Tuesday, August 08, 2006

Sehari bersama "sejuta" umat



Siang itu matahari begitu terik dan jam di telepon seluler menunjukkan pukul 12. Saya baru saja tiba di Bundaran Hotel Indonesia, di dekat Plaza Indonesia tampak beberapa truk dengan banyak speaker serta beberapa kelompok massa dengan baju sewarna.

Sehari sebelumnya saya mendapat kabar bahwa akan ada aksi “sejuta” umat untuk mengecam agresi Israel ke Lebanon, rencananya massa akan berkumpul di Bundaran HI dan bersama-sama menuju gedung perwakilan PBB dan Kedubes Amerika Serikat.

Sambil mendekati kumpulan massa yang sudah mulai berteriak dan berseru, saya mengeluarkan kamera dengan lensa wide terpasang agar dapat memotret aksi dari jarak dekat. Aksi yang didukung oleh sejumlah ormas keagamaan dan beberapa LSM juga direncanakan diikuti oleh beberapa tokoh seperti Aa Gym, Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan Tuti Alawiyah.

Sambil memotret para peserta aksi, saya memperhatikan ada kumpulan wanita berbaju hitam dengan wajah khas timur tengah, ternyata mereka adalah wanita warga Negara Palestina. Spontan para fotografer berebut ingin memotret aksi mereka yang mengucapkan kata-kata dan membawa spanduk dalam bahasa Arab atau sejenisnya yang tidak saya mengerti sama sekali.

Tepat pukul satu siang, terik mentari mencapai puncaknya dan para peserta aksi sudah berkumpul di kawasan bundaran HI. Jika dilihat dari jumlahnya memang tidak sebesar aksi demo buruh Mei kemarin namun dapat dikatakan cukup besar, kurang lebih sekitar 10.000 orang memadati kawasan tersebut. Sebelum massa bergerak menuju gedung perwakilan PBB, beberapa tokoh melakukan orasi, mulai dari tokoh agama, tokoh politik hingga pejabat. Sebelum menyampaikan orasi, para orator selalu mengajak para peserta berseru “Indonesia Indonesia Bersatu Bersatu”, “Israel Israel Hancurkan Hancurkan”, “Amerika Amerika Teroris Teroris”.

Setelah orasi selesai, massa mulai bergerak menuju sarinah, tempat gedung perwakilan PBB yang letaknya sekitar 200 meter dari Bundaran HI. Saat itu saya bergegas menuju jembatan terdekat untuk mengambil kerumunan massa yang memenuhi jalan. Diatas jembatan sudah berjejer fotografer dan kameramen, rapi berjejer siap mengambil gambar, beruntung saya masih mendapatkan tempat yang cukup baik untuk memotret.




Tiba di depan gedung perwakilan PBB, saya berada di posisi yang kurang menguntungkan. Massa sudah memenuhi area sekitar truk tempat orasi, jembatan pun sudah penuh dengan orang, entah itu fotografer atau orang yang ingin sekedar melihat saja. Akhirnya saya harus “nyempil-nyempil” diantara orang-orang untuk mendapatkan tempat yang baik. Sayang ketika penyerahan surat oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid kepada perwakilan PBB yang diwakili oleh Peter Zen (perwakilan WHO untuk Indonesia) saya “kalah besar” oleh para kameramen dan fotografer lain yang lebih besar badannya.

Lepas dari “gencet-gencetan” di gedung perwakilan PBB, massa bergerak ke tempat tujuan akhir yaitu Kedutaan Besar Amerika Serikat yang jaraknya 500 meter dari sarinah. Saati itu jam sudah menunjukkan pukul 15.00 dan saya sudah mengambil sekitar 300 frame.

Saat tiba di depan Kedubes AS, sekitar 500 aparat keamanan sudah membuat barisan di depan gedung tersebut. Para peserta pun harus menelan kekecewaan karena Duta Besar AS Lynn Pascoe tidak bersedia untuk menemui mereka. Menjelang akhir aksi saya melihat ada seorang wanita peserta aksi yang pingsan, mungkin karena kepanasan (ia menggunakan jilbab dan pakaian tertutup) dan dehidrasi. Saya ingin memotret namun akhirnya membatalkan karena tidak tega dan merasa tidak ada gunanya memotret kejadian itu.

Sekitar pukul 16.00 aksi pun selesai dan para peserta aksi membubarkan diri. Saya sendiri juga pulang, total 450 frame saya habiskan pada hari itu.

Foto-foto dari aksi menentang agresi Israel

No comments: