Monday, March 27, 2006

A Cheap Trip to Monas


Monas, photographer by Rony Zakaria

Monas, bagi orang Jakarta mendengar kata tersebut langsung terlintas bayangan sebuah monumen putih dengan mahkota emas dipuncaknya yang berdiri megah di pusat kota Jakarta. Saya sudah sering melihat Monas, baik dalam perjalanan saya dengan mobil ataupun dengan busway. Megahnya Monas di tengah siang Jakarta yang terik ataupun kemilau cahaya yang terpancar dari tugu yang mulai berdiri sejak tahun 1975 itu tetap mempesona mata orang yang melihatnya, termasuk saya.

Megah dan indahnya Monas memang tidak perlu diragukan lagi, perasaan tersebut diperkuat ketika saya mengunjungi Monas Sabtu kemarin (25/3). Kunjungan kemarin bersama Andhika dan Suwandy memang bukan yang kali pertama untuk saya namun yang pertama setelah 12 tahun (saya terakhir kali ke Monas ketika study wisata TK bersama Ibu saya). Keadaan Monas tidak banyak berubah selama 10 tahun belakangan kecuali dibangunnya pagar di sekeliling Monas dan dihidupkannya kembali hiburan air mancur menari yang sempat "menghilang". Kedatangan kami untuk menikmati air mancur tersebut.

Kami tiba di Monas pukul 17.45 dan sudah bersiap-siap dengan kamera masing-masing yang akan mengabadikan pertunjukkan air mancur menari yang diadakan hanya pada akhir pekan. Pengunjung disana cukup ramai, dan dipenuhi dengan mayoritas pasangan-pasangan muda yang sedang dimabuk asmara. Suasana Monas di akhir pekan memang cukup romantis, dengan lampu yang remang-remang dan lagu yang melankolis membuat pasangan-pasangan yang ada cukup nyaman bermesraan.

Jam menunjukkan pukul 18.00 dan kami pun sudah siap di tempat dengan kamera terpasang di tripod. Terdengar suara musik pertanda pertunjukkan akan segera dimulai, dan memang beberapa saat setelah itu mulai percikan-percikan air mancur yang indah mulai mengalun mengikuti irama musik yang mengalir dengan teratur. Kami juga pun mulai beraksi dengan kamera masing-masing. Namun sayang memang pertunjukkan sesi pertama ini terganggu dengan beberapa kali kesalahan teknis namun hal tersebut tidak mengurangi keindahan yang tertangkap di mata dan kamera saya.


Dancing Fountain of Monas, photographed by Rony Zakaria

Kami juga mengikuti sesi kedua dari pertunjukan air mancur yang berlangsung pada pukul 20.00 - 20.30. Pertunjukkan air mancur diadakan setiap hari sabtu dan minggu dengan 2 sesi setiap harinya yaitu pukul 19.00 dan 20.00 dengan lama pertunjukkan masing-masing 30 menit. Selesai sesi kedua kami pun beranjak dari tempat kami untuk pulang, namun sebelumnya kami berfoto bersama dahulu.


Posing together with Monas as a background (left to right : Andhika, Suwandy and Me)

Monas memang merupakan suatu hiburan bagi penduduk Jakarta. Suatu hiburan yang romantis, indah dan sekaligus murah setidaknya untuk saya. Kilau dari Monas boleh kalah dari lampu-lampu mall atau plaza yang bermekaran di Jakarta tetapi keindahan dan sejarah dari Monas memang membuktikan bahwa ia pantas menjadi icon dari kota Jakarta.

Watching through the colours, photographed by Rony Zakaria

No comments: