Tuesday, August 30, 2005

Idealis atau Apatis


"Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya."


Kata-kata tersebut saya ambil dari buku Catatan Seorang Demonstran, yang merupakan catatan harian Soe Hok Gie, seorang tokoh mahasiswa tahun 60-an yang turut serta menggulingkan pemerintahan orde lama pimpinan Sukarno. Saya baru saja selesai membaca buku tersebut kemarin dan kesan saya amat mendalam terhadap Gie, yang sangat kritis terhadap permasalahan bangsa serta pemikirannya yang sangat idealis. Namun disaat itu juga saya kembali teringat pada pertanyaan yang selama ini terus ada di benak saya "Mengapa generasi muda Indonesia kebanyakan cuek terhadap nasib bangsa?". Mengapa jarang sekali saya bisa melihat seorang seperti Soe Hok Gie yang berani dan kritis terhadap masalah bangsa ini?

Umumnya yang golongan yang mempunyai semangat nasionalisme dan idealisme tinggi adalah golongan muda, seperti halnya Soe Hok Gie dan kawan-kawan ketika ikut menggulingkan orde lama atau gerakan mahasiswa pada tahun 98 yang juga membuat pemerintahan orde baru berakhir. Namun ironisnya (at least for me) justru generasi muda sekarang seakan tidak peduli dan cuek dengan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Mungkin alasannya klasik..."gua bisa apa?" memang ada benarnya alasan itu, namun menurut saya itu bukan pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa. Ketidakberdayaan menandakan seseorang yang tidak mau memulai dan bergerak.

Bukan kebetulan bahwa negara kita Indonesia semakin terpuruk dan susah untuk bangkit. Setiap tahun muncul masalah baru yang harus dicari jalan penyelesaiannya. Seperti masalah yang baru muncul sekarang mulai dari para wakil rakyat di DPR yang meminta 'naek gaji' , masalah penyakit busung lapar, sampai nilai tukar rupiah yang semakin melemah. Apa itu semua bisa membangkitkan rasa kepekaan atau setidaknya rasa ingin tahu terhadap masalah-masalah tersebut? Apakah hanya segelintir yang ingin tahu terhadap masalah-masalah tersebut? Semoga saja tidak....Mungkin yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri apakah kita sudah cukup peduli kepada tanah air kita Indonesia? Itu merupakan kewajiban moral kita sebagai bangsa Indonesia, if we don't care, who will? Yang jelas wakil rakyat yang menamakan diri mereka DPR tidak lagi dapat dipercaya, karena mereka lebih peduli pada perutnya daripada apapun termasuk negerinya sendiri, Indonesia.

Saya tidak bermaksud mengajak siapapun yang membaca tulisan saya ini untuk harus mempunyai pandangan layaknya Soe Hok Gie ataupun ikut berdemo di depan gedung DPR. Saya hanya ingin mengajak kita setidaknya ikut peduli terhadap masalah-masalah bangsa ini dan ikut bergerak membangun bangsa ini melalui caranya masing-masing. Kita tidak harus menjadi seorang Gie, kita cukup menjadi diri kita sendiri, seorang Indonesia yang mempunyai idealisme untuk Indonesia yang maju.

Thursday, August 25, 2005

Dilema Masa Depan

Kira-kira setahun lagi, saya akan menyelesaikan kontrak kerja saya dengan Universitas Bina Nusantara dan enam bulan setelahnya akan lulus kuliah. Hal inilah yang membuat saya mulai berpikir tentang masa depan saya, setidaknya masa-masa setelah saya keluar dari Binus nanti.

Saya mempunyai setidaknya 2 pilihan apa yang harus saya lakukan nanti, yang pertama adalah bergelut dengan dunia IT dan programming sesuai dengan latar belakang pendidikan saya dan perkerjaan saya saat ini di Binus, yang kedua adalah 'banting setir' menjadi seorang jurnalis foto, sebuah profesi yang saya anggap sangat menantang dan menyenangkan.

Jika saya harus membuat pilihan ini setahun lalu, pilihan pertama akan saya tempuh tanpa pikir panjang, berkarir dalam bidang IT, cita-cita yang sudah tertanam dalam benak saya ketika mulai kuliah di Binus. Namun ketika pilihan itu dihadapkan kepada saya saat ini, saya ragu untuk memilih salah satu dari option-option yang saya punyai.

Berkarir di bidang IT, merupakan karir yang hampir pasti dijalani oleh hampir semua lulusan Binus jurusan komputer, banyak pula alumni Binus dan alumni lab software yang sukses dan menceritakan keberhasilannya kepada rekan-rekan yang masih di lab. Setelah mendengar dan melihat sendiri senior-senior dan teman-teman saya sendiri yang telah bergelut di bidang IT, saya melihat karir yang mereka jalani kebanyakan lebih mengejar keamanan finansial dan kedudukan (promosi) dan kegunaan dari profesi mereka menurut saya hanya untuk perusahaan mereka bekerja dan diri mereka sendiri. Hal ini tentu saja sangat wajar, karena hampir semua pekerjaan seperti itu, untuk mencari uang, namun saya tidak yakin saya bisa menjalani karir yang seperti itu. Bagi saya karir yang akan saya jalani idealnya harus dapat dinikmati bukan karena saya akan menerima gaji di penghujung bulan namun mengetahui bahwa perkerjaan saya ini berguna untuk orang lain dan tentu saja dapat saya nikmati.

Saya pernah mencoba memposisikan diri saya apabila saya memilih untuk berkarir dibidang IT, saya membayangkan secara best-case apabila saya sukses di karir saya maka dalam 5-7 tahun saya dapat melihat diri saya yang berpakaian kemeja rapi, dengan rambut yang tersisir rapi serta handphone yang ditaruh di pinggang juga tidak lupa mobil yang akan saya gunakan untuk pulang pergi setiap harinya dari rumah ke kantor. Kemudian saya berpikir, apakah kehidupan seperti itu yang saya inginkan? Mungkin bagi orang lain iya, namun bagi saya (terlepas dari keamanan finansial yang didapat) alangkah bosannya hidup saya seperti itu, pergi ke kantor setiap hari duduk di meja menjawab telp dari klien kemudian pulang kerumah, rutinitas yang berlangsung setiap harinya. Dapat mengetahui dan membayangkan masa depan saya yang seperti itu (itupun best-case) , menjalani pilihan itu seperti seakan takluk pada takdir (dimana saya amat tidak percaya akan takdir). Namun memang keamanan finansial menjadi dambaan semua orang termasuk juga saya, faktor itu yang menjadi alasan mengapa saya tetap mempertimbangkan pilihan ini.

Pilihan kedua saya yaitu menjadi jurnalis foto (photojournalist). Mungkin kedengarannya sedikit aneh, seorang yang tidak mempunyai latar belakang jurnalistik ingin terjun ke dunia jurnalistik.
Tapi selama ini ketika saya mencoba untuk terjun ke lapangan untuk mendokumentasikan kegiatan, kehidupan sosial manusia saya merasakan sesuatu yang lain yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Perasaan puas ketika bisa mencapture sebuah moment yang indah ataupun yang tragis adalah tidak ada duanya yang mungkin hampir sama dengan perasaan seorang pesepakbola ketika mencetak gol. Perasaan yang tidak pernah saya rasakan selama ini dalam menjalani pekerjaan saya dalam bidang IT di Binus. Faktor kegunaan juga menjadi pertimbangan saya mengenai pilihan saya ini, menurut saya menjadi seorang jurnalis foto akan mempunyai banyak kegunaannya tidak hanya untuk diri saya seorang namun juga orang lain. Suatu hal yang sangat membahagiakan bagi saya jika saya bisa berguna untuk orang lain, apalagi bagi orang lain yang tidak saya kenal sekalipun. Selain perasaan puas dan berguna saya juga bisa melihat diri saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya dimana diri saya yang tadinya amat paranoid sehingga amat berhati-hati dan cenderung takut dengan dunia luar kini saya bisa lebih terbuka dan berani berpetualang untuk melihat hal-hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Terlepas dari semua kepuasan dan petualangan yang ditawarkan oleh profesi ini juga disertai dengan hambatan yang tentu saja lebih besar, kalau boleh dianalogikan jalan untuk menjadi jurnalis foto adalah seperti jalan yang rusak dan penuh dengan lubang dibandingkan dengan dunia IT yang bisa diibaratkan seperti jalan tol yang hampir selalu lancar, karena dengan memilih menjadi seorang jurnalis foto saya akan memulai nyaris dari nol jalan karir saya berbeda dengan karir di bidang IT yang sudah pernah saya kerjakan seperti saat ini.

Dengan pertimbangan-pertimbangan inilah saya harus berpikir keras akan dibawa kemana masa depan saya ini, apakah ingin berjuang kembali dari nol demi menjalani profesi yang saya idamkan atau tidak mau ambil resiko dengan mengambil jalan yang sudah saya kenal. Mengutip kata-kata James Nachtwey, seorang fotografer yang menjadi inspirasi saya, "Before I start convincing others, I have to convice my self first". Sesuatu yang amat tepat bagi saya, sebelum saya memutuskan terjun ke dalam dunia jurnalistik yang penuh resiko saya harus meyakinkan diri saya sendiri dulu, dengan pertanyaan "Am I good enough?" pertanyaan inilah yang harus dapat saya jawab sebelum memutuskan satu dari pilihan-pilihan itu.

Tuesday, August 23, 2005

Ketidakpedulian yang Menakutkan

Baru-baru ini saya membuat sebuah foto essai (sebuah kumpulan foto-foto yang bercerita mengenai sebuah tema) untuk tugas kuliah saya. Tema yang saya angkat dalam foto essai saya adalah Ignorance (ketidakpedulian).

Saya mempunyai banyak pertimbangan dan alasan mengapa tema tersebut saya angkat ke dalam foto essai saya. Ketidakpedulian terkadang dianggap suatu tindakan yang sepele, kurang menakutkan seperti halnya terorisme, perampokan dan perang. Namun bagi saya ketidakpedulian adalah sebuah kata yang sangat mengerikan. Mengapa saya sebut mengerikan? Karena semua yang kebusukan yang terjadi di dunia ini justru berawal dari ketidakpedulian, yang justru dianggap sepele. Faktor inilah yang menyebabkan saya mengangkat tema ini, agar orang tidak underestimate pada ketidakpedulian.

Foto-foto yang digunakan dalam foto essai ini, diambil di beberapa tempat di Jakarta. Mungkin banyak orang yang sering mendengar tentang masalah-masalah yang ada di kota besar, seperti kemiskinan, tuna wisma, anak jalanan namun blm pernah melihat seperti apa sebenarnya. Melalui foto-foto, saya akan mencoba untuk memperlihatkan sedikit realita dari kehidupan kota besar seperti Jakarta, sebuah sisi lain selain gemerlapnya kehidupan kota besar.

Tujuan saya membuat foto essai ini bukan sekedar untuk tugas kuliah saja, tapi dari dalam hati saya ingin mengajak teman-teman, terutama generasi muda Indonesia agar jangan sampai kita tidak peka dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di negara ini. Namun justru kita harus menjadi generasi yang kritis, bukan hanya kritis dalam ucapan namun juga dalam perbuatan. Janganlah kita menunggu untuk bergerak karena seorang yang muda justru harus memulai!

Akhir kata, saya sebagai salah satu generasi muda Indonesia percaya bahwa cita-cita Indonesia yang makmur dan jaya bukanlah suatu Utopia belaka jika kita mau peduli dan mulai bergerak untuk bangsa ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.



Link to Photo Essay (html & flash)
Download Photo Essay (exe)

Rony Zakaria in a few paragraph

Saya dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1984, hari dimana presiden pertama Indonesia, Sukarno wafat 14 tahun sebelumnya. Saya dibesarkan di sebuah keluarga yang berkecukupan sehingga saya dapat mengenyam pendidikan sampai jenjang Universitas yang sedang saya jalani sekarang.

Pendidikan saya dimulai dari TK Santa Monica di tanjung duren, Jakarta. Kemudian dilanjutkan ke sebuah sekolah katolik, SD dan SMP Tarsisius II di daerah Batusari. Selama 9 tahun sekolah di Tarsisius saya hampir selalu berjalan kaki untuk pergi ke sekolah karena jaraknya hanya 5 menit jika berjalan kaki dari rumah :)

Tiga tahun masa SMU saya dihabiskan di SMU Kemurnian II di Green Ville. Pada masa SMU ini terjadi sebuah kejadian yang menjadi salah satu turning point of my life. Dimana mungkin jika hal tersebut tidak terjadi, saya akan menjadi seorang tamatan SMU saja.

Setelah 3 tahun main-main di SMU saya pun berlabuh di Universitas Bina Nusantara (juga jaraknya hanya 5 menit dari rumah) mengambil jurusan Teknik Informatika dan Matematika, seharusnya jika saya rajin lulusnya hanya 4.5 tahun. Lumayan gelarnya untuk menarik hati calon mertua nanti hehehe.... Saya juga bekerja untuk Universitas saya sebagai staff research di Lab. Software, tempat saya bernaung selama paling tidak 3 tahun.

Baru-baru ini saya juga menemukan dunia baru yang sangat saya nikmati, yaitu fotografi. Kira-kira setahun lalu saya mendapatkan kamera pertama saya, mulai dari sana saya mulai menyenangi dunia fotografi ini. Awalnya saya menganggap fotografi adalah sebuah media untuk menng-capture sesuatu yang indah, namun saya sadar bahwa fotografi bakal lebih berarti jika menangkap realita kehidupan, sesuatu yang mungkin kebanyakan orang sering mendengar namun tidak pernah melihat. Sejak saat itu saya semakin mendalami fotografi terutama jurnalistik dan human interest untuk mendokumentasikan realita yang terjadi pada kehidupan sehari-hari baik yang indah maupun yang tragis.