Sunday, December 24, 2006

Menjadi orang Jakarta


Dalam busway, di dalam ramai, diluar ramai.

Saya sedang menunggu datangnya busway, di halte Jelambar dekat Mal Ciputra, grogol. Ketika itu antrian penumpang menuju arah harmoni sangat padat, ada sekitar 50 orang yang berkerumul di dekat pintu halte menunggu datangnya busway koridor 3 dari arah Kalideres. Saya memutuskan untuk tetap antri karena memang pemandangan tersebut bukan pertama kalinya saya alami. 10 menit berlalu masih belum ada satupun bus dari arah kalideres yang muncul, sedangkan dari arah sebaliknya sudah ada 4 bus yang lewat dan antrian penumpang pun makin penuh yang ingin naik menuju harmoni-pasar baru. Beberapa orang tampak mulai kesal seperti halnya saya, memang siang hari itu saya ada acara di Galeri Foto Antara, Pasar Baru dan saya tidak ingin terlambat.

Beberapa saat kemudian akhirnya tiba satu bus dari arah Kalideres, ketika bus membuka pintunya kontan hampir semua penumpang berbebut ingin masuk ke dalam bus dengan cara mendorong orang didepanya. Hal itu cukup lazim selama saya menggunakan jasa busway ini, tetapi saya tetap tak habis pikir, mengapa mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, bukan kah orang lain didepannya bisa saja jatuh dan cedera, mungkin saya sedikit naif tapi saya merasa rasa egois orang kota sudah sangat tinggi. Baru 10 menit lagi bus dari kalideres tiba, kali ini giliran saya yang di dorong dari belakang.

Itu hanya sebagian kecil mengapa saya tidak betah tinggal di Jakarta, terutama kelakuan orang Jakarta yang mau menang sendiri, yah Jakarta memang keras mungkin itu yang membuat banyak dari penduduknya berbuat seenaknya. Mungkin ini sekadar opini atau sekadar subjektivitas dari kekecewaan saya dari Jakarta, saya merasa satu-satunya kesamaan dari orang Jakarta adalah mereka semua money-oriented, ah tapi siapa sih yang tidak?

"Siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta"

Lirik tersebut mungkin tepat mengenai kerasnya dan kotornya kota Jakarta, tetapi saya kan tidak datang ke Jakarta, saya lahir di Jakarta. Yang bikin saya heran justru mengapa semua orang ingin datang ke Jakarta? Padahal macet setiap hari, kejahatan terjadi dimana-mana, mencari kerja susah, mau sekolah mahal? Semua menganggap Jakarta sebagai lahan yang menggiurkan untuk mencari uang. Setiap tahunnya bertambah banyak warga Jakarta yang money oriented, kita hidup di kota yang amat kapitalis dan hedonis. Saya ingin sekali keluar dari Jakarta.

Tuesday, December 19, 2006

Sehari di Pulau "Weh" Sabang

Dalam 3 minggu saya berada di Aceh, saya merasa sangat beruntung dapat keliling ke kota-kota di Aceh, mulai dari Aceh Utara Pidie, Lhokseumawe, Aceh Tengah Takengon dan Blangkejeren di Gayo Lues, Aceh selatan Kota Fajar, Tapak Tuwan, serta pesisir pantai barat Aceh, Meulaboh, Lamno dan Calang. Namun ketika keliling meliput kampanye bersama rombongan Irwandi Yusuf, saya tidak ikut ketika mereka ke Sabang, karena kondisi badan dan stamina yang drop selepas 10 hari berkeliling Aceh. Namun 1 hari sebelum pilkada Aceh yaitu tanggal 10 Desember, saya bisa mengobati rasa kecewa itu, akhirnya Sabang bisa kulihat juga.


View dari speed boat, berangkat dari Ulee Lheue, Aceh Besar menuju Balohan, Sabang.

Bersama teman-teman Soka Gakkai Indonesia (SGI) lainnya, Taguchi-san, Novianti, Elizabeth dan Maya, kami berangkat dari Ulee Lheue menuju Balohan di Sabang atau juga dikenal sebagai Pulau Weh. Pulau Weh dianggap merupakan pulau paling terluar dari wilayah Indonesia, disana pula ada monument kilometer nol yang menandai kilometer pertama wilayah Indonesia. Makanya ada lagu "Dari Sabang sampai Merauke" bukan? Perjalanan dari Ulee Lheue ke Balohan ditempuh dalam waktu 50 menit menggunakan speed boat cruiser, tiketnya 70rb satu orang untuk kelas Bisnis, sebenarnya ada transportasi lain menuju Sabang, yaitu ferry yang lebih murah, tetapi lama tempuh kesana lebih lama, lebih kurang 2 jam untuk sampai ke Sabang. Kami berangkat dari Ulee Lheue pukul 9.30 tepat, setiap harinya hanya ada 2 kali perjalanan dari Ulee Lheue ke Sabang, yaitu pukul 9.30 pagi dan jam 16.00 sore, demikian pula sebaliknya dari Sabang menuju Ulee Lheue dengan waktu yang sama.


Tiba di Balohan, Pulau "Weh" Sabang.

Sesampainya di Balohan, waktu menunjukkan pukul 10.20, disana sudah menunggu banyak orang yang menawarkan jasa mobilnya untuk berkeliling pulau Sabang. Tarif yang dikenakan telah distandarisasi oleh pemerintah daerah kota Sabang, yaitu 50 ribu untuk sewa mobil 1 hari tanpa bensin dan driver, apabila kita ingin berkeliling dengan supir satu hari, biayanya 500rb untuk satu mobil kijang, tapi kami nego sehingga sedikit dikurangi menjadi 450rb, yah gara-gara tidak ada yang bisa nyetir :P. Tujuan pertama adalah pantai Gapang, disana kami melihat banyak orang menyelam (snorkling), memang katanya kalo belum snorkling di Sabang, pasti belum puas, sayang waktu kami terbatas hari itu dan kebanyakan dari kami tidak membawa baju ganti.


View di Pantai Gapang, tujuan pertama kami di Pulau Sabang.

Tujuan selanjutnya adalah pantai Iboih, yang oleh driver kami dikatakan jauh lebih bagus dari pantai Gapang. Dan memang ia mengatakan apa adanya, baru kali ini saya melihat pantai sejernih itu, kita dapat melihat sampai ke dasar, sampai terumbu karangnya, benar-benar jernih dengan pasir putih bersih. Kami pun mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, yah kapan lagi bisa ke Sabang :D.


View di Pantai Iboih.


View di pantai Iboih. Airnya sangat jernih sampai kita bisa melihat dasarnya.


Left my footprints at Sabang. Like I did everywhere I go.

Selain keindahan pantai dan alamnya, Sabang juga dikenal sebagai surga mobil-mobil mewah seperti Ferrari, Volvo, BMW, Lamborghini dengan harga murah. Bayangkan menurut teman saya yang orang Aceh, untuk mendapatkan Ferrari bisa mengeluarkan uang hanya 80 juta ditambah 20 juta untuk surat-surat agar bisa masuk Medan. Mobil-mobil tersebut merupakan kiriman dari Singapura yang jaraknya dekat dengan Sabang dan Sabang dahulu merupakan pelabuhan bebas sehingga barang-barang dari luar bisa langsung masuk ke Sabang. Salah satu tempat untuk menampung mobil-mobil mewah tersebut bahkan sebuah markas TNI di Sabang.


Deretan mobil-mobil mewah dari Singapura.


Foto bersama sebelum pulang ke Ulee Lheue (kiri ke kanan : Taguchi-san, Maya, Elizabeth, Novianti).

Waktu berlalu cepat dan kami harus kembali ke Balohan untuk pulang ke Ulee Lheue, kapal kami berangkat pukul 16.00 tepat. Sayang kami tidak sempat ke Tugu Kilometer Nol, namun saya akan kembali lagi ke Sabang apabila nanti pergi ke Aceh lagi. Kami sampai di Ulee Lheue pukul 5 sore. Badan letih dan saya harus banyak istirahat karena keesokan harinya harus meliput Pilkada mulai dari pagi hari.


Speed Boat Cruiser yang sudah menunggu untuk membawa kami pulang ke Ulee Lheue.

Sunday, December 17, 2006

Pameran Foto Dialogue With Nature di Banda Aceh


Tari asal Aceh yang merupakan bagian dari acara pembukaan.

Tanggal 13 Desember 2006, pameran foto Dialogue with Nature resmi dibuka di kota Banda Aceh tepatnya di gedung Dayan Dawood, Universitas Syiahkuala. Pameran foto karya presiden Soka Gakkai Internasional Dr. Daisaku Ikeda, memamerkan 63 foto karya Dr. Ikeda dan foto-foto karya IPO, KNPI dan pewarta foto Aceh.


Tari asal Aceh yang merupakan bagian dari acara pembukaan.

Saya kebetulan sedang berada di Banda Aceh ketika pameran ini akan dibuka, saya sedang berada di Aceh dalam rangka meliput pilkada Aceh dan membuat foto story disana. Saya disana tidak sendiri, ada juga anggota SGI lainnya, seperti Pak Peter, Taguchi-san, Handrio, Ibu Wang Chen dari Jakarta, Novianti dan Elizabeth dari Pematang Siantar, Maya anggota dari Palembang, Natsko-san dari Aceh serta Urara-san dari kota Jogjakarta. Ikut serta pula fotografer dari Kompas, Bang Arbain Rambey sebagai panitia pengarah pameran.


Pembukaan pameran yang ditandai oleh pemotongan pita.

Pada pembukaan pameran tanggal 13 Desember sendiri, orang yang datang terbilang cukup sedikit, hanya 154 orang, mungkin pemberitaan pameran ini masih terbayang dengan pemberitaan pilkada aceh yang baru berlangsung ada 11 Desember lalu. Namun pada hari kedua, jumlah pengunjung ramai sekali, tercatat orang yang datang 1700 pengunjung. Antusiasme pengunjung sangat tinggi, sangat jauh dibandingkan dengan Jakarta. Mungkin hiburan di Banda Aceh sangat kurang, bioskop, mall dan kolam renang sama sekali tidak ada di kota ini, bandingkan dengan Jakarta yang mempunyai puluhan Mall, bioskop dan tempat2 hiburan lainnya. Jadi pameran foto ini bisa jadi menjadi hiburan yang sangat berharga bagi masyarakat kota Banda Aceh.


Dua pengunjung sedang menikmati foto karya Dr. Ikeda.

Pameran di Banda Aceh ini akan berlangsung sampai tanggal 21 Desember mendatang. Saya sendiri sudah kembali ke Jakarta tanggal 15 Desember kemarin, di Banda Aceh masih tinggal Handrio dan Maya untuk menjaga pameran sampai 21 Desember nanti. Selamat berjuang dan bekerja untuk Handrio dan Maya.


Foto bersama panitia (dari kiri : Urara-san, Novianti, Ibu Wang Chen, Elizabeth, Maya, Handrio, Pak Peter, Taguchi-san, Saya sendiri).

Friday, December 08, 2006

10 hari bersama orang-orang GAM


Seorang mantan TNA memakai Pin bendera Bulan Bintang milik GAM


Mendengar kata GAM mungkin terdengar menakutkan, maklum saja pemberitaan dari media baik cetak maupun televisi selalu mencitrakan GAM atau Gerakan Aceh Merdeka dengan kelompok pemberontak yang berbahaya. Namun sewaktu saya berpergian bersama-sama mereka, citra itu sama sekali salah. Mungkin ekspose berita negatif terhadap mereka merupakan salah satu tak-tik pemerintah RI dalam menjatuhkan GAM.

Saat di Jakarta saya tidak tahu menahu tentang GAM, yang saya ketahui hanyalah bahwa mereka itu kejam dan suka menculik orang-orang penduduk disana. Sesampainya disini saya sempat mewawancarai beberapa warga aceh yang dahulu pernah bertemu atau mempunyai pengalaman dengan orang GAM. Sungguh berbeda penuturan mereka tentang GAM dengan apa yang diungkapkan di media. Ternyata mereka takut dengan GAM hanya karena takut ketahuan oleh TNI membantu GAM. Ada sebuah cerita seorang desersi polisi dari Takengon yang defect ke GAM, saat mau ditangkap oleh TNI ia sedang duduk-duduk di depan rumah warga sekitar di desa Lhong, Bireun. Ketika ditangkap ia dapat meloloskan diri, namun rumah warga sekitar radius 50 meter semua di obrak-abrik dan di bakar. Itu hanya satu cerita dari sekian banyak cerita yang saya dengar dari penduduk setempat. Adapun kisah tentang desa Tiro, dimana terjadi pembantaian terhadap semua laki-laki di desa itu oleh TNI dan semua wanita diperkosa oleh tentara. Semua itu terjadi karena banyak warga kampung-kampung di Aceh yang simpatik dengan perjuangan GAM. Mereka bilang GAM itu baik, yang jahat itu hanyalah orang yang pura-pura jadi GAM, meminta uang kepada masyarakat.

Kembali ke perjalanan saya, jadi selama 10 hari, mulai dari 26 November sampai 6 Desember saya menghabiskan waktu dengan orang-orang GAM yang menjadi tim sukses dari Irwandi Yusuf, orang GAM yang mencalonkan diri menjadi Gubernur Aceh pada pilkada 11 Desember nanti.Bersama rombongan yang terdiri dari 2 mobil kami berkeliling Aceh, mulai dari Pidie, Lhoksuemawe, Bireun, Melauboh sampai Tapak Tuan di Aceh Selatan. Irwandi Yusuf sendiri merupakan orang GAM yang sejak tahun 1999 ikut dalam gerakan ini, ia pernah menjabat sebagai penasihat intelijen militer GAM sewaktu diberlakukan DOM di Aceh. Selain itu ia juga merupakan dosen di Universitas Syahkuala di fakultas kedokteran hewan karena ia memang mempunyai gelar master dalam bidang kedokteran hewan dari unversitas Oregon, Amerika Serikat. Dalam perjalanan selama 10 hari itu, saya sempat bermalam di rumah bang Irwandi di Bireun.

Tidak seperti calon-calon gubernur lain yang mengusung partai politik, pasangan Irwandi-Nazar maju melalui jalur independent yang berarti pendanaan berasal dari pribadi. Itu dibuktikan dengan minimnya poster-poster dan banner dari pasangan bernomor enam ini. Dalam satu kesempatan ia mengungkapkan bahwa ia menghabiskan kurang dari 500 juta rupiah untuk kampanye ini jauh dibandingkan dengan salah satu pasangan lain yang menghabiskan sampai 20 miliar rupiah. Selama mengikuti kampanye Irwandi-Nazar saya melihat orang-orang yang datang kebanyakan merupakan simpatisan dari GAM yang datang sendiri tanpa dibayar. Salah satu khas dari kampanye Irwandi adalah selalu diawali dengan lagu-lagu perjuangan GAM di Aceh yang dinyanyikan dengan bahasa Aceh.

Lima hari pertama saya masih bisa mengikuti gerak dari orang-orang GAM itu, mungkin karena mereka itu bekas TNA (tentara Nanggroe Aceh) jadi gerak mereka terbiasa cepat, makan cepat, bergerak cepat, sampai bangun dan mandi cepat. Jujur saja saya sempat kewalahan mengikuti mereka. pada hari keenam mulai saya terserang sakit perut, sakit kepala dan masuk angin. Hal yang disebabkan pada hari-hari itu rombongan menhabiskan waktu lebih banyak di jalan. Seperti perjalanan ke Tapak tuan misalnya, ditempuh dalam waktu 12 jam langsung dan setelah kampanye dilanjutkan 12 jam lagi ke banda aceh. Tentu saya yang bukan tentara ini habis staminanya sesampainya di Banda Aceh.

Banyak sekali yang bisa saya ceritakan, namun saya simpan dahulu. Pasti nanti saya ceritakan di postingan saya selanjutnya yang akan dilengkapi dengan foto.

Salam dari Nanggroe Aceh Darussalam

Rony Zakaria

Sunday, November 26, 2006

Banda Aceh : 25 November 2006

Hari ini saya terbangun di kantor Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh. Memang semalam saya menginap disana, mengingat hari sudah terlalu malam untuk kembali ke uleekareng. Jam delapan pagi Safri mengajak saya ke media center salah satu calon gubernur, Tamlica Ali yang merupakan bekas pangad Wirabuana. Safri memang bermaksud untuk melakukan wawancara dengannya untuk keperluan radio Australia, tempat ia bekerja.


Pasangan Irwandi-Nazar saat acara debat, dibelakangnya (dari kiri) pasangan Humam-Hamid, rival utama mereka


Selepas wawancara, kami berbegas menuju darussalam, tepatnya di gedung Dayan Dawood, kampus Unsyah tempat yang sama ketika pembacaan visi misi kemarin. Kali ini acaranya adalah debat dengan para calon gubernur dan wakil gubernur, yang diselenggarakan oleh KIP dan Lsm Jurdil. Acaranya sendiri terbagi 2 sesi dimana masing-masing sesi 4 calon akan berdebat dengan panelis. Sedikit mengecewakan memang, karena debat bukan dilakukan antar pasangan tapi dengan panelis yang ada, sehingga lebih satu arah.

Karena kemarin saya tidak pulang ke uleekareng maka siang harinya saya pamit dengan safri untuk pulang ke uleekareng dahulu untuk mandi dan istirahat sejenak. Saya kembali ke uleekareng dengan Labi-Labi dari simpang lima. Besok rencananya saya akan ikut dengan rombongan Irwandi ke daerah Pidie di pantai Utara Aceh.

Malamnya saya kumpul dengan kawan-kawan RATM dari Kaskus, kami berkumpul di Radio Flamboyan, disana saya bertemu juga dengan Oki Tiba, salah satu fotografer di Aceh. Ia juga mengenalkan saya pada bang Meiji, fotografer Reuters. Jam 12 saya dan safri pamit pulang. Besok saya harus berangkat pagi ke lamdingin untuk berangkat bersama rombongan bang Irwandi jam 6 pagi menuju Pidie.

Friday, November 24, 2006

Bangun pertama kali di Banda


Salah satu jembatan di Banda Aceh

Hari ini saya bangun pukul 7 pagi, termasuk "sangat" pagi untuk waktu bangun saya, maklum saja di Jakarta saya biasa bangun pukul 9-10 pagi. Dari Uleekareng tempat saya tinggal saya langsung menuju peunayong tempat kantor sindikasi Pantau berada. Saya bertemu kembali dengan Samiaji Bintang, dia mau mengantarkan saya ke markas SIRA berada, untuk dikenalkan dengan tim suksesnya pasangan Irwandi-Nazar. Tim suksesnya pada dasarnya memperbolehkan saya ikut dengan rombongannya ketika kampanye ke daerah-daerah di Aceh, tinggal menunggu konfirmasi dengan Irwandi saja.

Siangnya saya menunggu di kantor pantau, menunggu sampai jam 1 untuk kemudian berangkat ke unsyah dimana para calon pasangan gubernur dan wakil gubernur akan menyampaikan visi misi mereka. Perjalanan ke Universitas Syahkuala ditempuh dengan angkutan umum Aceh yang disebut Labi-Labi, semacam mobil box namun dimodifikasi sehingga bisa mengangkut penumpang. Di salah satu gedung di unsyah acara penyampaian visi dan misi dilangsungkan, acara dimulai pukul 14.30. Disana saya bertemu dengan Safri, wartawan AJI yang saya sudah kenal sebelumnya di Internet.


Naik Labi-Labi menuju Unsyah

Singkat kata saya dibawa Safri ke AJI bertemu dengan kawan-kawan wartawan lainnnya sekaligus untuk akses internet. Kencang sekali koneksi internet disini dan saya menulis tulisan ini di AJI. Nanti malam kalau tidak ada halangan saya akan bertemu dengan kawan-kawan lain di Aceh. Ngopi-ngopi bareng katanya :D

Thursday, November 23, 2006

Kesan pertama di Banda Aceh

Saya tiba di bandara Sultan Iskandar muda pukul 10.08 pagi, sepintas terlihat bandara kota banda aceh itu sangat kecil, tidak bisa dibandingkan dengan Sukarno-Hatta di Jakarta. Keluar dari bandara jelas terlihat bahwa bandara tersebut hanya terdiri dari 2 bangunan sedang yang merupakan terminal kedatangan dan keberangkatan, mungkin hanya 1/50 dari luas bandara Sukarno-Hatta.

Saya dijemput oleh Onik, kawan yang baru saya kenal di Aceh, dia bekerja di NGO redcrescent Turki. Dari bandara kami langsung ke kantornya di daerah dekat peunayong, saya menitipkan barang bawaan di sana untuk kemudian langsung berangkat ke Masjid Baiturrahman yang berjarak hanya 200 meter dari sana. Di Masjid Baiturahman sudah menunggu Samiaji Bintang, wartawan sindikasi pantau, kami sudah berkorespondensi melalui email jauh-jauh hari mengenai tujuan liputan saya dan kedatangan saya di Banda Aceh. Perbincangan berlanjut ke kantor pantau di jl.ratu safiatudin, 100 meter dari masjid.

Kantor 3 lantai itu, sepi lengang, hanya kami berdua dan satu orang lagi (maaf aku lupa namanya). Menurut bintang, di kantor itu hanya dihuni 3 orang saja, sedangkan sekarang direktur sindikasi pantau aceh, Mbak Linda Christanty sedang pergi ke Jepang sampai desember. Selepas makan siang, saya diajak Bintang ke Markas kampanye pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NAD yang mencalonkan diri melalui jalur independen. Irwandi merupakan mantan penasihat militer GAM saat DOM dahulu sedangkan Nazar merupakan ketua presidium SIRA. Terus terang aku agak grogi berbicara dengan mereka, bukan apa-apa, takut salah bicara (kebiasaan jelekku kalo ketemu orang baru, jadi agak kaku, I hate myself for this). Singkat kata saya dikenalkan dengan salah satu tim suksesnya Irwandi dan kami dijanjikan untuk diberikan jadwal kampanye, saya sendiri sudah menyampaikan maksud saya untuk bisa ikut dalam rombongan mereka.

Selesai dari sana, saya mengambil barang bawaan saya di kantor onik, dan bang Bintang dengan baik hati mau mengantarkan saya ke tempat tinggal saya di Banda Aceh, di uleekareng. Disana saya disambut dengan ramah oleh Bang Jawon dan istrinya di rumah mereka yang sederhana namun nyaman. Kesan diaceh selama satu hari ini : PANAS, lebih panas dari Jakarta (serius!), dan nyamuknya banyak bgt. Nanti malam saya rencananya akan bertemu dengan teman-teman Onik di Aceh.

Monday, November 20, 2006

Padat dan Capai

Lama sekali saya tidak menulis di blog ini, 2 minggu terakhir mungkin adalah 2 minggu tersibuk tahun ini. Di tengah terik matahari Jakarta yang semakin panas memasuki bulan November hampir setiap hari saya harus hilir mudik di angkutan umum kota Jakarta, entah untuk memotret ataupun melakukan lobi. Yah memang saya dan beberapa teman lain sedang melakukan rencana untuk setup sebuah biro foto (photo agency) baru. Untuk keperluan itu saya dan beberapa teman kerap bertemu setiap minggunya beberapa kali untuk membicarakan lobi masing-masing ke lsm, penerbit tentang jalinan kerjasama.

Agency kami sendiri bernama Panon yang dalam bahasa sunda berarti mata. Awal pendirian agency ini akan ditandai dengan peluncuran website resmi kami awal januari nanti. Sementara website belum diluncurkan kami masing-masing melakukan lobi ke pihak-pihak yang kami kenal untuk bisa membantu jalannya agency ini. Saya sendiri kemarin pergi ke Ciracas untuk menemui penerbit Erlangga, yang jaraknya amat jauh sekali, 2.5 jam dari tempat tinggal saya. Capai sekali badan namun itu harga yang harus dibayar untuk sebuah awal baik.

Saya akan pergi ke Banda Aceh tanggal 23 November ini untuk keperluan project foto pribadi mengenai pilkada Aceh. Jadi saya akan mengupdate blog ini dari sana.

Monday, November 13, 2006

Aku, Minke dan Om Pram

Minke, nama itu seperti nama seorang perempuan, jika seseorang ditanyakan pendapatnya mengenai nama itu sekarang. Aku mengenal Minke melalui dunia Bumi Manusia, sebuah gambaran melalui buku tentang kehidupan seorang pribumi Jawa pada jaman sebelum kemerdekaan dahulu, ketika kata Pribumi begitu rendahnya dibawah kata Eropa. Hubungannya dengan Om Pram? Dialah penulis buku itu, buku yang membuatku takjub, tenggelam kedalamnya yang semakin membuatku kagum dengan almarhum, Ia sungguh penulis hebat, sayang bangsanya tidak menghargainya ketika ia masih hidup dulu.

Kembali ke Minke, aku sangat tertarik pada sosoknya, bagaimana seorang jawa dahulu bisa begitu modern dan sangat maju dalam pemikiran, jujur ketika sedang membaca, tak jarang aku merasa diriku ini Minke. Memang aku tidak persis sama dengannya, aku keturunan Cina, bukan jawa sepertinya, aku bukanlah murid sekolah terpandang H.B.S. seperti layaknya dia di jamanya. Namun ada satu yang membuatku merasa senasib dengannya, Minke adalah seorang pribumi jawa yang mengenyam pendidikan Belanda, sehingga ia lebih terlihat seperti seorang eropa yang bertubuh jawa. Dalam perjalanan waktu Minke menyadari bahwa Eropa tidak lebih baik dari Jawa, bahwa ia memperoleh pendidikan Eropa semata-mata hanya untuk digunakan membela bangsanya yang ditindas oleh orang Eropa - kala itu orang Eropa mempunyai kedudukan tertinggi di pulau Jawa, kemudian baru orang Indo (campuran) dan terakhir pribumi.

Lalu apa kesamaanya dengan diriku, bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku bukan murid sekolah Eropa seperi Minke? Ya aku hanya sekolah lokal tapi banyak pengetahuanku kudapat dari luar sekolah, lebih tepatnya dari luar negeri ini tentunya dengan kemajuan teknologi aku bisa mendapatkan pengetahuan luar dengan mudah. Dengan kata lain, aku memperkaya pikiranku ini dengan pengetahuan dan pikiran barat. Memang Minke itu sosok yang sangat aku kagumi walau mungkin ia hanya seorang tokoh dalam dunia Bumi Manusia nya Om Pram tapi sungguh aku benar-benar memimpikan diri seperti seorang Minke, kaya akan pengetahuan barat namun berjuang untuk bangsanya sendiri. Bukankah Indonesia sekarang ini sudah merdeka? Apalagi yang mau diperjuangkan? Menurutku masih banyak, masih banyak belenggu yang masih terpatri di bumi Indonesia ini. Salah satunya saja adalah mental membatasi diri, bahwa orang luar lebih baik dari orang kita sendiri, termasuk dirinya sendiri.

Banyak mungkin yang tidak setuju aku katakan mereka minder sama orang barat, tapi terkadang mulut dan pikiran seseorang tidak sama. Bukankah demikian? Itulah sebabnya aku merasa peringatan hari pahlawan kemarin seperti hanya seremonial belaka, tanpa arti, tanpa tujuan. Pahlawan-pahlawan baru tak kunjung lahir atau muncul, mungkin karena kita dianggap sudah bebas. Aku tidak merasa seperti itu, aku tidak bebas. Seperti kata Minke, aku juga ingin menjadi orang bebas, tidak diperintah, tidak juga memerintah....


Rony Zakaria

Monday, October 23, 2006

Desa Cigugur

Pada 13-15 Oktober kemarin, saya melakukan perjalanan ke sebuah Desa bernama Cigugur. Desa Cigugur terletak di kaki gunung Ciremai dan sekitar 3 kilometer dari kota Kuningan, Jawa Barat. Saya dan teman saya Henri Ismail kesana dalam rangka mendokumentasikan desa dimana di desa ini toleransi dan pluralitas agama benar-benar diterapkan dan dirasakan serta desa Cigugur merupakan salah satu tempat dimana komunitas terbesar pemeluk Agama Djawa Sunda atau yang juga dikenal sebagai Sunda Wiwitan berada.

Perjalanan menuju desa Cigugur sendiri memakan waktu kira-kira 4 jam menggunakan mobil dari kota Bandung. Kami menggunakan jasa travel untuk pergi ke desa tersebut. Ketika kami tiba di Cigugur, hari sudah gelap dan kami turun di depan Paseban Tri Panca Tunggal yang merupakan tempat tinggal dari tokoh agama Sunda Wiwitan, Pangeran Djatikusuma. Paseban atau orang disana biasa menyebutnya dengan gedong dibangun pada 1860, merupakan tempat berkumpulnya orang-orang di desa Cigugur semacam balai desa, pusat kebudayaan dan juga merupakan tempat tinggal Pangeran Djatikusuma. Paseban sendiri dahulunya merupakan tempat tinggal dari Kiai Madrais yang pertama kali mengembangkan ajaran agama Sunda Wiwitan ini. Anaknya, Pangeran Tedjabuana juga menempati paseban ini sebelum akhirnya Pangeran Djatikusuma yang merupakan cucu dari Kiai Madrais menempatinya.


Latihan tari oleh para bapak-bapak

Ketika kami masuk ke dalam paseban, sedang ada kegiatan latihan tarian untuk acara esok hari, yaitu peresmian perbaikan dari paseban dan peluncuran batik resmi desa Cigugur ditambah dengan perayaan ulang tahun Pangeran Djatikusuma. Baru sebentar kami duduk, seorang bapak kemudian datang dan berbincang-bincang dengan kami yang merupakan orang asing disana. Perbincangan tersebut akhirnya berlanjut ke taman, dimana makanan untuk kami disiapkan, ternyata setelah berbincang-bincang seputar Sunda Wiwitan dan Cigugur diketahui bahwa bapak tersebut adalah putra dari Pangeran Djatikusuma, Gumirat Barna Alam. "Saya putranya Rama Djati", seraya memperkenalkan siapa dirinya, Rama merupakan panggilan yang artinya bapak. Sebagai putra satu-satunya, oleh ayahnya ia dipersiapkan untuk meneruskan ajaran ini.


Gumirat Barna Alam yang akrab dengan panggilan Rama Anom

Malam sudah larut dan akhirnya kami bertemu juga dengan Mas Ira, yang lebih dahulu dikenal oleh Henri. Ia merupakan penganut agama Sunda Wiwitan dan berprofesi sebagai dosen antropologi di Unpad Bandung. Selama 3 hari kedepan kami menginap di rumah keluarga mas Ira yang berbaik hati dan ramah menerima kami sebagai tamu di rumahnya. Tidur saya nyenyak sekali malam itu, udara dingin dan keramahan warga desa Cigugur memberikan kesan pertama yang baik di hari saya. Keesokan harinya kami bertemu dengan ayah mas Ira yang merupakan seniman yang membuat motif-motif batik Cigugur yang rencananya akan diluncurkan sore hari itu. Bersama dengan Ayah dan Ibunya, kami dan mas Ira berdiskusi mengenai agama Sunda Wiwitan, Rama Djati, Paseban dan Cigugur. Dari obrolan tersebut berulang kali saya dengar pengalaman tentang susahnya urusan administratif dengan pemerintah dikarenakan agama yang mereka anut. Seperti halnya agama asli dan tradisional Indonesia lainnya, agama Sunda wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi oleh karena itu tidak dapat dicantumkan dalam KTP (penganut agama Sunda Wiwitan mempunya tanda strip pada kolom agama di KTP mereka). Karena 'polos'-nya KTP mereka, seringkali penganut agama "tidak resmi" ini disalah artikan sebagai orang atheis atau tidak mempunyai agama.


Mas Ira (paling kanan) dengan ayah dan ibunya

Siang harinya kami menuju Paseban untuk bertemu dengan Rama Djati. Kami hanya sebentar berbicang dengan beliau dikarenakan ia sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara sore hari. Jadilah kami berkeliling paseban untuk melihat-lihat dan mendokumentasikannya. Sore harinya banyak orang yang datang ke paseban. Kursi yang disediakan penuh terisi dan pintu-pintu dan jendela-jendela tampak orang-orang berjejalan memperlihatkan antusiasme warga Cigugur terhadap acara tersebut. Di Cigugur sendiri dari perbincangan kami dengan beberapa orang diketahui bahwa dahulu mayoritas penduduk desa itu merupakan penganut Sunda Wiwitan namun karena susahnya urusan administratif dengan pemerintah dan faktor lainnya maka pada sekarang ini Islam, Katolik dan Protestan merupakan mayoritas agama yang dianut oleh penduduk sekitar dan sisanya baru Sunda Wiwitan. Kembali ke acara sore itu, Rama Djati sendiri yang membawakan acara peluncuran batik resmi desa Cigugur yang resminya baru akan dilepas ke pasaran akhir tahun di Jakarta nanti. Suaranya tegas namun tetap terdengar ramah dan simpatik, semangatnya terlihat dalam suaranya ketika menjelaskan arti tentang masing-masing motif batik, tidak memperlihatkan usianya yang sudah cukup sepuh hari itu, 74 tahun. Acara hari itu cukup meriah dan walaupun cukup ramai namun jumlah tersebut katanya hanya sepersepuluh dari jumlah yang datang pada acara Seren Taun yang diperingati pada 22 Rayagung penanggalan Sunda, yang tahun depan jatuh pada tanggal 12 Januari 2006.


Rama Djatikusuma (baju putih) tengah duduk disela-sela acara

Tidak terasa sudah tiga hari kami berada di Cigugur, hari itu merupakan hari terakhir kami disana, rencananya malamnya kami akan pulang ke Bandung. Hari itu kami dibawa oleh mas Ira untuk melihat kuburan setempat di Cigugur, dimana pemakaman di desa ini mempunyai keunikan yaitu semua yang dikuburkan dicampur tanpa membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan berdasarkan agamanya. Saya sempat melihat sebuah makam orang Kristiani tepat bersebelahan dengan makam seorang muslim, suatu hal yang belum pernah kita lihat di pemakaman di kota besar seperti Jakarta. Di pemakaman ini pula terletak makam Kiai Madrais dan Pangeran Tedjabuana yang menurut dengan cerita orang disana mengalami ngahiyang atau moksa dimana tubuhnya hilang sama sekali tanpa bekas ketika kuburannya dibongkar untuk dipugar.

Sore hari dan malamnya kami masih sempat untuk melihat dan mendokumentasikan proses perbaikan Paseban yang dilakukan warga sekitar. Perbaikan paseban dilakukan dalam tiga shift, yaitu pagi, siang dan malam hari sehingga proses perbaikan berlangsung non-stop selama 2 bulan. Saat kami mendokumentasikan proses perbaikan tersebut tampak bagian tengah dan atas dari paseban yang mengalami perbaikan besar-besaran. Yang menjadi pertanyaan saya dan Henri, mengapa warga sekitar mau membantu perbaikan paseban tersebut? Sebegitu besarkah pengaruh dari seorang sosok Rama Djati pada warga sekitar? Pertanyaan itu yang membuat saya ingin kembali ke Cigugur awal tahun depan, sebelum Seren Taun dimulai.


Warga bergotong-royong memperbaiki Paseban


Warga tetap bekerja memperbaiki Paseban di malam hari

Malamnya kami pulang ke Bandung, tepat pukul 1 malam travel menjemput didepan rumah dan kami pamit kepada Ibu mas Ira yang sangat ramah dan baik selama kami tinggal di rumahnya. Sewaktu pulang, mobil melintasi Paseban yang tampak masih terang dengan lampu yang menerangi para pekerja memperbaiki gedung tersebut.

Tuesday, October 03, 2006

On Assignment : Pets, Men Best Friend ?

Minggu ini, saya memutuskan untuk menggali cerita mengenai hewan-hewan peliharaan yang mengalami cacat karena diamputasi. Angle yang ingin saya sampaikan adalah posisi pet, sebagai "men's best friend" dimana sebagai teman terbaik manusia, mereka setia menemani, bermain sampai menjaga majikannya. Namun ketika mereka tidak lagi "utuh" atau mengalami amputasi karena kecelakaan atau penyakit apakah mereka tetap dianggap teman terbaik manusia atau bisa dibilang apakah manusia bisa menjadi "Pet's best friend"? Saya mencoba mengangkat issue ini melalui foto-foto hewan-hewan tersebut.

Saya hari ini mengunjungi Pondok Pengayom Hewan (PPS) di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan sebagai bagian dari project saya ini. Hari ini rencananya saya hanya melihat-lihat saja dan sekadar berencana mengenai foto seperti apa yang akan saya ambil, namun saya tetap membawa kamera pocket saya untuk mengambil beberapa gambar. Di PPS saya bertemu dengan Drh. Dilla yang mengizinkan saya untuk melihat-lihat dan membawa saya melihat hewan-hewan yang cacat karena amputasi. Hampir semua hewan disini merupakan hewan peliharaan yang tidak lagi diinginkan oleh pemiliknya entah karena penyakit berat, cacat ataupun sudah tua.

Rencananya saya akan kembali lagi untuk mengambil gambar yang lebih terencana dan lebih baik, serta juga mengunjungi Rumah Sakit Hewan Jakarta.

Beberapa foto yang tadi saya ambil :


Kucing yang diamputasi salah satu kakinya, namanya Buntung (a bit ironic isn't it?)


Pengky, anjing yang kehilangan kakinya karena amputasi akibat infeksi yang dideritanya


Pengky harus memakai alat bantu beroda untuk bisa bergerak dengan lincah


Bento kehilangan kaki depannya akibat terlindas kendaraan

To be continued....

Saturday, September 30, 2006

Kutaklukan Gunung Itu!

Perjalanan itu memakan waktu 8 jam yang disertai oleh kantuk di mata, dingin yang menusuk daging namun ketika akhirnya saat kaki menapak tanah datar tanda kami sudah sampai di puncak gunung gede, tidak dapat dibayangkan bagaimana gembiranya diri ini, badan tidak lagi mengigil dan mata segar seperti habis mandi pagi. Akhirnya bisa
kukatakan pada diriku, gunung itu telah kutaklukan, gunung pertama yang kutaklukan.

Perjalanan mendaki (hiking) gunung sebenarnya dimulai dari ajakan teman kuliah saya, Yudi yang minggu itu seperti sibuk mengajak semua teman-teman dikelas untuk ikut. Ia mengajak kami untuk mengikuti open hiking dari kelompok pecinta alam Universitas Tarumanegara. "Ikutan yok ke gunung gede, cuma 85 ribu uda dapet makan, kaos dan topi" katanya waktu itu. Yang ikut mendaftar pada akhirnya ada 5 orang yaitu saya, Yudi, Widianto, Januar dan Jansson. Rencananya kami berangkat hari sabtu sore (23/9) dari kampus I Untar.

Sabtu itu kami berangkat menggunakan 2 buah truk tentara (tronton), kira-kira ada sekitar 50 orang yang ikut berangkat hiking dan kebanyakan merupakan anggota dari Marsipala (kelompok pecinta alam Untar). Tujuan kami adalah menuju cipanas dimana disana terdapat salah satu jalur pendakian ke gunung gede. Saat perjalanan saya sempat berkenalan dengan beberapa anggota Marsipala yang salah satunya mengira kami adalah senior dari Marsipala karena tampang kami yang sudah 'berumur' dan asing. Waktu menunjukkan pukul 9.30 ketika kendaraan kami akhirnya sampai di pos pendakian gunung gede, saat itu udara sudah cukup dingin.

Rencana malam itu, kami akan berangkat pada pukul 10.00 malam dan peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, kami berada di kelompok 3 yang berarti kami harus menunggu 2 kelompok sebelum kami untuk berangkat terlebih dahulu. Terdapat 10 orang di kelompok kami dan tampaknya kami merupakan satu-satunya yang 'tidak berpengalaman' dalam hal daki-mendaki. Pemimpin di kelompok kami adalah Chris yang merupakan ketua panitia dari acara ini. Setelah menunggu 20 menit akhirnya kelompok kami jalan juga dan senter mulai di hidupkan karena jalan didepan kami sama sekali gelap gulita. Sekitar 7 kilometer dan 5 pos yang harus kami lalui untuk mencapai tujuan, namun karena malam masih panjang, semangat pun masih besar.

Ternyata belum sampai 1 kilometer ditempuh, Yudi tampaknya sudah kehilangan semangat besarnya ketika kami menemui tangga-tangga yang amat melelahkan untuk didaki. Hampir saja ia menyerah apabila pos pertama masih jauh, beruntung pos tersebut hanya 100 meter setelah melewati tangga-tangga itu. Hanya 20 menit kami istirahat untuk kemudian melanjutkan, tidur dan istirahat yang terlalu lama sangat tidak disarankan dalam perjalanan. Singkat kata kami harus mencapai puncak tanpa tidur sama sekali malam itu, rencana awal pukul 5 pagi kami sudah sampai di puncak.

Tidur memang merupakan pantangan apabila ingin mencapai puncak namun tidak untuk yang namanya istirahat, terbukti tidak terhitung lagi berapa kali kami istirahat ditengah perjalanan, baik yang singkat maupun yang cukup lama sampai 15 menit. Namun satu hal yang saya pelajari, sebanyak-banyaknya istirahat, baik singkat maupun yang lama, jangan sekali-kali menyalakan api unggun apabila masih ingin melanjutkan perjalanan. Mengapa? pertama karena api unggun bisa menyebabkan kebakaran, dan kedua yang merupakan alasan yang terpenting : api unggun hanya bisa menghangatkan badan sesaat, ketika kembali berjalan, dinginnya udara akan berlipat ganda seperti yang saya alami saat beristirahat di pos 4.

Pukul empat pagi, saya masih ingat benar ketika itu tidak ada lagi tanjakan ataupun tangga yang memberatkan langkah. Yang ada hanyalah hamparan padang luas yang indah ditemani dengan percikan sinar mentari yang segera terbit dibalik gunung yang mengelilingi padang tersebut. Dalam hati saya bergumam "It's totally worth it!". Banyak tanaman-tanaman yang belum pernah saya lihat sebelumnya yang dikelilingi dengan hamparan rumput yang amat luas. Namun kebahagiaan itu cuma sesaat dirasakan ketika saya sadari bahwa dataran yang saya pijak itu bukanlah puncak dari gunung gede dan saya makin percaya ketika melihat tanda panah menuju ke puncak : 1.5 km. Tiba-tiba kaki bertambah berat dan dingin makin menjadi-jadi, ternyata perjalanan belum usai juga, gunung itu belum juga kutaklukan.


Sesaat setelah mencapai puncak Gunung Gede (2958 mt)


View from the top (1)


View from the top (2)


View from the top (3)


Yudi dengan salah satu peserta (lupa namanya)

Sebenarnya jarak 1.5 km itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan 7 km yang sudah dijalani tetapi karena perut amat lapar dan makanan sudah habis pada perjalanan 7 km tersebut jadilah kami beristirahat setiap 100 meter yang membuat lama perjalanan menuju puncak molor menjadi 1.5 jam. Setelah memastikan kami benar-benar di puncak gunung gede setinggi 2958 meter, kamera saya keluarkan untuk memotret pemandangan disana. Di puncak akhirnya kesempatan ada untuk tidur sejenak menghilangkan kantuk sejak semalam. Walau tidur hanya sejam rasanya seperti 5 jam istirahat, badan menjadi segar kembali dan siap untuk turun, ya kita sudah harus turun gunung, kembali menyusuri 8.5 km yang tadi sudah didaki.


Me and the mountain


Di alun-alun Suryakencana


Salah satu vegetasi yang ada di alun-alun


View di Alun-alun Suryakencana


Saya diapit oleh Dora (kiri) dan Elvin (kanan), she's cute I must say

Perjalanan turun walau lebih singkat, ternyata lebih melelahkan daripada naik. Ditambah dengan beberapa anggota kelompok yang ingin cepat-cepat sampai kebawah membuah saya dan Yudi tertinggal jauh sedangkan wido dan jansson sudah jauh tertinggal dibelakang dan Januar masih berada dipuncak sibuk menggoda kaum hawa disana, sehingga kami berdua mencari jalan sendiri turun kebawah. Kami memutuskan untuk beristirahat setiap 200 meter agar kaki tidak terlalu pegal. Kaki saya waktu itu sudah terasa amat pegal, mungkin karena istirahat dan kosongnya perut kami. Singkatnya kami sampai di bawah pukul 3, sialnya semua warung atau tempat makan tidak ada yang buka, karena hari itu hari pertama bulan puasa. Kesal dan lapar kami menunggu dibawah, kesal karena kami harus menunggu orang-orang yang tampaknya tidak tahu diri berlama-lama diatas membuat orang lain lama menunggu mereka untuk bersama-sama pulang. Tampaknya kekurang siapan dari panitia mulai terlihat, terbukti dari terlambatnya waktu pulang kami dari rencana awal pukul 1 menjadi pukul 5 sore. Namun saya tidak mau membuat kekesalan saya melebihi kepuasan telah menaklukan gunung gede. Kami sampai di Jakarta pukul 8 malam.

Wednesday, September 27, 2006

Twilite Orchestra's Musicademia


Sherina saat tampil bersama Twilite Orchestra

Saya selalu menghargai segala jenis musik, walaupun tidak semuanya cocok ditelinga saya. Musik menurut saya adalah ciptaan manusia yang paling ajaib selain tentunya film. Banyak sekali jenis musik yang saya sukai seperti Country, Jazz, Rock, Blues, Reggae, Alternatif sampai Pop sekalipun (but not boybands!). Musik Orkestra bisa dibilang juga merupakan musik yang sangat bisa saya dengar dan nikmati. Maka ketika Jumat minggu lalu (22/9), ada teman yang menawarkan tiket pertunjukan Twilite Orchestra yang bertajuk Musicademia malam itu juga, saya langsung mengiyakan tawarannya.


Konduktor Twilite Orchestra, Addie MS

Perkenalan saya dengan musik orkestra sebenarnya terjadi ketika saya duduk di bangku SMU, waktu itu saya membeli album kelompok The Scorpions yang melakukan kolaborasi dengan Berlin Philharmonic Orchestra pada lagu Moment of Glory. Namun saya belum pernah sekalipun nonton secara langsung sebuah orchestra, pertama karena harganya mahal, kedua dulu saya itu penakut sekali kalo mau pergi keluar rumah (penyakit xenophobia yang berlebihan). Baru sekarang deh kesampaian nonton orkestra langsung salah satunya karena tiketnya cukup murah, hanya 25 ribu saja.


Addie MS

Pertunjukan malam itu dimulai pada pukul 20.00 di Istora senayan, tempat yang sebenarnya kurang representatif karena aslinya merupakan arena olah raga untuk olahraga bulutangkis dan bola Voli. Pada lembaran program yang dibagikan terdapat 17 buah lagu pada repertoar malam itu. Kebanyakan dari lagu-lagu tersebut merupakan lagu yang fasih kita dengar sehari-hari seperti contohnya Theme dari Magnificent Seven yang juga merupakan theme dari iklan Marlboro, theme dari Mission Impossible dan All I Ask of You dari The Phantom of The Opera serta tidak lupa beberapa simfoni lagu dari game Final Fantasy yang sangat populer. Addie MS selaku konduktor dari Twilite Orchestra menjelaskan tentang tema pada Musicademia malam itu yaitu Patriotissmo yang berarti sangat bersemangat yang menggambarkan lagu-lagu yang akan dimainkan akan mengobarkan semangat patriotik penonton dan itu dibuktikan lewat lagu Indonesia Raya sebagai lagu pertama.


Twilite Chorus yang juga didukung oleh beberapa paduan suara universitas


James Egglestone saat membawakan O Sole Mio

Saya sendiri sangat menikmati simfoni-simfoni yang dimainkan terutama lagu O Sole Mio yang dibawakan dengan apik oleh penyanyi tenor asal Australia, James Egglestone. Selain James, Sherina, Delon dan Kevin Aprillio juga mengisi lagu yang dibawakan oleh TO. Kualitas suara dari Sherina patut diacungi jempol, setelah mampu membawakan dengan sangat baik lagu All I Ask of You yang ia bawakan bersama Delon yang malam itu kualitasnya kalah jauh dibanding yang performer lain. Secara pribadi saya sangat suka pada anchor yang dimainkan oleh TO yang berjudul Plink Plank Plunk karya Leroy Anderson, sebuah komposisi simfoni indah antara biola dan cello yang dimainkan dengan cara dipetik (piccacato).


Sherina yang malam itu tampil anggun


Sherina menyanyikan lagu dari game Final Fantasy

Pada anchor terakhir sebuah musik dari Final Fantasy VII dibawakan TO bersama-sama dengan Twilite Chorus dan band J Rock Wasabi, sungguh mengesankan sebagai simfoni penutup. Akhir pertujukan walau ada beberapa kekurangan seperti sound sistem yang kurang dapat menjangkau seluruh gedung tetapi semua itu tidak mengurangi kekaguman saya. From my opinion a money well spent!.

Monday, September 25, 2006

150 jam di pulau dewata (6)

Karena mobil sewaan sudah dikembalikan maka hari terakhir kami pun hanya di habiskan di Kuta saja. Kurnia dan Hermanto sibuk mencari oleh-oleh tambahan, Marwanto dan Suwandy bersemangat dalam menjajal papan selancar di pantai Kuta. Sedangkan saya? Cukuplah tidur-tiduran di kamar losmen sambil membaca buku. Bukannya saya ini pemalas, ataupun teramat bosan dengan Bali tetapi sakit akibat berjemur kemarin semakin menjadi-jadi saja.

Satu-satunya cerita di hari itu mungkin Suwandy yang mengeluarkan 250 ribu untuk berselancar selama 1 jam saja. Mengapa semahal itu? Itu karena ia mematahkan papan selancarnya setelah 1 jam menjajalnya di ombak pantai Kuta. Karena peristiwa itu ia pun harus membayar ongkos servis papan tersebut. Jadilah sepanjang sore itu Suwandy dan "kursus selancarnya" menjadi bahan olok-olok yang lain terutama saya yang membutuhkan hiburan untuk menghilangkan sakit di kulit.

Sekitar jam 8 malam kami check out dari hotel untuk terbang kembali ke Jakarta. Kami mendapat penerbangan jam 11 malam dengan maskapai Air Asia, rencana kami sampai di Jakarta pukul 12 tepat WIB. Ketika waktunya boarding kami pun mengucapkan selamat tinggal pada Bali, namun tentunya juga sampai jumpa kemudian, definitely!


Suasana di bandara setelah mendarat di Jakarta

The End

Thursday, September 21, 2006

150 jam di pulau dewata (5)

Hari kelima

Hari kelima kami bangun sangat siang mengingat hari yang sangat melelahkan sebelumnya. Kami bangun pukul 11 siang dan hari itu sebenarnya tidak ada agenda perjalanan karena sorenya Andhika harus pulang ke Jakarta lebih dulu untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Jadi siang itu kami hanya jalan-jalan di Pantai Kuta yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari hotel tempat kami tinggal. Disana saya hanya berjemur sementara teman-teman berenang disana. Bagi yang ingin berjemur di pantai harap diperhatikan kata-kata saya berikut : Jangan pernah berjemur di pantai tanpa menggunakan UV Lotion seperti yang saya lakukan. Ya, saya berjemur tanpa lotion apa pun seperti layaknya jagoan dan hasilnya setelah 2 jam berjemur badan saya memerah seperti babi guling yang siap di santap.

Sehabis berjemur dan kembali ke hotel kami pergi untuk mengantarkan Andhika ke rumah Pak De-nya, rencananya ia akan terbang ke Jakarta bersama Pak De-nya sore itu. Namun sebelumnya kami makan siang dahulu dengan hidangan khas Bali yaitu ayam betutu yang merupakan hidangan khas daerah Gilimanuk berupa ayam rebus yang diisi dengan bumbu khas daerah sana. Cukup eksotis rasanya menurut saya namun ternyata perut saya tidak cocok dengan rasanya, sehabis mengantarkan Andhika ke rumah Pak De-nya, perut rasanya mulai mulas. Saat perjalanan kembali ke hotel, mobil kami mengalami kecelakaan kecil yaitu ban belakang kami pecah karena menghantam trotoar. Sakit perut pun harus ditahan lebih lama lagi.

Setelah urusan di kamar mandi sudah selesai dibereskan, kita kembali pergi ke mall terbesar di bali yang dikenal sebagai centro yang letaknya persis dipinggir pantai Kuta. Akibat dari berjemur tadi sudah mulai terasa saat itu, badan sudah sakit apabila digerakkan dan rasanya panas serta perih apabila disentuh sedikit saja kulit ini dan itu belum seberapa dengan apa yang akan saya rasakan 4 hari selanjutnya. Jadi pelajaran hari ini adalah jangan sekali-kali berlagak jagoan dengan berjemur tanpa sun lotion.

Hari keenam

Hari ini merupakan kesempatan terakhir untuk melakukan full-day trip namun karena kecelakaan kecil yang kami alami kemarin, kami harus terlebih dahulu membawa mobil sewaan kami ke bengkel. Dengan bantuan kenalannya Suwandy, kami tidak perlu mengalami kesulitan untuk mencari bengkel untuk menservis ban kami yang robek sehari sebelumnya. Kami pun diajak untuk mengunjungi rumahnya yang sedang di renovasi. Setelah pamit dan berterima kasih kami menuju tujuan selanjutnya yaitu Sukawati untuk belanja oleh-oleh.


Berfoto bersama didepan rumah kenalan Suwandy (kedua dari kiri)


Di Sukawati teman-teman saya sibuk untuk menawar dan membeli oleh-oleh, namun saya sendiri tidak terlalu bersemangat dan hanya membeli 2 potong kaus serta kalung titipan teman di Jakarta. Dua tahun lalu ketika saya pertama kali ke Bali, saat belanja ke Sukawati, saya terlalu bersemangat dan akibatnya cenderung boros sehingga sekarang saya lebih perhitungan dan bisa dibilang cenderung pelit (well, I'm on a low budget here!). Setelah semua selesai dengan urusan belanjanya kami tancap gas ke daerah Ubud untuk bertemu teman saya Glen, anggota Soka Gakkai asal Amerika yang saya kenal ketika sama-sama bertugas menjadi fotografer di Kaikan SGI Jakarta, Kemayoran.

Glen sebenarnya amat sibuk terutama pada siang harinya karena ia sedang sibuk mengawasi pembangunan rumahnya di Ubud. Namun sorenya ia dapat menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya di TutMak, salah satu restoran di pusat desa Ubud. Ia pun bercerita tentang rumahnya yang baru ia mulai pembangunannya dan akan selesai paling tidak tahun depan, ia tampaknya sangat bersemangat dengan rumahnya itu. Saya dan ia pun berbincang-bincang mengenai banyak hal terutama kegiatan anggota SGI di Bali. Ia bercerita tentang Ubud yang menurutnya sangat menyenangkan untuk ditinggali, sangat nyaman dan tenang dan itu sebabnya banyak seniman baik lokal maupun mancanegara memutuskan untuk tinggal di Ubud. Waktu semakin malam dan kami pun berpamitan setelah sebelumnya ia mengundang saya dan kawan-kawan kembali ketika rumahnya sudah rampung tahun depan.


Glen (center) with the five of us

Perjalanan menuju Ubud merupakan perjalanan kami terakhir di Bali, esok malam kami kembali ke Jakarta.

Bersambung ke hari terakhir....

Tuesday, September 19, 2006

150 jam di pulau dewata (4)

Bunyi weker dari handphone mengawali hari keempat kami di pulau Dewata. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi WITA, ya tiga pagi ketika langit masih hitam pekat dan dentuman musik dari cafe sebelah masih terdengar jelas. Petualangan kami hari itu memang dimulai sangat pagi karena rencananya kami akan melihat matahari terbit di pantai Sanur. sekitar pukul setengah empat, semua sudah siap walau mata masih
sayup-sayup dan kami pun tancap gas ke Sanur. Menurut orang di losmen kami, pantai Sanur sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja namun karena kita belum tahu jalan detilnya maka kita berangkat lebih pagi.


Langit Pantai Sanur menjelang matahari terbit

Benar saja dugaan kami semula, walau dalam waktu 15 menit mobil kami sudah sampai di daerah Sanur namun untuk mencari pantainya susahnya setengah mati, banyak jalan yang tidak jelas belum lagi pantai yang "menyeramkan". Seiring dengan aksi pilih-pilih pantai yang kami lakukan waktu terus berjalan dan sesampainya di pantai Sindhu yang kami "pilih" waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WITA hanya kita-kira 45 menit sebelum matahari terbit. Di pagi hari buta itu langit benar-benar cerah, saya memilih spot dekat pantai sambil tiduran menatap atap langit yang penuh dengan bintang (sayang banget ga punya pacar :(). Disamping di pantai Sanur, sebenarnya kita juga bisa melihat sunrise di pantai Nusa Dua yang mungkin lebih ramai karena hotel-hotel top banyak berada didaerah itu.


Sunrise di Pantai Sanur


Matahari yang bersembunyi di balik awan

Ketika matahari terbit dari garis horizon jauh pantai, tujuan semula untuk motret seperti terlupakan, karena saya lebih banyak memandang, menikmati mentari pagi itu. Banyaknya awan yang menutupi mentari tidak mengurangi keindahannya. Kami masih bermain-main di pantai sampai pukul 7 pagi, ketika semua sudah capai dan ingin tidur kembali di hotel.


Sebuah perahu melintasi Pantai Sanur

Siangnya kami pergi ke Garuda Wisnu Kencana atau lebih sering disebut dengan singkatanya : GWK. Tarif masuk disana Rp. 10000 perorang plus Rp 5000 untuk parkir mobil. GWK sendiri awalnya dibangun untuk menjadi tempat kebudayaan dan kesenian dimana di tempat ini terdapat sebuah patung dewa Wisnu yang besar setinggi 30 meter. Menurut pemandu disana proyek GWK ini belum selesai dan baru mencapai 20% saja dan patung dewa Wisnu yang dipajang disana rencananya akan menjadi bagian dari sebuah landmark besar tinggi yang menyaingi patung Libery di AS.


Berfoto bersama didalam ampliteater GWK


Patung Dewa Wisnu setinggi 30 meter


Bongkahan-bongkahan tebing disekitar GWK

Rencananya patung yang utuh akan berupa dewa Wisnu menaiki burung garuda dengan total tinggi 140 meter dan diproyeksikan jadi tahun 2008 nanti. Selain patung dewa Wisnu disini juga banyak objek menarik seperti bongkahan-bongkahan tebing yang tinggi yang tersebar di sekitar GWK serta sebuah amplitheater untuk pertunjukkan disana. Namun melihat perkembangan proyek tersebut sejauh ini saya sangsi dapat selesai pada waktunya nanti.


Patung Garuda yang nantinya menjadi 'kendaraan' Dewa Wisnu


The six of us infront of The Garuda Statue

Persinggahan kami selanjutnya adalah sebuah pura di ujung tebing Uluwatu. Pura tersebut terkenal dengan banyaknya kera yang berkeliaran disana dan kami sudah diperingatkan agar berhati-hati dengan barang-barang kami, terutama kacamata dan handphone. Setelah membayar uang masuk Rp. 3000/orang kami pun memasuki pura dengan kain kuning terikat di pinggang kami.


Pohon-pohon yang mengering disekitar Pura

Memang benar setelah berjalan sesaat kami menemui banyak sekali kera disana namun pemandangan dari atas tebing mengalahkan segalanya! Mungkin ini adalah view terbaik yang pernah saya lihat sepanjang liburan saya di Bali. Indah sekali pemandangan dari atas dimana pura ini berbatasan langsung dengan tebing dengan tinggi kurang lebih sekitar 80 meter. "Kenakalan" kera di pura tersebut terbukti benarnya ketika Marwanto dicuri kacamatanya, beruntung ada pawang yang dapat mengambilkan kacamatanya kembali.


Menikmati view dipinggir tebing (yes, that's my feet)


Salah satu monyet yang terkenal keliarannya di Uluwatu

Selanjutnya, Dreamland menjadi tujuan kami berikutnya. Sebenarnya Dreamland merupakan sebuah perumahan yang kabarnya dimiliki oleh Tommy Soeharto yang masih dalam tahap pengembangan sampai sekarang. Untuk masuk ke pantai kami harus melewati 2 pos pengamanan dan membayar 5 ribu perorang.


Pantai Dreamland

Dari kejauhan sudah terlihat sedikit keindahan pantai tersebut, pantulan keemasan dari matahari terpancar dengan indahnya dari birunya laut. Teman-teman berencana untuk berenang di pantai, saya sendiri malas untuk "main air" dan memilih untuk motret saja. Di Dreamland lebih banyak terlihat pada surfer daripada orang-orang yang berenang.


Surfing di Dreamland


Surfer di Dreamland

Matahari sudah terbenam dan waktunya makam malam hampir tiba, Jimbaran menjadi tujuan untuk makan malam kami hari itu. Jimbaran memang sudah terkenal dengan hidangan lautnya yang disajikan di pinggir pantai, sungguh sempurna untuk pasangan yang sedang kasmaran. Untuk urusan harga memang makanan di Jimbarang sedikit lebih mahal dibandingkan di Denpasar atau di Kuta, namun masih sangat terjangkau dan ekonomis untuk ukuran orang Jakarta dan yang terpenting semua itu sepadan dengan yang kita dapatkan, oh ya satu lagi Nasi ternyata tidak dipungut bayaran disana, jadi mau nambah berapa bakul tidak usah takut dengan kantong :D.


Suasana makan malam di Jimbaran


View malam hari di Jimbaran

Hari ini cukup melelahkan karena kami ke empat tempat sekaligus, yang terbanyak dari hari-hari sebelumnya. Balik ke losmen semua sangat letih dan langsung 'crash' ke ranjang dan sibuk dengan dengkurannya masing-masing.

Bersambung ke hari kelima....