Thursday, December 01, 2005

Peranan media dan publikasi

Kemarin saya membaca majalah National Geographic Indonesia, pada edisi bulan ini, majalah tersebut mengupas beberapa tragedi kemanusiaan yang terjadi di beberapa pelosok dunia, seperti Gempa Bumi di Iran, Tsunami di Aceh, dan pemberontakan di Uganda. Disana saya melihat dan baru benar-benar menyadari bahwa peran media itu sangat besar dalam menentukan besarnya bantuan dan uluran tangan yang disalurkan ke tempat bencana atau tragedi kemanusiaan.

Di Aceh saja misalnya, tragedi tsunami disiarkan ke seluruh dunia 24 jam setiap harinya, 7 hari seminggu melalui gambar-gambar baik di televisi maupun di majalah yang memuat hati pilu dan tersentuh. Dari sana lah kemudian orang seperti berlomba-lomba ingin membantu dengan apapun, makanan, uang , pakaian, simply everything! Bahkan pihak penyalur bantuan pun sudah kewalahan menerima bantuan karena jumlahnya sudah terlalu banyak, seperti di yang saya baca di natgeo bahwa pakaian-pakaian yang disumbangkan jumlahnya sangat banyak dan akhirnya harus dimusnahkan 1 minggu kemudian untuk memberi tempat untuk bantuan lain yang baru datang.

Dari sana saya sadar bahwa memang media mempunyai peranan penting dalam menggerakkan emosi manusia untuk mengulurkan bantuannya kepada yang less fortunate. Namun timbul pertanyaan, apabila terjadi bencana yang lainnnya dan kemudian perhatian media beralih pada bencana yang terkini apakah bantuan tersebut masih akan ada? apakah yang mereka yang menjanjikan bantuan masih akan menepatinya? atau malah memindahkannya ke tempat lain dimana bencana dan tragedi lebih dibanyak disorot karena lebih aktual....

Di afrika sendiri masih terjadi kelaparan dan epidemi penyakit seperti AIDS namun karena publikasinya tidak segencar bencana-bencana seperti tsunami maka bantuan pun seret. Agak ironis memang karena jumlah yang meninggal akibat AIDS dan kelaparan di afrika jauh lebih besar dibandingkan tsunami atau gempa bumi, yang membedakan hanyalah jumlah yang meninggal seketika.

Saya menaruh rasa hormat dan kagum yang paling dalam pada pekerja kemanusiaan yang bertugas di daerah-daerah terjadinya konfilk dan tragedi kemanusiaan, mereka tetap membantu dan peduli walau kebanyakan perhatian sudah beralih ke tempat lain. Saya juga salut dan ingin mengikuti jejak pada jurnalis yang tetap konsisten mengikuti dan memberitakan tentang tragedi-tragedi sampai tuntas, tidak hanya mengikuti aktualitas semata. Untuk itu saya sangat salut dan di masa depan semoga saya bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran saya seperti mereka.

Media memang memegang peranan penting di dunia ini, termasuk dalam konflik dan penyelesaiannya, memang media itu dituntut untuk menampilkan aktualitas termasuk tragedi yang aktual. Namun menurut saya mereka harusnya tidak boleh lupa juga bahwa tugas mereka bukan hanya sekadar "let people know about this" tapi juga "let people remember it's not over".
Media sangat penting perannya karena manusia itu cepat lupa dan harus diingatkan. Termasuk saya sendiri.

Friday, November 25, 2005

Rencana-rencana ke depan

Tahun 2005 tinggal sebentar lagi, kurang lebih 1 bulan lagi menuju tahun 2006. Dimana berarti saya harus mulai berencana tentang apa yang akan saya kerjakan dengan hidup saya pada tahun depan.

Terus terang tahun 2005 merupakan tahun yang cukup rumit dan kalo boleh di bilang stressful untuk saya, mulai dari gangguan kesehatan ditambah dengan tekanan pekerjaan serta pikiran yang tambah karena penyakit seringkali menganggu. Tapi saya baru sadar bahwa pada tahun 2005 ini terdapat perubahan yang tidak sehat pada pola hidup saya sehari-hari, baru-baru ini saya menyadari hal tersebut. Pemikiran saya pun mulai negative terus mengenai kesehatan saya, dan itu cukup berpengaruh dengan kesehatan saya. Saya kemudian baru sadar bahwa untuk mencapai tubuh yang sehat dibutuhkan pula pikiran yang sehat, mungkin kata-kata itu sering kali terdengar di telinga saya namun baru kali ini betapa dalam dan berartinya kalimat tersebut bagi saya.

"Kesehatan adalah harta yang utama" itu yang dikatakan oleh ibu kepada saya, dan mulai sekarang saya akan jadikan moto hidup saya. Karena jika diri sendiri tidak sehat bagaimana mau berbuat sesuatu untuk orang lain?

By the way, ada beberapa rencana yang ingin saya lakukan pada tahun depan, termasuk ingin mengikuti workshop jurnalistik yang diadakan oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara. Workshop ini setiap tahunnya digelar oleh GFJA dan pesertanya pun terbatas, denger-denger sih 10 orang saja setiap angkatan (tahun) dan untuk masuknya itu diadakan wawancara dan tes di tempat. Semoga saya bisa lolos untuk mengikuti workshop tersebut.

Selain itu saya juga mempunya beberapa rencana lain, seperti halnya melaksanakan proyek yang sudah lama ingin saya lakukan yaitu memotret di kawasan pinggir kereta api daerah Senen.

Tahun 2005 tinggal sebulan lagi, masih ada waktu untuk merencanakan apa-apa saja yang akan kita lakukan di tahun 2006.

Monday, October 31, 2005

Hunting Bogor

Bogor adalah tujuan saya pada akhir pekan lalu. Saya bertiga bersama dengan Hadi dan Anwar pergi ke Bogor menggunakan kereta Pakuan Express dari stasiun kota. Rencananya hari itu kami akan menghadiri acara Street Hunting dan Buka puasa bersama dengan para fotografer Bogor. Kami berangkat pukul 1 siang, perjalanan dengan kereta itu merupakan pengalaman pertama saya naik kereta jadi terkadang saya agak norak didalam kereta. Perjalanan itu sendiri memakan waktu kurang lebih 1 jam karena beberapa kali kereta berhenti. Kami akhirnya sampai di stasiun Bogor pukul 2 siang.

Persinggahan pertama kami adalah sebuah panti asuhan yang menampung kira-kira 40 anak yang kebanyakan berasal dari kawasan timur Indonesia. Saya sempat mengobrol dan memotret beberapa anak disana. Karakter anak-anak yang saya temui disana sangat beraneka-ragam, ada yang periang, ada yang pemalu dan ada yang sangat pendiam. Saya sempat mengobrol singkat dengan salah satu anak dari Papua, kalau tidak salah Manuel namanya, ia tampak sangat pendiam dibanding teman-teman lainnya ketika saya ajak ngobrol pun ia hanya menjawab 1-2 patah kata saja. Terdapat nada kesedihan dari kata-kata yang ia ucapkan. Saya sangat penasaran dengan anak ini dan saya harap dilain waktu saya bisa mengunjungi ia lagi. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 siang kami pun mohon pamit dengan Pak Agus, pengurus panti asuhan tersebut.

Kami berangkat menuju Restoran Hartz Chicken, tempat kumpul yang telah ditentukan. Sampai disana kami termasuk yang paling awal tiba ditempat, karena baru ada beberapa orang yang sudah tiba dahulu. Saya berkenalan dengan cukup banyak teman-teman baru, bahkan ada teman yang datang dari Jakarta pula sama dengan kami bertiga. Saya pun akhirnya bisa bertemu dengan Bang Igor Firdauzi yang saya kagumi karya-karya fotonya. Tidak lupa juga berkenalan dengan bang Petrus Suryadi dan bang RAI. Street hunting pun mulai dengan berjalan di jalan sekitar walau tidak jauh. Saya sendiri hanya motret beberapa frame saja.

Pukul 17.48 semua peserta mulai kembali ke Hartz Chicken untuk berbuka puasa bersama. Sekitar hampir 40 orang tercatat mengikuti acara tersebut. Saat makan saya berkenalan dengan beberapa teman dari Jakarta. Pembicaraan kami mulai dari kamera sampai ke lensa. Akhirnya kami pun harus pulang dan kami cukup beruntung dapat nebeng dengan teman dari Jakarta, Roby dan istrinya yang juga mengikuti acara tersebut. Dalam perjalanan kami berbincang panjang dengan Roby yang ternyata cukup mempunyai pengalaman dan kenalan banyak dalam dunia fotografi. Cukup menyenangkan bisa berbincang dengannya. Saya sampai di rumah pukul 10 malam.

Thursday, October 27, 2005

Motret untuk apa?

"Gua Motret untuk apa sih?" itulah pertanyaan yang beberapa kali terbersit dipikiranku. Akhir-akhir ini pertanyaan tersebut muncul kembali dan kali ini saya mencoba untuk mencari alasan sebenarnya. Untuk apa sih saya memotret? Pertanyaan itu muncul bukan karena saya bosan motret, karena saya tidak pernah bosan untuk memotret, hanya saja apa sih yang sebenarnya ingin saya cari dalam memotret. Aneh mungkin, gua yang motret kok tidak bisa dijawab sendiri pertanyaan itu. Tapi itulah yang terjadi pada diri saya sekarang.

Saya mulai motret kira-kira setahun lalu, ketika saya mendapatkan kamera pertama saya (Sony P-100) dari Ibu saya. Awalnya sih tujuan saya jelas, cuma mau motret iseng-iseng dan juga sebagai penunjang untuk mendesain web. Boleh dibilang kalo motret dulu itu tujuannya cuma karena iseng dan senang saja (sekarang juga masih senang sih kalo motret). Tujuan saya kemudian berubah, saya ingin membuat foto yang bagus sehingga bisa dibanggakan dan ditunjukkan ke teman-teman. Saya kemudian belajar secara otodidak tentang komposisi, oleh digital dan teknis dasar fotografi. Tujuan itu ada sampai saya tertarik dengan human-interest dan fotografi jurnalistik.

Ketika saya mendalami fotografi jurnalistik dan human-interest saya mendapat banyak pengalaman baru bukan hanya dalam bidang fotografi tapi dalam kehidupan saya secara keseluruhan. Memotret manusia dan kegiatan-kegiatannya bagi saya sangat unik dan menarik dan tentu saja saya sangat senang memotret bidang ini. Lalu tujuannya apa sih? Kenapa saya bisa senang dengan fotografi jurnalistik dan Human-Interest? Pertama tentu saja karena saya senang. Lainnya? saya tidak tahu...namun saya tahu ada perasaan dan tujuan yang tersimpan dalam benak dalam pikiran saya, hanya saja saya tidak bisa mengungkapkan tujuan itu dalam kata-kata. Mungkin selama saya masih merasa senang ketika motret, saya akan lanjut terus terlepas dari tujuan lainnya yang 'tersembunyi' dalam hati.

Ada pertanyaan lagi yang sering keluar juga yaitu "Sudahkah saya membuat foto yang bagus? yang cantik? yang mempesona? yang indah?". Pertanyaan ini cuma sekali muncul dalam pikiran saya karena saya sudah mempunyai jawaban dari pertanyaan tersebut. Saya merasa bahwa foto saya adalah ungkapan dari pandangan saya terhadap dunia ini, dengan cara saya sendiri. Oleh karena itu saya sudah cukup puas jika foto itu sudah dianggap bagus oleh diri saya sendiri. Bukan berarti saya ini orang yang keras kepala dengan idealisme fotografi saya, saya tetap sadar bahwa terkadang kita harus bisa menemukan titik temu antara selera pribadi dengan selera umum (baca: orang lain) seperti kata pak Aryono pada sebuah artikel. Namun bagi saya foto yang pernah saya tampilkan untuk publik tidak jelek bagi semua orang (setidaknya bagi saya).

Rony Zakaria, manusia yang suka motret manusia....

Monday, October 24, 2005

Anak-anak yang energik

Beberapa minggu ini, kesehatan saya kurang baik, mulai dari pilek, perut yang kurang 'nyaman' sampai napas yang rada sesak. Kalau dipikir-pikir tahun 2005 ini saya cukup sering sakit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga tahun ini cepat lewat dan saya bisa memulai lembaran kesehatan yang baru hehe....

By the way kemarin minggu saya berpergian bersama Henri ke sanggar ciliwung JRK di Bukit Duri, jatinegara. Kami bertemu di atrium Senen sebelum berangkat bareng ke Sanggar Ciliwung. Oh ya, ada pengalaman yang aneh di atrium, baru kali pertama saya dikenai charge untuk ke wc dalam sebuah mal, baru pertama kali itu dan itu hanya di senen. Sesampainya di Sanggar Ciliwung, saya bertemu dengan beberapa aktivis JRK yang pernah saya temui dahulu pas demo semanggi, seperti Eko, Deni, Isnu dan Hexa. Setelah itu ada rapat untuk rencana monitoring dan pendataan rakyat miskin. I'm not the biggest fan of meetings..so I'm quite bored but try to pay attention although just a little bit.

Sehabis rapat, saya, Henri dan Hexa jalan-jalan di kawasan sekitar dengan rencana ingin memotret juga. Daerah tersebut merupakan kawasan di pinggir kali, dimana banyak sekali rumah-rumah sederhana yang sangat padat. Kehidupan disana benar-benar terasa 'sederhana' sekali bahkan 'terlalu sederhana'. Saya ketika keliling kehilangan mood untuk memotret, badan terasa kurang enak dan lemas sekali. Saya pun hanya mengabadikan 3-4 frame saja. Ada pengalaman baru bagi saya, yaitu naik 'getek' untuk menyeberangi kali (sedikit norak kali yah hehehe :)). Kami kembali ke sanggar karena hari mulai gelap dan mendung.

Di sanggar kami santai sebentar sampai anak-anak mulai berdatangan ke sanggar. Sanggar Ciliwung merupakan wadah bagi anak-anak sekitar untuk mendapatkan pengajaran serta bermain bersama. Saya turun kebawah untuk memotret kegiatan anak-anak tersebut.

Ternyata memotret anak-anak kecil tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. They're full of energy!! Mereka seakan mengingatkan saya betapa besar semangat seorang anak kecil, termasuk saya dulu. Semangat yang ingin saya tumbuhkan kembali (bukan berarti ingin jadi anak kecil lagi nih...). Mereka juga menyadarkan saya 21 tahun ternyata usia yang juga cukup tua yah, kewalahan saya dibuatnya memotret mereka. Energi saya kalah jika dibandingkan dengan anak-anak itu.

Saya santai sampai buka puasa magrib, saya dan Henri menemani Hexa buka puasa (yang puasa sih Hexa doang hehehe...), minum kopyor enak....Perhentian terakhir hari itu di gramedia dekat senen. Saya pamit kepada Hexa dan Henri pukul 8.30 malam. Capek juga hari itu, badan terasa kurang sehat, pulang-pulang dikerok....

Wednesday, October 12, 2005

Siapa yang Harus Mengerti

Lama rasanya saya tidak menulis, sebenarnya banyak yang ada dalam pikiranku yang ingin saya sampaikan melalui tulisan. Namun, menulis terasa malas beberapa hari lalu, mungkin karena kejenuhan rutinitas yang ada.

Bulan ini, tulisan dikoran-koran dipenuhi dengan issue panas seputar kenaikan dana BBM dan dana kompensasinya. Media elektronik pun sama saja, dari pagi sampai sore, issue utama yang disampaikan masih seputar kenaikan harga BBM selain pengusutan bom Bali tentunya.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM itu salah, karena saya tidak mengetahui seluk-beluk politik serta tidak cukup mengetahui ilmu ekonomi. Tetapi dari sudut pandang saya sebagai orang awam, saya bisa mengatakan bahwa kebijakan ini lucu dan menggelikan, paling tidak bagi saya. Mengapa saya bilang mengelikan? Karena setiap kali ditanyakan dan dipojokan dengan kenaikan harga BBM yang tinggi dan dikatakan dapat mematikan daya beli masyarakat, pemerintah hanya menggunakan tameng DANA KOMPENSASI BBM, "Itu sebabnya ada Dana Kompensasi BBM" jawab seorang wakil pemerintah.

Dana Kompensasi BBM sendiri adalah dana yang akan diberikan oleh pemerintah sebesar Rp.300 ribu untuk setiap keluarga miskin. Pertanyaannya apakah pemerintah mempunyai data yang lengkap tentang keluarga miskin di Indonesia? Jawab mereka tentu saja TIDAK. Disini lucunya, mereka (baca:pemerintah) ingin memberikan solusi berupa uang namun tidak tahu mau diberikan kemana. Kalau tidak tahu kemana ingin diberikan rasanya 'kantong ' sendiri bisa saja menjadi tujuan. Ibarat seorang ksatria yang ingin berlindung dari api dengan tamengnya, namun sayang tamengnya itu bolong-bolong.

Kenaikan harga BBM kali ini penuh dengan kontroversi dan pemerintah menyadari hal tersebut. Oleh sebab itu sering kali pemerintah mencoba untuk 'menenangkan' rakyat dengan mengiklankan dan mempromosikan kebijakannya ini. Saya sendiri (dan juga teman-teman saya) menerima sms dari DEPKOMINFO yang berisi pesan untuk mendukung kebijakan kenaikan harga BBM ini, di televisi banyak iklan layanan masyarakat yang berisi ajakan untuk 'mengerti' tentang kebijakan pemerintah ini. Bahkan Aa Gym pun ditarik oleh pemerintah untuk mempropagandakan kebijakan ini. Saya tertawa dan tidak habis pikir, apakah dunia sudah terbalik? Mengapa rakyat yang harus 'mengerti' kebijakan pemerintah, seharusnya justru pemerintah yang bisa mengerti kesusahan dan keinginan rakyat. Itu yang seharusnya terjadi, not the other way around.

Ada seorang menteri yang dalam smsnya menanggapi sebuah artikel di koran yang mengkritik kenaikan BBM, ia mengatakan "...we had to choose the lesser of two evils...", two evil disini artinya antara menaikan harga BBM atau mengorbankan budget belanja APBN. Saya tidak pernah merasakan bagaimana mengambil keputusan dalam pemerintahan, jadi saya tidak tahu itu sulit atau tidak. Mungkin sulit, namun yang rakyat ketahui bukan kesulitan pemerintah tapi kesulitan mereka sendiri, kesulitan rakyat, itu yang harusnya pemerintah ketahui.

Monday, October 03, 2005

Liburan ke Lembang

Tanggal 1-2 Oktober lalu saya pergi ke Lembang, Bandung untuk mengikuti rekreasi karyawan bersama hampir seluruh karyawan Universitas Bina Nusantara. Kami berangkat pukul 7 pagi dan sampai kira-kira pukul 10 di Grand Hotel Lembang.

Sebenarnya tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan dari liburan singkat kemarin selain terdapat beberapa permainan yang diadakan oleh panitia. Saya sendiri kurang sreg dengan perlakuan panitia yang memanggil dengan menggedor-gedor pintu kamar. Mungkin mereka sedang melampiaskan 'hasrat' untuk 'memerintah' setelah sehari-hari 'diperintah'.

Hal yang paling mengejutkan hari itu adalah ketika mendengar kabar terjadi ledakan bom di Bali. Untuk kedua kalinya setelah tahun 2002 Bali kembali menjadi korban ledakan bom. Saya setelah mendengar berita tersebut, menyalakan televisi yang dipenuhi berita seputar ledakan di Bali. Yang membuat saya makin sedih adalah ketika diberitahukan di berita bahwa Jimbaran juga merupakan lokasi terjadinya ledakan. Setahun lalu saya makan malam bersama teman-teman saya di daerah Jimbaran dekat terjadinya ledakan bom malam itu, Jimbaran yang telah memberikan kesan mendalam bagi saya ikut di bom. Ada hal yang membuat saya sangat kecewa malam itu, ketika panitia acara (yang sudah mengetahui terjadinya bom) melanjutkan acara dengan aksi kembang api dan petasan. Memang itu hak orang untuk bersenang-senang, namun bagi saya, itu adalah bukti nyata ketidakpekaan kita pada situasi yang terjadi di tanah air. Bom terdengar biasa, angin lalu, seperti sebuah rutinitas yang terjadi setiap tahun. Rutinitas yang akan dianggap lalu sampai mereka peduli ketika itu terjadi pada mereka atau salah satu orang yang mereka kenal. Saya tidur dengan kekecewaan dengan negeri ini yang makin hancur saja.

Keesokan harinya saya 'dipaksa' bangun oleh teman saya yang mengajak pergi ke Tangkuban Perahu. Tadinya saya masih ingin memejamkan mata kembali. Namun berkat 'bujukan' teman saya akhirnya saya ikut juga kesana. Perjalanan menuju Tangkuban Perahu dilalui menggunakan angkot yang memakan waktu hampir satu jam. Di Tangkuban Perahu sebenarnya tidak terlalu menarik bagi saya. Keliling-keliling sebentar kemudian kami memutuskan pulang ke hotel. Setelah makan kami beres-beres untuk pulang ke Jakarta. Acara yang oleh Rektor BiNus dikatakan sebagai acara kebersamaan untuk kemesraan, bagi saya, tanpa ada maksud tidak menghargai kerja panitia, justru lebih tepat kebersamaan dengan keterpaksaan.

Monday, September 26, 2005

Sehari Menjadi Demonstran




Tanggal 24 September 2005, saya berkesempatan untuk memotret kegiatan demonstrasi mahasiswa untuk memperingati hari Tani Nasional dan peringatan peristiwa Semanggi. Kesempatan tersebut berawal dari sebuah email dari teman saya Henri Ismael beberapa hari sebelumnya, mengajak untuk memotret bareng kegiatan demonstrasi tersebut.

Awalnya, dari informasi yang didapat demonstrasi akan dimulai pukul 10 pagi, sehingga saya pun berangkat dari kampus pukul 9 agar sampai tepat waktu. Namun ditengah perjalanan saya dihubungi Henri bahwa jadwal demo diundur hingga pukul 12 siang. Saya tiba di Plaza Indonesia pukul 9.30, keliling-keliling sebentar melihat etalase-etalase toko yang belum buka, boleh dibilang saya termasuk pengunjung pertama di hari itu. Henri tiba pukul 10 dan kami pun berbincang sambil melihat kamera yang kami bawa masing-masing, saya sempat melihat kamera legendaris Leica M6 milik Henri.

Dalam perbincangan kami, Henri sempat mengutarakan pendapatnya mengenai fotografer-fotografer yang terlalu mengikuti 'pakem' yang ada. Ia tidak menyukai tipe seperti itu karena memotret seperti itu, bukanlah memotret lagi tapi menjual. Saya cukup sependapat dengan dia dalam hal ini, menurut saya fotografer boleh terinspirasi dengan karya-karya fotografer lain, kagum dengan cara dia memandang suatu peristiwa dan mengabadikannya dalam sebuah foto. Namun kita harus bisa melihat dunia dengan cara pandang kita sendiri dan mengabadikannya dengan cara kita sendiri bukan orang lain.

Menjelang jam 12 siang kami menunggu dimulainya demonstrasi sambil melanjutkan perbincangan di depan Plaza Indonesia. Demonstrasi siang itu adalah demonstrasi untuk memprotes kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras dan kebetulan hari itu adalah hari Tani Nasional. Matahari mulai bergerak ke atas kepala dan terlihat para mahasiswa sudah mulai bergerak membawa spanduk-spanduk ke arah air mancur Bundaran HI. Saya dan Henri pun mengikuti rombongan mereka dengan kamera masing-masing tergantung di dada.

Matahari terik sekali hari itu dan saya pun memakai kombinasi pakaian yang kacau (baju hitam dengan celana putih). Demonstrasi yang dilakukan oleh FSPI (Federasi Serikat Petani Indonesia) dan beberapa organisasi mahasiswa. Saya mulai mengambil beberapa frame dan semakin bersemangat memotret walau udara makin panas. Beruntung sekali hari itu, walau terik namun langit cerah berwarna biru (tidak putih). Setelah mereka melakukan orasi dan sedikit aksi teater tentang pemerintah dan petani, mereka pun pergi untuk melanjutkan aksi mereka di depan istana merdeka. Saya mengira itu adalah akhir dari demo petani siang itu, namun ternyata aksi berlanjut dengan demonstrasi dari FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) dan GEMPuR (Gerakan Mahasiswa Universitas Pancasila untuk Rakyat). Saya, Henri dan beberapa rekan wartawan yang ada disana pun melanjutkan aksi kami, memotret. Kira-kira jam 1 siang aksi demo berakhir juga, saya menghabiskan sekitar 170 frame. Matahari yang terik membuat saya sangat haus dan tentu saja lapar karena sudah lewat jam makan siang. Celana saya kotor, karena beberapa kali saya harus mengambil angle yang rendah dengan cara berlutut dan gaya 'jungkir balik', suatu kesalahan memakai celana putih.

Sempat timbul ide untuk lanjut mengikuti aksi demo ke istana merdeka, namun akhirnya ide tersebut kami urungkan karena perut sudah lapar. Kami pun naik bus ke Stasiun Cinere, makan di rumah makan padang disana. Pengalaman yang cukup unik bagi saya makan di sebuah stasiun kereta, karena setiap 10-15 menit, lantai dan langit-langit restoran bergemuruh seperti gempa karena kereta sedang melintas di atas. Satu porsi nasi dan lauk khas padang ditambah es teh manis cukup mengenyangkan perut dan menyegarkan diri saya kembali.Sehabis makan kami berjalan kaki menuju tugu proklamasi yang jaraknya kira-kira 300-400 meter. Walau cukup jauh namun tidak terasa ketika dilakukan sambil asik berbincang-bincang.

Sesampainya di Tugu Proklamasi, saya diberitahukan oleh Henri, bahwa kami akan mampir ke markas JRK (Jaringan Relawan Kemanusiaan) yang berada persis di samping kompleks Tugu Proklamasi. JRK (bersama dengan Kontras) adalah organisasi yang ikut merencanakan dan menyelenggarakan demo peringatan semanggi sore itu. Saya dikenalkan oleh Henri dengan beberapa anak-anak JRK, mereka cukup ramah dan simpatik. Saya pun juga berkenalan dengan Heksa, seorang fotografer wanita yang juga akan ikut memotret demo sore itu. Jam empat hampir tiba dan semua bersiap-siap dengan demo yang akan mulai dari bundaran Hotel Indonesia. Saat mau berangkat kami bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa dari FPPI yang berdemo tadi siang, tampaknya mereka akan ikut berpartisipasi dalam demo peringatan semanggi ini.

Saya dan Henri bersama 6-7 orang lainnya naik bus pergi ke bundaran HI. Saya tadinya berpikir long march akan dimulai dari tugu proklamasi, perjalanan yang jauh sekali jika benar. Sesampainya di bundaran HI, saya, Henri dan Heksa mengeluarkan kamera, siap untuk beraksi. Ada hal yang cukup lucu ketika kami akan menyeberangi jalan menuju air mancur HI, ternyata Henri cukup ngeri (terlihat dari mimik wajahnya) ketika menyeberangi jalan di Jakarta (apalagi tidak pada zebra cross). Di dekat air mancur sudah siap sebuah mobil komando yang akan memimpin rombongan demonstran dan juga tempat berorasi. Terlihat pula beberapa polisi yang mengawasi jalannya demonstasi. Sebelum memulai long march dari bundaran HI ke kampus Atma Jaya, mahasiswa pun berorasi dan bernyanyi bersama untuk membangkitkan semangat. Lirik-liriknya pun saya pikir cukup kreatif dan sangat menyindir walau cenderung kasar, seperti misalnya "Aparat keparat!, Pejabat Bangsat!, TNI anjing tai kucing!" atau "Gantung Wiranto!, Gantung Wiranto di taman Lawang", nyanyian-nyanyian tersebut terasa cukup membangkitkan semangat dan cukup menghibur setidaknya bagi saya. Diantara rombongan juga terdapat beberapa keluarga korban Semanggi I dan Semanggi II, seperti orang tua dari Wawan dan Yap Yun Hap, mahasiswa yang gugur 6 tahun lalu. Mereka juga sempat berbicara mengenai kasus semanggi yang tak pernah tuntas diusut.

Rombongan mahasiswa mulai berangkat berjalan kaki menuju kampus Atma Jaya. Perjalanan sejauh kira-kira 2 kilometer tidak membosankan karena saya dapat mengabadikan moment-moment yang menarik. Walau saya hanya mempunyai sisa sedikit waktu untuk memotret karena matahari sudah mulai turun, yang berarti cahaya makin minim. Rombongan berhenti beberapa kali untuk berorasi dan istirahat sejenak. Ketika langit mulai gelap saya pun tidak lagi bisa leluasa memotret, karena cahaya yang tidak mencukupi. Rombongan demonstran mulai menyalakan obor untuk menerangi perjalanan mereka. Sebelum sampai di kampus Atma Jaya kami berhenti di tempat peristiwa penembakan 6 tahun lalu terjadi. Disana diadakan acara tabur bunga dan aksi rekonstruksi oleh kawan-kawan mahasiswa. Kami sampai di depan kampus Atma Jaya sekitar pukul 18.30, disana massa mulai berkurang walau masih ada orasi dari mahasiswa dan orang tua korban semanggi. Saya pun tidak bisa lagi memotret karena tidak ada lagi cahaya, hanya terkadang menjepret 1-2 frame dengan menggunang low speed. Acara pun selesai pukul 19.30 dan saya juga pamit pulang kepada Henri dan Heksa.

Sampai di rumah kaki baru terasa pegal dan badan cukup letih. Ternyata menjadi demonstran sehari cukup melelahkan namun diluar semua keletihan itu saya mendapat pengalaman baru. Tanggal 29 September ini saya diberitahukan bahwe akan ada lagi sebuah demonstrasi besar untuk memprotes kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah. Saya masih belum memutuskan akan ikut memotret atau tidak. Rasanya saya ingin ikut serta lagi, memotret.

Thursday, September 22, 2005

Melihat Pameran CP Biennale

Kemarin, 22 September 2005, saya bersama 5 orang teman saya (Sonny, Stefanie, Mickey, Akbar dan Jansson) pergi untuk melihat pameran yang bertajuk CP Biennale di Museum Bank Indonesia. Banyak sekali 'hambatan' untuk melihat pameran tersebut. Dimulai dari waktu berangkat dari kampus yang molor sampai 30 menit.

Kamipun berangkat ke Bank Indonesia menggunakan sepeda motor (saya di dibonceng sonny), ketika sampai disana kami mendapat ID untuk masuk BI dengan KTP sebagai jaminannya. Hal kedua yang membuat kaget namun lucu pada akhirnya adalah ketika id dari stefanie hilang (jika hilang maka harus menebus 50 ribu) namun akhirnya ditemukan juga di dekat motor sonny, hal tersebut menjadi bahan olok-olokan kami kepada stefanie sepanjang hari itu. Ketika memasuki gedung BI, kami bertanya kepada salah seorang pegawai yang bekerja disana, dimana pameran CP Biennale berada? Ternyata kami melakukan kesalahan bodoh (lebih tepatnya saya) karena pameran tersebut berada di Museum Bank Indonesia - KOTA, yang berada di depan stasiun Kota.... Kami pun kembali ke parkiran motor dan bertanya kepada satpam disana "memang disini ga ada pameran foto yah?", satpam tersebut mengatakan tidak ada dan tiba-tiba petugas lainnya nyeletuk "Mau lihat anjas bugil yah?", kami pun spontan tertawa karena memang itu yang ingin kami lihat.

Kami pun menuju Museum Bank Indonesia - Kota di seberang Stasiun Kota Beos. Sesampainya disana kami pun cukup yakin tidak melakukan kesalahan yang sama karena terdapat spanduk besar yang bertuliskan CP Biennale 'Urban Culture' di depan bangunan tua itu. Kami pun mulai berkeliling melihat-lihat karya seni yang ada. Ada beberapa karya seni yang cukup menarik bagi saya terutama penataan ruangan tempat pelacuran dan penataan ruang sebuah kantor. Saya sendiri selain ingin melihat foto Anjasmara dan model Isabel karya Davy Linggar juga ingin melihat foto-foto human interest Sigit Pramono. Namun kami sudah hampir satu jam lebih keliling dan belum menemukan foto 'Anjas bugil'. Sampai kami keliling 2 kali pun belum juga ketemu, akhirnya kami pun menyerah dan memutuskan untuk pulang. Sesampainya di depan kami bertanya tentang foto 'Anjas bugil' itu, ternyata foto taman eden karya Davy Linggar itu sudah tidak ada, Pantas nggak ketemu! Kami pun sedikit kecewa walau cukup senang bisa melihat karya-karya seni yang menarik.

Pulang kami makan dulu di KFC citraland sambil ngobrol-ngobrol kira-kira 1 jam. Kami pulang, saya nebeng motornya Jansson karena Sonny mau langsung ke tempat anak lesnya.

Monday, September 19, 2005

Pasar Baroe

Minggu, 18 September 2005 saya berpergian sendiri ke pasar baru kota. Sebenarnya rencana hari itu adalah menuju stasiun kota (beos) untuk kembali melanjutkan proses dokumentasi stasiun itu yang belum terselesaikan pada kunjungan saya sebelumnya bulan Juli lalu.

Tujuan saya hari itu sebenarnya bukan ke pasar baru namun ke Galery Jurnalistik ANTARA yang dari dulu ingin saya kunjungi untuk sekadar melihat-lihat atau berkenalan dengan orang-orang yang ada didalamnya. Namun apa daya ketika saya sampai di Galery ANTARA saya hanya diterima oleh satpam karena disana sedang tidak ada pameran dan tidak ada orang selain mereka. Saya pun keluar dengan sedikit kekecewaan, namun tidak kapok untuk lain datang di lain waktu (pelajaran : telp dulu kalo mau datang lagi).

Ketika melintas di daerah pasar baru, saya melihat banyak hal yang menarik untuk didokumentasikan dan membuat saya berpikiran untuk mengambil beberapa foto. Hal itupun saya lakukan setelah saya makan siang. Saya menghabiskan kira-kira 25 frame disana, agak terburu-buru mengambilnya sehingga ada beberapa kesalahan teknis yang baru saya sadari ketika sampai di rumah. Pengalaman saya mengambil beberapa foto di sana sebenarnya hampir sama ketika saya mengambil foto sebelumnya namun ini adalah pengalaman pertama saya mengambil foto sendiri (biasanya berdua atau bertiga). Seperti biasa pula, setelah mulai memegang kamera saya dan mulai menekan tombol rana, pikiran pun seperti kerasukan dan semua pandangan yang tertuju pada saya (pas saya moto saya banyak diliatin seperti halnya artis sinetron) pun tidak saya indahkan karena sudah asyik dengan moment dan objek yang ada. Walaupun saya cuma mendapatkan 2 buah objek disana, namun itu merupakan pengalaman tersendiri bagi saya. Banyak sekali moment dan objek yang sangat menarik untuk didokumentasikan, saya akan kembali lagi ke sana jika ada kesempatan.

Selesai moto-moto di pasar baru, saya kembali berjalan kaki ke depan istana merdeka untuk naik busway. Ternyata cukup jauh juga jika ditempuh dengan berjalan kaki, kaki terasa mulai pegal dan saya pun melanjutkan perjalanan ke Plaza Indonesia via busway. Tujuan saya ke plaza Indonesia adalah untuk mencari sebuah buku yang sampai sekarang belum saya temukan di Jakarta. Judul buku itu adalah Inferno, yang berisi foto-foto karya fotografer James Nachtwey. Setelah keliling-keliling ternyata buku tersebut juga tidak terdapat disana (and the searching continues...) dan saya pun memutuskan untuk pulang.

Saya kemudian mampir ke kampus syahdan, berbincang dengan teman-teman sampai jam 8 malam. Saya pun pulang, badan cukup letih, kaki sedikit pegal namun pikiran saya segar mendapat pengalaman baru hari ini.

Wednesday, September 14, 2005

11 September 2005

Pada tanggal 11 september 2005 saya bertemu dengan Henri Ismail, setelah beberapa minggu sebelumnya melakukan contact via email. Saya bertemu dengan Henri bersama dengan teman-teman fotografer lainnya di food court Plaza Indonesia. Hadir saat itu saya, Henri, Irvien Vedria, Syakhlani dan Sihol.

Kami berbicara dan ngobrol cukup lama, mulai dari merek kamera sampai membicarakan pengalaman fotografi masing-masing. Pada akhirnya kami membicarakan tentang konsep komunitas fotografi jurnalistik yang ingin kami bentuk dan rencana-rencana yang akan dilakukan ke depannya. Saya sendiri cukup senang dapat berdialog dengan teman-teman yang mempunyai pandangan yang sama mengenai fotografi. Saya belum pernah bertatap muka sebelumnya dengan mereka namun suasana dialog cukup akrab dan enak seperti halnya saya sudah kenal lama dengan mereka. Kami berpisah pukul 18.30 setelah ngobrol hampir 4 jam dari pukul 15.00, setelah sebelumnya mencatat nomor kontak masing-masing dan merencanakan untuk bertemu kembali 2 minggu lagi.

Saya pulang dengan nebeng motor bung Syahklani, untuk pergi ke plaza semanggi untuk bertemu dengan teman fotografer yang lain yaitu mbak Sisca dan suaminya Mas Dhiaz yang pada malam itu merayakan anniversary pernikahannya yang pertama. Saya cukup terkejut dengan keramahan orang-orang yang baru saya temui pertama kali ini, namun sangat ramah dan akrab. Kami berbincang sebentar sambil menunggu teman lain yang akan datang ke perayaan anniversary pernikahan mbak Sisca dan mas Dhiaz.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kami pergi ke tempat makan yang direncanakan. Disana saya berkenalan dengan pak Aryono Huboyo Djati dan Pak Djoni Kommarudin. Saya sudah sering mendengar nama pak Aryono namun baru kali ini saya bisa bertemu dengan beliau secara langsung. Kami ngobrol sambil makan (makasih atas traktiran the loving couple). Terlepas dari image saya tentang pak AHD yang seorang fotografer terkenal, saat itu saya merasakan bertemu dengan seorang yang bersahabat, bersahaja dan penuh dengan lelucon. Sungguh beruntung saya bisa bertemu seorang seperti itu.

Ada satu perkataan pak Aryono yang memberikan kesan yang amat mendalam bagi saya. Ketika itu Bang Syahklani menanyakan kepada pak AHD tentang bagaimana caranya mencari sponsor....Ia kemudian bercerita tentang masa lalunya dahulu ketika ia masih sekolah di Jepang. Disana pak AHD sekolah dengan kondisi yang susah (kere) dan disana ia bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia juga yang sama-sama susah dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Dan sekarang, mahasiswa-mahasiswa tersebut ada yang tetap jadi seorang fotografer (pak AHD), ada yang jadi Dirut, ada yang jadi petinggi dan hubungan baik tetap terjaga sehingga ada koneksi yang kuat untuk pak AHD. Lalu pak AHD mengatakan suatu hal, bahwa kita harus selalu menghargai orang lain. Saya amat tersentuh ketika ia mengatakan hal tersebut. Seakan tersadar dan bersyukur ada yang bisa mengingatkan saya. Koneksi yang ia (pak AHD) punya sekarang bukan karena nasib baik namun karena ia selalu bisa menghargai orang lain. Dari saat itu saya ingin mengubah diri untuk lebih menghargai orang lain.

Setelah selesai makan dan tempat makan hampir tutup, saya pun menduga kita akan pulang ke tempat masing2, ternyata tidak..... Pak Aryono mengajak kami semua untuk pindah ke sebelah untuk makan ice cream. Dan kamipun lanjut berbicara, sambil melihat-lihat kamera legendaris Leica milik pak AHD dan beberapa foto yang ia ambil. Setelah selesai berbincang disana ternyata kami pun berlanjut ke cafe diatas yang masih buka. Disana setelah diceritakan oleh mas Dhiaz, saya baru mengetahui bahwa pak AHD itu yang menciptakan lagu Burung Camar yang sering dinyanyikan oleh Vina Panduwinata. Kebetulan disana ada sebuah piano dan pak AHD pun memainkan beberapa lagu termasuk lagu burung camar.

Malam pun sudah larut dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Saya amat berterima kasih pada Bang Lani yang telah memperkenalkan saya ke banyak teman hari ini, suami-istri yang romantis tapi gaul (Mbak Sisca dan Mas Dhiaz), pak Aryono yang energik dan ramah serta Om Djoni yang demen sama macro photography. Saya amat lelah namun amat senang karena hari ini dapat berkenalan dengan teman-teman baru. Saya pun akhirnya pulang nebeng motor Bang Lani. Sampai rumah jam 12 kurang, mandi kemudian tidur lelap.....

What a day! , a long yet a great day....

Wednesday, September 07, 2005

Sebuah Penantian

Dan malam pun kembali tiba dalam hariku
Malam yang kelam
Malam yang sunyi
Malam yang gelap, dimana tiada terang selain bulan

Malam yang sunyi membuatku kembali sepi
Sepi dan rindu akan sesuatu yang hilang
Yang telah lama hilang dari jiwaku
Yang membuat jiwaku tak lengkap lagi

Kerinduanku telah membeku menjadi sebuah penantian
Penantian dalam kegelapan malam akan datangnya harapan
Dalam kekelaman malam yang pekat ku telah lama menanti
Akan datangnya harapan yang tak kunjung tiba

Akankah ia datang kembali menemani jiwaku?
Ataukah penantian ini hanyalah seperti sepercik api di tengah malam yang gelap gulita
Yang padam selamanya dan meninggalkan kerinduan yang tak terobati
Rasanya jiwaku telah lelah menunggu
Menunggu akan sebuah ketidakpastian

Jiwa ini telah lama menunggu sebuah jawaban
Akan kesepian dan kehilangan yang amat dalam
Yang akan sirna ketika sinar pagi datang
Mengusir semua kegelapan malam yang pekat untuk sementara waktu

Namun diriku akan selalu menanti datangnya malam
Sampai saat ketika aku tak akan lagi merasa rindu
Takkan lagi menunggu
Takkan lagi menanti
Saat dimana pagi tak perlu kunanti karena malam tak lagi sepi

Andai aku tahu kapan saat itu akan datang
Saat aku tak akan lagi resah dan gelisah
Namun aku hanya bisa terus menanti dalam kerinduan malam
Sambil terus berharap akan datangnya saat itu
Saat yang selalu ku nanti

Rony Zakaria - 6 September 2005

Tuesday, August 30, 2005

Idealis atau Apatis


"Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya."


Kata-kata tersebut saya ambil dari buku Catatan Seorang Demonstran, yang merupakan catatan harian Soe Hok Gie, seorang tokoh mahasiswa tahun 60-an yang turut serta menggulingkan pemerintahan orde lama pimpinan Sukarno. Saya baru saja selesai membaca buku tersebut kemarin dan kesan saya amat mendalam terhadap Gie, yang sangat kritis terhadap permasalahan bangsa serta pemikirannya yang sangat idealis. Namun disaat itu juga saya kembali teringat pada pertanyaan yang selama ini terus ada di benak saya "Mengapa generasi muda Indonesia kebanyakan cuek terhadap nasib bangsa?". Mengapa jarang sekali saya bisa melihat seorang seperti Soe Hok Gie yang berani dan kritis terhadap masalah bangsa ini?

Umumnya yang golongan yang mempunyai semangat nasionalisme dan idealisme tinggi adalah golongan muda, seperti halnya Soe Hok Gie dan kawan-kawan ketika ikut menggulingkan orde lama atau gerakan mahasiswa pada tahun 98 yang juga membuat pemerintahan orde baru berakhir. Namun ironisnya (at least for me) justru generasi muda sekarang seakan tidak peduli dan cuek dengan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Mungkin alasannya klasik..."gua bisa apa?" memang ada benarnya alasan itu, namun menurut saya itu bukan pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa. Ketidakberdayaan menandakan seseorang yang tidak mau memulai dan bergerak.

Bukan kebetulan bahwa negara kita Indonesia semakin terpuruk dan susah untuk bangkit. Setiap tahun muncul masalah baru yang harus dicari jalan penyelesaiannya. Seperti masalah yang baru muncul sekarang mulai dari para wakil rakyat di DPR yang meminta 'naek gaji' , masalah penyakit busung lapar, sampai nilai tukar rupiah yang semakin melemah. Apa itu semua bisa membangkitkan rasa kepekaan atau setidaknya rasa ingin tahu terhadap masalah-masalah tersebut? Apakah hanya segelintir yang ingin tahu terhadap masalah-masalah tersebut? Semoga saja tidak....Mungkin yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri apakah kita sudah cukup peduli kepada tanah air kita Indonesia? Itu merupakan kewajiban moral kita sebagai bangsa Indonesia, if we don't care, who will? Yang jelas wakil rakyat yang menamakan diri mereka DPR tidak lagi dapat dipercaya, karena mereka lebih peduli pada perutnya daripada apapun termasuk negerinya sendiri, Indonesia.

Saya tidak bermaksud mengajak siapapun yang membaca tulisan saya ini untuk harus mempunyai pandangan layaknya Soe Hok Gie ataupun ikut berdemo di depan gedung DPR. Saya hanya ingin mengajak kita setidaknya ikut peduli terhadap masalah-masalah bangsa ini dan ikut bergerak membangun bangsa ini melalui caranya masing-masing. Kita tidak harus menjadi seorang Gie, kita cukup menjadi diri kita sendiri, seorang Indonesia yang mempunyai idealisme untuk Indonesia yang maju.

Thursday, August 25, 2005

Dilema Masa Depan

Kira-kira setahun lagi, saya akan menyelesaikan kontrak kerja saya dengan Universitas Bina Nusantara dan enam bulan setelahnya akan lulus kuliah. Hal inilah yang membuat saya mulai berpikir tentang masa depan saya, setidaknya masa-masa setelah saya keluar dari Binus nanti.

Saya mempunyai setidaknya 2 pilihan apa yang harus saya lakukan nanti, yang pertama adalah bergelut dengan dunia IT dan programming sesuai dengan latar belakang pendidikan saya dan perkerjaan saya saat ini di Binus, yang kedua adalah 'banting setir' menjadi seorang jurnalis foto, sebuah profesi yang saya anggap sangat menantang dan menyenangkan.

Jika saya harus membuat pilihan ini setahun lalu, pilihan pertama akan saya tempuh tanpa pikir panjang, berkarir dalam bidang IT, cita-cita yang sudah tertanam dalam benak saya ketika mulai kuliah di Binus. Namun ketika pilihan itu dihadapkan kepada saya saat ini, saya ragu untuk memilih salah satu dari option-option yang saya punyai.

Berkarir di bidang IT, merupakan karir yang hampir pasti dijalani oleh hampir semua lulusan Binus jurusan komputer, banyak pula alumni Binus dan alumni lab software yang sukses dan menceritakan keberhasilannya kepada rekan-rekan yang masih di lab. Setelah mendengar dan melihat sendiri senior-senior dan teman-teman saya sendiri yang telah bergelut di bidang IT, saya melihat karir yang mereka jalani kebanyakan lebih mengejar keamanan finansial dan kedudukan (promosi) dan kegunaan dari profesi mereka menurut saya hanya untuk perusahaan mereka bekerja dan diri mereka sendiri. Hal ini tentu saja sangat wajar, karena hampir semua pekerjaan seperti itu, untuk mencari uang, namun saya tidak yakin saya bisa menjalani karir yang seperti itu. Bagi saya karir yang akan saya jalani idealnya harus dapat dinikmati bukan karena saya akan menerima gaji di penghujung bulan namun mengetahui bahwa perkerjaan saya ini berguna untuk orang lain dan tentu saja dapat saya nikmati.

Saya pernah mencoba memposisikan diri saya apabila saya memilih untuk berkarir dibidang IT, saya membayangkan secara best-case apabila saya sukses di karir saya maka dalam 5-7 tahun saya dapat melihat diri saya yang berpakaian kemeja rapi, dengan rambut yang tersisir rapi serta handphone yang ditaruh di pinggang juga tidak lupa mobil yang akan saya gunakan untuk pulang pergi setiap harinya dari rumah ke kantor. Kemudian saya berpikir, apakah kehidupan seperti itu yang saya inginkan? Mungkin bagi orang lain iya, namun bagi saya (terlepas dari keamanan finansial yang didapat) alangkah bosannya hidup saya seperti itu, pergi ke kantor setiap hari duduk di meja menjawab telp dari klien kemudian pulang kerumah, rutinitas yang berlangsung setiap harinya. Dapat mengetahui dan membayangkan masa depan saya yang seperti itu (itupun best-case) , menjalani pilihan itu seperti seakan takluk pada takdir (dimana saya amat tidak percaya akan takdir). Namun memang keamanan finansial menjadi dambaan semua orang termasuk juga saya, faktor itu yang menjadi alasan mengapa saya tetap mempertimbangkan pilihan ini.

Pilihan kedua saya yaitu menjadi jurnalis foto (photojournalist). Mungkin kedengarannya sedikit aneh, seorang yang tidak mempunyai latar belakang jurnalistik ingin terjun ke dunia jurnalistik.
Tapi selama ini ketika saya mencoba untuk terjun ke lapangan untuk mendokumentasikan kegiatan, kehidupan sosial manusia saya merasakan sesuatu yang lain yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Perasaan puas ketika bisa mencapture sebuah moment yang indah ataupun yang tragis adalah tidak ada duanya yang mungkin hampir sama dengan perasaan seorang pesepakbola ketika mencetak gol. Perasaan yang tidak pernah saya rasakan selama ini dalam menjalani pekerjaan saya dalam bidang IT di Binus. Faktor kegunaan juga menjadi pertimbangan saya mengenai pilihan saya ini, menurut saya menjadi seorang jurnalis foto akan mempunyai banyak kegunaannya tidak hanya untuk diri saya seorang namun juga orang lain. Suatu hal yang sangat membahagiakan bagi saya jika saya bisa berguna untuk orang lain, apalagi bagi orang lain yang tidak saya kenal sekalipun. Selain perasaan puas dan berguna saya juga bisa melihat diri saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya dimana diri saya yang tadinya amat paranoid sehingga amat berhati-hati dan cenderung takut dengan dunia luar kini saya bisa lebih terbuka dan berani berpetualang untuk melihat hal-hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Terlepas dari semua kepuasan dan petualangan yang ditawarkan oleh profesi ini juga disertai dengan hambatan yang tentu saja lebih besar, kalau boleh dianalogikan jalan untuk menjadi jurnalis foto adalah seperti jalan yang rusak dan penuh dengan lubang dibandingkan dengan dunia IT yang bisa diibaratkan seperti jalan tol yang hampir selalu lancar, karena dengan memilih menjadi seorang jurnalis foto saya akan memulai nyaris dari nol jalan karir saya berbeda dengan karir di bidang IT yang sudah pernah saya kerjakan seperti saat ini.

Dengan pertimbangan-pertimbangan inilah saya harus berpikir keras akan dibawa kemana masa depan saya ini, apakah ingin berjuang kembali dari nol demi menjalani profesi yang saya idamkan atau tidak mau ambil resiko dengan mengambil jalan yang sudah saya kenal. Mengutip kata-kata James Nachtwey, seorang fotografer yang menjadi inspirasi saya, "Before I start convincing others, I have to convice my self first". Sesuatu yang amat tepat bagi saya, sebelum saya memutuskan terjun ke dalam dunia jurnalistik yang penuh resiko saya harus meyakinkan diri saya sendiri dulu, dengan pertanyaan "Am I good enough?" pertanyaan inilah yang harus dapat saya jawab sebelum memutuskan satu dari pilihan-pilihan itu.

Tuesday, August 23, 2005

Ketidakpedulian yang Menakutkan

Baru-baru ini saya membuat sebuah foto essai (sebuah kumpulan foto-foto yang bercerita mengenai sebuah tema) untuk tugas kuliah saya. Tema yang saya angkat dalam foto essai saya adalah Ignorance (ketidakpedulian).

Saya mempunyai banyak pertimbangan dan alasan mengapa tema tersebut saya angkat ke dalam foto essai saya. Ketidakpedulian terkadang dianggap suatu tindakan yang sepele, kurang menakutkan seperti halnya terorisme, perampokan dan perang. Namun bagi saya ketidakpedulian adalah sebuah kata yang sangat mengerikan. Mengapa saya sebut mengerikan? Karena semua yang kebusukan yang terjadi di dunia ini justru berawal dari ketidakpedulian, yang justru dianggap sepele. Faktor inilah yang menyebabkan saya mengangkat tema ini, agar orang tidak underestimate pada ketidakpedulian.

Foto-foto yang digunakan dalam foto essai ini, diambil di beberapa tempat di Jakarta. Mungkin banyak orang yang sering mendengar tentang masalah-masalah yang ada di kota besar, seperti kemiskinan, tuna wisma, anak jalanan namun blm pernah melihat seperti apa sebenarnya. Melalui foto-foto, saya akan mencoba untuk memperlihatkan sedikit realita dari kehidupan kota besar seperti Jakarta, sebuah sisi lain selain gemerlapnya kehidupan kota besar.

Tujuan saya membuat foto essai ini bukan sekedar untuk tugas kuliah saja, tapi dari dalam hati saya ingin mengajak teman-teman, terutama generasi muda Indonesia agar jangan sampai kita tidak peka dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di negara ini. Namun justru kita harus menjadi generasi yang kritis, bukan hanya kritis dalam ucapan namun juga dalam perbuatan. Janganlah kita menunggu untuk bergerak karena seorang yang muda justru harus memulai!

Akhir kata, saya sebagai salah satu generasi muda Indonesia percaya bahwa cita-cita Indonesia yang makmur dan jaya bukanlah suatu Utopia belaka jika kita mau peduli dan mulai bergerak untuk bangsa ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.



Link to Photo Essay (html & flash)
Download Photo Essay (exe)

Rony Zakaria in a few paragraph

Saya dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1984, hari dimana presiden pertama Indonesia, Sukarno wafat 14 tahun sebelumnya. Saya dibesarkan di sebuah keluarga yang berkecukupan sehingga saya dapat mengenyam pendidikan sampai jenjang Universitas yang sedang saya jalani sekarang.

Pendidikan saya dimulai dari TK Santa Monica di tanjung duren, Jakarta. Kemudian dilanjutkan ke sebuah sekolah katolik, SD dan SMP Tarsisius II di daerah Batusari. Selama 9 tahun sekolah di Tarsisius saya hampir selalu berjalan kaki untuk pergi ke sekolah karena jaraknya hanya 5 menit jika berjalan kaki dari rumah :)

Tiga tahun masa SMU saya dihabiskan di SMU Kemurnian II di Green Ville. Pada masa SMU ini terjadi sebuah kejadian yang menjadi salah satu turning point of my life. Dimana mungkin jika hal tersebut tidak terjadi, saya akan menjadi seorang tamatan SMU saja.

Setelah 3 tahun main-main di SMU saya pun berlabuh di Universitas Bina Nusantara (juga jaraknya hanya 5 menit dari rumah) mengambil jurusan Teknik Informatika dan Matematika, seharusnya jika saya rajin lulusnya hanya 4.5 tahun. Lumayan gelarnya untuk menarik hati calon mertua nanti hehehe.... Saya juga bekerja untuk Universitas saya sebagai staff research di Lab. Software, tempat saya bernaung selama paling tidak 3 tahun.

Baru-baru ini saya juga menemukan dunia baru yang sangat saya nikmati, yaitu fotografi. Kira-kira setahun lalu saya mendapatkan kamera pertama saya, mulai dari sana saya mulai menyenangi dunia fotografi ini. Awalnya saya menganggap fotografi adalah sebuah media untuk menng-capture sesuatu yang indah, namun saya sadar bahwa fotografi bakal lebih berarti jika menangkap realita kehidupan, sesuatu yang mungkin kebanyakan orang sering mendengar namun tidak pernah melihat. Sejak saat itu saya semakin mendalami fotografi terutama jurnalistik dan human interest untuk mendokumentasikan realita yang terjadi pada kehidupan sehari-hari baik yang indah maupun yang tragis.