Thursday, July 13, 2006

Potrait Assignment : Piercing (continued)

And the journey continues...hari berikutnya, Rabu (12/7). Saya kembali mencari studio piercing ditemani dengan Sonny, yang banyak membantu saya (dan memboncengi saya) . Kali ini kami masih penasaran dengan studio piercing yang ada di kemanggisan tepatnya di jalan gili samping. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami menemukan bahwa alamat tersebut merupakan sebuah kos-kosan. Namun pas kami datangi rumah tersebut terlihat lengang dan kosong serta ada tanda "Rumah ini dijaminkan". Kami pun memutuskan mencari alamat studio lain saja, kali ini kami menuju ke persatuan guru, cideng yang merupakan alamat studio tattoo dan piercing "Disillusioned".

Sampai di alamat yang tertera, alangkah bahagianya melihat plang nama sebuah studio piercing. "Akhirnya nemu juga satu" pikirku. Kami langsung masuk kedalam dan melihat-lihat dulu sampai kami bertemu dengan salah satu penjaga di studio tersebut, namanya Daus yang belakangan kami ketahui ia juga merupakan tattoo artist di studio tersebut. Karena saya ingin memotret dan wawancara mengenai body piercing maka kami dikenalkan dengan piercer dari studio tersebut, Herman namanya.

Herman yang berperawakan cukup besar dan gempal mempunyai tindikan kuping, hidung, telinga dan lidah yang mungkin bagi kebanyakan orang menyeramkan, namun orangnya ramah :D. Saya kemudian menyampaikan maksud kami dan ia pun setuju untuk diwawancarai. Setelah selesai wawancara saya bilang ingin memotret dirinya dan ia dengan senang hati menyanggupinya. Karena pada wawancara sebelumnya Herman menyinggung tentang anjing yang dipeliharanya, maka saya bilang padanya ingin memotret ia dengan anjing kesayangannya.

Sesi foto berlangsung di atap ruko studio tersebut dengan 2 anjing peliharaanya, seekor Siberian Husky dan Rottweiler. Sambil bercakap-cakap seputar anjing (untung Sonny seneng anjing juga jadi nyambung, jadi saya tinggal motret) saya mulai memotret Herman dengan anjingnya dan juga mengambil beberapa foto close-up. Yang saya sayangkan adalah saya tidak membawa lensa 50 f/1.8 :( yang notabene bisa lebih tajem. Dari sekitar 12 foto ada 3-4 foto yang blur karena cahaya yang minim (I really disappointed with my self). Seusai motret saya bertanya tentang studio lainnya yang ada di Jakarta dan juga menanyakan studio di kemang yang kemarin kami tidak temukan. Ternyata Herman kenal dengan yang punya studio di kemang dan memberikan nomor hpnya ke saya. Setelah bertukar nomor hp saya pun pamit sambil berjanji akan memberikan cd hasil foto dia beserta anjingnya (he really a dog lover).

Dari Cideng kami lanjut ke Kemang, kembali mencari studio NSOMNX. Kali ini saya telepon dulu orangnya, sehingga sekarang bisa ketemu :D studionya (sebenernya tetep muter2 dulu sih carinya). Ternyata studionya terletak di pojokan komplek restoran, pantas ga ketemu kemarin.
Di studio kami mencari Mas Ucha, yang tadi kami telp. Orangnya terlihat menyeramkan jika kita tidak mengenalnya, namun setelah berkenalan ia cukup friendly dan ramah. Kami pun menyampaikan maksud kami untuk mewawancara serta memotret dia, walau ia tidak langsung menyanggupi tapi akhirnya ia bersedia asal tidak untuk dipublikasikan dimedia (ia mempunyai pengalaman buruk dengan media).

Dari percakapan kami, saya bertanya banyak mengenai piercing, komunitas indonesian sub culture karena ia merupakan ketua dan pendiri komunitas tersebut. Dalam kesempatan itu ia mengungkapkan bahwa piercing baginya bukan sekedar bisnis belaka namun juga sebuah seni. Ia juga mengatakan salah satu tujuannya ia terjun ke piercing serta mendirikan ISC adalah untuk melestarika budaya Indonesia, dimana banyak dipedalaman-pedalaman Indonesia terdapat kebudayaan piercing tradisional.

"Kami memang bermain-main untuk luka tapi kami juga punya solusi untuk menyembuhkan" katanya ketika saya tanya mengenai sterilitas dan prosedur piercing yang dilakukan. Sebagai ketua di komunitas ISC ia juga memberikan prosedur-prosedur yang harus dilakukan dalam menindik agar hasilnya baik serta aman untuk kesehatan, ia pun kesal dengan proses piercing-piercing yang tidak memperhatikan kesehatan client. Di Indonesia sendiri ia mengungkapkan bahwa yang dirinya yang mengeluarkan lisensi untuk piercing. Hal ini dikarenakan belum ada dukungan dari pemerintah sendiri serta dari instansi kesehatan lainnya.

Terakhir saya menanyakan, apa pandangannya dan harapannya mengenai bisnis piercing ini di Indonesia, Ia hanya mengatakan hanya ingin ada dukungan dari pemerintah dan masyarakat serta ingin mengubah citra masyarakan bahwa komunitas piercing itu tidak menyeramkan (I totally agree, they are very friendly). Selesai wawancara saya minta mas Ucha untuk dipotret, namun hanya sebentar saja karena ia harus melayani tamu yang datang ke studionya. Saya pun pamit selesai memotret.

Jam menunjukkan pukul 9 dan akhirnya kami pulang dengan hasil, tidak seperti kemarin yang hampa :D



Bang Ucha - sangar banget yah :P

1 comment:

Dinda said...

ucha itu terkenal loh ron. sayang kemaren gw gak ketemu dia. ketemunya sama Pangky. kamu di piercing nggak??? :P