti dari terlambatnya waktu pulang kami dari rencana awal pukul 1 menjadi pukul 5 sore. Namun saya tidak mau membuat kekesalan saya melebihi kepuasan telah menaklukan gunung gede. Kami sampai di Jakarta pukul 8 malam.

Wednesday, September 27, 2006

Twilite Orchestra's Musicademia


Sherina saat tampil bersama Twilite Orchestra

Saya selalu menghargai segala jenis musik, walaupun tidak semuanya cocok ditelinga saya. Musik menurut saya adalah ciptaan manusia yang paling ajaib selain tentunya film. Banyak sekali jenis musik yang saya sukai seperti Country, Jazz, Rock, Blues, Reggae, Alternatif sampai Pop sekalipun (but not boybands!). Musik Orkestra bisa dibilang juga merupakan musik yang sangat bisa saya dengar dan nikmati. Maka ketika Jumat minggu lalu (22/9), ada teman yang menawarkan tiket pertunjukan Twilite Orchestra yang bertajuk Musicademia malam itu juga, saya langsung mengiyakan tawarannya.


Konduktor Twilite Orchestra, Addie MS

Perkenalan saya dengan musik orkestra sebenarnya terjadi ketika saya duduk di bangku SMU, waktu itu saya membeli album kelompok The Scorpions yang melakukan kolaborasi dengan Berlin Philharmonic Orchestra pada lagu Moment of Glory. Namun saya belum pernah sekalipun nonton secara langsung sebuah orchestra, pertama karena harganya mahal, kedua dulu saya itu penakut sekali kalo mau pergi keluar rumah (penyakit xenophobia yang berlebihan). Baru sekarang deh kesampaian nonton orkestra langsung salah satunya karena tiketnya cukup murah, hanya 25 ribu saja.


Addie MS

Pertunjukan malam itu dimulai pada pukul 20.00 di Istora senayan, tempat yang sebenarnya kurang representatif karena aslinya merupakan arena olah raga untuk olahraga bulutangkis dan bola Voli. Pada lembaran program yang dibagikan terdapat 17 buah lagu pada repertoar malam itu. Kebanyakan dari lagu-lagu tersebut merupakan lagu yang fasih kita dengar sehari-hari seperti contohnya Theme dari Magnificent Seven yang juga merupakan theme dari iklan Marlboro, theme dari Mission Impossible dan All I Ask of You dari The Phantom of The Opera serta tidak lupa beberapa simfoni lagu dari game Final Fantasy yang sangat populer. Addie MS selaku konduktor dari Twilite Orchestra menjelaskan tentang tema pada Musicademia malam itu yaitu Patriotissmo yang berarti sangat bersemangat yang menggambarkan lagu-lagu yang akan dimainkan akan mengobarkan semangat patriotik penonton dan itu dibuktikan lewat lagu Indonesia Raya sebagai lagu pertama.


Twilite Chorus yang juga didukung oleh beberapa paduan suara universitas


James Egglestone saat membawakan O Sole Mio

Saya sendiri sangat menikmati simfoni-simfoni yang dimainkan terutama lagu O Sole Mio yang dibawakan dengan apik oleh penyanyi tenor asal Australia, James Egglestone. Selain James, Sherina, Delon dan Kevin Aprillio juga mengisi lagu yang dibawakan oleh TO. Kualitas suara dari Sherina patut diacungi jempol, setelah mampu membawakan dengan sangat baik lagu All I Ask of You yang ia bawakan bersama Delon yang malam itu kualitasnya kalah jauh dibanding yang performer lain. Secara pribadi saya sangat suka pada anchor yang dimainkan oleh TO yang berjudul Plink Plank Plunk karya Leroy Anderson, sebuah komposisi simfoni indah antara biola dan cello yang dimainkan dengan cara dipetik (piccacato).


Sherina yang malam itu tampil anggun


Sherina menyanyikan lagu dari game Final Fantasy

Pada anchor terakhir sebuah musik dari Final Fantasy VII dibawakan TO bersama-sama dengan Twilite Chorus dan band J Rock Wasabi, sungguh mengesankan sebagai simfoni penutup. Akhir pertujukan walau ada beberapa kekurangan seperti sound sistem yang kurang dapat menjangkau seluruh gedung tetapi semua itu tidak mengurangi kekaguman saya. From my opinion a money well spent!.

Monday, September 25, 2006

150 jam di pulau dewata (6)

Karena mobil sewaan sudah dikembalikan maka hari terakhir kami pun hanya di habiskan di Kuta saja. Kurnia dan Hermanto sibuk mencari oleh-oleh tambahan, Marwanto dan Suwandy bersemangat dalam menjajal papan selancar di pantai Kuta. Sedangkan saya? Cukuplah tidur-tiduran di kamar losmen sambil membaca buku. Bukannya saya ini pemalas, ataupun teramat bosan dengan Bali tetapi sakit akibat berjemur kemarin semakin menjadi-jadi saja.

Satu-satunya cerita di hari itu mungkin Suwandy yang mengeluarkan 250 ribu untuk berselancar selama 1 jam saja. Mengapa semahal itu? Itu karena ia mematahkan papan selancarnya setelah 1 jam menjajalnya di ombak pantai Kuta. Karena peristiwa itu ia pun harus membayar ongkos servis papan tersebut. Jadilah sepanjang sore itu Suwandy dan "kursus selancarnya" menjadi bahan olok-olok yang lain terutama saya yang membutuhkan hiburan untuk menghilangkan sakit di kulit.

Sekitar jam 8 malam kami check out dari hotel untuk terbang kembali ke Jakarta. Kami mendapat penerbangan jam 11 malam dengan maskapai Air Asia, rencana kami sampai di Jakarta pukul 12 tepat WIB. Ketika waktunya boarding kami pun mengucapkan selamat tinggal pada Bali, namun tentunya juga sampai jumpa kemudian, definitely!


Suasana di bandara setelah mendarat di Jakarta

The End

Thursday, September 21, 2006

150 jam di pulau dewata (5)

Hari kelima

Hari kelima kami bangun sangat siang mengingat hari yang sangat melelahkan sebelumnya. Kami bangun pukul 11 siang dan hari itu sebenarnya tidak ada agenda perjalanan karena sorenya Andhika harus pulang ke Jakarta lebih dulu untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Jadi siang itu kami hanya jalan-jalan di Pantai Kuta yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari hotel tempat kami tinggal. Disana saya hanya berjemur sementara teman-teman berenang disana. Bagi yang ingin berjemur di pantai harap diperhatikan kata-kata saya berikut : Jangan pernah berjemur di pantai tanpa menggunakan UV Lotion seperti yang saya lakukan. Ya, saya berjemur tanpa lotion apa pun seperti layaknya jagoan dan hasilnya setelah 2 jam berjemur badan saya memerah seperti babi guling yang siap di santap.

Sehabis berjemur dan kembali ke hotel kami pergi untuk mengantarkan Andhika ke rumah Pak De-nya, rencananya ia akan terbang ke Jakarta bersama Pak De-nya sore itu. Namun sebelumnya kami makan siang dahulu dengan hidangan khas Bali yaitu ayam betutu yang merupakan hidangan khas daerah Gilimanuk berupa ayam rebus yang diisi dengan bumbu khas daerah sana. Cukup eksotis rasanya menurut saya namun ternyata perut saya tidak cocok dengan rasanya, sehabis mengantarkan Andhika ke rumah Pak De-nya, perut rasanya mulai mulas. Saat perjalanan kembali ke hotel, mobil kami mengalami kecelakaan kecil yaitu ban belakang kami pecah karena menghantam trotoar. Sakit perut pun harus ditahan lebih lama lagi.

Setelah urusan di kamar mandi sudah selesai dibereskan, kita kembali pergi ke mall terbesar di bali yang dikenal sebagai centro yang letaknya persis dipinggir pantai Kuta. Akibat dari berjemur tadi sudah mulai terasa saat itu, badan sudah sakit apabila digerakkan dan rasanya panas serta perih apabila disentuh sedikit saja kulit ini dan itu belum seberapa dengan apa yang akan saya rasakan 4 hari selanjutnya. Jadi pelajaran hari ini adalah jangan sekali-kali berlagak jagoan dengan berjemur tanpa sun lotion.

Hari keenam

Hari ini merupakan kesempatan terakhir untuk melakukan full-day trip namun karena kecelakaan kecil yang kami alami kemarin, kami harus terlebih dahulu membawa mobil sewaan kami ke bengkel. Dengan bantuan kenalannya Suwandy, kami tidak perlu mengalami kesulitan untuk mencari bengkel untuk menservis ban kami yang robek sehari sebelumnya. Kami pun diajak untuk mengunjungi rumahnya yang sedang di renovasi. Setelah pamit dan berterima kasih kami menuju tujuan selanjutnya yaitu Sukawati untuk belanja oleh-oleh.


Berfoto bersama didepan rumah kenalan Suwandy (kedua dari kiri)


Di Sukawati teman-teman saya sibuk untuk menawar dan membeli oleh-oleh, namun saya sendiri tidak terlalu bersemangat dan hanya membeli 2 potong kaus serta kalung titipan teman di Jakarta. Dua tahun lalu ketika saya pertama kali ke Bali, saat belanja ke Sukawati, saya terlalu bersemangat dan akibatnya cenderung boros sehingga sekarang saya lebih perhitungan dan bisa dibilang cenderung pelit (well, I'm on a low budget here!). Setelah semua selesai dengan urusan belanjanya kami tancap gas ke daerah Ubud untuk bertemu teman saya Glen, anggota Soka Gakkai asal Amerika yang saya kenal ketika sama-sama bertugas menjadi fotografer di Kaikan SGI Jakarta, Kemayoran.

Glen sebenarnya amat sibuk terutama pada siang harinya karena ia sedang sibuk mengawasi pembangunan rumahnya di Ubud. Namun sorenya ia dapat menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya di TutMak, salah satu restoran di pusat desa Ubud. Ia pun bercerita tentang rumahnya yang baru ia mulai pembangunannya dan akan selesai paling tidak tahun depan, ia tampaknya sangat bersemangat dengan rumahnya itu. Saya dan ia pun berbincang-bincang mengenai banyak hal terutama kegiatan anggota SGI di Bali. Ia bercerita tentang Ubud yang menurutnya sangat menyenangkan untuk ditinggali, sangat nyaman dan tenang dan itu sebabnya banyak seniman baik lokal maupun mancanegara memutuskan untuk tinggal di Ubud. Waktu semakin malam dan kami pun berpamitan setelah sebelumnya ia mengundang saya dan kawan-kawan kembali ketika rumahnya sudah rampung tahun depan.


Glen (center) with the five of us

Perjalanan menuju Ubud merupakan perjalanan kami terakhir di Bali, esok malam kami kembali ke Jakarta.

Bersambung ke hari terakhir....

Tuesday, September 19, 2006

150 jam di pulau dewata (4)

Bunyi weker dari handphone mengawali hari keempat kami di pulau Dewata. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi WITA, ya tiga pagi ketika langit masih hitam pekat dan dentuman musik dari cafe sebelah masih terdengar jelas. Petualangan kami hari itu memang dimulai sangat pagi karena rencananya kami akan melihat matahari terbit di pantai Sanur. sekitar pukul setengah empat, semua sudah siap walau mata masih
sayup-sayup dan kami pun tancap gas ke Sanur. Menurut orang di losmen kami, pantai Sanur sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja namun karena kita belum tahu jalan detilnya maka kita berangkat lebih pagi.


Langit Pantai Sanur menjelang matahari terbit

Benar saja dugaan kami semula, walau dalam waktu 15 menit mobil kami sudah sampai di daerah Sanur namun untuk mencari pantainya susahnya setengah mati, banyak jalan yang tidak jelas belum lagi pantai yang "menyeramkan". Seiring dengan aksi pilih-pilih pantai yang kami lakukan waktu terus berjalan dan sesampainya di pantai Sindhu yang kami "pilih" waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WITA hanya kita-kira 45 menit sebelum matahari terbit. Di pagi hari buta itu langit benar-benar cerah, saya memilih spot dekat pantai sambil tiduran menatap atap langit yang penuh dengan bintang (sayang banget ga punya pacar :(). Disamping di pantai Sanur, sebenarnya kita juga bisa melihat sunrise di pantai Nusa Dua yang mungkin lebih ramai karena hotel-hotel top banyak berada didaerah itu.


Sunrise di Pantai Sanur


Matahari yang bersembunyi di balik awan

Ketika matahari terbit dari garis horizon jauh pantai, tujuan semula untuk motret seperti terlupakan, karena saya lebih banyak memandang, menikmati mentari pagi itu. Banyaknya awan yang menutupi mentari tidak mengurangi keindahannya. Kami masih bermain-main di pantai sampai pukul 7 pagi, ketika semua sudah capai dan ingin tidur kembali di hotel.


Sebuah perahu melintasi Pantai Sanur

Siangnya kami pergi ke Garuda Wisnu Kencana atau lebih sering disebut dengan singkatanya : GWK. Tarif masuk disana Rp. 10000 perorang plus Rp 5000 untuk parkir mobil. GWK sendiri awalnya dibangun untuk menjadi tempat kebudayaan dan kesenian dimana di tempat ini terdapat sebuah patung dewa Wisnu yang besar setinggi 30 meter. Menurut pemandu disana proyek GWK ini belum selesai dan baru mencapai 20% saja dan patung dewa Wisnu yang dipajang disana rencananya akan menjadi bagian dari sebuah landmark besar tinggi yang menyaingi patung Libery di AS.


Berfoto bersama didalam ampliteater GWK


Patung Dewa Wisnu setinggi 30 meter


Bongkahan-bongkahan tebing disekitar GWK

Rencananya patung yang utuh akan berupa dewa Wisnu menaiki burung garuda dengan total tinggi 140 meter dan diproyeksikan jadi tahun 2008 nanti. Selain patung dewa Wisnu disini juga banyak objek menarik seperti bongkahan-bongkahan tebing yang tinggi yang tersebar di sekitar GWK serta sebuah amplitheater untuk pertunjukkan disana. Namun melihat perkembangan proyek tersebut sejauh ini saya sangsi dapat selesai pada waktunya nanti.


Patung Garuda yang nantinya menjadi 'kendaraan' Dewa Wisnu


The six of us infront of The Garuda Statue

Persinggahan kami selanjutnya adalah sebuah pura di ujung tebing Uluwatu. Pura tersebut terkenal dengan banyaknya kera yang berkeliaran disana dan kami sudah diperingatkan agar berhati-hati dengan barang-barang kami, terutama kacamata dan handphone. Setelah membayar uang masuk Rp. 3000/orang kami pun memasuki pura dengan kain kuning terikat di pinggang kami.


Pohon-pohon yang mengering disekitar Pura

Memang benar setelah berjalan sesaat kami menemui banyak sekali kera disana namun pemandangan dari atas tebing mengalahkan segalanya! Mungkin ini adalah view terbaik yang pernah saya lihat sepanjang liburan saya di Bali. Indah sekali pemandangan dari atas dimana pura ini berbatasan langsung dengan tebing dengan tinggi kurang lebih sekitar 80 meter. "Kenakalan" kera di pura tersebut terbukti benarnya ketika Marwanto dicuri kacamatanya, beruntung ada pawang yang dapat mengambilkan kacamatanya kembali.


Menikmati view dipinggir tebing (yes, that's my feet)


Salah satu monyet yang terkenal keliarannya di Uluwatu

Selanjutnya, Dreamland menjadi tujuan kami berikutnya. Sebenarnya Dreamland merupakan sebuah perumahan yang kabarnya dimiliki oleh Tommy Soeharto yang masih dalam tahap pengembangan sampai sekarang. Untuk masuk ke pantai kami harus melewati 2 pos pengamanan dan membayar 5 ribu perorang.


Pantai Dreamland

Dari kejauhan sudah terlihat sedikit keindahan pantai tersebut, pantulan keemasan dari matahari terpancar dengan indahnya dari birunya laut. Teman-teman berencana untuk berenang di pantai, saya sendiri malas untuk "main air" dan memilih untuk motret saja. Di Dreamland lebih banyak terlihat pada surfer daripada orang-orang yang berenang.


Surfing di Dreamland


Surfer di Dreamland

Matahari sudah terbenam dan waktunya makam malam hampir tiba, Jimbaran menjadi tujuan untuk makan malam kami hari itu. Jimbaran memang sudah terkenal dengan hidangan lautnya yang disajikan di pinggir pantai, sungguh sempurna untuk pasangan yang sedang kasmaran. Untuk urusan harga memang makanan di Jimbarang sedikit lebih mahal dibandingkan di Denpasar atau di Kuta, namun masih sangat terjangkau dan ekonomis untuk ukuran orang Jakarta dan yang terpenting semua itu sepadan dengan yang kita dapatkan, oh ya satu lagi Nasi ternyata tidak dipungut bayaran disana, jadi mau nambah berapa bakul tidak usah takut dengan kantong :D.


Suasana makan malam di Jimbaran


View malam hari di Jimbaran

Hari ini cukup melelahkan karena kami ke empat tempat sekaligus, yang terbanyak dari hari-hari sebelumnya. Balik ke losmen semua sangat letih dan langsung 'crash' ke ranjang dan sibuk dengan dengkurannya masing-masing.

Bersambung ke hari kelima....

Saturday, September 16, 2006

150 jam di pulau dewata (3)


Pemandangan di Kintamani

Hari ketiga kami berenam berangkat ke Kintamani yang merupakan daerah tinggi dimana terdapat gunung batur dengan danaunya yang terkenal. Perjalanan dari Kuta memakan waktu sekitar hampir 2 jam. Sesampainya disana kita harus membayar tiket, kami dikenakan tarif 21 ribu rupiah untuk 6 orang. Disepanjang jalan hampir semuanya dipenuhi restoran atau tempat peristirahatan yang mempunyai view ke gunung serta anjing-anjing liar di jalan mengingatkan tentang lagu anjing kintamani.

Sehabis makan siang di mobil, perjalanan dilanjutkan ke Danau Batur yang apabila kita seberangi terdapat sebuat tempat yang bernama Trunjan dimana di tempat tersebut mayat diletakkan begitu saja di dekat pohon tanpa menimbulkan bau yang disebabkan wangi dari pohon tersebut.


Perjalanan menuju danau Batur

Namun sesampainya di danau Batur, banyak pedagang (kebanyakan ibu2) mengerumuni kami dan menawarkan barang dagangannya dengan cenderung memaksa. Melihat gelagat yang kurang baik, saya dan teman-teman memutuskan kembali ke mobil sambil tidak mengindahkan ibu-ibu tersebut. Sayang salah satu teman saya Kurnia "berbaik hati" untuk membeli kalung dari salah seorang pedagang, kontan hal tersebut membuat ibu-ibu yang lain semakin "beringas" kepada kami dan terutama pada dia. Bahkan ada seorang ibu yang memijat-mijatnya dan kemudian meminta bayaran. Sungguh mengerikan ibu-ibu itu, memang mungkin musim turis sedang sepi namun caranya sangat membuat tidak nyaman pengunjung. Dan ketika Kurnia naik pitam dengan salah satu ibu yang "memeras"-nya saya dapat sedikit memakluminya.

Selanjutnya dengan perasaan yang lega bercampur sedikit kesal, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Besakih yang merupakan Pura utama di pulau Bali. Di awal perjalanan kami bertemu dengan seorang ibu yang memberikan sesajean ke dalam mobil kami serta membacakan doa agar perjalanan sampai di Pura baik-baik saja. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 45 menit dari Danau Batur. Di sana kami yang memakai celana pendek di atas lutut diharuskan memakai kain sarung, tarif masuk untuk turis lokal Rp 8000/orang dan Rp. 30.000 lagi untuk pemandu. Dari pos pemandu kita masih harus berjalan naik sekitar 1 kilometer untuk mencapai Pura Besakih, bagi yang capek atau tidak kuat jalan menanjak bisa menyewa ojek.


Pura Besakih tampak dari Pintu depan

Sesampainya di pintu depan Pura, kita dapat melihat besarnya Pura tersebut sehingga layak disebut Pura terbesar di Indonesia. Sebenarnya Pura Besakih terdiri dari beberapa pura besar dan pura kecil yang dimiliki oleh keluarga. Di Besakih sendiri, setiap harinya selalu diadakan upacara yang diikuti oleh masyarakat di desa adat Besakih. Menurut pemandu kami, upacara besar di pura diadakan setiap 6 bulan sekali dan salah satunya adalah pada bulan April.


Salah satu pura besar yang ada di Besakih


Suasana di Pura Besakih

Pura-pura di Besakih masing-masing ditujukan untuk memuja dewa-dewa yang ada di kepercayaan mereka yaitu agama Hindu. Pura-pura tersebut di bangun sesuai dengan arah mata angin dan masing-masing terdapat penanda warnanya yang mendandakan pemujaan untuk dewa tertentu seperti warna kuning untuk dewa wisnu (kalau tidak salah). Kami mengelilingi hampir semua pura yang ada di Besakih kecuali satu yaitu pura yang terletak di paling ujung dan dekat di lereng gunung yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari pura terakhir yang kami kunjungi.

Selesai dari Besakih kami turun untuk melihat tari kecak di Uma Dewi, jl. WR Supratman, Denpasar. Setiap harinya di tempat tersebut diadakan tari Barong dan tari Kecak, tari Barong ditampilkan setiap pukul 10 pagi sedangkan tari Kecak jam 7 malam WITA. Tarif masuk perorangnya Rp. 50.000 dan performance berlangsung sekitar 1 jam.


Kecak dance


Kecak dance

Tari Kecak sendiri mengisahkan tentang hikayat Ramayana dengan lakon utama peperangan antara pasukan Rama yang dibantu oleh panglima kera Anoman dengan pasukan dari Rahwana yang menculik Dewi Shinta, kekasih Rama. Penonton yang memenuhi tempat tersebut kebanyakan turis asing dengan kebanyakan dari mereka adalah orang Jepang.


Rahwana (tengah), tokoh antagonis dalam cerita Ramayana


Rama dan Dewi Shinta

Pertunjukan tari kecak yang indah walaupun saya sebenarnya ingin menyaksikan penampilan yang ada dipura atau di pinggir pantai tapi pertunjukan tersebut bisa menebus rasa ingin tahu saya tentang tarian tersebut. Nonton tari kecak juga merupakan agenda terakhir kami hari itu. Keesokan harinya kami bersiap untuk melihat terbitnya matahari di pantai Sanur.

Bersambung ke hari keempat....

Thursday, September 14, 2006

150 jam di pulau dewata (2)

Hari kedua di pulau dewata diawali dengan mencari hotel untuk akomodasi kami selanjutnya. Setelah mencari di beberapa losmen dan bungalow, kami akhirnya mendapatkan kamar di Bali Sandat Inn di jalan Legian Kuta. Kamar disana nyaman dan jelas lebih baik daripada hotel sebelumnya. Kami menyewa 2 kamar untuk 6 orang, tarif perkamarnya Rp. 75.000/malam.

Setelah barang-barang dibawa ke kamar, perjalanan akhirnya bisa dimulai. Kami menyewa mobil Kijang untuk membawa kami keliling pulau Bali, satu hari tarifnya Rp. 200.000, cukup reasonable untuk sebuah kijang yang muat 6-8 orang.

Hari pertama ini Sangeh menjadi tujuan pertama, dimana di Sangeh terdapat hutan luas yang didalamnya dihuni sekitar 600 kera-kera yang katanya "suci". Tarif perorangnya sekitar Rp. 5000 untuk masuk mengitari hutan kera Sangeh ini. Kami masuk ditemani seorang pemandu, dari awal ia memberitahu agar tidak menyentuh kera walaupun mereka menaiki bahu atau kepala. Menyentuh kera menurutnya dapat diartikan oleh para kera bahwa kita ingin menangkapnya sehingga mereka dapat merespons dengan gigitan dan cakaran. Walaupun demikian si pemandu juga menuturkan ada 1-2 ekor kera yang "jinak" alias dapat di sentuh.


Salah satu kera di Sangeh


Salah satu kera di Sangeh


Suwandy dan "teman barunya"


Kera dan anaknya

Ia juga menuturkan bahwa perjalanan ke Sangeh sebenarnya lebih baik dilakukan di pagi hari karena pada saat itu kera-kera di beri makan sehingga banyak yang keluar dari "sarang". Saat kami melintasi hutan Sangeh terhitung hanya sekitar 60-70 saja yang terlihat sepanjang perjalanan setapak. Saat selesai melihat-lihat sekeliling Sangeh dan selagi teman-teman yang lain sedang melihat-lihat cendera mata, saya dan Hermanto sempat memotret dari dekat kumpulan kera yang ada di pinggir jalan setapak, dan saya hampir saja diserang saat memotret.

Selesai dari Sangeh, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WITA dan semua sepakat ingin melihat sunset di Tanah Lot (well, who doesn't?). Akhirnya sekitar pukul 5 kami sampai juga di tanah lot, just the right time for sunset. Untuk tarif masuknya, kami turis domestik dikenakan biaya Rp. 7500/orang, untuk turis asing mungkin bisa 3-4 kali lipat tarifnya.


Bebek-bebek pun menunggu terbenamnya Matahari

Anyway
, karena melihat matahari terbenam adalah agenda utama ke Tanah Lot maka semuanya bergegas menuju pinggiran laut agar tidak "ditinggal" oleh matahari. Secara pribadi saya lebih suka melihat terbitnya matahari daripada terbenam namun Tanah Lot adalah pengecualian, sunsetnya indah tanpa cela, well you have to be here to feel it yourself. Selain melihat matahari terbenam, di Tanah Lot kita juga bisa melihat ular di tebing gua serta meminta air suci di bawah pura yang terletak di pinggir pantai. Kalau ingin mengunjungi Tanah Lot lebih baik datang sekitar pukul 16 karena dengan begitu kita bisa melihat-lihat dan keliling sampai puas baru diakhiri dengan melihat sunset, karena setelah sunset everything will be too dark, there'd be nothing to see.


Sunset di Tanah Lot, Bali

Tanah Lot merupakan persinggahan wisata terakhir kami hari itu, besok kami akan naik ke Kintamani.

Bersambung ke hari ketiga....