Friday, July 28, 2006

Bukan Pasar Malam

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan beduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”

Pramoedya Ananta Toer dalam Bukan Pasarmalam


Saya baru saja selesai membaca buku "Bukan Pasar Malam" karya alm. Pramoedya. Sebenarnya saya sudah lama ingin membaca karya-karya Pram, namun baru sekarang bisa kesampaian membaca salah satunya. Saya tertarik dengan cara Pram bercerita secara sederhana mengenai seorang seorang anak yang harus menghadapi beberapa masalah sekaligus, mulai dari kondisi keluarga yang miskin, rumah yang sudah tua, istri yang cerewet serta ayahnya, seorang guru, yang sakit TBC.

Kisah tersebut disampaikan dengan cara yang menarik tetapi tetap sederhana sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat mengena tanpa tercemar kerumitan cerita. Pram dalam cerita ini juga menyisipkan beberapa kritik terhadap pemerintah yang dikatakannya hanya memperkaya diri sendiri. Namun ada satu pesan yang sangat mengena bagi saya ketika membaca karyanya ini.
"Dan terasalah olehku betapa gampangna orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang - dengan diam-diam - menikmati kebahagiaan."

Pesannya sungguh menyentuh bagi saya atau orang lain yang mungkin hidup berkecukupan namun terkadang tetap tidak bahagia akan yang sudah kita dapat. Sometimes we take something/someone for granted and don't realize how happy we should be..

Secara keseluruhan saya terkesan dengan karya Pram ini dan tidak sabar untuk membaca karyanya yang lain. Saya sekarang sedang membaca buku "Panggil Aku Kartini Saja" yang merupakan biografi dari R.A Kartini oleh Pram. Setelah selesai saya akan memberikan komentar saya di blog ini.

Thursday, July 27, 2006

Motret IBL

Memotret event sport adalah tugas dari mas Rully minggu ini dan kebetulan di Jakarta sedang berlangsung event Bola basket nasional IBL (Indonesian Basketball League) yang berlangsung di Gedung Basket Senayan. Kemarin (26/7), saya dan beberapa teman (Dinda, Seto, Pak Sihol, Danny) sudah memotret hari pertama IBL berkat bantuan rekomendasi ijin dari Mas Tjandra M. Amin (fotografer tabloid BOLA).

Saya sebelumnya belum pernah memotret event olahraga yang notabene katanya harus ditunjang dengan peralatan canggih pula. Nah, pas kemarin itu baru benar-benar merasakan alangkah pentingnya lensa yang cepat dalam memotret olahraga. Dengan kondisi cahaya yang kurang baik didalam hall basket terkadang hasil foto menjadi under (gelap) sehingga harus menggunakan lensa yang cepat, untungnya saya punya satu lensa yang "lumayan" namun juga murah (kalo ga murah mana mungkin kupunyai :P) dengan lensa tersebut (50 mm f/1.8) akhirnya bisa didapat 2-3 frame lah yang lumayan baik. Walau demikian rasanya ingin mencoba lagi hari ini, semoga bisa dapat hasil yang lebih baik.


Panasia Bandung (putih) vs Angsapura Medan (ungu)

Tuesday, July 18, 2006

Motret General News


Nazaruddin Syamsudin

Minggu ini tugas dari ANTARA adalah motret general news yaitu kejadian yang sudah terjadwal seperti seminar, sidang, festival. Dalam foto yang harus kami buat harus terdapat tokoh masyarakat yang cukup terkenal.

Tadi akhirnya saya ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Kuningan, Jakarta Pusat. Agendanya sih ingin memotret Hamid Awaluddin, Menteri Hukum dan HAM, kabinet Indonesia Bersatu. Saya kesana sendiri (again!), memang sih lebih enak motret sendiri atau saya sudah terbiasa begitu namun terkadang terasa bosan jika tidak ada teman mengobrol di kala senggang...Kembali ke topik general news, akhirnya saya masuk ke ruang sidang lt. 1 Tipikor dan persidangan sudah dimulai dengan agenda pemeriksaan saksi, dimana yang sedang diperiksa adalah Nazaruddin Syamsudin mantan ketua KPU dalam kasus korupsi pengadaan segel surat pemilu pilpres I dan II. Saya pun mulai motret dengan beberapa angle dan komposisi dan kemudian menunggu tokoh yang "lebih beken" yaitu Hamid.

Ternyata setelah beberapa saksi dihadirkan (Sungkono, Hamdani) diketahui bahwa Hamid Awaluddin tidak dapat memenuhi panggilan karena suatu alasan. Damn! kecewa rasanya tapi setidaknya sudah dapat foto Nazaruddin yang "lumayan beken". Pulangnya saya naik taksi berhubung blm tahu naik angkot apa kalo di kuningan :(

Sekian perburuan general news yang pertama di minggu ini, tunggu kabar selanjutnya :D

Monday, July 17, 2006

Donna Donna

Donna Donna Donna
oleh Joan Baez

On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer's night.

(Chorus)
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

"Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

(back to Chorus)

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

(back to Chorus)


Lagi suka dengerin lagunya Joan Baez yang dinyanyikan juga oleh Sita sebagai OST GIE

Thursday, July 13, 2006

Potrait Assignment : Piercing (continued)

And the journey continues...hari berikutnya, Rabu (12/7). Saya kembali mencari studio piercing ditemani dengan Sonny, yang banyak membantu saya (dan memboncengi saya) . Kali ini kami masih penasaran dengan studio piercing yang ada di kemanggisan tepatnya di jalan gili samping. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami menemukan bahwa alamat tersebut merupakan sebuah kos-kosan. Namun pas kami datangi rumah tersebut terlihat lengang dan kosong serta ada tanda "Rumah ini dijaminkan". Kami pun memutuskan mencari alamat studio lain saja, kali ini kami menuju ke persatuan guru, cideng yang merupakan alamat studio tattoo dan piercing "Disillusioned".

Sampai di alamat yang tertera, alangkah bahagianya melihat plang nama sebuah studio piercing. "Akhirnya nemu juga satu" pikirku. Kami langsung masuk kedalam dan melihat-lihat dulu sampai kami bertemu dengan salah satu penjaga di studio tersebut, namanya Daus yang belakangan kami ketahui ia juga merupakan tattoo artist di studio tersebut. Karena saya ingin memotret dan wawancara mengenai body piercing maka kami dikenalkan dengan piercer dari studio tersebut, Herman namanya.

Herman yang berperawakan cukup besar dan gempal mempunyai tindikan kuping, hidung, telinga dan lidah yang mungkin bagi kebanyakan orang menyeramkan, namun orangnya ramah :D. Saya kemudian menyampaikan maksud kami dan ia pun setuju untuk diwawancarai. Setelah selesai wawancara saya bilang ingin memotret dirinya dan ia dengan senang hati menyanggupinya. Karena pada wawancara sebelumnya Herman menyinggung tentang anjing yang dipeliharanya, maka saya bilang padanya ingin memotret ia dengan anjing kesayangannya.

Sesi foto berlangsung di atap ruko studio tersebut dengan 2 anjing peliharaanya, seekor Siberian Husky dan Rottweiler. Sambil bercakap-cakap seputar anjing (untung Sonny seneng anjing juga jadi nyambung, jadi saya tinggal motret) saya mulai memotret Herman dengan anjingnya dan juga mengambil beberapa foto close-up. Yang saya sayangkan adalah saya tidak membawa lensa 50 f/1.8 :( yang notabene bisa lebih tajem. Dari sekitar 12 foto ada 3-4 foto yang blur karena cahaya yang minim (I really disappointed with my self). Seusai motret saya bertanya tentang studio lainnya yang ada di Jakarta dan juga menanyakan studio di kemang yang kemarin kami tidak temukan. Ternyata Herman kenal dengan yang punya studio di kemang dan memberikan nomor hpnya ke saya. Setelah bertukar nomor hp saya pun pamit sambil berjanji akan memberikan cd hasil foto dia beserta anjingnya (he really a dog lover).

Dari Cideng kami lanjut ke Kemang, kembali mencari studio NSOMNX. Kali ini saya telepon dulu orangnya, sehingga sekarang bisa ketemu :D studionya (sebenernya tetep muter2 dulu sih carinya). Ternyata studionya terletak di pojokan komplek restoran, pantas ga ketemu kemarin.
Di studio kami mencari Mas Ucha, yang tadi kami telp. Orangnya terlihat menyeramkan jika kita tidak mengenalnya, namun setelah berkenalan ia cukup friendly dan ramah. Kami pun menyampaikan maksud kami untuk mewawancara serta memotret dia, walau ia tidak langsung menyanggupi tapi akhirnya ia bersedia asal tidak untuk dipublikasikan dimedia (ia mempunyai pengalaman buruk dengan media).

Dari percakapan kami, saya bertanya banyak mengenai piercing, komunitas indonesian sub culture karena ia merupakan ketua dan pendiri komunitas tersebut. Dalam kesempatan itu ia mengungkapkan bahwa piercing baginya bukan sekedar bisnis belaka namun juga sebuah seni. Ia juga mengatakan salah satu tujuannya ia terjun ke piercing serta mendirikan ISC adalah untuk melestarika budaya Indonesia, dimana banyak dipedalaman-pedalaman Indonesia terdapat kebudayaan piercing tradisional.

"Kami memang bermain-main untuk luka tapi kami juga punya solusi untuk menyembuhkan" katanya ketika saya tanya mengenai sterilitas dan prosedur piercing yang dilakukan. Sebagai ketua di komunitas ISC ia juga memberikan prosedur-prosedur yang harus dilakukan dalam menindik agar hasilnya baik serta aman untuk kesehatan, ia pun kesal dengan proses piercing-piercing yang tidak memperhatikan kesehatan client. Di Indonesia sendiri ia mengungkapkan bahwa yang dirinya yang mengeluarkan lisensi untuk piercing. Hal ini dikarenakan belum ada dukungan dari pemerintah sendiri serta dari instansi kesehatan lainnya.

Terakhir saya menanyakan, apa pandangannya dan harapannya mengenai bisnis piercing ini di Indonesia, Ia hanya mengatakan hanya ingin ada dukungan dari pemerintah dan masyarakat serta ingin mengubah citra masyarakan bahwa komunitas piercing itu tidak menyeramkan (I totally agree, they are very friendly). Selesai wawancara saya minta mas Ucha untuk dipotret, namun hanya sebentar saja karena ia harus melayani tamu yang datang ke studionya. Saya pun pamit selesai memotret.

Jam menunjukkan pukul 9 dan akhirnya kami pulang dengan hasil, tidak seperti kemarin yang hampa :D



Bang Ucha - sangar banget yah :P

Potrait Assignment : Piercing

Minggu ini, saya dan teman-teman seangkatan di kelas Jurnalistik GFJA diberi tugas untuk membuat foto potrait. Dalam undian untuk menentukan subjek foto tiap-tiap orang saya mendapatkan anak Punk/Piercing . Nah dalam satu minggu saya harus bisa mendapatkan foto potrait dari seorang anak punk atau orang yang piercing (tindikan) -nya banyak.

Dalam hati, saya cukup excited dengan tugas ini walaupun memang rada susah. Anyway saya mulai mencari dan dari info temen seangkatan Dinda saya mendapatkan sebuah website yang merupakan perkumpulan artis-artist tattoo dan piercing seindonesia yang namanya Indonesian Sub Culture. Di situs tersebut terdapat list member dan studio yang tergabung dalam ISC.

Hari selasa (11/7), saya dan ditemani teman saya, Sonny mulai mencari-cari studio piercing. Perjalanan dimulai ke studio yang ada di kemanggisan karena dekat dengan rumah. Namun 2 jam mencari kami belum juga menemukan studio yang tertulis. "Ah mungkin uda tutup kali jem segini" pikir kami. Perjalanan kita lanjutkan ke kemang untuk mencari studio lainnnya.

Di kemang pun, kami juga mengalami kesulitan untuk menemukan studio piercing yang tertera di ISC. Nama studionya NSOMNX, 2 jam pula kami habiskan mencari studio tersebut sampai akhirnya kami menyerah dan pulang dengan kecewa. "Yang deket ga ketemu, yang jauh juga ga ketemu". Keesokan harinya kami berencana mencari lagi sampai dapat.