Monday, September 26, 2005

Sehari Menjadi Demonstran




Tanggal 24 September 2005, saya berkesempatan untuk memotret kegiatan demonstrasi mahasiswa untuk memperingati hari Tani Nasional dan peringatan peristiwa Semanggi. Kesempatan tersebut berawal dari sebuah email dari teman saya Henri Ismael beberapa hari sebelumnya, mengajak untuk memotret bareng kegiatan demonstrasi tersebut.

Awalnya, dari informasi yang didapat demonstrasi akan dimulai pukul 10 pagi, sehingga saya pun berangkat dari kampus pukul 9 agar sampai tepat waktu. Namun ditengah perjalanan saya dihubungi Henri bahwa jadwal demo diundur hingga pukul 12 siang. Saya tiba di Plaza Indonesia pukul 9.30, keliling-keliling sebentar melihat etalase-etalase toko yang belum buka, boleh dibilang saya termasuk pengunjung pertama di hari itu. Henri tiba pukul 10 dan kami pun berbincang sambil melihat kamera yang kami bawa masing-masing, saya sempat melihat kamera legendaris Leica M6 milik Henri.

Dalam perbincangan kami, Henri sempat mengutarakan pendapatnya mengenai fotografer-fotografer yang terlalu mengikuti 'pakem' yang ada. Ia tidak menyukai tipe seperti itu karena memotret seperti itu, bukanlah memotret lagi tapi menjual. Saya cukup sependapat dengan dia dalam hal ini, menurut saya fotografer boleh terinspirasi dengan karya-karya fotografer lain, kagum dengan cara dia memandang suatu peristiwa dan mengabadikannya dalam sebuah foto. Namun kita harus bisa melihat dunia dengan cara pandang kita sendiri dan mengabadikannya dengan cara kita sendiri bukan orang lain.

Menjelang jam 12 siang kami menunggu dimulainya demonstrasi sambil melanjutkan perbincangan di depan Plaza Indonesia. Demonstrasi siang itu adalah demonstrasi untuk memprotes kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras dan kebetulan hari itu adalah hari Tani Nasional. Matahari mulai bergerak ke atas kepala dan terlihat para mahasiswa sudah mulai bergerak membawa spanduk-spanduk ke arah air mancur Bundaran HI. Saya dan Henri pun mengikuti rombongan mereka dengan kamera masing-masing tergantung di dada.

Matahari terik sekali hari itu dan saya pun memakai kombinasi pakaian yang kacau (baju hitam dengan celana putih). Demonstrasi yang dilakukan oleh FSPI (Federasi Serikat Petani Indonesia) dan beberapa organisasi mahasiswa. Saya mulai mengambil beberapa frame dan semakin bersemangat memotret walau udara makin panas. Beruntung sekali hari itu, walau terik namun langit cerah berwarna biru (tidak putih). Setelah mereka melakukan orasi dan sedikit aksi teater tentang pemerintah dan petani, mereka pun pergi untuk melanjutkan aksi mereka di depan istana merdeka. Saya mengira itu adalah akhir dari demo petani siang itu, namun ternyata aksi berlanjut dengan demonstrasi dari FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) dan GEMPuR (Gerakan Mahasiswa Universitas Pancasila untuk Rakyat). Saya, Henri dan beberapa rekan wartawan yang ada disana pun melanjutkan aksi kami, memotret. Kira-kira jam 1 siang aksi demo berakhir juga, saya menghabiskan sekitar 170 frame. Matahari yang terik membuat saya sangat haus dan tentu saja lapar karena sudah lewat jam makan siang. Celana saya kotor, karena beberapa kali saya harus mengambil angle yang rendah dengan cara berlutut dan gaya 'jungkir balik', suatu kesalahan memakai celana putih.

Sempat timbul ide untuk lanjut mengikuti aksi demo ke istana merdeka, namun akhirnya ide tersebut kami urungkan karena perut sudah lapar. Kami pun naik bus ke Stasiun Cinere, makan di rumah makan padang disana. Pengalaman yang cukup unik bagi saya makan di sebuah stasiun kereta, karena setiap 10-15 menit, lantai dan langit-langit restoran bergemuruh seperti gempa karena kereta sedang melintas di atas. Satu porsi nasi dan lauk khas padang ditambah es teh manis cukup mengenyangkan perut dan menyegarkan diri saya kembali.Sehabis makan kami berjalan kaki menuju tugu proklamasi yang jaraknya kira-kira 300-400 meter. Walau cukup jauh namun tidak terasa ketika dilakukan sambil asik berbincang-bincang.

Sesampainya di Tugu Proklamasi, saya diberitahukan oleh Henri, bahwa kami akan mampir ke markas JRK (Jaringan Relawan Kemanusiaan) yang berada persis di samping kompleks Tugu Proklamasi. JRK (bersama dengan Kontras) adalah organisasi yang ikut merencanakan dan menyelenggarakan demo peringatan semanggi sore itu. Saya dikenalkan oleh Henri dengan beberapa anak-anak JRK, mereka cukup ramah dan simpatik. Saya pun juga berkenalan dengan Heksa, seorang fotografer wanita yang juga akan ikut memotret demo sore itu. Jam empat hampir tiba dan semua bersiap-siap dengan demo yang akan mulai dari bundaran Hotel Indonesia. Saat mau berangkat kami bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa dari FPPI yang berdemo tadi siang, tampaknya mereka akan ikut berpartisipasi dalam demo peringatan semanggi ini.

Saya dan Henri bersama 6-7 orang lainnya naik bus pergi ke bundaran HI. Saya tadinya berpikir long march akan dimulai dari tugu proklamasi, perjalanan yang jauh sekali jika benar. Sesampainya di bundaran HI, saya, Henri dan Heksa mengeluarkan kamera, siap untuk beraksi. Ada hal yang cukup lucu ketika kami akan menyeberangi jalan menuju air mancur HI, ternyata Henri cukup ngeri (terlihat dari mimik wajahnya) ketika menyeberangi jalan di Jakarta (apalagi tidak pada zebra cross). Di dekat air mancur sudah siap sebuah mobil komando yang akan memimpin rombongan demonstran dan juga tempat berorasi. Terlihat pula beberapa polisi yang mengawasi jalannya demonstasi. Sebelum memulai long march dari bundaran HI ke kampus Atma Jaya, mahasiswa pun berorasi dan bernyanyi bersama untuk membangkitkan semangat. Lirik-liriknya pun saya pikir cukup kreatif dan sangat menyindir walau cenderung kasar, seperti misalnya "Aparat keparat!, Pejabat Bangsat!, TNI anjing tai kucing!" atau "Gantung Wiranto!, Gantung Wiranto di taman Lawang", nyanyian-nyanyian tersebut terasa cukup membangkitkan semangat dan cukup menghibur setidaknya bagi saya. Diantara rombongan juga terdapat beberapa keluarga korban Semanggi I dan Semanggi II, seperti orang tua dari Wawan dan Yap Yun Hap, mahasiswa yang gugur 6 tahun lalu. Mereka juga sempat berbicara mengenai kasus semanggi yang tak pernah tuntas diusut.

Rombongan mahasiswa mulai berangkat berjalan kaki menuju kampus Atma Jaya. Perjalanan sejauh kira-kira 2 kilometer tidak membosankan karena saya dapat mengabadikan moment-moment yang menarik. Walau saya hanya mempunyai sisa sedikit waktu untuk memotret karena matahari sudah mulai turun, yang berarti cahaya makin minim. Rombongan berhenti beberapa kali untuk berorasi dan istirahat sejenak. Ketika langit mulai gelap saya pun tidak lagi bisa leluasa memotret, karena cahaya yang tidak mencukupi. Rombongan demonstran mulai menyalakan obor untuk menerangi perjalanan mereka. Sebelum sampai di kampus Atma Jaya kami berhenti di tempat peristiwa penembakan 6 tahun lalu terjadi. Disana diadakan acara tabur bunga dan aksi rekonstruksi oleh kawan-kawan mahasiswa. Kami sampai di depan kampus Atma Jaya sekitar pukul 18.30, disana massa mulai berkurang walau masih ada orasi dari mahasiswa dan orang tua korban semanggi. Saya pun tidak bisa lagi memotret karena tidak ada lagi cahaya, hanya terkadang menjepret 1-2 frame dengan menggunang low speed. Acara pun selesai pukul 19.30 dan saya juga pamit pulang kepada Henri dan Heksa.

Sampai di rumah kaki baru terasa pegal dan badan cukup letih. Ternyata menjadi demonstran sehari cukup melelahkan namun diluar semua keletihan itu saya mendapat pengalaman baru. Tanggal 29 September ini saya diberitahukan bahwe akan ada lagi sebuah demonstrasi besar untuk memprotes kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah. Saya masih belum memutuskan akan ikut memotret atau tidak. Rasanya saya ingin ikut serta lagi, memotret.

2 comments:

Anonymous said...

kami masih bergerak!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com

Meet New Peoples said...

Hi friends,

How are you and how was the day?

Excellent Information!! If you would like to see more great Tips & Information follow me..........
Discount London Hotels Information
Paris Hotels Information
Cheap New York Hotels | Discount New York Hotels
Best Investment Advice | Online Investment Information
Washington Hotels Information
Free Online Dating Tips
Online Dating Tips
Internet dating advice, safe dating advice
Web Hosting Resources Central
Advertising tips | Effective advertising techniques
Online Casino Games
Video Information so, please use this websites for u & for your friends OR please don’t remove this comment.


Best Regards,
Travel