Saturday, August 19, 2006

Pesta Rakyat Bernama Tujuh Belasan


seorang petugas berjaga diantara 261 pinang

Tanggal 17 Agustus setiap tahunnya selalu diperingati sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia atau kalo orang bule bilang Independence Day. Pada hari itu setiap tahunnya pasti diisi dengan upacara bendera yang diadakan di sekolah-sekolah dan acara lomba 17-an yang sudah menjadi tradisi mulai dari balap karung, makan kerupuk sampai panjat pinang. Pada hari tersebut sejenak rakyat melupakan segala masalah yang dihadapi negeri yang sudah merdeka 61 tahun ini.

Saya sendiri meliput acara 17-an di Pantai Karnaval, Ancol. Dimana diadakan panjat pinang massal, tercatat 261 buah pinang terpasang lengkap dengan hadiahnya, mulai dari kaos, helm, radio sampai sepeda gunung. Acara yang bertemakan "Pesta Rakyat Merdeka" tersebut rencananya dimulai pukul 11.00 namun ternyata budaya 'jam karet' kita membuat jadwal mundur menjadi jam 12.30. Pesertanya sendiri kebanyakan datang dari daerah pinggiran Jakarta dan luar Jakarta.


suasana pendaftaran lomba panjat pinang

Setiap peserta harus mendaftarkan timnya terlebih dahulu dimana masing-masing tim pemanjat pinang terdiri dari maksimal 4 orang (walau dalam kenyataannya nanti bisa lebih dari 4 orang). Pendaftarannya cukup menggunakan KTP dan nama anggota timnya dan bisa ditebak panitia cukup kewalahan menghadapi para pendaftar yang berebutan alhasil proses pendaftaran cukup memakan waktu yang lama.


peserta mulai memanjat pinang-pinang

Kira-kira jam 12.30 acara panjat pinang pun dimulai, para peserta langsung dengan cepat naik ke atas pinang. Terlihat pada awal-awal tidak banyak peserta yang berhasil memanjat sampai pada puncak, dikarenakan vaseline yang dioleskan pada pinang masih tebal sehingga menjadikan pinang sangat licin.


bekerja sama demi hadiah

Satu persatu peserta akhirnya dapat naik keatas untuk 'claim their prize'. Ada salah satu peserta yang saking senangnya berhasil mendapatkan sepeda, ia pun langsung memakai helm dan mencoba sepeda barunya itu mengelilingin pinang-pinang yang ada. Sekitar setengah jam berlalu terlihat sudah banyak pinang yang sudah habis, menyisakan beberapa pinang saja yang masih terdapat hadiah diatasnya.


Seorang peserta yang hampir mencapai puncak pinang


Peserta yang berhasil mendapat sepeda

Jam satu lewat, acara pun selesai dan peserta berduyun-duyun membawa hadiahnya pulang walau ada juga yang melanjutkan menonton penampilan Ada Band dan Radja meski tubuh mereka masih hitam kelam karena pasir dan vaselin.

Saya melanjutkan ngiter-ngiter hari itu ke Jalan Jaksa, dimana ada kabar para ekspatriat (bule) ikut merayakan 17-an. Sesampainya disana acara sudah setengah jalan dan sudah banyak sekali fotografer sehingga sulit untuk mendapatkan gambar yang bagus. Akhirnya disana lebih banyak nonton aksi para bule dan ngobrol sama temen-temen galeri (Pak Sihol, Oliq, Danny, Gondrong, Dita, Putra) yang kebetulan juga motret disana.


Garnet, seorang ekspatriat yang mengikuti 17-an di Jalan Jaksa

Sebenarnya dari Jalan Jaksa ingin melanjutkan ke Istana, cuma karena keterusan ngobrol jadi malas kaki untuk bergerak. Singkat kata Jalan Jaksa merupakan acara terakhir yang saya liput hari itu.

Monday, August 14, 2006

Tentang Dia di Hari Minggu

Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, hari minggu kemarin saya habiskan di rumah sehari penuh, tidak ada rencana motret, tidak ada rencana jalan kemana-mana. Memang terasa membosankan dirumah saja tapi untung masih ada Amelia, adik saya paling kecil yang menemani.

Sehari penuh dihabiskan hanya untuk ganti-ganti channel televisi, baca koran, utak-atik laptop dan baca buku yang minggu lalu dibeli tapi blm habis dibaca. Walau begitu kebosanan tetap terasa sampai ada keinginan jalan sejenak di sore hari sambil bawa kamera namun akhirnya kubatalkan karena hari itu kemalasanku memegang kendali.



Akhirnya sore itu kuhabiskan dengan nonton vcd yang baru kupinjam kemarin, yang salah satunya adalah film "Tentang Dia" karya Rudi Sudjarwo. Saya demen dengan film-film karyanya seperti Mengejar Matahari, ceritanya sederhana namun dapat dimaksimalkan menjadi sesuatu yang menarik untuk di tonton. Ah, mungkin karena saya adalah penyuka segala sesuatu yang sederhana, yang ga ribet.

Balik lagi ke film "Tentang Dia", sebenarnya film ini sudah diputar sejak 2005 silam, ceritanya mengenai seorang gadis (namanya Gadis pula) yang diliputi kesedihan, kesepian sejak dikhianati mantan pacarnya yang tak bisa ia lupakan kendati ada Randu teman kuliah yang berusaha mendekatinya (Gadis) namun seringkali mendapati dirinya diacuhkan serta ada Rudi seorang cewek pemberani yang mempunyai hubungan dekat dengan Gadis berawal dari pertemuan yang kebetulan.

Awalnya saya mengira film ini akan menjadi film tentang percintaan biasa yang klise namun cerita yang disampaikan menjadi lebih dari itu, bukan sekadar roman picisan belaka tetapi lebih mengisahkan pada kehidupan itu sendiri. Wajah-wajah baru yang berperan dalam film ini juga membuat film ini seperti real life dimana mungkin hanya Fauzi Baadilla (Randu) dan Didi Petet (Pak Dibyo) yang cukup dikenal orang, sisanya Sigi Wimala (Gadis) dan Adini Wirasti (Rudi) adalah nama-nama baru yang terasa masih asing di telinga. Kekurangan dari film ini mungkin karena banyak faktor kebetulan yang ada seperti contohnya ada kejadian dimana Gadis dan Randu bisa datang ke warung yang sama walaupun waktunya berbeda. Well, kan banyak warung makan di Jakarta kok bisa-bisanya dua-duanya ke tempat yang sama.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, film ini mudah dicerna dengan makna yang tidak dangkal namun tetap menghibur, yah, paling tidak buat saya yang seharian bosan dirumah.

Tuesday, August 08, 2006

Sehari bersama "sejuta" umat



Siang itu matahari begitu terik dan jam di telepon seluler menunjukkan pukul 12. Saya baru saja tiba di Bundaran Hotel Indonesia, di dekat Plaza Indonesia tampak beberapa truk dengan banyak speaker serta beberapa kelompok massa dengan baju sewarna.

Sehari sebelumnya saya mendapat kabar bahwa akan ada aksi “sejuta” umat untuk mengecam agresi Israel ke Lebanon, rencananya massa akan berkumpul di Bundaran HI dan bersama-sama menuju gedung perwakilan PBB dan Kedubes Amerika Serikat.

Sambil mendekati kumpulan massa yang sudah mulai berteriak dan berseru, saya mengeluarkan kamera dengan lensa wide terpasang agar dapat memotret aksi dari jarak dekat. Aksi yang didukung oleh sejumlah ormas keagamaan dan beberapa LSM juga direncanakan diikuti oleh beberapa tokoh seperti Aa Gym, Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan Tuti Alawiyah.

Sambil memotret para peserta aksi, saya memperhatikan ada kumpulan wanita berbaju hitam dengan wajah khas timur tengah, ternyata mereka adalah wanita warga Negara Palestina. Spontan para fotografer berebut ingin memotret aksi mereka yang mengucapkan kata-kata dan membawa spanduk dalam bahasa Arab atau sejenisnya yang tidak saya mengerti sama sekali.

Tepat pukul satu siang, terik mentari mencapai puncaknya dan para peserta aksi sudah berkumpul di kawasan bundaran HI. Jika dilihat dari jumlahnya memang tidak sebesar aksi demo buruh Mei kemarin namun dapat dikatakan cukup besar, kurang lebih sekitar 10.000 orang memadati kawasan tersebut. Sebelum massa bergerak menuju gedung perwakilan PBB, beberapa tokoh melakukan orasi, mulai dari tokoh agama, tokoh politik hingga pejabat. Sebelum menyampaikan orasi, para orator selalu mengajak para peserta berseru “Indonesia Indonesia Bersatu Bersatu”, “Israel Israel Hancurkan Hancurkan”, “Amerika Amerika Teroris Teroris”.

Setelah orasi selesai, massa mulai bergerak menuju sarinah, tempat gedung perwakilan PBB yang letaknya sekitar 200 meter dari Bundaran HI. Saat itu saya bergegas menuju jembatan terdekat untuk mengambil kerumunan massa yang memenuhi jalan. Diatas jembatan sudah berjejer fotografer dan kameramen, rapi berjejer siap mengambil gambar, beruntung saya masih mendapatkan tempat yang cukup baik untuk memotret.




Tiba di depan gedung perwakilan PBB, saya berada di posisi yang kurang menguntungkan. Massa sudah memenuhi area sekitar truk tempat orasi, jembatan pun sudah penuh dengan orang, entah itu fotografer atau orang yang ingin sekedar melihat saja. Akhirnya saya harus “nyempil-nyempil” diantara orang-orang untuk mendapatkan tempat yang baik. Sayang ketika penyerahan surat oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid kepada perwakilan PBB yang diwakili oleh Peter Zen (perwakilan WHO untuk Indonesia) saya “kalah besar” oleh para kameramen dan fotografer lain yang lebih besar badannya.

Lepas dari “gencet-gencetan” di gedung perwakilan PBB, massa bergerak ke tempat tujuan akhir yaitu Kedutaan Besar Amerika Serikat yang jaraknya 500 meter dari sarinah. Saati itu jam sudah menunjukkan pukul 15.00 dan saya sudah mengambil sekitar 300 frame.

Saat tiba di depan Kedubes AS, sekitar 500 aparat keamanan sudah membuat barisan di depan gedung tersebut. Para peserta pun harus menelan kekecewaan karena Duta Besar AS Lynn Pascoe tidak bersedia untuk menemui mereka. Menjelang akhir aksi saya melihat ada seorang wanita peserta aksi yang pingsan, mungkin karena kepanasan (ia menggunakan jilbab dan pakaian tertutup) dan dehidrasi. Saya ingin memotret namun akhirnya membatalkan karena tidak tega dan merasa tidak ada gunanya memotret kejadian itu.

Sekitar pukul 16.00 aksi pun selesai dan para peserta aksi membubarkan diri. Saya sendiri juga pulang, total 450 frame saya habiskan pada hari itu.

Foto-foto dari aksi menentang agresi Israel

Saturday, August 05, 2006

Being Unemployed

Well, I'm not yet unemployed but I will be out of contract by the end of August. I have been working at Software laboratory for almost 3 years. Three good, exciting but boring lately, years. So, I'm not gonna' be sad or being emotional leaving my current job by the end of the month. I've worked with quite a lot of people and bosses, many of them are nice and some of them are also my friend off work as well. But I also see some people here changed because their job, and they become the job itself, being "formal", stiff. Well, but who am I to judge them?

I've changed a lot in these past 3 years, I used to be an arrogant prick who thinks he knows everyting and better than anybody. I used to be an anti-social guy, who lives with just a computer and a modem everyday not knowing there are more to see outside. Well, I've changed but the question is, "who doesn't?".

Anyway I've been long waited for the end of my contract because I feel that I'm "done" here (at my office) a year ago. I had nothing to pursuit anymore, I had nothing to learn anymore (not that I'm super genius) and the most important thing I had no more passion doing this job. But I really grateful that I had this job, because if I had'nt worked here, I would not be the person I am now, a person I like more than the person three years ago, a person that "more like" me.

I'm not going to pursuit a career in IT like my current job, I will pursuit a career in journalism, a world where I feel challenged and motivated. To say it in a simple way : I want to be a photojournalist. Quoting Michele Wie, a young korean-born famous women golf player "You don't have to do what other people do", it justify my decision to choose journalism.