Monday, August 14, 2006

Tentang Dia di Hari Minggu

Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, hari minggu kemarin saya habiskan di rumah sehari penuh, tidak ada rencana motret, tidak ada rencana jalan kemana-mana. Memang terasa membosankan dirumah saja tapi untung masih ada Amelia, adik saya paling kecil yang menemani.

Sehari penuh dihabiskan hanya untuk ganti-ganti channel televisi, baca koran, utak-atik laptop dan baca buku yang minggu lalu dibeli tapi blm habis dibaca. Walau begitu kebosanan tetap terasa sampai ada keinginan jalan sejenak di sore hari sambil bawa kamera namun akhirnya kubatalkan karena hari itu kemalasanku memegang kendali.



Akhirnya sore itu kuhabiskan dengan nonton vcd yang baru kupinjam kemarin, yang salah satunya adalah film "Tentang Dia" karya Rudi Sudjarwo. Saya demen dengan film-film karyanya seperti Mengejar Matahari, ceritanya sederhana namun dapat dimaksimalkan menjadi sesuatu yang menarik untuk di tonton. Ah, mungkin karena saya adalah penyuka segala sesuatu yang sederhana, yang ga ribet.

Balik lagi ke film "Tentang Dia", sebenarnya film ini sudah diputar sejak 2005 silam, ceritanya mengenai seorang gadis (namanya Gadis pula) yang diliputi kesedihan, kesepian sejak dikhianati mantan pacarnya yang tak bisa ia lupakan kendati ada Randu teman kuliah yang berusaha mendekatinya (Gadis) namun seringkali mendapati dirinya diacuhkan serta ada Rudi seorang cewek pemberani yang mempunyai hubungan dekat dengan Gadis berawal dari pertemuan yang kebetulan.

Awalnya saya mengira film ini akan menjadi film tentang percintaan biasa yang klise namun cerita yang disampaikan menjadi lebih dari itu, bukan sekadar roman picisan belaka tetapi lebih mengisahkan pada kehidupan itu sendiri. Wajah-wajah baru yang berperan dalam film ini juga membuat film ini seperti real life dimana mungkin hanya Fauzi Baadilla (Randu) dan Didi Petet (Pak Dibyo) yang cukup dikenal orang, sisanya Sigi Wimala (Gadis) dan Adini Wirasti (Rudi) adalah nama-nama baru yang terasa masih asing di telinga. Kekurangan dari film ini mungkin karena banyak faktor kebetulan yang ada seperti contohnya ada kejadian dimana Gadis dan Randu bisa datang ke warung yang sama walaupun waktunya berbeda. Well, kan banyak warung makan di Jakarta kok bisa-bisanya dua-duanya ke tempat yang sama.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, film ini mudah dicerna dengan makna yang tidak dangkal namun tetap menghibur, yah, paling tidak buat saya yang seharian bosan dirumah.

No comments: