Wednesday, October 12, 2005

Siapa yang Harus Mengerti

Lama rasanya saya tidak menulis, sebenarnya banyak yang ada dalam pikiranku yang ingin saya sampaikan melalui tulisan. Namun, menulis terasa malas beberapa hari lalu, mungkin karena kejenuhan rutinitas yang ada.

Bulan ini, tulisan dikoran-koran dipenuhi dengan issue panas seputar kenaikan dana BBM dan dana kompensasinya. Media elektronik pun sama saja, dari pagi sampai sore, issue utama yang disampaikan masih seputar kenaikan harga BBM selain pengusutan bom Bali tentunya.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM itu salah, karena saya tidak mengetahui seluk-beluk politik serta tidak cukup mengetahui ilmu ekonomi. Tetapi dari sudut pandang saya sebagai orang awam, saya bisa mengatakan bahwa kebijakan ini lucu dan menggelikan, paling tidak bagi saya. Mengapa saya bilang mengelikan? Karena setiap kali ditanyakan dan dipojokan dengan kenaikan harga BBM yang tinggi dan dikatakan dapat mematikan daya beli masyarakat, pemerintah hanya menggunakan tameng DANA KOMPENSASI BBM, "Itu sebabnya ada Dana Kompensasi BBM" jawab seorang wakil pemerintah.

Dana Kompensasi BBM sendiri adalah dana yang akan diberikan oleh pemerintah sebesar Rp.300 ribu untuk setiap keluarga miskin. Pertanyaannya apakah pemerintah mempunyai data yang lengkap tentang keluarga miskin di Indonesia? Jawab mereka tentu saja TIDAK. Disini lucunya, mereka (baca:pemerintah) ingin memberikan solusi berupa uang namun tidak tahu mau diberikan kemana. Kalau tidak tahu kemana ingin diberikan rasanya 'kantong ' sendiri bisa saja menjadi tujuan. Ibarat seorang ksatria yang ingin berlindung dari api dengan tamengnya, namun sayang tamengnya itu bolong-bolong.

Kenaikan harga BBM kali ini penuh dengan kontroversi dan pemerintah menyadari hal tersebut. Oleh sebab itu sering kali pemerintah mencoba untuk 'menenangkan' rakyat dengan mengiklankan dan mempromosikan kebijakannya ini. Saya sendiri (dan juga teman-teman saya) menerima sms dari DEPKOMINFO yang berisi pesan untuk mendukung kebijakan kenaikan harga BBM ini, di televisi banyak iklan layanan masyarakat yang berisi ajakan untuk 'mengerti' tentang kebijakan pemerintah ini. Bahkan Aa Gym pun ditarik oleh pemerintah untuk mempropagandakan kebijakan ini. Saya tertawa dan tidak habis pikir, apakah dunia sudah terbalik? Mengapa rakyat yang harus 'mengerti' kebijakan pemerintah, seharusnya justru pemerintah yang bisa mengerti kesusahan dan keinginan rakyat. Itu yang seharusnya terjadi, not the other way around.

Ada seorang menteri yang dalam smsnya menanggapi sebuah artikel di koran yang mengkritik kenaikan BBM, ia mengatakan "...we had to choose the lesser of two evils...", two evil disini artinya antara menaikan harga BBM atau mengorbankan budget belanja APBN. Saya tidak pernah merasakan bagaimana mengambil keputusan dalam pemerintahan, jadi saya tidak tahu itu sulit atau tidak. Mungkin sulit, namun yang rakyat ketahui bukan kesulitan pemerintah tapi kesulitan mereka sendiri, kesulitan rakyat, itu yang harusnya pemerintah ketahui.