Thursday, October 27, 2005

Motret untuk apa?

"Gua Motret untuk apa sih?" itulah pertanyaan yang beberapa kali terbersit dipikiranku. Akhir-akhir ini pertanyaan tersebut muncul kembali dan kali ini saya mencoba untuk mencari alasan sebenarnya. Untuk apa sih saya memotret? Pertanyaan itu muncul bukan karena saya bosan motret, karena saya tidak pernah bosan untuk memotret, hanya saja apa sih yang sebenarnya ingin saya cari dalam memotret. Aneh mungkin, gua yang motret kok tidak bisa dijawab sendiri pertanyaan itu. Tapi itulah yang terjadi pada diri saya sekarang.

Saya mulai motret kira-kira setahun lalu, ketika saya mendapatkan kamera pertama saya (Sony P-100) dari Ibu saya. Awalnya sih tujuan saya jelas, cuma mau motret iseng-iseng dan juga sebagai penunjang untuk mendesain web. Boleh dibilang kalo motret dulu itu tujuannya cuma karena iseng dan senang saja (sekarang juga masih senang sih kalo motret). Tujuan saya kemudian berubah, saya ingin membuat foto yang bagus sehingga bisa dibanggakan dan ditunjukkan ke teman-teman. Saya kemudian belajar secara otodidak tentang komposisi, oleh digital dan teknis dasar fotografi. Tujuan itu ada sampai saya tertarik dengan human-interest dan fotografi jurnalistik.

Ketika saya mendalami fotografi jurnalistik dan human-interest saya mendapat banyak pengalaman baru bukan hanya dalam bidang fotografi tapi dalam kehidupan saya secara keseluruhan. Memotret manusia dan kegiatan-kegiatannya bagi saya sangat unik dan menarik dan tentu saja saya sangat senang memotret bidang ini. Lalu tujuannya apa sih? Kenapa saya bisa senang dengan fotografi jurnalistik dan Human-Interest? Pertama tentu saja karena saya senang. Lainnya? saya tidak tahu...namun saya tahu ada perasaan dan tujuan yang tersimpan dalam benak dalam pikiran saya, hanya saja saya tidak bisa mengungkapkan tujuan itu dalam kata-kata. Mungkin selama saya masih merasa senang ketika motret, saya akan lanjut terus terlepas dari tujuan lainnya yang 'tersembunyi' dalam hati.

Ada pertanyaan lagi yang sering keluar juga yaitu "Sudahkah saya membuat foto yang bagus? yang cantik? yang mempesona? yang indah?". Pertanyaan ini cuma sekali muncul dalam pikiran saya karena saya sudah mempunyai jawaban dari pertanyaan tersebut. Saya merasa bahwa foto saya adalah ungkapan dari pandangan saya terhadap dunia ini, dengan cara saya sendiri. Oleh karena itu saya sudah cukup puas jika foto itu sudah dianggap bagus oleh diri saya sendiri. Bukan berarti saya ini orang yang keras kepala dengan idealisme fotografi saya, saya tetap sadar bahwa terkadang kita harus bisa menemukan titik temu antara selera pribadi dengan selera umum (baca: orang lain) seperti kata pak Aryono pada sebuah artikel. Namun bagi saya foto yang pernah saya tampilkan untuk publik tidak jelek bagi semua orang (setidaknya bagi saya).

Rony Zakaria, manusia yang suka motret manusia....