Monday, October 31, 2005

Hunting Bogor

Bogor adalah tujuan saya pada akhir pekan lalu. Saya bertiga bersama dengan Hadi dan Anwar pergi ke Bogor menggunakan kereta Pakuan Express dari stasiun kota. Rencananya hari itu kami akan menghadiri acara Street Hunting dan Buka puasa bersama dengan para fotografer Bogor. Kami berangkat pukul 1 siang, perjalanan dengan kereta itu merupakan pengalaman pertama saya naik kereta jadi terkadang saya agak norak didalam kereta. Perjalanan itu sendiri memakan waktu kurang lebih 1 jam karena beberapa kali kereta berhenti. Kami akhirnya sampai di stasiun Bogor pukul 2 siang.

Persinggahan pertama kami adalah sebuah panti asuhan yang menampung kira-kira 40 anak yang kebanyakan berasal dari kawasan timur Indonesia. Saya sempat mengobrol dan memotret beberapa anak disana. Karakter anak-anak yang saya temui disana sangat beraneka-ragam, ada yang periang, ada yang pemalu dan ada yang sangat pendiam. Saya sempat mengobrol singkat dengan salah satu anak dari Papua, kalau tidak salah Manuel namanya, ia tampak sangat pendiam dibanding teman-teman lainnya ketika saya ajak ngobrol pun ia hanya menjawab 1-2 patah kata saja. Terdapat nada kesedihan dari kata-kata yang ia ucapkan. Saya sangat penasaran dengan anak ini dan saya harap dilain waktu saya bisa mengunjungi ia lagi. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 siang kami pun mohon pamit dengan Pak Agus, pengurus panti asuhan tersebut.

Kami berangkat menuju Restoran Hartz Chicken, tempat kumpul yang telah ditentukan. Sampai disana kami termasuk yang paling awal tiba ditempat, karena baru ada beberapa orang yang sudah tiba dahulu. Saya berkenalan dengan cukup banyak teman-teman baru, bahkan ada teman yang datang dari Jakarta pula sama dengan kami bertiga. Saya pun akhirnya bisa bertemu dengan Bang Igor Firdauzi yang saya kagumi karya-karya fotonya. Tidak lupa juga berkenalan dengan bang Petrus Suryadi dan bang RAI. Street hunting pun mulai dengan berjalan di jalan sekitar walau tidak jauh. Saya sendiri hanya motret beberapa frame saja.

Pukul 17.48 semua peserta mulai kembali ke Hartz Chicken untuk berbuka puasa bersama. Sekitar hampir 40 orang tercatat mengikuti acara tersebut. Saat makan saya berkenalan dengan beberapa teman dari Jakarta. Pembicaraan kami mulai dari kamera sampai ke lensa. Akhirnya kami pun harus pulang dan kami cukup beruntung dapat nebeng dengan teman dari Jakarta, Roby dan istrinya yang juga mengikuti acara tersebut. Dalam perjalanan kami berbincang panjang dengan Roby yang ternyata cukup mempunyai pengalaman dan kenalan banyak dalam dunia fotografi. Cukup menyenangkan bisa berbincang dengannya. Saya sampai di rumah pukul 10 malam.

Thursday, October 27, 2005

Motret untuk apa?

"Gua Motret untuk apa sih?" itulah pertanyaan yang beberapa kali terbersit dipikiranku. Akhir-akhir ini pertanyaan tersebut muncul kembali dan kali ini saya mencoba untuk mencari alasan sebenarnya. Untuk apa sih saya memotret? Pertanyaan itu muncul bukan karena saya bosan motret, karena saya tidak pernah bosan untuk memotret, hanya saja apa sih yang sebenarnya ingin saya cari dalam memotret. Aneh mungkin, gua yang motret kok tidak bisa dijawab sendiri pertanyaan itu. Tapi itulah yang terjadi pada diri saya sekarang.

Saya mulai motret kira-kira setahun lalu, ketika saya mendapatkan kamera pertama saya (Sony P-100) dari Ibu saya. Awalnya sih tujuan saya jelas, cuma mau motret iseng-iseng dan juga sebagai penunjang untuk mendesain web. Boleh dibilang kalo motret dulu itu tujuannya cuma karena iseng dan senang saja (sekarang juga masih senang sih kalo motret). Tujuan saya kemudian berubah, saya ingin membuat foto yang bagus sehingga bisa dibanggakan dan ditunjukkan ke teman-teman. Saya kemudian belajar secara otodidak tentang komposisi, oleh digital dan teknis dasar fotografi. Tujuan itu ada sampai saya tertarik dengan human-interest dan fotografi jurnalistik.

Ketika saya mendalami fotografi jurnalistik dan human-interest saya mendapat banyak pengalaman baru bukan hanya dalam bidang fotografi tapi dalam kehidupan saya secara keseluruhan. Memotret manusia dan kegiatan-kegiatannya bagi saya sangat unik dan menarik dan tentu saja saya sangat senang memotret bidang ini. Lalu tujuannya apa sih? Kenapa saya bisa senang dengan fotografi jurnalistik dan Human-Interest? Pertama tentu saja karena saya senang. Lainnya? saya tidak tahu...namun saya tahu ada perasaan dan tujuan yang tersimpan dalam benak dalam pikiran saya, hanya saja saya tidak bisa mengungkapkan tujuan itu dalam kata-kata. Mungkin selama saya masih merasa senang ketika motret, saya akan lanjut terus terlepas dari tujuan lainnya yang 'tersembunyi' dalam hati.

Ada pertanyaan lagi yang sering keluar juga yaitu "Sudahkah saya membuat foto yang bagus? yang cantik? yang mempesona? yang indah?". Pertanyaan ini cuma sekali muncul dalam pikiran saya karena saya sudah mempunyai jawaban dari pertanyaan tersebut. Saya merasa bahwa foto saya adalah ungkapan dari pandangan saya terhadap dunia ini, dengan cara saya sendiri. Oleh karena itu saya sudah cukup puas jika foto itu sudah dianggap bagus oleh diri saya sendiri. Bukan berarti saya ini orang yang keras kepala dengan idealisme fotografi saya, saya tetap sadar bahwa terkadang kita harus bisa menemukan titik temu antara selera pribadi dengan selera umum (baca: orang lain) seperti kata pak Aryono pada sebuah artikel. Namun bagi saya foto yang pernah saya tampilkan untuk publik tidak jelek bagi semua orang (setidaknya bagi saya).

Rony Zakaria, manusia yang suka motret manusia....

Monday, October 24, 2005

Anak-anak yang energik

Beberapa minggu ini, kesehatan saya kurang baik, mulai dari pilek, perut yang kurang 'nyaman' sampai napas yang rada sesak. Kalau dipikir-pikir tahun 2005 ini saya cukup sering sakit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga tahun ini cepat lewat dan saya bisa memulai lembaran kesehatan yang baru hehe....

By the way kemarin minggu saya berpergian bersama Henri ke sanggar ciliwung JRK di Bukit Duri, jatinegara. Kami bertemu di atrium Senen sebelum berangkat bareng ke Sanggar Ciliwung. Oh ya, ada pengalaman yang aneh di atrium, baru kali pertama saya dikenai charge untuk ke wc dalam sebuah mal, baru pertama kali itu dan itu hanya di senen. Sesampainya di Sanggar Ciliwung, saya bertemu dengan beberapa aktivis JRK yang pernah saya temui dahulu pas demo semanggi, seperti Eko, Deni, Isnu dan Hexa. Setelah itu ada rapat untuk rencana monitoring dan pendataan rakyat miskin. I'm not the biggest fan of meetings..so I'm quite bored but try to pay attention although just a little bit.

Sehabis rapat, saya, Henri dan Hexa jalan-jalan di kawasan sekitar dengan rencana ingin memotret juga. Daerah tersebut merupakan kawasan di pinggir kali, dimana banyak sekali rumah-rumah sederhana yang sangat padat. Kehidupan disana benar-benar terasa 'sederhana' sekali bahkan 'terlalu sederhana'. Saya ketika keliling kehilangan mood untuk memotret, badan terasa kurang enak dan lemas sekali. Saya pun hanya mengabadikan 3-4 frame saja. Ada pengalaman baru bagi saya, yaitu naik 'getek' untuk menyeberangi kali (sedikit norak kali yah hehehe :)). Kami kembali ke sanggar karena hari mulai gelap dan mendung.

Di sanggar kami santai sebentar sampai anak-anak mulai berdatangan ke sanggar. Sanggar Ciliwung merupakan wadah bagi anak-anak sekitar untuk mendapatkan pengajaran serta bermain bersama. Saya turun kebawah untuk memotret kegiatan anak-anak tersebut.

Ternyata memotret anak-anak kecil tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. They're full of energy!! Mereka seakan mengingatkan saya betapa besar semangat seorang anak kecil, termasuk saya dulu. Semangat yang ingin saya tumbuhkan kembali (bukan berarti ingin jadi anak kecil lagi nih...). Mereka juga menyadarkan saya 21 tahun ternyata usia yang juga cukup tua yah, kewalahan saya dibuatnya memotret mereka. Energi saya kalah jika dibandingkan dengan anak-anak itu.

Saya santai sampai buka puasa magrib, saya dan Henri menemani Hexa buka puasa (yang puasa sih Hexa doang hehehe...), minum kopyor enak....Perhentian terakhir hari itu di gramedia dekat senen. Saya pamit kepada Hexa dan Henri pukul 8.30 malam. Capek juga hari itu, badan terasa kurang sehat, pulang-pulang dikerok....

Wednesday, October 12, 2005

Siapa yang Harus Mengerti

Lama rasanya saya tidak menulis, sebenarnya banyak yang ada dalam pikiranku yang ingin saya sampaikan melalui tulisan. Namun, menulis terasa malas beberapa hari lalu, mungkin karena kejenuhan rutinitas yang ada.

Bulan ini, tulisan dikoran-koran dipenuhi dengan issue panas seputar kenaikan dana BBM dan dana kompensasinya. Media elektronik pun sama saja, dari pagi sampai sore, issue utama yang disampaikan masih seputar kenaikan harga BBM selain pengusutan bom Bali tentunya.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM itu salah, karena saya tidak mengetahui seluk-beluk politik serta tidak cukup mengetahui ilmu ekonomi. Tetapi dari sudut pandang saya sebagai orang awam, saya bisa mengatakan bahwa kebijakan ini lucu dan menggelikan, paling tidak bagi saya. Mengapa saya bilang mengelikan? Karena setiap kali ditanyakan dan dipojokan dengan kenaikan harga BBM yang tinggi dan dikatakan dapat mematikan daya beli masyarakat, pemerintah hanya menggunakan tameng DANA KOMPENSASI BBM, "Itu sebabnya ada Dana Kompensasi BBM" jawab seorang wakil pemerintah.

Dana Kompensasi BBM sendiri adalah dana yang akan diberikan oleh pemerintah sebesar Rp.300 ribu untuk setiap keluarga miskin. Pertanyaannya apakah pemerintah mempunyai data yang lengkap tentang keluarga miskin di Indonesia? Jawab mereka tentu saja TIDAK. Disini lucunya, mereka (baca:pemerintah) ingin memberikan solusi berupa uang namun tidak tahu mau diberikan kemana. Kalau tidak tahu kemana ingin diberikan rasanya 'kantong ' sendiri bisa saja menjadi tujuan. Ibarat seorang ksatria yang ingin berlindung dari api dengan tamengnya, namun sayang tamengnya itu bolong-bolong.

Kenaikan harga BBM kali ini penuh dengan kontroversi dan pemerintah menyadari hal tersebut. Oleh sebab itu sering kali pemerintah mencoba untuk 'menenangkan' rakyat dengan mengiklankan dan mempromosikan kebijakannya ini. Saya sendiri (dan juga teman-teman saya) menerima sms dari DEPKOMINFO yang berisi pesan untuk mendukung kebijakan kenaikan harga BBM ini, di televisi banyak iklan layanan masyarakat yang berisi ajakan untuk 'mengerti' tentang kebijakan pemerintah ini. Bahkan Aa Gym pun ditarik oleh pemerintah untuk mempropagandakan kebijakan ini. Saya tertawa dan tidak habis pikir, apakah dunia sudah terbalik? Mengapa rakyat yang harus 'mengerti' kebijakan pemerintah, seharusnya justru pemerintah yang bisa mengerti kesusahan dan keinginan rakyat. Itu yang seharusnya terjadi, not the other way around.

Ada seorang menteri yang dalam smsnya menanggapi sebuah artikel di koran yang mengkritik kenaikan BBM, ia mengatakan "...we had to choose the lesser of two evils...", two evil disini artinya antara menaikan harga BBM atau mengorbankan budget belanja APBN. Saya tidak pernah merasakan bagaimana mengambil keputusan dalam pemerintahan, jadi saya tidak tahu itu sulit atau tidak. Mungkin sulit, namun yang rakyat ketahui bukan kesulitan pemerintah tapi kesulitan mereka sendiri, kesulitan rakyat, itu yang harusnya pemerintah ketahui.

Monday, October 03, 2005

Liburan ke Lembang

Tanggal 1-2 Oktober lalu saya pergi ke Lembang, Bandung untuk mengikuti rekreasi karyawan bersama hampir seluruh karyawan Universitas Bina Nusantara. Kami berangkat pukul 7 pagi dan sampai kira-kira pukul 10 di Grand Hotel Lembang.

Sebenarnya tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan dari liburan singkat kemarin selain terdapat beberapa permainan yang diadakan oleh panitia. Saya sendiri kurang sreg dengan perlakuan panitia yang memanggil dengan menggedor-gedor pintu kamar. Mungkin mereka sedang melampiaskan 'hasrat' untuk 'memerintah' setelah sehari-hari 'diperintah'.

Hal yang paling mengejutkan hari itu adalah ketika mendengar kabar terjadi ledakan bom di Bali. Untuk kedua kalinya setelah tahun 2002 Bali kembali menjadi korban ledakan bom. Saya setelah mendengar berita tersebut, menyalakan televisi yang dipenuhi berita seputar ledakan di Bali. Yang membuat saya makin sedih adalah ketika diberitahukan di berita bahwa Jimbaran juga merupakan lokasi terjadinya ledakan. Setahun lalu saya makan malam bersama teman-teman saya di daerah Jimbaran dekat terjadinya ledakan bom malam itu, Jimbaran yang telah memberikan kesan mendalam bagi saya ikut di bom. Ada hal yang membuat saya sangat kecewa malam itu, ketika panitia acara (yang sudah mengetahui terjadinya bom) melanjutkan acara dengan aksi kembang api dan petasan. Memang itu hak orang untuk bersenang-senang, namun bagi saya, itu adalah bukti nyata ketidakpekaan kita pada situasi yang terjadi di tanah air. Bom terdengar biasa, angin lalu, seperti sebuah rutinitas yang terjadi setiap tahun. Rutinitas yang akan dianggap lalu sampai mereka peduli ketika itu terjadi pada mereka atau salah satu orang yang mereka kenal. Saya tidur dengan kekecewaan dengan negeri ini yang makin hancur saja.

Keesokan harinya saya 'dipaksa' bangun oleh teman saya yang mengajak pergi ke Tangkuban Perahu. Tadinya saya masih ingin memejamkan mata kembali. Namun berkat 'bujukan' teman saya akhirnya saya ikut juga kesana. Perjalanan menuju Tangkuban Perahu dilalui menggunakan angkot yang memakan waktu hampir satu jam. Di Tangkuban Perahu sebenarnya tidak terlalu menarik bagi saya. Keliling-keliling sebentar kemudian kami memutuskan pulang ke hotel. Setelah makan kami beres-beres untuk pulang ke Jakarta. Acara yang oleh Rektor BiNus dikatakan sebagai acara kebersamaan untuk kemesraan, bagi saya, tanpa ada maksud tidak menghargai kerja panitia, justru lebih tepat kebersamaan dengan keterpaksaan.